Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Tolong Percaya padaku


__ADS_3

Faris dan Liliyana mengantarkan Agra dan Kiran sampai depan rumah. Sebenarnya sejak tadi Faris terus membujuk Agra agar mau bermalam disana namun ia terus menolaknya dengan alasan besok pagi akan ada pertemuan dengan klien dari luar negeri, dan jarak mansion Faris memanglah sangat jauh.


''Mungkin lain kali ya, Kek," ucap Agra yang sudah membukakan pintu untuk Kiran.


''Kalau begitu biar Kiran saja yang menginap disini, lagipula besok hari libur, benarkan Kiran?'' timpal Liliyana yang bicara pada Kiran.


''Tidak, tidak. Sudah kapan-kapan saja. Ayo sayang masuk.''


Agra menggedikan kepalanya kearah pintu untuk Kiran masuk segera agar tidak mendengar paksaan lagi dari Kakek ataupun Tantenya.


''Dasar banditt!'' Faris melayangkan tongkatnya pada Agra yang sudah menghindar, dan merekapun berpamitan lalu pergi dari sana.


Selama di perjalanan Kiran hanya diam dan membuat Agra tidak nyaman. ''Sayang?''


''Hmmm, ya Mas?''


''Kamu masih memikirkan masalah tadi?''


''Tidak Mas, kepala ku terasa sakit,'' sahut Kiran dengan memijat dahinya.


''Emmm, begitu sampai biar aku pijat, hmm?'' Agra mengusap kepala Kiran dan kembali mengendarai dengan fokus.


Sesampainya di rumah, Kiran segera membersihkan dirinya yang sudah tidak nyaman karena makeup yang menempel diwajahnya. Setelah selesai dan keluar dari kamar mandi, ia melihat Agra yang sudah duduk di tepi ranjang dan menepuk-nepuk ranjangnya agar Kiran segera menghampirinya.


''Kenapa, Mas?''


''Kemarilah, kamu ini nakal ya. Tadi bilang katanya kepalanya sakit, lalu kenapa membasahinya.'' Agra menarik lembut tangan Kiran dan segera melepaskan handuk yang terlilit di kepala Kiran.


Beranjak dari sana mengambil sesuatu dari laci yang ternyata sebuah hair dryer lah yang ia cari. Mengeringkan helai demi helai rambut Kiran dengan sangat telaten, bahkan dia terus bertanya pada Kiran dengan kalimat yang sama. ''Tidak kepanasan, kan?''


Selesai mengeringkan rambutnya, Agra memijat ringan kepala Kiran dan menuntunnya agar merebahkan kepalanya di pahanya. Kiran hanya menurut karena dia juga sudah terlanjur sangat nyaman karena tangan halus dari Agra.


''Mas?''


''Hmmm?''


''Besok hari peringatan kematian Reza, apa aku boleh ke Desa?''


Tangan Agra seketika berhenti bergerak, tapi beberapa detik kemudian tangannya kembali bergerak. Kurang mendongakkan kepalanya melihat ekspresi Agra yang semula datar dan ketika menyadari kalau Kiran tengah melihatnya senyum itu nampak tipis.


''Mas, aku hanya meminta izin. Tapi jika Mas tidak mengizinkannya, aku tidak akan pergi kok.''


''Benarkah?'' Kiran mengangguk.

__ADS_1


''Kenapa?''


''Karena aku ini istrimu, mana mungkin aku pergi tanpa izin mu, Mas.'' Agra tersenyum bahagia karena ternyata Kiran benar-benar berpikir dewasa walaupun usianya masihlah sangat muda.


''Terima kasih, Cup.'' Agra menundukkan kepalanya dan mengecup singkat kening Kiran dan melanjutkan memijat kepala Kiran.


''Sayang?''


''Iya Mas?''


''Mas boleh meminta sesuatu dari mu?''


''Apa?''


''Kelak apapun yang terjadi. Tolong percaya sama Mas ya, apapun kamu mendengar tentang Mas dari orang lain, jangan pernah mudah percaya, kalau bukan dari mulut Mas sendiri.''


Kiran mendongak lagi, merasa pembicaraan Agra kali ini sangatlah serius dan benar terlihat dari tatap mata Agra yang mengharapkan sebuah kepercayaan darinya.


''Iya Mas, aku akan ingat itu,'' sahut Kiran setelah terdiam sejenak.


Ditempat lain, disebuah kamar, seorang gadis yang tengah tertidur pulas di sana tiba-tiba harus terbangun karena ada air yang disiramkan padanya.


