
Mobil yang membawa Kiran telah berhenti di pelataran sebuah rumah mewah nan megah yang didiami oleh keluarga Nadindra.
Disana sudah banyak pelayat yang mulai berdatangan untuk menyampaikan rasa berbelasungkawa pada direktur perusahaan itu, mendiang Hermawan Nadindra.
Kedatangan pewaris tunggal keluarga Nadindra menyita perhatian semua pelayat, terlebih lagi ada seorang wanita yang digandeng oleh Agra.
''Berarti benar dia sudah menikah?''
''Iya, dan istrinya sangat terlihat muda. Wah sungguh sangat di serasi.''
''Kau benar, sama-sama cantik dan tampan.''
Itulah dosis-desus para pelayat ketika berjalan Agra dan Kiran melewati mereka.
Agra melangkah dengan wajah penuh amarah tapi tangannya tetap menggenggam erat tangan mungil Kiran. Seolah kedatangan orang yang ditunggu-tunggu, semua pelayat menyingkir tanpa dipinta memberikan jalan pada Agra dan Kiran untuk menuju sebuah peti yang sudah dihias dengan cantik, yang terdapat pula rangkaian bunga yang indah di sekelilingnya.
Sanak keluarga sudah berkumpul di sana dan berdiri menyambut kedatangan Agra selaku pewaris tunggal keluarga Nadindra. Tapi Agra tidak menatap dengan ramah pada mereka, dan justru seakan mencari keberadaan Nancy, yang ternyata sedang terduduk lesu di balik peti jenazah yang Agra tahu kalau Nancy sedang berpura-pura.
''Cucuku…'' panggil Faris dengan sendu. tangannya terbuka lebar menyambut kedatangan Agra, dan langsung memeluk cucu kesayangannya itu.
''Kau yang tabah ya 'nak, maafkan papamu jika dia punya salah,'' lirih Faris yang masih memeluk Agra.
__ADS_1
''Tidak kek, Papa orang baik, beliau tidak pernah melakukan kesalahan.''
Faris melepaskan pelukannya mengusap lembut lengan Agra dan Kiran bergantian, dan tangan yang tak lagi kekar itu mengusap lembut kepala Kiran dengan sayang.
''Kuatkan suami mu,'' ucap Faris dan di angguki oleh Kiran.
''Turut berduka cita ya kek, meski Kiran belum sempat berjumpa dengan papa, tapi do'a Kiran selalu menyertai papa mertua.''
''Terima kasih sayang, kau anak yang baik pasti doamu langsung sampai ke papamu.''
Agra melangkah ke arah peti, meski dia mencoba tegar namun tetap saja hatinya pun rapuh air matanya sudah sangat mendesak ingin segera lolos tapi Agra masih bisa menahan itu.
Tapi kedekatan mereka perlahan berjarak karena datangnya seorang wanita yang menjelma dengan wajah baik yang ternyata berhati iblis. Iya dia adalah Nancy ibu tiri Agra. Yang datang dengan drama sehingga membuat semua keluarga bersimpati.
Mata Agra beralih ke arah Nancy yang masih terduduk di samping peti jenazah, dengan sebuah lembaran tisu di tangannya Nancy menangis tersedu-sedu di sana. Namun tangisan Nancy tidak membuat Agra iba melainkan gurat kemarahan itu hadir kembali, tangannya pun sudah mengepal kuat ingin segera menyeret Nancy keluar dari istana Nadindra.
Dan entah karena memang emosi yang sudah bergejolak. Agra sudah akan melangkah menuju Nancy, tapi seketika tangannya ditahan oleh Kiran yang masih digenggam nya.
Kiran memberikan gelengan samar pada Agra seraya berkata dengan pelan, '' Nanti ya, Mas. Ada waktunya, tidak sekarang.''
Agra mendengus pelan, menarik dan membuang nafasnya segera untuk bertujuan mengontrol emosi yang sudah ingin ia lampiaskan. karena apa yang Kiran katakan benar, saat ini bukanlah saatnya untuk melampiaskan amarahnya, yang sudah jelas di sana masih banyak pelayat yang terus berdatangan dan jika dia menuruti emosi, sudah pasti akan mempermalukan keluarganya sendiri.
__ADS_1
''Terima kasih, sayang.'' Agra merekatkan genggaman tangannya, dan Kiran hanya bisa tersenyum dan menyenderkan kepalanya di lengan Agra agar suaminya bisa sedikit lebih tenang.
''Selamat jalan papa mertua, meski kita belum pernah berjumpa. Tapi Kiran akan tetap mendoakan Papa, agar jalan Papa bisa terang menuju surga,'' ucap Kiran meletakkan setangkai bunga mawar ke samping peti jenazah sang Papa mertua.
''Aamiin,'' Agra menyahuti doa kira Kiran.
Seketika Nancy yang sedang tertunduk di sana mengangkat kepalanya dan berdiri menghampiri Agra dan Kiran.
''Naak…'' panggil Nancy dengan suara parau.
Agra menoleh, menatap datar pada wajah yang seakan tidak berdosa itu.
''Papa sudah tenang di sana, nak.''
''Iya benar, sudah tidak lagi merasakan sakit yang diberikan oleh orang yang di cintainya.''
Nancy terdiam tapi seolah tidak menanggapi serius ucapan Agra, dan kini matanya beralih kepada Kiran, tersenyum samar dan mengusap lengan Kiran seraya mengucapkan kata 'terima kasih' karena sudah datang.
''Tidak perlu sungkan Mah, aku juga anak beliau sudah sepatutnya aku datang, bukan?'' sahut Kiran dengan tersenyum sangat manis kepada Nancy yang bahkan sudah mengubah ekspresi wajahnya.
Agra melirik ke samping melihat raut wajah Kiran yang tersenyum manis namun menyimpan sebuah fakta yang memang harus Nancy terima.
__ADS_1