
''Agra…''
''Aku sibuk, cepat katakan apa keperluan mu datang kesini?!''
''Aku kesini ingin meminta maaf. Aku tahu aku salah dan aku sudah menyesali itu, Apa kamu mau memaafkan ku?''
Mata Agra yang tertunduk kini terangkat melihat Olivia yang berdiri di sebrang mejanya.
''Kalau kau ingin meminta maaf bukan padaku, tapi pada istriku, yang menerima sikap kurang ajar mu itu.''
''Oke oke... Aku akan meminta maaf padanya tapi aku perlu maaf darimu terlebih dahulu, kita kan saudara.''
Agra hanya membuat matanya dengan malas lalu membuka laptop mengerjakan sesuatu disana tanpa mempedulikan kehadiran Olivia lagi.
''Gra?'' panggil Olivia lagi. ''Kamu maafin aku kan?''
''Ck, sebaiknya kamu pergi Liv, aku benar-benar sibuk, tidak ada waktu meladeni mu.''
''Iya, aku akan pergi tapi kamu harus maafin aku dulu.''
''Kamu bisa pergi tidak! apa perlu ku panggilkan security untuk menyeretmu keluar dari sini!'' suara Agra cukup menggelegar dan membuat Olivia terjingkat kaget.
Mendengus dengan kesal Olivia pun akhirnya pergi dari sana. Agra hanya melihat melalui ujung matanya saja, dan tertawa kecil ketika ia menangkap sesuatu yang Olivia ambil berbarengan dengan tasnya yang Olivia taruh di sofa. Kamera? sungguh Agra tertawa melihat itu.
Sudah dapat di tebak kalau Olivia datang ke sana hanya untuk sebuah rencana, mengutip dari pengalaman, Olivia maupun Hendrawan mereka adalah ayah dan anak yang cukup licik. Prilakunya yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, Agra pun sudah mempelajari karakter dan sifat keduanya itu.
''Kau kira, aku ini bodoh?'' gumamnya dengan menyeringai lebar.
Dikampus, Kiran yang sudah mengikuti kelas paginya, saat ini tengah bersantai di halaman kampus bersama Lisa, sahabatnya. Kiran yang sedang membaca buku dan Lisa yang sedang berleha-leha sambil memakan cemilannya.
Sesekali tingkah Lisa membuat Kiran tertawa karena kelakar sangat. Tapi tiba-tiba ia termenung ketika mengingat sebuah surat itu, dengan berbisik Kiran meminta Lisa agar mendekat kearahnya.
''Kenapa?''
''Aku mendapatkan surat kaleng itu lagi,'' bisik Kiran dan Lisa pun semakin penasaran, apa isi dari surat kaleng Kiran saat ini. Ya sebelumnya ia telah diceritakan oleh Kiran tentang surat kaleng tersebut tapi kali ini dia benar-benar penasaran.
''Dimana suratnya?''
''Di tas ku.''
Tanpa ingin menunggu lagi, Lisa sudah lebih dulu merebut tas milik Kiran dan mencari surat kaleng itu.
''Mana, tidak ada,'' seru Lisa yang terus mengaduk-aduk isi tas Kiran.
''Ada kok! yang berwarna biru.''
''Biru? tidak ada! ditas mu tidak ada kaleng Ran!'' keukeuh Lisa, Kiran mengernyit heran. Kaleng? siapa yang bilang kalau Kiran menyimpan kaleng disana?! dengan gemas, Kiran pun merebut tasnya lagi lalu mengambil surat yang berwarna biru lalu menunjukkannya pada Lisa.
''Ini apa!''
''Surat,'' sahut Lisa dengan wajah polosnya.
''Iya ini yang ku maksud, Lalisa Hutapea!''
''Hah? tapi itu hanya surat Ran, tidak pakai kaleng.''
__ADS_1
Kiran sudah tidak bisa lagi berkata apa-apa ia hanya bisa menepuk jidatnya karena kepolosan dari sahabatnya itu.
''Coba kulihat.'' Lalisa mulai membuka lempitan surat dan membaca dengan bersuara.
Kau harus segera pergi dari hidupnya, sebelum menyesal nantinya. Orang yang terlihat baik belum tentu baik hatinya, bahkan kalau kelak aku beritahukan apa hubungannya dengan Agra dan Reza. Pastilah kau akan terkejut.
Lisa membacakannya dengan logat daerahnya dan Kiran mencoba menelaah isi daripada surat itu, yang terdengar sangat aneh kenapa ada nama Agra dan Reza di sana. Apa hubungan mereka? bukankah Agra dan Reza tidak mengenal satu sama lain, lalu apa maksudnya?
Lisa menatap ke arah Kiran begitu pula Kiran yang menatap Lisa keduanya tengah kebingungan, sebenarnya siapa pengirim surat ini.
''Ran, apa maksud dari surat ini? bukankah Reza itu mendiang mantan pacarmu dan Agra itu suami mu kan?'' Kiran mengangguk dengan angan-angan yang melambung jauh.
''Lalu kenapa seolah-olah surat ini ingin memberitahukan mu, kalau Agra dan Reza disini saling berhubungan?''
Kiran menggedikan bahunya, dia pun bingung. Tapi kali ini dia akan memberitahukan nya pada Agra, sekalian ia ingin bertanya perihal isi dari surat itu.
*
*
*
Kelas teknik informatika tidak ada hari ini, para mahasiswa pun telah mengetahuinya dari grup pesan yang di share oleh senior mereka.
Kiran dan Lisa berniat untuk sekedar berjalan-jalan dan kebetulan ada jadwal film yang dibintangi aktor dari negara Korea favorit mereka. Kiran sudah mengirimkan pesan pada Agra kalau dia dan Lisa akan pergi menonton.
Agra pun hanya membalasnya dengan kalimat,
''Hati-hati, maaf mas tidak bisa ikutan serta, karena ada meeting, sampai ketemu.''
''Tidak!''
''Lalu kenapa dia meminta maaf karena tidak bisa ikut?''
''Mungkin mas Agra salah paham, tapi tidak apa-apa yang terpenting dia sudah mengizinkan aku.''
''Cih, sombong kau! iya kau memang seorang istri yang solehah,'' seru Lisa meledek Kiran.
Keduanya pergi menggunakan sebuah taxi. Jarak tempuh mereka tidaklah terlalu jauh karena memang kampus mereka yang terletak di tengah-tengah kota sehingga ingin kemanapun terasa dekat.
Sesampainya mereka di sana, Kiran pun segera membayar tagihan sesuai argo pada supir taksinya. Berjalan beriringan keduanya pun melangkah memasuki gedung bioskop.
Tapi ketika mereka sedang membeli tiket di salah satu loket yang antriannya lumayan panjang, dua orang wanita menyala antriannya.
Tanpa tahu rasa malu dua wanita itu pun mengambil tiket yang seharusnya itu milik Kiran dan Lisa. Lisa yang tidak terima segera menteriakinya dengan suara lantangnya.
''Hei!''
Salasatu dari dua wanita itu menoleh dan melihat Lisa dan Kiran dengan ujung matanya yang sinis.
''Itu tiket ku!''
''Siapa yang bilang ini tiket mu. Jelas-jelas kami yang membayarnya.''
Kiran yang melihat kondisi gedung bioskop itu cukup ramai merasa tidak enak dan akhirnya mengalah, tapi sebelum Kiran dan Lisa pergi untuk membeli tiket ke tempat loket yang lain suara yang tidak asing memanggil nama Kiran dari sisi kanan.
__ADS_1
Kiran pun menoleh dan iris matanya melihat seorang wanita berpakaian sangat mini menghampiri mereka.
''Olivia?''
''Siapa, Ran?''
''Sepupu mas Agra.'' Lisa hanya ber'oh ria mendengar nya.
''Kamu disini, Kiran?''
''Iya, kamu juga?''
''Heum, itu mereka teman-teman ku, kemarilah!'' Olivia melambaikan tangan pada dua wanita yang tadi mengambil tiket bioskop milik Kiran dan Lisa.
''Kau mengenal mereka, Liv?''
''Tidak, aku hanya mengenal dia saja.'' Tunjuk Olivia pada Kiran.
''Siapa memangnya dia?'' tanya yang lainnya.
''Dia wanita yang merebut Agra dari ku!'' Kiran tersentak ketika kalimat itu keluar dari mulut Olivia, bahkan suaranya yang memang dikencangkan sehingga semua mata tertuju padanya.
''Ooh, dia pelakor!'' sembur teman Olivia yang ikut menunjuk kearahnya.
''Hei! kalian ini apa-apaan! pelakor? dia ini istri sah dari Agra. Dan Agra itu kan sepupu mu!'' balas Lisa tidak mau kalah, rasanya ia tidak terima kalau sahabat nya tengah dipermalukan.
''Sudah Lis, lebih baik kita pergi dari sini, dari pada harus meladeni mereka.'' Kiran mencoba menarik tangan Lisa, namun karena sudah terpancing emosi, Lisa pun menepis tangan Kiran.
''Tidak bisa Ran! mulut sampah seperti mereka harus dibungkam!'' teriak Lisa.
''Siapa yang kamu maksud mulut sampah! kalian yang sampah! berteman kok dengan pelakor!''
''Pelakor bapak kau! kau ini adik sepupu dari suami sahabat ku, lalu dari mana dia pelakornya?! pikir pakai otak mu yang kecil itu! sembarangan berucap saja! yang di katakan pelakor itu mestinya kau, ya perempuan modelan seperti inilah yang lebih pantas di sebut seperti itu.'' Lisa terus membalas ucapan Lisa dengan logat daerahnya yang kental.
Lisa tahu mereka tengah menjadi sorotan disana, bahkan ada yang sengaja merekamnya, tapi Lisa tidak ingin nama sahabatnya itu tercoreng karena cap 'Pelakor' itu. Dan dengan sebisanya ia pun memutar balikan ucapan Olivia agar perempuan jahanam itu berbalik malu.
Dan benar saja, akhirnya Olivia pun pergi dengan rasa malu, terlebih lagi mendapatkan sorakan dari orang-orang yang menonton perdebatan mereka.
''Lisa?''
''Apa? aku kesal padamu! dikatain pelakor kok diam saja!''
''Bukan seperti itu, lihat kearah jam 9, disana ada media yang menyorot kita, aku tidak ingin merusak nama baik mas Agra.''
Lisa mengikuti petunjuk Kiran, dan ternyata benar ada seorang wartawan yang ikut merekam perdebatannya dengan Olivia disana.
''Alamak!! mati aku!! maafkan aku, Ran… aku benar-benar gemas dengan mereka.''
...----------------...
Mampir juga yuk ke novel teman ku, gak kalah seru juga lho🤗
Judul : Pernikahan Salsa
Author: Zaenab Usman
__ADS_1