Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Logika Agra


__ADS_3

Anas menatap tajam pada para karyawan yang masih menunjukkan kepalanya. Mata Anas berhenti ke salah satu orang yang terlihat gugup.


''Hei kau! Kemari!'' panggil Anas dengan sangat nyalang.


Wanita itu berjalan dengan gemetar, matanya terus melirik ke wajah Anas yang masih menatap tajam ke arahnya.


''Kau karyawan operan dari kantor cabang bukan?''


Wanita itu mengangguk tanpa bersuara.


''Punya hak apa kau sampai menyuruh nona Kiran untuk menunggu, kau tahu beliau itu siapa, hah?!''


''Tidak tahu, Tuan,'' lirihnya.


''Beliau adalah istri dari pemilik perusahaan ini, orang yang membayarmu bekerja di sini. Lancang sekali kau! memintanya untuk menunggu. Kau kuberikan surat peringatan, jika ini terulang lagi, surat pemecatan lah yang ada di meja kerja mu, mengerti!''


Wanita itu terjingkat dan kemudian hanya mengangguk pasrah. Merutuki kebodohannya karena telah meminta agar istri dari pemilik perusahaan itu menunggu di kursi tunggu, walaupun memang dia benar-benar tidak tahu Kiran itu siapa.


.


Kiran masuk ke ruangan Agra dan melihat suaminya yang tengah sibuk dengan beberapa berkas, yang ada di hadapannya, bahkan kehadiran Kiran pun tidak dia sadari.


Kiran harus berdehem dahulu barulah Agra menyadari kalau Kiran sudah berdiri di depannya. Agra terkesip, senyumnya mengembang. Raut wajahnya yang semula tegang, seketika berbinar karena melihat obat penenangnya, yaitu istrinya, Kiran Wulandari.


''Astaga, sayang! kau datang, honey?'' Agra langsung bangkit dari duduknya dan melebarkan tangannya untuk memeluk Kiran.


Kiran membalas dekapan Agra. Agra melangkah mundur, masih memeluk Koran, dan duduk di kursinya dengan memangku Kiran.


''Kenapa tidak mengabari kalau mau datang, hmm?'' jari Agra merapikan anak rambut Kiran yang menutupi pipinya.


''Memangnya kenapa apa, Mas, sibuk? Kiran mengganggu, Mas ya?'' wajah polos istrinya membuat Agra gemas terlebih lagi bola matanya yang bundar.


''No, sayang. Kehadiran kamu tidak akan mengganggu Mas. Maksud Mas untuk mengabari kalau datang, agar Mas bisa menyambutmu dengan baik, tidak seperti ini bahkan Mas tidak menyadari kamu ada.''


Kiran terkekeh geli. Lalu melingkarkan tangannya di leher Agra, bergelayut manja di sana, bahkan wajahnya menghadap ceruk leher Agra. Yang pastinya nafasnya pun menerpa tempat sensitif para pria yaitu, leher.


Agra sedikit men-desah dan langsung menciumi wajah Kiran. ''Kamu membuat Mas semangat,'' bisik Agra pada telinga Kiran dan sedikit mengigit daun telinganya.


''Mas?''


''Apa, sayangku, hmm?''

__ADS_1


''Tadinya Kiran ingin langsung pulang ke rumah, tapi ada sesuatu yang ingin Kiran bicarakan pada, Mas.''


''Apa itu?''


''Sari datang, dan… ternyata dia satu kampus denganku.''


Agra menjauhkan wajahnya, memasang wajah bingung karena tidak tahu Siapa yang dimaksud 'Sari' ini oleh Kiran.


''Siapa Sari?''


''Dia saudara sepupuku dari desa, dia datang karena mendapatkan beasiswa, dan ada tujuan lain juga-''


''Tujuan lain apa?''


''Sari mengatakan kalau ibuku sakit keras di desa,'' lirih Kiran.


Agra hanya diam karena sesungguhnya dia sangat membenci orang-orang yang berasal dari desa tempat Kiran berasal. Dia mengingat betul bagaimana orang-orang di sana mencerca Kiran tanpa belas kasih, dan tidak ada seorangpun yang memasang badan untuk istrinya waktu itu, walaupun hanya sekedar membela Kiran pada waktu itu.


''Apa Mas masih tidak mengizinkan aku, untuk datang ke sana?''


