
Kiran sedang mengambil minuman dari lemari pendingin di pujasera kampus. Saat itu, sebuah tangan mengambil minuman yang nyaris ia sentuh.
Saat ia menoleh ke samping kanannya, itu adalah tubuh tinggi Roby yang sudah berdiri di sana. Kiran sangat ingin minuman itu, tapi tampaknya harus ia urungkan karena Roby mengambilnya lebih dulu.
"Kamu ingin yang ini?"
"Tidak, aku ambil ini saja.''
Kiran mengambil minuman lain dan Roby tersenyum dibuatnya.
Alam semesta ada dalam genggaman Roby saat ia tersenyum dengan hangat. Kiran dapat melihat pesonanya hingga tumpah.
"Ambillah, Ran. Saya akan minum yang ini."
Roby menukar botol minuman mereka. "Kamu cantik hari ini, sama seperti biasanya."
Keberadaan mereka dapat dilihat oleh semua mahasiswa yang ada di sana. Roby yang tatapan matanya menyimpan rasa pada Kiran, sementara semuanya juga tahu kalau Kiran sudah menikah, dan kabar pernikahannya telah merebak hingga setiap daun telinga pun bisa mendengarnya.
"Terima kasih, sang Roby. Tapi aku sudah menikah. Sang Roby juga tahu itu, 'kan? Anda dan mas Agra juga saling mengenal, bukan?"
Kiran pun berlalu pergi dari sana.
"Kiran, tapi berita kalau suami sudah menikah dengan wanita lain, tidak benar kan?"
Roby mengekor di belakangnya.
"Tentu saja tidak benar. Mas Agra hanya memiliki istri satu. Dan...."
"Dan apa?"
"Ayo kita jaga jarak! sang Roby jangan berharap apapun karena aku benar-benar ingin menjaga pernikahanku dengannya."
Kiran tersenyum sebelum pergi dari sana, yang membuat bahu Roby merosot. Dan itu seperti sebuah batasan jelas yang dibuat oleh Kiran. Sebuah keputusan yang membuatnya menyadari kalau Kiran telah lepas dari genggamam tangannya.
Bagi Kiran, ini keputusan yang benar. Ia tidak ingin jadi sorotan karena kedekatannya dengan Roby. Ia hanya milik Agra seorang.
Ia terus berjalan sampai ke depan gerbang. Menuju halte dan pulang lebih cepat sejak Lisa juga sudah pulang lebih dulu. Tapi itu hanya niatannya. Karena dia sedang melihat seseorang yang baru saja keluar dari gerbang dan ada seorang lainnya yang baru datang kearahnya.
Posisi yang awalnya duduk di kursi beton halte, Krian pun berdiri dan melangkah lebih dekat lalu berdiri di antara semak-semak yang rimbun. Matanya memicing, telinganya ia lebarkan karena ingin menjangkau apa yang mereka sedang bicarakan.
''Kau! ada keperluan apa datang kesini?''
__ADS_1
''Apa benar kau menyukai Kiran?'
''Maksud mu?''
''Tidak perlu berpura-pura, aku tahu dari mereka yang sedang membicarakan mu.'' Tunjuk nya pada segerombolan gadis yang sedang bergosip.
Kepala orang itu mengikuti arah tunjuknya, lalu kembali menatapnya sinis.
''Lalu?''
''Aku mempunyai penawaran terbaik untukmu?''
Kiran masih menyimak dari jarak empat meter tanpa mereka sadari. Dan nyaris saja ia berteriak karena ada ulat bulu yang berjalan di ranting tepat depan matanya. Beruntung dia langsung menutup mulutnya jika terlambat dan sampai terdengar mungkin ia tidak akan mengetahui lebih lanjut obrolan kedua orang itu.
Tangan kanannya merogoh tasnya dan mengeluarkan gawainya, diam-diam ia mengambil gambar beberapa jepretan, yang sebenarnya dia sangat ingin merekamnya tapi mustahil jika suaranya juga akan ikut terekam. Karena jarak mereka yang lumayan jauh dan hanya dapat didengar dengan telinga tidak bisa dijangkau dengan microphone.
''Apa kau sudah gila, Olivia?!'' suara Roby terdengar marah.
Ya mereka adalah Roby dan Olivia. Terlihat dari gurat wajah Roby yang tidak setuju dengan apa yang Olivia tawarkan padanya. Sehingga obrolan mereka pun usai dengan Roby yang pergi begitu saja tanpa adanya kata permisi.
Kiran mendesis, ia mencoba mengingat apa yang tadi dia dengar, yang sekilas terlintas ditelinga karena berbarengan suara bising dari kendaraan yang lewat.
