
Kelas hari ini bubar di jam lima sore, Kiran dan Lisa berjalan sambil bercanda ria, bukan tanpa alasan, Lisa sengaja terus mengajak bergurau Kiran, demi mengalihkan perhatiannya yang terus saja bersedih memikirkan ibunya yang sakit didesa.
''Kau di jemput kah?'' tanya Lisa setelah sampai di pintu gerbang kampus.
''Tidak, aku naik taxi saja. Kenapa? kamu berharap bertemu Anas ya?''
''Ih, apa kau ini! tidak, tidak sama sekali!'' jawab Lisa dengan kilat walaupun kedua pipinya telah merona merah.
''Ahh… itu bis ku, aku duluan tidak apa?''
''Ya, tidak apa-apa, kau hati-hati ya.''
Kedua gadis itupun berpisah disana. Dengan melambaikan tangan Lisa akhirnya masuk kedalam bis yang kemudian melaju.
Kiran menoleh ke kiri ke kanan, mencari taxi yang belum juga terlihat. Rasanya tubuhnya sudah lelah, ingin sekali merebahkannya di ranjang favorit dia dan Agra.
'Apalagi dipeluk dari belakang, ahh rasanya hilang rasa lelah!'
Kiran menggelengkan kepalanya dengan cepat, ''Kiran! stupid! ini masih di jalanan, pikiran mu terlalu kotor!'' gumam Krian merutuki pikirannya itu.
Matanya berbinar melihat sebuah taksi yang mengarah kepadanya, tangannya segera melambai, dan taksi itu pun berhenti tepat di depannya. Tapi baru saja dia akan membuka pintu penumpang, seseorang memanggilnya dari belakang yang seketika membuat dia menoleh.
Bibirnya tersenyum lembut, matanya terus mengikuti jalan langkahnya, sampai orang itu pun berhenti di depannya.
''Ya? kenapa, Sar?''
Ya orang itu adalah Sari.
''Apa kau mau pulang?''
''Ya kau benar, kenapa memangnya?''
Mata Sari terlihat melirik ke arah taksi, ''Apa kau tidak dijemput oleh suamimu itu?''
''Tidak, dia hari ini begitu sibuk, mungkin pulang malam nanti.''
''Emmm... begini, Kiran. Aku datang ke sini belum sempat mencari tempat tinggal, dan kemarin aku menumpang di tempat teman se fakultas yang juga mendapatkan beasiswa. Aku tidak enak jika harus terus menumpang, sementara… aku mencari tempat tinggal yang cocok, apa boleh aku menumpang dulu di rumahmu?''
Kiran terdiam tidak langsung menjawab, dia bingung akan menjawab apa, karena dia tahu diri, rumah itu bukan rumahnya. Melainkan rumah Agra, ya walaupun Agra sudah mengatakan kalau rumah itupun menjadi rumahnya. Tetapi bukankah dia akan lancang jika menyetujui begitu saja, tanpa harus meminta izin dahulu pada suaminya.
Sari melambai pada wajah Kiran yang terlihat melamun. dia menunggu jawaban dari Kiran, yang seharusnya Sari pun mengerti arti diamnya Kiran.
"Emmm, aku harus membicarakan dahulu pada Mas Agra,'' jawab ragu Kiran.
__ADS_1
''Non! maaf, apa jadi ikut?'' teriak sang sopir taksi yang membuat Kiran dan Sari menoleh secara bersamaan.
''Oh, jadi Pak. Sebentar yaa…''
Kiran sejenak terdiam lagi, memikirkan bagaimana caranya agar membuat Sari mengerti, kalau dia harus bicarakan dulu pada suaminya sebelum memutuskan sesuatu.
''Begini saja Sar, kamu sementara aku carikan tempat tinggal dulu, nanti setelah aku bicara pada suamiku, aku akan segera mengabarimu, bagaimana?''
''Carikan tempat tinggal? justru itu aku ingin menumpang sementara padamu, untuk mencari tempat tinggal.''
Kiran membisu lagi, dan tiba-tiba mengingat sesuatu, 'Lisa!' ya nama Lisa lah yang ada di pikirannya.
Lisa anak yang mandiri maka dari itu dia memiliki usaha sendiri. Menyewakan beberapa tempat kost untuk para mahasiswa, yang jaraknya memang tidak jauh dari kampus.
''Sebentar!''
Kiran menjauh dari Sari, menghubungi Lisa yang baru saja berpisah beberapa menit yang lalu dengannya di sana.
Dan kebetulan memang dia pun pernah menginap di kost milik Lisa, saat dia malas pulang ke apartemen waktu Agra masih di Amerika.
''Pak, antarkan kami ke belakang gedung ini dulu ya!'' Kiran sedikit berteriak karena memang jalanan yang sedang ramai, tentunya berisik pula.
''Mau apa ke belakang gedung ini?'' tanya Sari yang bingung.
''Kebetulan Lisa, temanku yang tadi memiliki tempat kost. Dan Aku pun masih memegang kunci kost. Sebaiknya kau sementara di sana dulu, dan untuk biaya sewa, biar aku yang menanggungnya, di sana sudah tersedia peralatan dan perabotan, kau hanya perlu membawa baju dan buku-buku mu. Ayo!''