''Kiran, istriku tersayang. Mas bukannya tidak peduli dengan perasaanmu, hanya saja, Mas sangat ingat betul bagaimana perlakuan keluargamu dan orang-orang di desa itu padamu. Sehingga Mas pun ikut membenci nama desa itu.''


Anak manapun pasti merasa sedih kalau mendengar kabar ibunya yang tengah sakit, terlebih lagi dia sudah 1 tahun lamanya tidak melihat ibunya.


''Baik, Mas. Kiran mengerti, Kiran akan menurut apa yang Mas katakan. Tapi Mas, ada hal lain yang ingin Kiran bicarakan juga pada, Mas.''


mengambil jeda untuk melanjutkan kalimatnya, dia melihat raut wajah Agra yang menunggu apa yang akan dia bicarakan selanjutnya.


''Apa boleh, emmmm...—''


''Apa, sayang?''


''Sari meminta untuk tinggal sementara bersama kita, apa Mas mengizinkannya?''


''Tinggal bersama kita? apa dia datang ke sini tanpa persiapan. Emmm… maksud Mas, biasanya kalau mendapatkan beasiswa dan tahu beasiswa itu ada di kampus kota, yang jauh dari tempat tinggalnya, pasti dia akan mempersiapkan tempat tinggal yang akan dia tempati selama berada di sini. Lagi pula dia juga tidak tahu kan sebelumnya kalau kamu ada di kampus itu, dan ada di kota ini?''


Kiran terdiam mencerna apa yang Agra katakan padanya. dan perlahan ia mulai mengerti apa yang dimaksud oleh Agra.


Membenarkan apa yang semua suaminya jabarkan. Seseorang yang tahu akan berkuliah di tempat yang jauh, pastinya akan mempersiapkan tempat tinggal dan sebagainya. Lalu kenapa Sari mengatakan dia belum memiliki tempat tinggal?


''Benar kan?'' Kiran mengangguk cepat.

__ADS_1


''Lalu jawabanmu apa, ketika dia meminta ingin tinggal bersama kita?'' tanya Agra lagi yang penasaran dengan jawaban Kiran, saat sepupunya meminta ini tinggal bersama mereka.


''Aku mengatakan ingin meminta izin pada Mas terlebih dahulu, aahh tapi, Mas!'' Agra mengangkat kedua alisnya.


''Aku sudah mengantarkan dia untuk tinggal di tempat kost milik Lisa yang ada di belakang gedung kampus.''


''Ya, lalu?''


''Tapi dia masih mengharapkan kabar dariku,'' Agra terkekeh geli melihat raut wajah Kiran yang begitu lugu dan polos.


Dia sampai bingung, Kiran yang ini, apa sama dengan Kiran yang kemarin melawan Olivia, yang begitu tegas dan dewasa. tapi kali ini, dia melihat Kiran yang begitu menggemaskan.


''Sayang, bukankah dia mengatakan ingin mencari tempat tinggal dan meminta untuk tinggal sementara bersama kita selagi iya mencari tempat untuk ia tinggali, bukan begitu?'' Kiran mengangguk lagi.


''Lalu permasalahannya di mana? dia sudah mendapatkan tempat tinggal, bukan. Dan itu kamu yang mencarikannya, terus… untuk apa dia masih mengharapkan tinggal bersama kita?''


Kiran terlihat sedang berpikir dan mulutnya membentuk huruf 'O' karena membenarkan apa yang Agra jelaskan.


''Iya juga, ya Mas! itu berarti aku sudah memecahkan masalah Sari?''


''Emmmm, bisa dikatakan seperti itu. Sudah ah, jangan bahas orang lain lagi. Kita bahas tentang kita saja, bagaimana?''


Agra menaik nurunkan alisnya dengan genit, Kiran memicing dan sesaat kemudian, Agra telah membopong tubuh Kiran menuju kamar pribadinya yang ada di belakang kursi kerjanya.


''Yaaakkkkk!!! Mas turunkan aku! aku takut jatuh!''


''Mana mungkin! tangan mas kekar seperti ini bisa menjatuhkan mu.''


Agra tidak memperdulikan teriakan Kiran dia malah semakin membawa Kiran ke dalam kamarnya dan menguncinya rapat-rapat.


Memulai kembali pergulatan panas mereka.


...----------------...


Mampir juga ke novel teman Nuna yaaa 🤗 sembari menunggu Nuna up 😘


Judul : Khan, Kamulah Jodohku


Author : Muda Anna


__ADS_1


__ADS_2