
Dia hari berlalu, Kiran yang sudah melakukan berbagai macam pemeriksaan dan gips pun sudah di lepas dari tangan dan kakinya, dan hanya tersisa perban di kepalanya saja.
"Mas Agra?"
Agra yang tadinya asyik membuka obat dengan berdiri di samping nakas bereaksi mendengar panggilan dari Kiran yang terdengar sangat manis.
'Mas Agra' yang keluar dari kedua bibir peach-nya selalu terdengar mesra dan penuh cinta.
"Ya, Sayang. Kenapa?"
Agra berjalan mendekat, dengan beberapa obat di telapak tangannya
"Mama mu benar-benar nggak suka sama aku ya? Kemarin saja tidak sama sekali bicara padaku?"
Kiran sebenarnya sudah sangat ingin menanyakan ini. Tapi ia menahan diri.
"Itu bagus kan?"
"Huh? maksud, Mas?"
"Iya. Karena jika dia salah bicara, Mas bisa usir dia langsung di depan Kakek dana semuanya."
Mata Kiran membulat lebar. Tampak sangat cantik bagi Agra. Karena ia dapat melihat manik matanya yang seperti kejora.
"Sudah, kamu harus fokus dengan pemulihan mu."
Agra berdiri tepat di hadapan Kiran yang duduk di tepi ranjang. Mata mereka tertaut dan Agra tersenyum.
"Minumlah obatnya dulu. Dan istirahatlah."
Kiran mengambil obat dari tangan Agra, menerima segelas air minum dan meneguknya hingga habis. Mengembalikannya pada Agra dengan jantung yang detaknya sudah berantakan. Ia masih tidak percaya lelaki nan tampan rupawan yang berdiri di dekat nakas itu adalah suaminya.
Yang sepanjang hari di sini dengannya, bercanda dan merawatnya.
"Tangan dan kakimu sudah dilepas gipsnya. Kalau keadaannya semakin membaik, nanti kamu akan boleh pulang lebih cepat."
"Iya."
Agra memutar tubuhnya, menghadap Kiran dan menunduk. Kiran memejamkan matanya saat Agra semakin mendekat.
Tapi saat itu ia tidak merasakan kecupan Agra, dan saat ia membuka matanya, Agra sedari awal memang tidak berniat ingin menciumnya. Melainkan mengambil selimut yang ada di belakang -nya.
Wajah Kiran merah padam. Ia berpaling agar Agra tidak melihatnya. Tapi tampaknya Kiran terlambat karena Agra sudah mengetahuinya lebih dulu.
"Kenapa wajahmu merah begitu?"
"Nggak tuh."
Agra menyelidik. Ia kembali tersenyum dan meletakkan selimut yang baru saja ia ambil ke atas kursi.
Kiran terkejut karena dagunya diraih Agra. Bibir merahnya mendarat dengan nyaman, memagut Kiran tanpa memberi peringatan. Atas dan bawah bergantian. Tangannya turun merengkuh pinggang Kiran dengan hangat.
Untuk yang ke sembilan ratus sembilan puluh sembilan kalinya, ciuman yang diberikan oleh Agra terasa sangat manis. Kiran suka dengan caranya yang lembut, seolah menikmati bibirnya seperti sebuah appetizer.
Kiran melingkarkan tangannya ke leher Agra. Menariknya semakin dalam. Baru setelah satu abad lamanya saling melepaskan.
__ADS_1
"Kamu mengira Mas akan melakukan ini 'kan barusan?"
Kiran mengerjapkan matanya beberapa kali. Rasanya ingin saja mengatakan, 'Ya. Ini yang aku mau.'
Tapi tidak mungkin 'kan ia mengaku?
Jadi Kiran memberikan gelengan kepalanya dengan cepat dan membuat Agra tertawa dibuatnya. Ia duduk di kursi dan meraih tangan Kiran.
"Mas belum pernah mengatakan ini padamu, Dek."
"Apa?"
"Terima kasih sudah menjadi istriku, kamu mengorbankan masa mudamu dengan menyandang status sebagai seorang istri. Bukankah itu mengesankan?"
"Apanya yang mengesankan?"
"Pilihanmu. Hm... sekarang mana ada anak perempuan yang mau menikah
"Ada. Aku."
Agra benar-benar tertawa sekarang.
"Sejak kapan Mas mencintaiku? Atau sebenarnya Mas Agra tidak pernah mencintaiku?"
"Bicara apa kamu?!"
