
''Tuan Anas! tunggu!''
Anas melangkah dengan lebar ke ujung koridor yang tampak sepi, dan Lisa yang menyusul dari belakang berusaha menjangkau Anas yang tak kunjung berhenti dengan panggilan nya.
Anas mengehentikan langkahnya didepan jendela raksasa yang bisa langsung melihat pemandangan luar. Kedua tangannya bertumpu di tralis besi, bahkan hidungnya seakan tidak puas menghirup udara sebanyaknya.
''Tuan! apa kau tuli?!'' tanya Lisa dengan nafas yang tersengal-sengal.
Anas hanya meliriknya dengan sinis tanpa ingin menjawab pertanyaan Lisa yang nyalang.
''Kau kenapa tiba-tiba pergi, lalu itu bagaimana permintaan Tuan Agra? sungguh aku tidak sanggup, tabungan ku tidak cukup. Tapi jika benar kau yang akan mengurusnya, jangan pamrih padak—''
Emmmm!
Mata Lisa terbelalak, seluruh tubuhnya serasa kaku. Dia terkejut bukan main, karena saat ini Anas tengah membungkamnya dengan bibirnya.
Ya, Anas tengah melahap bibir bawel Lisa.
'Tuhan! apa ini mimpi?!'
Lisa bermonolog didalam hatinya. Dadanya berdebar kencang yang mungkin saja Anas pun dapat mendengar debaran jantung Lisa. Yang sebelumnya ia hanya diam mematung menerima serangan Anas yang secara tiba-tiba, perlahan ia mulai memejamkan matanya dan ikut menikmati serangan Anas itu.
Anas yang merasa pagutannya di balas, semakin memperdalam pagutannya, menyusuri setiap deretan gigi Lisa, bahkan lidahnya menerobos masuk kedalam mulut Lisa dan berperang dengan Indra mengecap milik Lisa.
Lisa melingkarkan tangannya di leher Anas, seakan kedua anak manusia itu tidak mempedulikan sedang berada dimana mereka. Beruntung disana tempat yang sepi sehingga tidak satu orang pun dapat melihat kegiatan mereka.
Dua menit! ya selama 120 detik mereka saling bertukar saliva, yang pada akhirnya Lisa merasa nafasnya sudah menipis dan Anas pun melepaskannya karena mengerti Lisa yang sudah kuwalahan.
Keduanya terdiam dengan saling menatap satu sama lain, pundak keduanya naik turun seakan menggambarkan saling memburu oksigen yang berkurang.
Lisa mengalihkan pandangannya, wajahnya memerah entah karena nafasnya yang terhambat atau memang malu pada Anas.
Anas meriah dagu Lisa dengan kedua jarinya, agar Lisa menatap langsung kepadanya.
"Apa kau menyesal?" tanya Anas dengan suara yang sangat lembut, berbeda dari biasanya.
"Menyesal?"
"Memberikan ku ini?" Bibir basah yang sedikit membengkak itu di sentuh dengan ibu jarinya Anas.
__ADS_1
Lisa ingin menghindar tapi dagunya tetap di tahan oleh Anas agar tidak menatap ke arah lain, dan hanya fokus padanya.
''Aku sedang bertanya, Lalisa?''
''A–aku akan ke to–toilet,'' seru Lisa dengan alasannya.
Anas tersenyum dengan lembut, dan mengangguk samar lalu melepaskan tangannya dari dagu Lisa. Lisa pun segera pergi dari sana.
Anas menatap langkah Lisa ya g terburu-buru, ia tahu kalau Lisa sedang berbohong, karena ingin menghindari pertanyaannya. Tapi Anas tidak bisa memaksa Lisa untuk tetap tinggal dan menjawab pertanyaan-nya bukan?
Anas tertawa kecil, menyentuh bibirnya sendiri yang juga nampak sedikit membengkak karena ulah Lisa yang ternyata pandai membalas pagutannya.
Tapi, tiba-tiba ia terdiam, memikirkan sesuatu, ''Apa Lisa sudah sering melakukannya pada mantan-mantan pacarnya?'' gumam Anas.
Salah! ya karena Lisa tidak pernah memiliki hubungan dengan seorang pria, ia bisa mengimbangi permainan bibir Anas karena sebuah drama yang sering Lisa tonton.
Di toilet, Lisa yang berdiri dengan menatap wajahnya dicermin merasa tidak menyangka kalau Anas tiba-tiba akan melakukan itu padanya, dadanya yang masih berdebar kencang menyisakan rasa sesak disana. Menghidupkan keran dan mencuci wajahnya yang masih merah. Dia masih Shock, tapi dia juga merasa berbunga-bunga.
