
Andrew berjalan dengan langkah pelan, beberapa pengawal sudah berada di belakangnya untuk menjaganya. Tapi Andrew langsung meminta mereka pergi karena ia ingin sendirian untuk saat ini, di saat ia tengah berjalan sendirian.
Tatapan mata Andrew tertuju pada sosok wanita yang beberapa kali ada di pikirannya, langkahnya perlahan mendekati Laysa yang tengah duduk di bangku taman.
"Hey." Sapa Andrew.
Laysa menoleh dan hanya tersenyum tipis, "Ada yang bisa di bantu?" tanya Laysa yang tidak terlalu peduli dengan Andrew.
"Aku boleh ikut duduk?" tanya Andrew.
Laysa terdiam, lalu ia bergeser sedikit. Kini Andrew duduk di samping Laysa, keduanya terdiam seakan hanyut dengan pikiran masing-masing.
Perlahan Andrew melirik ke arah Laysa yang seakan tengah memikirkan sesuatu, "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Andrew penasaran.
Laysa diam dan tidak menjawab, dengan tatapan sulit di artikan Laysa melihat ke arah Andrew.
"Apa yang ku pikirkan, memangnya penting untukmu?" tanya Laysa.
"Tentu."
Laysa tertawa saat mendengar hal itu, "Dan untukmu, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Laysa dengan tatapan mata yang melihat ke arah Andrew.
Pria itu tersenyum di balik masker wajahnya, "Aku memiliki seorang adik yang bodoh." Jawab Andrew.
Laysa terdiam saat mendengar hal itu, "Lalu?"
__ADS_1
"Iya dia sangat bodoh dan membuat ku ingin menenggelamkannya saja ke dasar laut."
Laysa tertawa saat mendengar hal itu, "Memangnya apa yang dia lakukan sampai kau ingin menenggelamkannya ke dasar laut?"
"Dia jatuh cinta pada seorang pria, tapi bukan pria baik-baik." Jawab Andrew yang membuat Laysa terdiam.
"Apa kau ingin melihat adik mu bahagia?" tanya Laysa.
"Tentu."
"Jika kau ingin melihatnya bahagia, maka kau jangan menghalangi hubungan mereka."
"Tapi pria itu bukan pria baik-baik."
Andrew terdiam, "Aku juga dulu adalah orang bodoh, orang serakah dan orang jahat." Sambung Laysa dengan kepala yang menunduk.
"Kenapa kau bisa mengatakan jika dirimu orang jahat?"
"Karena aku orang yang suka merusak kebahagiaan orang lain, hanya karena tidak ingin melihatnya bahagia." Jawab Laysa dengan tatapan mata yang sendu.
Andrew terdiam, "Hanya itu?" Tanya Andrew.
Laysa tersenyum tipis, "Tapi semuanya sudah berlalu, meski ku sesali pun tidak akan pernah ada yang berubah. Aku adalah orang jahat bagi mereka dan aku juga tidak bisa meminta maaf kepada mereka." Jawab Laysa.
"Memangnya siapa yang kau maksud?" Andrew menatap Laysa dengan lekat-lekat, ia penasaran dengan perkataan Laysa.
__ADS_1
"Kakak dan ibu angkat ku. Dan kini mereka telah pergi," jawab Laysa.
Andrew terdiam mencerna perkataan Laysa, "Aku turut berdukacita, tapi aku yakin pasti mereka sudah memaafkan mu." Jawab Andrew yang mengira jika Kakak dan Ibu angkat Laysa sudah meninggal.
Laysa hanya tersenyum tipis saat mendengar kesalahpahaman Andrew kepadanya, "Kenapa kau sering menggunakan masker? Apa kau sedang sakit?" tanya Laysa karena ia belum pernah melihat wajah pria itu.
Andrew terdiam, "Tidak, aku baik-baik saja. Hanya saja, ada bekas luka yang besar di wajah ku. Dan akan membuat orang-orang takut melihat wajah ku, mungkin mereka akan merasa tidak nyaman." Jawab Andrew dengan tatapan mata yang melihat ke arah Laysa.
Laysa bisa melihat kedua mata pria itu, sorot mata yang terkesan terlihat tajam tapi tatapannya terlihat sangat hangat.
"Sungguh? Apa kau ingin membuka masker mu?" tanya Laysa penasaran.
Andrew tersenyum, ia langsung membuka masker wajahnya. Laysa terdiam saat melihat bekas luka di wajah pria itu, tapi Laysa terdiam karena ia menyadari jika pria di depannya sangatlah tampan meski ada bekas luka sekalipun.
"Kau takut?" Tanya Andrew dengan sorot mata yang penasaran.
"Tidak," jawab Laysa dengan senyuman manis.
"Kenapa?"
Laysa tersenyum, "Emm... Gak papa." Jawab Laysa yang bangkit dari tempat duduknya.
"Kau mau pergi?" tanya Andrew dengan tatapan sulit di artikan.
"Iya, sudah waktunya masuk kerja." Jawab Laysa yang langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada Andrew.
__ADS_1