
Jeki menatap video yang di kirim oleh Brian untuknya, tangan kanannya mengepal menahan amarah yang mendalam. "Dimana lokasi pria tua itu?" Tanya Jeki, ia sudah tidak sabar ingin menghabisi Brian yang sudah membuat wanitanya sengsara.
"Kita akan pergi ke sana? Apa kau lupa dengan apa yang terjadi pada Kakak mu, kita pergi dari Indonesia karena menghindari pertikaian dengan pria itu." Jelas Sam, ia sebenarnya tidak ingin terjadi hal yang mengerikan pada Jeki.
"Jadi menurut mu, aku harus tinggal diam di saat Rachel tengah di siksa seperti itu?" Tanya Jeki yang langsung bangkit dari tempat duduknya.
Sam memandang Jeki, ia merasa jika Jeki sudah menjadi orang bodoh. "Aku tidak meminta mu untuk tinggal diam, aku hanya ingin kau sedikit bersabar. Kekuatan kita belum sepenuhnya pulih, banyak anak buah kita yang sudah mati. Dan kau ingin kita langsung menyerang begitu saja? Come Jeki, kau adalah bos. Jangan hanya Karena rasa cinta mu pada gadis itu, kau menjadi orang bodoh seperti ini. Mana Jeki yang selama ini ku kenal? Aku mengikuti mu selama bertahun-tahun, ingin melihat mu berjaya bukan ingin melihat kehancuran mu." Sam melampiaskan semua unek-unek di benaknya, ia tak habis pikir jika pola pikir Jeki kini seperti seorang pria bucin yang tidak bisa berpikir jernih.
"Oke, aku paham semua perkataan mu. Tapi setidaknya, kirim sebuah pesan untuk Brian. Bilang jika aku ingin bertemu dengan pria itu, tapi tidak untuk bertarung." Jawab Jeki dengan tangan yang mengambil sebatang rokok.
__ADS_1
"Kita tidak bisa melakukan hal itu, apa kau lupa bagaimana liciknya pria itu? Bagaimana jika dia malah membunuh mu saat kau lengah?" Sam memprotes tindakan Jeki yang di anggap konyol, ia takut jika pria itu malah terjebak dan akhirnya mati sia-sia.
"Kau tenang saja, aku tidak akan mati dengan konyol. Apa kau pikir selama ini aku tidak menghadapi bahaya? Selama bertahun-tahun, aku bertarung dengan malaikat maut dan kau lihat. Aku masih hidup, jadi kau tidak perlu mencemaskan ku." Jawab Jeki dengan santai.
Sam terdiam, ia tahu bagaimana sosok pria itu. "Baiklah, aku akan mengirim sebuah pesan pada Brian. Tapi jangan salahkan aku jika aku akan membunuh Rachel, jika sampai Brian membunuh mu." Jawab Sam dengan mata yang menatap tajam ke arah Jeki.
Jeki terdiam saat mendengar perkataan Sam, ia sama sekali tidak marah dengan perkataan Sam. Karena Jeki tahu, Sam sangat mementingkan keselamatannya dan jika ada seseorang yang berani melukai dirinya. Maka Sam lah orang pertama yang akan menebas orang tersebut.
Natan berjalan dengan sebuah kertas di tangannya, senyuman di wajahnya terpancar jelas. Rachel yang melihat hal itu mengerutkan keningnya karena tidak biasanya Natan tersenyum seperti itu.
__ADS_1
Brian melirik Natan yang datang dengan sebutan kertas di tangannya, "Katakan." Ucap Brian karena ia tahu jika Natan sudah membaca surat yang seharusnya untuk nya.
"Jeki mengatakan bertemu, ia ingin membahas tentang Rachel. Bagaimana tanggapan kita?" Tanya Natan yang sudah tidak sabar ingin memenggal kepala pria itu.
"Dimana dia ingin bertemu?" Tanya Brian.
"Di kolam teratai." Jawab Natan, Brian tersenyum karena ia tahu dimana tempat itu.
"Lakukan, persiapkan anak buah kita. Meski pria itu mengajak untuk bertemu secara damai, tapi bukankah kita harus mempersiapkan semuanya karena tidak ada yang tahu bagaimana kedepannya." Jawab Brian dengan senyuman di wajahnya.
__ADS_1
Mata Brian menatap ke arah Rachel yang dari tadi memperhatikan mereka berdua, Rachel yang menyadari jika Brian melihatnya. Mulai memalingkan wajahnya, ia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya.