
''Ran…''
Panggil seseorang yang jaraknya lumayan jauh.
Kiran yang baru saja keluar mobil celingukan mencari asal suara, 'Suara pria? aah untung saja mas Agra sudah pergi' batin Kiran.
''Ran?'' suara itu terdengar lagi tapi dengan posisi orang itu yang sudah ada di depannya.
''Ya Ka Raka, ada apa?''
''Kamu di tunggu yang lainnya, di aula.''
''Ditunggu? memangnya ada apa?''
''Iya, kamu yang akan menjadi panitia seangkatan mu di acara gathering kan?''
Mulut Kiran ternganga, dia terkejut sekaligus bingung. Menjadi panitia? bahkan dia tidak tahu soal itu.
''Panitia, aku?'' tunjuknya pada dirinya sendiri.
''Iya, sang Roby yang sudah merekomendasikan mu, tidak mungkin kan dia tidak mengatakan padamu terlebih dahulu,'' ucap pria bernama Raka itu yang aneh karena melihat ekspresi Kiran yang seolah-olah terkejut mendengar ucapannya.
''Aku memang tidak tahu, Kak. Acara gathering yang Kaka katakan saja aku tidak tahu kapannya.''
Sungguh, Kiran di buat kesal pagi ini. Mood nya berantakan dibuat dosennya sendiri.
''Lho, kok bisa? apa sang Roby lupa untuk mengatakannya padamu.''
''Entahlah, Kak. Tapi setahu ku, kalau mau merekomendasikan seseorang bukankah sudah lebih dulu mengatakannya pada orang yang terkait. Ini! aku saja tidak tau menahu,'' sungut Kiran dengan wajah kesal.
Raka yang melihat Kiran memasang wajah kesal berdecak dan menddesah pelan. Satu kata yang cocok untuk menggambarkan ekspresi Kiran saat ini, 'Menggemaskan'
Tidak heran jika Edo dan Roby, menyukai Kiran. Karena memang kenyataannya bukan hanya mereka berdua yang menyukai Kiran di kampus, ada banyak pria yang diam-diam menaruh rasa pada Kiran, salasatunya ya… si Raka ini.
''Kalau begitu aku duluan ya, Kak. Mau mencari sang Roby juga, ingin bertanya soal ini!'' Masih dengan nada yang jutek dan ekspresi wajah yang kesal.
Pukk!
Kiran menepuk pundak Raka, dan berlalu begitu saja. Raka yang ditepuk seperti itu tiba-tiba meremmas dadanya yang terasa sebah, jantungnya seakan ingin loncat dari tempatnya.
''A–aku di sentuh Kiran? ck, aku tidak akan mencuci baju ini sampai kapanpun!'' gumam Raka dengan penuh semangat 45.
''Apa-apaan! dia keterlaluan sekali, mendaftarkan aku sebagai panitia, dan aku tidak tahu apa-apa.''
''Lalisa!!'' teriak Kiran yang melihat sahabatnya itu sedang berbincang dengan mahasiswa lain.
Lisa menghampiri Kiran dengan berlari, menyatukan alisnya dengan heran. ''Sepagi ini kening mu sudah mengkerut? ada apa?''
''Temani aku menemui sang Roby!''
''Sang Roby? ada apa memangnya?''
__ADS_1
''Dia menunjuk ku sebagai panitia di acara gathering nanti. Dan itu tanpa persetujuan ku.''
''Eh? kok bisa?''
''Sudah, nanti saja bingungnya, sekarang ikut aku menemui sang Roby!''
Kiran menarik tangan Lisa menuju ruangan dosen tempat biasa Roby berada. Tapi belum juga mereka masuk pintu pun terbuka dan keluarlah seseorang. Bukanya Roby yang di sana malah Maria lah yang mereka temui.
''Selamat pagi Bundah Maria, eehh maksud saya Miss Maria!''
Lisa meralat apa yang dia katakan, tangannya menutup mulutnya yang kelepasan itu.
''Pagi!'' sinis Maria menyahuti salam Lisa. ''Ada apa?''
''Apa di dalam ada sang Roby?'' ini yang bertanya adalah Kiran, dan mata Maria beralih pada Kiran dengan tatapan yang sinis.
''Di dalam tidak ada siapa-siapa, Ada apa memang yang mencari Robby, bukannya kau sudah memiliki suami!''
Kiran dan Lisa saling menatap dengan heran, karena pasalnya tidak ada hubungannya apa yang ingin mereka tanyakan dan tentang status Kiran.
''Saya ingin bertemu sang Roby, bukan ingin mengajaknya menikah, saya ingin bicarakan perihal acara gathering nanti.''
