
Agra kembali ke restoran, tempat Kiran dan Roger berada. Melihat istrinya yang tengah memasang raut wajah masam, Agra memberi senyuman terhangat nya karena dia tau kalau istrinya sedang merajuk pada nya.
"Dek, udah datang ya makanan nya," ucap Agra yang berusaha membujuk Kiran .
Tidak ada sahutan dari Kiran, ia tetap diam. Tapi Agra tida menyerah ia meraih tangan Kiran lalu dikecupnya dengan mesra.
''Maaf ya, tadi tidak sengaja bertemu klien Mas diluar sana. Dan tidak enak jika Mas tinggal.'' Mata Kiran melirik sedikit melihat raut wajah Agra yang murung.
Kiran memberikan anggukan, ''Ya sudah. Kita makan sekarang, ini sudah agak dingin.''
''Kenapa kalian tidak memakannya?''
''Aku menunggu mu, Mas.''
''Kau juga menunggu ku, Roger?'' tanya Agra ya g beralih pada Roger. Bibir Agra mengulumkan senyumannya karena dia sedang menjahili orang kepercayaannya itu.
''Tidak Tuan, Nyonya melarang saya makan, kalau belum anda datang.''
Agra tersentak, matanya beralih pada Kiran yang juga terbelalak mendengar ucapan Roger. ''Hei, aku kapan melarang mu!'' ucap Kiran yang tidak terima.
''Tadi, maaf Nyonya kalau saya lancang. Tapi tadi saya mendengar ucapan Anda yang mengatakan, 'Makanan sudah datang, tapi dia belum muncul juga. Biarkan saja makanan ini, sampai pemiliknya datang'. Seperti itu.'' Roger mengulang gumaman Kiran yang ia dengar dengan jelas itu. Dan bahkan ia mengartikan nya sekaligus.
''Isshhh, kau menyebalkan!'' rutuk Kiran dengan kesal.
''Ck, ck, ck. Kau tega sayang,'' ucap Agra yang menyatukan alisnya dengan mata yang memicing.
''Mas… tapi bukan itu maksud ku,'' rengek Kiran Agra tertawa kecil dan mengusap kepalanya dengan sayang.
''Sudah-sudah. Kita makan saja sekarang,'' ucap Agra yang kemudian melirik jam tangannya, ''Kita harus segera berangkat.''
*
Merekapun pergi dari restoran itu setelah merasa cukup kenyang, walaupun tidak semua pesanan yang Agra pesan di makan, tapi Agra memberikan itu semua pada pelayan disana.
Roger yang hanya mengantarkan saja sampai bandara, setelah itu kembali ke rumah utama.
Kembalinya Roger ke rumah utama, ia dikejutkan dengan sebuah berita kalau keluarga majikannya sedang berduka kembali karena salasatu anggota ditemukan tewas di dasar jurang. Ya dia adalah Olivia.
Faris selaku kepala keluarga berusaha menyelidikinya, dan diapun tidak lupa menghubungi Agra tapi memang karena Agra yang masih di dalam pesawat sehingga ia tidak bisa menghubungi cucu sulungnya itu.
Tanpa bantuan Agra, Faris mencoba mencari tahu dan ternyata kecelakaan itu memang real sebuah kecelakaan tidak ada kesengajaan. Dan pihak kepolisian pun menyampaikan kalau Olivia memang mengalami kecelakaan tunggal, dan menyetir dibawah pengaruh obat-obatan terlarang.
Ya, itu semua adalah rencana dari Agra dan tim nya. Entah dengan cara apa, sehingga apa yang Agra lakukan tidak sama sekali terendus pemeriksaan kepolisan.
__ADS_1
Hendrawan terpuruk karena kepergian anak semata wayangnya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau anaknya bisa pergi begitu cepat.
Setelah sehari pemakaman Olivia dan Faris pun sudah berhasil menghubungi Agra, namun Faris hanya mengabarkannya saja, tidak meminta Agra dan Kiran kembali karena memang dia mengerti, pasangan itu pasti kelelahan karena perjalanan jauh.
Kasus di tutup, dengan catatan. Kecelakaan tunggal dengan korban yang dibawah pengaruh obat-obatan terlarang disaat menyetir.
Dari hari itu, Hendrawan berubah menjadi seorang yang sangat pendiam, ia bahkan tidak lagi mau bersosialisasi dengan kerabat yang lain, ia hanya bekerja dengan semestinya dan setelah itu beristirahat dirumah. Hanya itu yang setiap hari ia lakukan.
Faris sedikit merasa senang, karena anaknya sudah bisa diandalkan, tapi dia juga merasa khawatir begitu juga Liliyana yang merasa khawatir dengan keadaan suaminya yang tiba-tiba berubah.
''Biarkan saja nak, mungkin itu cara dia melupakan kepedihan hatinya karena kepergian, Olivia.'' Liliyana mengangguk mengerti.
Di Indonesia. Kiran yang sudah lulus dari kejuruannya lengkap dengan hasil yang baik, sudah memegang peranan di anak perusahaan yang di wariskan untuknya dari sang Papa mertua.
Agra yang sesekali datang untuk membantu istrinya merasa bangga, karena ternyata Kiran bisa menjalankan tugasnya dengan baik, menjalankan warisan sang Papa dengan begitu mulus. Sehingga perkembangan perusahaan pun melesat pesat, dan merambah kemana-mana dengan tambahan beberapa fitur dan produk yang Kiran luncurkan.
Dan hari ini Kiran diberikan sebuah penghargaan dari pemerintah karena membuat sebuah fitur-fitur menarik yang menguntungkan kepemerintahan kota. Agra duduk dengan kepala yang terangkat, ia benar-benar bangga dengan istrinya. Istri yang dia nikahi karena menggantikan orang yang tewas karena dirinya juga.