Kiran Menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka kalau Olivia senekat itu, padahal jelas-jelas Agra telah memperingati nya, namun entah bagaimana jadinya jika Agra mengetahui apa yang Olivia lakukan hari ini.
Karena niatnya selepas pulang dari kampus Kiran akan berkunjung ke kantor Agra yang memang dialah yang meminta Kiran untuk datang.
Sebenarnya Agra telah menawarkan agar Anas yang menjemputnya tapi Kiran menolak karena merasa canggung jika harus satu mobil dengan pria lain saat tidak ada Agra didekatnya.
Mobil taksi lah pilihan keduanya, tangannya melambai pada mobil taksi berwarna hitam yang seketika menepi di saat melihat calon penumpangnya. ''NDR Corp ya, Pak!'' seru Kiran pada pengemudi sopir taksi itu.
''Baik, Nyonya.''
Taksi pun melintas dengan kecepatan normal, penumpang dengan sangat hati-hati terlebih lagi penumpang itu seorang wanita.
Setelah sampai tujuan Kiran pun segera membayar sesuai argo yang tertera, memberikannya dengan senyuman lalu sopir taksi pun membalas senyuman Kiran dengan ramahnya.
Melangkah ke pintu utama perusahaan dan disambut dengan baik oleh dua penjaga di sana karena mereka sudah mengenal Kiran yang tempo hari telah di perkenalkan oleh Pemimpin perusahaan sebagai istrinya.
''Selamat siang Nyonya!'' seru kedua penjaga di sana dengan persamaan.
''Selamat siang, Pak,'' balas Kiran begitu ramahnya, yang tersenyum dengan manisnya.
__ADS_1
''Mari biar saya antar,'' ucap salasatu dari penjaga itu dan ditolaknya dengan halus.
''Tidak perlu, Pak. Terima kasih, saya naik sendiri saja. Mari...'' Kiran pun berlalu pergi dengan badan yang membungkuk sopan, sehingga membuat kedua pria paruh baya itu mendecak kagum dengan attitude seorang istri dari pemimpin perusahaan tempat mereka bekerja.
''Sikap yang sangat jarang dimiliki oleh istri para petinggi,'' ucap penjaga itu.
''Iya! kau benar, dan mereka terlihat sangat serasi, semoga rumah tangga mereka diberkahi dan selalu diberi kebahagiaan,'' timpal penjaga lainnya.
Kiran berjalan melewati beberapa karyawan yang juga berjalan berpapasan dengannya, karyawan disana memberi hormat pada Kiran yang mereka ketahui sebagai istri dari pemimpin perusahaan. Tapi saat Kiran membalas membungkuk, semua merasa terkejut, dan kembali membungkuk lebih dalam lagi.
Kiran melihatnya dengan aneh, karena sikap dari para karyawan itu, tapi tidak ia ambil pusing yang kemudian diapun masuk kedalam lift yang ada di sisi kiri, sebelum Kiran benar-benar masuk ke sana seorang security mencegahnya.
''Nona jangan pakai lift itu!''
''Kenapa, Pak? rusak ya?''
''Bukan, Nyonya. Ini khusus karyawan seperti kami, disana khusus petinggi, silahkan.'' ibu jari penjaga itu menunjuk sopan kearah sisi kanan yang pintunya sudah terbuka.
Kiran tersenyum canggung, bahkan lift saja dibedakan sesuai jabatan. Apa begini kehidupan para orang kaya? Kiran menggedikan bahunya lalu masuk kedalam lift yang akan membawanya langsung ketempat para pemimpin perusahaan berada.
angka terus bergerak sesuai lantai yang berpijak, dan setelah angka itu berhenti di lantai 30, lift pun terbuka yang ternyata Anas berdiri di depan lift seperti sedang menyambutnya datang.
''Tuan, Anas?''
''Panggil saya Anas saja, Nona. Silahkan, Tuan Agra sudah menunggu Anda.''
''Terima kasih, Kak Anas,'' sahut Kiran dengan senyuman manisnya.
Anas menoleh cepat dan Kiran berucap lagi. ''Aku tidak terbiasa memanggil orang yang lebih tua dariku hanya dengan nama.''
''Baik, senyaman Anda saja.''
Anas berjalan lebih dulu dan Kiran mengekor di belakang, mengetuknya sebentar dan Kiran pun masuk, bibirnya tersenyum karena Agra yang juga berdiri menyambutnya dengan tangan yang terbuka.
...----------------...
Mampir juga ya akak-akak ke novel teman Nuna π€ sembari menunggu Nuna up ππ
Judul : CEO and The Twins
Author: Ingflora
__ADS_1