Kiran mengeja satu persatu kosakata yang dia ucapkan pada Maria, dengan bertujuan agar wanita 35 tahun itu mengerti apa yang dia katakan.
Maria mendengus kesal, terlebih lagi cara Kiran bicara seolah-olah mengajak anak kecil yang mengobrol.
''Robby tidak ada di dalam!''
''Ran! itu sangat lucu,'' ucap Lisa yang masih menahan tawanya.
''Lucu-lucu. Ayo! kita cari ketempat lain!''
Kiran kembali menarik tangan Lisa menuju ruangan perpustakaan yang juga biasa mereka tahu kalau Roby sering ke sana.
Memasuki ruang perpustakaan bukan untuk membaca ataupun meminjam buku, tapi hanya mencari keberadaan Roby, dari blok 1 ke blok yang lainnya tapi dua gadis itu tidak menemukan adanya Roby di sana.
''Ya sudahlah Ran, dia tidak ada di mana-mana. Nanti juga kita tidak mencarinya, dia akan muncul sendiri,'' ucap Lisa yang sudah mulai lelah ditarik ke sana kemari oleh Kiran hanya untuk mencari Roby.
''tapi aku kesal Lis, dia mengambil keputusan tentangku tanpa memberitahu ku!''
''lalu apa kau tidak setuju menjadi panitia?
''Tentu saja tidak! karena yang kudengar acara gathering itu akan diadakan saat libur akhir semester, dan aku memiliki suami. Aku ingin menghabiskan waktuku bersama suamiku bukan bersibuk di acara gathering!''
''Iya juga, ya.''
Kelas baru dimulai 25 menit, tapi Kiran sudah menghela nafasnya dengan berat sebanyak 30 kali dan itu Lisa hitung sendiri. Lisa tahu kalau Kiran sudah mengenal nafasnya itu berarti mood dia memang benar-benar sedang hancur pagi ini. Dan itu juga karena Roby, dosen mereka.
*
tuk tuk tuk
__ADS_1
Kiran hanya mengaduk-aduk makanannya saja, sendoknya hanya iya banting-banting di piring sehingga menghasilkan bunyi demikian.
''Masih tentang Roby? belum ganti topik kah?''
tanya Lisa yang sedikit terganggu dengan bebunyian yang dihasilkan oleh Kiran.
''Aku kesal, kenapa juga harus aku, kenapa tidak kamu saja.''
''Heh! sembarangan! memangnya kau kira jadi panitia tidak lelah, seharian harus mondar mandir di acara gathering yang seharusnya kita menikmati masa-masa liburan.''
''Itu kau tau!''
''Tau apa?''
Suara bariton itu terdengar dari samping kiri Kiran, Lisa dan Kiran pun mengangkat pandangannya pada sosok pria yang berdiri di samping kiri yang tersenyum dengan sangat manis.
''Lhooo! itu dia Ran, apa aku katakan, dia akan muncul sendiri kan!'' ucap Lisa dengan excited.
''Saya? kalian mencari saya?''
Ya itu adalah Roby, tanpa meminta persetujuan, Roby duduk begitu saja di samping Kiran dan menggeser piring Kiran ke depannya, berniat ingin mencicipi makanan Kiran. Tetapi yang dia lihat adalah makanan yang berantakan karena tusukan garpu dan sendok yang sembarang. Roby pun menggesernya kembali pada posisi awalnya.
''Sang Roby aku ingin protes! kenapa sang Roby tiba-tiba mendaftarkan aku sebagai panitia gathering, tanpa bicarakan terlebih dahulu padaku?!''
''Benarkah? saya belum mengatakan padamu, mungkin saya lupa, maaf ya...''
''Kalau begitu, batalkan! aku tidak berminat untuk ikut di acara itu.''
''Tapi sayangnya tidak bisa, karena perwakilan seangkatanmu yang kutahu tidak ada yang mau menjadi panitia, kupikir kamu akan setuju.''
''Aku tidak setuju sang Roby. Karena waktu liburanku akan aku gunakan untuk honeymoon bersama suamiku!''
Entah disengaja ataupun tidak. Tapi perkataan Kiran berhasil membuat Roby merasa ada belati yang menggores hatinya. dadanya terasa sesak kerongkongannya tiba-tiba terasa kering.
khemmm
Roby berdehem bertujuan untuk mengurangi rasa gugup. Meminum minuman Kiran yang belum tersentuh olehnya.
''Maaf, itu minumanku,'' sinis Kiran.
''Oh maaf.''
...----------------...
Mampir juga yuk ke novel teman othor 🤗 ceritanya tidak kalah seru loh dengan yang lainny 🤗..
Judul : Kurebut Suami Kakakku.
Author : AdindaRa
__ADS_1