Kesuksesan Kiran dari usaha ia sendiri dan sedikit bantuan suaminya, dan bahkan kabar itu tercium sampai di penduduk desa, orang tua kandung Kiran menyaksikan berdirinya anaknya di atas podium di balik layar televisi. Mereka menangis bangga, walaupun mereka juga tahu kalau mereka sangat salah atas perbuatan mereka.
Dan semenjak hari itu, sebuah kepercayaan yang selama ini mereka agungkan lenyap karena kesuksesan Kiran yang semula mereka anggap akan selamanya bernasib sial, tapi malah sebaliknya, Kiran sukses di ibukota.
''Terima kasih untuk semuanya, juga tidak lupa terima kasih banyak untuk seseorang yang selama ini berdiri dibelakang saya, yang terus membimbing saya sampai saya berada di titik ini. Beliau adalah suami saya, Agra Madava Nadindra. Suami yang sangat luar biasa, suami yang sangat saya muliakan. Terima kasih suami ku.''
Suara tepukan tangan bersorak-sorai memenuhi gedung putih, ikut bangga dan bahagia karena kedua pasangan suami istri yang sukses itu.
Bruukkk!!
Kiran sudah tidak sadarkan diri lagi, yang beruntung ada Agra disana yang sigap.
Dengan panik, ia membawa Kiran kerumah sakit uny mendapatkan pemeriksaan dan penanganan. Sudah hampir setengah jam dokter didalam belum juga keluar, dan itu yang membuat Agra semakin khawatir.
''Bagaimana, Tuan? keadaannya?'' tanya Lisa yang baru saja datang bersama Annas.
''Entahlah, dia masih didalam.''
''Semoga nyonya, baik-baik saja,'' ucap Anas pelan.
''Semoga,'' sahut Agra.
Beberapa saat kemudian seorang dokter keluar dari pintu kaca itu yang langsung Agra hampiri. Dengan banyaknya pertanyaan dokter pun meminta Agra untuk ikut ke ruangannya.
Agra duduk dengan tidak tenang menanti penjelasan dokter tentang diagnosa Kiran yang tiba-tiba jatuh pingsan.
__ADS_1
''Anda harus merayakan ini, Tuan. Karena sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua.''
Penuturan dokter itu membuat Agra ternganga tidak percaya wajahnya yang syok bercampur senang sehingga air matanya pun tidak bisa terbendung. ''Kau serius, Dok?'' dokter itu mengangguk yakin.
Agra segera keluar dari ruangan dokter setelah mengucapkan banyak terima kasih pada dokter itu.
Agra yang keluar dari ruangan dokter membuat Anas dan Lisa sedikit heran karena raut wajah Agra tidak tergambarkan kesedihan melainkan kegembiraan.
Pertanyaan Anas dan Lisa tidak satupun dijawab oleh Agra, ia melewati kedua orang itu untuk masuk ke ruangan Kiran dan Anas juga Lisa pun membuntut dari belakang.
Melihat Kiran yang sudah tersadar dan duduk di ranjang dengan bersandar, Agra pun segera menghampiri Kiran. Memeluknya dengan erat dan memberikan beberapa kecupan mesra pada kening pipi juga bibirnya.
''Terima kasih, sayang,'' lirih Agra.
Kiran mengganggu karena dia pun tengah terharu dan membuatnya sulit berkata-kata. ''Mas aku hamil,'' Kiran dengan suara serak, Lisa dan Annas yang mendengar itu mengucap syukur ikut bahagia karena berita itu.
''Syukurlah penantian kalian selama ini akhirnya terkabul juga,'' ucap Lisa.
''Oh ya Tuan, karena ada berita baik seperti ini kami juga memiliki berita baik yang harus kami sampaikan,'' ucap Anas menyela.
Kiran dan Agra melepaskan pelukan menatap kedua orang itu dengan penasaran.
''Iya Kiran, aku memiliki berita baik kalau kami akan segera bertunangan.''
Keempat anak manusia itu saling mengucap syukur karena mendapat dua kabar bahagia sekaligus di hari yang baik ini.
Ya penantian Agra selama ini, yang sangat ingin memiliki seorang anak akhirnya terkabul. Dan usaha Anas juga selama ini untuk mempersunting Lisa akhirnya terwujud, setelah menyelesaikan masalah keluarga Lisa yang ternyata orang yang waktu itu ia lihat memukul Lisa ternyata bukanlah ibu kandung dari Lisa melainkan bibi atau adik dari ibu Lisa yang bekerja di luar negeri.
Anas telah melaporkan bibi dan Pamannya Lisa ke kepolisian dan menyampaikan pada orang tua kandung Lisa kalau selama ini anaknya tidak diperlakukan dengan baik. Karena sebuah pekerjaan Ibu Lisa tidak bisa pulang segera ke tanah air tapi dia tetap memberikan restu untuk Lisa dan Anas untuk bertunangan walau tanpa dirinya.
***TAMAT***
HAI KAKAK-KAKAK SEMUA 👐🏻🤗
Terima kasih sudah mengikuti jalan cerita Agra dan Kiran juga Anas dan Lisa yang akhirnya telah menemukan kebahagiaannya. Nuna turut mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya nya untuk kalian semua atas dukungan selama ini.
Dan Nuna mau mempromosikan tarian Nuna yang baru, Nuna harap kalian mau mampir ke karya Nuna💃🤗🤗
INI NOVEL BARU NUNA ⬇️⬇️⬇️⬇️⬇️ Di jamin gak kalah serunya🤭🤭
Dan ada juga yang baru, novel Nuna juga kok 🤗
__ADS_1
NUNA TUNGGU KEHADIRAN NYAAA🤗🤗🤗🤗 BYE BYE 👐🏻☺️