Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Wanita Simpanan


__ADS_3

"Bukankah... itu perempuan yang menolak kakak Senior Edo?''


''Iya benar, dan sepertinya dia itu wanita simpanan pria beristri!''


''Wah, kukira dia wanita lugu, ternyata.. simpanan sugar Daddy.''


''Padahal kak Edo incaran gadis disini, tapi malah suka sama itu orang.''


Bisikan-bisikan itu terdengar nyata, Kiran dapat mendengarnya karena volumenya seperti sedang bertujuan diperdengarkan untuknya.


Tapi Kiran mengabaikannya. Toh, membela diri pun tidak akan ada gunanya karena gosip itu akan bergulir dan semakin membesar seperti bola salju.


Kata 'Sugar Daddy' membuat Kiran sedikit heran karena dari mana mereka mengira bahwa Agra, lelaki yang kala itu menepis tangan Edo adalah Sugar Daddy, bahkan dari kontur wajah pun Edo dan Agra seperti seumuran yang membedakan mereka adalah penampilan.


Kiran terus melangkah menuju kelasnya. Tapi belum ia sampai di pintu kelas, pemuda yang bernama Edo itu kembali mendekatinya. Kira yang sudah berusaha menghindar tapi Edo yang terus berusaha yang pada akhirnya Kiran pun menyerah dan harus berhadapan dengan pemuda yang menjadi inceran di sana.


''Ada apa lagi, Kak?'' tanya Kiran setelah berusaha menghindar.


''Kamu kenapa terus menghindari ku?''


''Kak, aku mohon jangan menggangguku, lihat mereka disana, semua menatap tajam ke arah sini,'' ucap Kiran dengan melirik ke arah segerombolan mahasiswa yang sepertinya tidak menyukainya.

__ADS_1


''Aku bukan mengganggu mu, hanya saja aku tidak suka kamu menghindari ku.''


''Kalian mau ikut pelajaran saya atau tidak?!'' suara tegas dari seorang dosen membuat keduanya menoleh.


Kiran menunduk memberikan sapaan pada sang dosen begitu juga Edo. Melihat kesempatan untuk dia menghindar dari Edo, akhirnya Kiran pun masuk kelas mendahului dosen yang alhasil Edo pun tidak lagi mengejarnya.


Di kelas masih sepi, dan hanya ada beberapa mahasiswa di dalamnya. Kiran yang memilih duduk di barisan paling dengan menjadi gunjingan kembali oleh para mahasiswa yang duduk di belakangnya.


Bisik-bisik mereka membicarakannya membuat Kiran paham siapa yang menjadi pusat pembicaraan mereka, tapi Kiran tetaplah Kiran, yang tidak ingin pernah mengambil pusing pendapat orang lain terhadapnya.


Mengeluarkan buku-buku dari dalam tasnya, dan bersiap akan membaca bukunya, tapi tiba-tiba sang dosen malah menghampirinya dan memberikan minuman botol untuknya tentu saja membuat yang lain semakin menggunjingkan dirinya.


''Terima kasih,'' ucap Kiran saat melihat siapa tangan yang meletakkan minuman itu ke mejanya.


Jam mata kuliah sudah usai dan tidak ada lagi kelas selanjutnya. Kiran memutuskan untuk segera pulang, entah mengapa kepalanya terasa berat bahkan selama ia mengikuti kelas.


Kiran berjalan dengan santainya bersama Lisa, sahabatnya. Ya Lisa hari ini memang berbeda mata kuliah. Lisa yang sudah mendengar gosip yang menyebar berusaha membuat Kiran tidak mendengarkan mereka.


''Biarkan mereka. Pokoknya kamu fokus belajar saja, karena itu tujuan awal mu, kan?'' Kiran mengangguk dan mereka pun berpisah di gerbang utama kampus. Lisa yang menaiki bis dan Kiran yang akan pulang dengan taxi online.


Tetapi sebelum Kiran menaiki mobil yang dia pesan, tangan seseorang sudah lebih dulu menutup kembali pintu mobil dan melemparkan beberapa uang kertas pada sang supir lalu memintanya untuk segera pergi dari sana.

__ADS_1


''Kak! itu tidak baik!'' pekik Kiran pada seseorang itu yang tak lain adalah Edo.


''Kamu ikut aku!'' Edo menggenggam tangan Kiran dengan erat, seakan tidak ingin gadis yang dia suka pergi menghindar lagi.


Semua mata tertuju pada mereka, dan tidak ada satupun yang berniat untuk menolong Kiran yang sudah sangat terlihat keberatan dengan ajakan Edo dan berusaha melepaskan tangan Edo darinya.


Pemuda itu membawa Kiran ke sebuah ruangan yang terdapat beberapa alat musik yang sudah di pastikan itu adalah ruang musik untuk para mahasiswa melakukan Praktek Individual Instrumen.


Edo melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan Kiran menjauh dari posisinya. Entah apa yang membuat dia berbuat seperti itu, tapi yang pasti tidak ada sedikitpun terlintas di pikiran Edo untuk menyakiti Kiran, gadis yang benar-benar telah mencuri hatinya sejak enam bulan belakangan ini.


''Ran, aku tau, kamu pasti bingung kenapa aku bawa kamu kesini, tapi sungguh aku tidak ingin menyakiti mu, aku hanya ingin memastikan sesuatu.''


''Mamastikan sesuatu apa lagi, Kak ?''


''Memastikan bahwa kamu benar-benar tidak menyukai ku, walau sedikitpun?''


''Kak! seperti yang aku katakan tempo hari itu, aku sudah memiliki pasangan, dia! pria yang datang hari itu.''


Edo mengangguk, tapi hatinya tidak dapat di bohongi bahwa rasa sakit itu benar nyata. Edo melangkah mendekat pada Kiran yang terus memundurkan langkahnya.


''Kamu tidak perlu takut. Aku bukan orang jahat.'' seketika kurang berhenti melangkah mundur, dia juga menyadari kalau saat ini Edo bukan orang yang patut ditakuti.

__ADS_1


''Aku mengerti sekarang, tapi izinkan aku untuk memeluknya sebentar saja. perlu kamu tahu aku menyukaimu sejak pertama kali melihat mu, Kiran.''


Edo sudah akan memeluk Kiran yang sudah terpojok antara kursi dan Braakkkk...


__ADS_2