Agra menunjukkan wajah kesalnya. Alisnya hampir tertaut dan bibirnya mengerucut. Sudah bisa dikuncir dengan ikat rambut.
"Karena sangat aneh. Mana ada sih Mas lelaki sepertimu yang jatuh cinta dengan perempuan yang terduduk di tengah warga desa yang sedang di cecar banyaknya hinaan?"
"Ada. Aku."
Kiran yang sekarang kesal karena 'Ada, aku.' Yang baru saja diucapkan Agra adalah hasil copy paste kalimatnya sebelumnya.
"Serius, Sayang. Memang benar kok sejak saat itu kamu membuat Mas jatuh cinta. Entah, rasanya aneh juga bagaimana aku bisa aku langsung bersedia menikahi mu. Padahal saat itu aku hanya ingin membuat dia jujur dengan perbuatannya. Hm, nggak tahunya malah ketemu jodoh."
"Mas sudah mencuri semuanya. Hatiku, ciuman pertamaku."
"Ciuman pertama?"
"Iya, itu Mas Agra yang ambil."
"Benarkah?"
"Iya. Lalu siapa perempuan pertama yang kamu cium saat jatuh cinta?"
"Kamu."
"Kapan?"
'Kapan' dari Kiran membuat Agra harus berpikir lebih matang. Kiran dapat melihat raut ragu-ragu cemas di wajahnya yang tampak harus berhati-hati saat menjawab.
"Bukannya itu saat kita ciuman di bawah hujan? Di hari kamu mendatangiku?"
Kiran menyeringai. Ia tahu Agra tak akan mengaku sama seperti yang dikatakan oleh Mala bahwa Agra diam-diam masuk ke dalam kamarnya setelah mereka menikah dan menciumnya sesaat sebelum keberangkatannya ke Amerika.
__ADS_1
"Bohong, 'kan?"
"Ap–apanya yang bohong?"
"Mas pernah menciumku sebelum itu…"
Agra memalingkan wajahnya. Ia menebak dalam hati pasti Mala-lah yang mengatakannya pada Kiran peristiwa hari itu. Saat Mala memergokinya ada di dalam kamar Kiran dan melengos pergi begitu saja dengan tidak mengatakan apapun.
"Auh ...."
Kiran merintih kesakitan saat ia menyentuh perutnya. Membuat Agra khawatir dan bangkit.
"Kenapa, Sayang? Ada yang sakit? Mas panggilkan dokter ya?"
Kiran menggeleng.
Dan Agra terlambat menyadari kalau ini hanyalah akal-akalan Kiran saja yang memang sengaja mengerjainya. Karena kerah baju Agra ditarik olehnya, membuat Agra menunduk dan Kiran mengecup bibirnya.
"Kamu membohongi Mas?"
"Anggap saja itu sebagai balas dendamku."
"Mala yang mengatakannya, 'kan?"
Kiran memberikan anggukan kecilnya dan tersenyum.
"Bagaimana ini?" Agra menatap Kiran yang masih duduk di tepi ranjang rawatnya.
"Apanya yang bagaimana, Mas?"
"I want you so bad, Kiran."
"R-right now?"
"Ya. Right now."
"S-serius? D-di sini?"
"Ya. Di sini."
Mereka saling tatap dalam kabut hasrat yang tidak bisa dijelaskan. Agra kembali menunduk dan memberikan kecupan di bibir Kiran. Berubah menjadi sebuah deep kiss yang semakin manis saat Kiran membalas pelukannya.
"M-Mas… mau apa?"
Kiran merasakan hangatnya napas Agra dan keadaan keduanya yang mengunci pandang satu sama lain. Di saat yang sama, tangan Agra menyelinap masuk di bawah dress yang dipakainya.
Kiran menggigit bibirnya saat Agra menurunkan underwear yang ia kenakan.
Sudut mata Agra seperti sedang mengatakan, 'Ayo bercinta, Kiran!'
Darah Kiran berdesir dengan panasnya. Ia menunduk, menatap ke bawah dan membuka kancing celana milik Agra. Menurunkan perlahan resletingnya agar tidak ada insiden terjepit resleting jilid dua.
Suasana semakin panas, Kiran telah berhasil melepaskan kancing dan menurunkan resleting celana Agra yang sudah menampilkan sebuah hotpants hitam dengan sebuah gumpalan yang keras di dalamnya. Tapi baru saja Agra akan melepaskan celananya, pintu pun terbuka yang di susul dengan jeritan seorang wanita sangat nyaring.
...----------------...
__ADS_1