Gadis itu terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal. Wajah dan tubuhnya sudah basah kuyup, kepalanya yang sakit seakan sirna, kesadarannya yang sulit didapatkan seketika kembali.


Tangannya mengusap kasar wajahnya yang kuyup, matanya mengerjap seperti melihat seseorang yang berdiri di hadapannya.


''Bangun kau anak kurang ajar!'' hardik pria yang di panggilnya papah itu.


Ya mereka adalah Olivia dan Hendrawan.


Olivia melihat kasurnya yang basah dan tubuhnya yang juga basah kuyup, lalu melirik ke arah papahnya yang sedang memegang sebuah ember.


''Papa! ada apa dengan papa?! kenapa menyiramku!'' teriak Olivia begitu lantang pada Hendrawan.


''Kau anak tidak berguna! karena tingkah mu, Papa dibuat malu dengan si Agra itu!''


''Karena aku? apa salah ku, Pah?''


''Ck. Buat apa kau pulang dengan keadaan mabuk seperti tadi, hah!untuk mempermalukan Papa mu kan?! dasar anak tidak berguna!''


Brakkkk


Hendrawan membanting ember itu sampai terbagi menjadi beberapa bagian, Olivia hanya bisa diam di atas ranjangnya karena dia juga tidak tahu apa yang di maksud papa nya itu.

__ADS_1


''Dimana tas mu?!'' Hendrawan melangkah menuju sebuah meja rias. Olivia dengan panik melompat dari atas ranjang karena ingin mengambil tasnya yang ada di atas meja rias namun Hendrawan lah lebih dulu yang mengambilnya.


''Papa mau apa dengan tas ku?''


Tanpa menjawabnya, Hendrawan sudah mengeluarkan sebuah dompet dari dalam tas Olivia yang pemiliknya sendiri terus berusaha merebutnya balik.


''Papa kembalikan dompet ku!''


''Semua akan Papa kembalikan jika kamu berhasil merebut hati Agra, dan meninggalkan istrinya untuk menikah denganmu!''


Hendrawan berlalu pergi, meninggalkan Olivia yang terus berteriak memanggil-manggil Papah nya.


''Aku juga mencintai Agra, Pah! tapi aku bisa apa?! dia sudah menikahi gadis lain! Papah!!!!''


Seakan tidak perduli dengan teriakan Olivia, Hendrawan berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi ke belakang.


*


*


*


''Aku masuk ya, Mas hati-hati.''


Agra mengangguk dan tersenyum lalu mengecup puncak kepala Kiran. ''Sore nanti, Mas jemput disini.'' Kiran mengangguk dan Agra pun masuk kedalam mobilnya.


''Kiran?'' panggil Lisa dari belakang.


Kiran membalikan badannya tersenyum pada sahabatnya. Berjalan bersama menaiki anak tangga, melalui beberapa orang yang duduk disana, orang yang sering menggunjingkan Kiran hari ini mereka mengunci mulutnya.


Kiran dan Lisa saling bertukar pandang, lalu tertawa bersama. Ternyata pengakuan Agra hari itu sangatlah berpengaruh yang langsung membungkam semua orang dikampus.


''Aku ke toilet sebentar,'' ucap Lisa dan Kiran melanjutkan langkahnya menuju lokernya.


Tapi ketika membuka loker sebuah surat pun terjatuh lagi, surat bersampul biru, surat yang serupa yang ia dapat tempo hari lalu.


Kiran tidak langsung membukanya, dia memasukkan surat tersebut kedalam tas. Sekarang dia sudah lebih bisa menahan emosinya dia tidak ingin terlihat lemah walaupun hatinya ada setitik rasa takut disana.


Dan di sisi lain, begitu Agra sampai keruangan nya, ekor matanya melihat seseorang yang duduk di sofa dengan menundukkan kepalanya. Tidak, Agra bukannya tidak mengenali seseorang itu, justru dia sangat tahu betul siapa gerangan yang sepagi ini sudah ada disana.


''Mau apa kamu kesini?!'' tanya Arga tanpa basa-basi yang berjalan tanpa menoleh ke arahnya.


Agra duduk di kursi kebesarannya, dengan jarak beberapa meter ia melihat wajah seorang gadis yang membuat mood nya tiba-tiba memburuk sepagi ini.

__ADS_1


''Agra?'' panggilnya dengan suara yang sangat lirih tapi Agra terlihat tidak peduli.


''Aku sibuk, cepat katakan keperluan mu kenapa datang kesini!''


__ADS_2