Hanya itu membutuhkan waktu 8 menit. Mereka pun sampai di tempat kost milik Lisa itu. Kiran turun lebih dulu dari taksi, dia merasa senang karena bisa membantu saudara sepupunya.
''Ayo, Sar! itu tempatnya, lumayan bagus kan, tempatnya sungguh nyaman, aku pernah tinggal disana.''
''Kenapa tidak dirumah mu saja, agar kau tidak perlu mengeluarkan biaya untuk sewa.''
''Seperti yang tadi aku katakan, aku harus bicarakan pada suami ku. Aku janji jika mas Agra sudah menyetujuinya, aku akan segera menghubungi mu.''
''Apa mungkin ada kemungkinan, kalau suami mu tidak menyetujuinya?''
Kiran memegang dagunya terlihat seperti sedang memikirkan apa yang Sari katakan. ''Aku tidak tahu pasti, ayo! Aku antarkan sampai depan pintu,'' seru Kiran lagi yang langsung menarik dari yang terlihat murung.
Setelah mengantarkan dari sampai depan pintu, dan memberikan kunci kost itu, Kiran pun berpamitan langsung pulang. Tidak! bukan pulang kerumah, melainkan kekantor Agra. Niat awalnya yang ingin langsung pulang agar bisa merebahkan tubuhnya langsung, ia urungkan. Karena ingin cepat-cepat bicarakan soal Sari pada suaminya.
''Jalan Pak! ke NDR Corp ya,'' ucap Kiran dengan ramah, dan di angguki supir tersebut.
Kiran sedikit termenung, memikirkan raut wajah Sari yang terlihat sedih ketika diantarkan ke tempat kost tadi.
__ADS_1
''Kenapa wajahnya tiba-tiba berubah sedih? apa dia kecewa karena aku tidak langsung menyetujui permintaannya?''
''Tapi memang bukannya aturannya seperti itu, sang istri harus meminta izin terlebih dahulu pada suaminya untuk menampung seorang tamu, sekalipun saudara sendiri?''
Sesampainya di sana, di NDR Corp. Kiran langsung turun setelah membayar beberapa uang kertas pada supir taksi itu. Dan seperti biasa, kedatangannya pun disambut baik oleh penjaga pintu utama, dan juga para karyawan yang berpapasan dengannya menyapanya dengan hormat.
Ting!
Pintu lift terbuka, ia telah sampai di lantai tempat ruangan Agra berada. tapi pada saat dia akan mengetuk pintu Agra seorang wanita dengan berpakaian formal dan sedikit seksi. menghampirinya dengan wajah yang tidak bersahabat.
''Maaf anda siapa? apa sudah membuat janji untuk bertemu dengan Tuan Agra. Kalaupun sudah, Anda bisa menunggu di sana, karena tuan Agra sedang kedatangan tamu penting.''
Wanita itu menunjuk pada kursi yang diperuntukkan untuk para sales, yang sengaja datang untuk menawarkan produk-produk yang akan dijualnya.
Kiran mengikuti arah telunjuk wanita itu. Sebenarnya dia ingin menjawab saat wanita itu bertanya Siapa dirinya, tapi apakah akan terlihat angkuh. Jika dia langsung memotong ucapan wanita itu dan mengatakan kalau dirinya adalah istri Tuan Agra.
Dengan ramah Kiran pun mengganggu dan berjalan ke arah kursi yang ditunjuk olehnya.
''Cih, dia sales atau memang ingin mencari perhatian pada tuan Agra. Penampilannya tidak seperti sales biasanya.'' Gumamnya yang kemudian berlalu pergi.
Sudah setengah jam lamanya Kiran menunggu pintu Agra terbuka. Keadaan kantor di lantai itu memang tidak terlalu ramai yang membuat mereka tidak menyadari kehadiran Kiran yang ada di sudut ruangan.
Anas yang kebetulan baru saja sampai habis mewakili Agra untuk menghadiri pertemuan di sebuah perusahaan, memiringkan kepalanya saat keluar dari lift dan melihat seorang gadis yang duduk di sudut ruangan tepatnya di kursi tunggu.
''Nona Kiran?''
Kiran menoleh dan tersenyum. Lalu menghampiri Anas dengan senyuman yang tidak pudar.
''Anda kenapa disana, Nona?''
''Aku diminta menunggu, karena ada tamu didalam.''
''Menunggu? Anda diminta menunggu? siapa yang menyuruh Nona Kiran menunggu?!'' Anas sedikit berteriak dan membuat Kiran terjingkat kaget.
Para karyawan yang sibuk dengan komputernya langsung mengangkat kepalanya dan bangkit dari duduknya, tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Anas.
''Nona bisa langsung masuk, silahkan.'' Agra mempersilahkan setelah membuka pintu ruangan Agra. Matanya menatap tajam pada semua karyawan yang tertunduk takut.
...----------------...
siapa yang disini suka genre horor, kalian bisa baca novel teman Nuna yaaa 🤗 sembari menunggu Nuna up 😘
Judul : PENULUSURAN GHAIB RANIA
__ADS_1
Author : Novi putri ang