''Dia mencium ku? apa hubungan kita sejauh ini?'' Lisa bermonolog pada bayangan dirinya di cermin.
''Tapi, diantara kita bahkan tidak pernah menyinggung perihal perasaan kita masing-masing, lalu—. Ck, ayolah Lisa, kau jangan terlalu baper, anggap saja itu hanya bentuk kecil dari mimpi! tapi apa itu mimpi buruk atau malah sebaliknya?''
Lisa melangkah dan menoleh ke arah tempat dimana ia meninggalkan Anas tadi, disana sudah tidak terlihat pria itu, dan pada akhirnya Lisa pun kembali keruangan Kiran yang ternyata Anas sudah kembali kesana.
''Lisa, kau dari mana?'' tanya Kiran yang sudah duduk di kursi roda karena sudah bersiap akan pulang.
''Aku, dari toilet, kenapa? apa kau mau pulang sekarang?'' sahut Lisa dengan mata yang sedikit melirik ke arah Anas yang tengah berbincang dengan Agra.
''He'em, tolong bantu aku ya.''
''Siap Nyonya!''
Setelah mengurus semua berkas-berkas, Kiran pun telah diperbolehkan untuk pulang, keempat orang itu keluar dari ruangan pasien VVIP itu.
Lisa yang mendorong kursi roda Kiran dan dua pria itu yang berjalan di belakang mereka. Kiran mendongak melihat wajah Lisa yang berbeda. Alisnya mengernyit heran, karena sikap Lisa yang tiba-tiba menjadi pendiam setelah kembali tadi.
''Lis?''
''Eh, kenapa, Ran?''
__ADS_1
''Kau kenapa?''
''Tidak, memangnya kenapa ?''
''Kau sepertinya sakit ya, wajah mu merah dan kenapa jadi alim?''
''Ck, sudah jangan bawel. Mau aku dorong kencang? Dan ku tabrakan ke di dinding kaca sana !'' ancam Lisa yang membuat Kiran seketika terdiam.
''Saya duluan ya Tuan, Nona. saya akan siapkan mobil.''
Agra dan Kiran mengangguk, Anas melangkah pergi meninggalkan tiga orang itu. Lisa yang tiba-tiba jengkel karena Anas hanya menyebut Agra dan Kiran tidak dengan dia, lalu sikap Agra pun terlihat biasa saja berbeda dengan dirinya yang seakan-akan masih merasa malu dan salah tingkah.
''Kenapa dia bersikap biasa saja!'' gumam Lisa yang terdengar samar-samar ketelinga Kiran.
''Apa Lis? kau bicara sesuatu?''
''Hah? tidak, aku tidak bicara apapun, kau kebangetan dengar!'' Sahut Lisa dan Kiran hanya mengangguk.
''Maaf biar saya saja.'' Agra mengambil alih kursi roda Kiran dari tangan Lisa yang menyingkir tanpa menjawabnya. Ia masih jengkel dengan sikap Anas yang biasa saja seolah-olah tadi tidak terjadi apa-apa dengan mereka.
''Ran, Tuan Agra. Maaf aku tidak bisa ikut dengan kalian, karena ada kelas satu jam lagi, aku pamit ya?''
''Kenapa tidak ikut dengan kami saja, rumah dengan kampus satu arah lho, Lis?'' sahut Kiran.
''Aku sudah memesan taxi, aku lewat sana ya, driver nya sudah ada di pintu timur.''
''Baiklah, hati-hati ya. Dan terima kasih, Lisa.'' Lisa mengangguk dan pergi.
''Ada apa dengan dia?'' tanya Agra yang juga merasakan sikap Lisa tiba-tiba aneh.
Lisa hanya menggedikan bahunya, walaupun dia juga sama bertanya-tanyanya dengan Agra.
Dilobi rumah sakit, Anas yang sudah menyiapkan mobil dan membukakan pintu untuk Kiran dan Agra, merasa heran karena Lisa tidak ada diantara mereka berdua, matanya terus mencari-cari.
''Dia sudah pulang!'' sambar Agra yang mengerti kalau Anas tengah mencari Lisa.
''Kenapa?''
''Ya nda tau kok tanya saya !'' sahut Agra dan Kiran bersamaan dengan disusul gelak tawa dari pasangan suami istri itu. Anas mendengus kesal mendengarnya.
__ADS_1