Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Sisi Lain Kiran


__ADS_3

''Mas…''


''Hmmmpp?


''Kiran Bosan.''


Agra yang tengah menanda tangani beberapa berkas, langsung menutupnya lalu mengangkat pandangannya. Dia tersenyum dengan sangat manis, gigi gingsul nya pun turut terlihat menambah pesona ketampanan Agra.


''Bosan ya? kau mau kemana, hmm?''


Agra duduk di samping Kiran dan langsung memeluknya dengan manja, menciumi rambutnya seakan aroma dari rambut Kiran sebagai candu untuknya.


Agra dan Kiran berjalan dengan bergandengan, melewati para karyawan yang menatap mereka dengan tatapan takjub karena keserasian mereka.


Agra yang tampan dan Kiran yang cantik, sungguh matched pair!


Mereka meninggalkan kantor begitu saja, sebenarnya sedari tadi Agra telah menyadari kalau Kiran sudah merasa bosan dari helaan nafas Kiran yang berulang. Tapi Agra menunggu Kiran yang langsung mengatakannya, karena ingin melatih istrinya menjadi istri yang berani.Bernai meminta padanya, berani mengatakan apapun yang dia rasa.


Agra melajukan mobilnya dengan hati-hati, kepalanya menoleh dan tersenyum ke arah Kiran yang juga tersenyum kearahnya.


Tangannya seakan merekat kuat seolah-olah baru saja dituangkan lem Korea, terus berpegangan dengan mesra.


''Mas…''


''Hmmpp, ya, sayangku?''


Kiran tersenyum, ketika mendengar panggilan 'sayangku' itu keluar dari bibir Agra, sungguh membuat ia merinding.


''Apa Mas tidak pernah akur dengan Olivia?''


''Akur? hmmmppp???'' Agra menggaruk dagunya. ''Akur seperti apa yang kau maksud?''


''Iya, seperti saudara pada umumnya.''


''Dulu, sebelum aku mendengar ucapan Olivia yang mengatakan suka padaku. Mas tidak memiliki adik perempuan, dan adanya Olivia, Mas menganggap dia bukan lagi sepupu, melainkan seorang adik.''


''Lalu setelah itu, Mas menjauh darinya?''


''100 untukmu!''


Agra mengacak lembut rambut Kiran yang dapat dibetulkan hanya dengan jari saja.


''Mas tidak mau kalau perasaan dia semakin dalam, karena bagi Mas, dia adik Mas, tapi hati orang siapa yang tahu, ternyata dia bukan menyukai Mas saja, dia sangat terobsesi pada Mas.''


''Alasan Mas tidak mau menikah dengannya hanya karena menganggap dia adik?''


Agra mendesis pelan. ''Tidak juga, karena memang Mas tahu maksud dari keluarga dia menjodohkan kami, lagipula memangnya kau mau, Mas menikah dengan Olivia?''


''Tidak lah!''


Kiran menjawabnya dengan kilat.


Agra tertawa kecil mendengar jawaban sewot dari Kiran, sebelum melanjutkan laju mobilnya di persimpangan jalan lampu merah.


''Itu kamu jawab, tidak, kenapa harus bertanya itu pada Mas.''


Tidak ingin menjawabnya lagi, dia hanya diam dengan bibir yang tersenyum lembut.


Agra membelokkan kemudinya kesebuah kafe dan sebelum Kiran bertanya, Agra lebih dulu yang mengatakannya.


''Kita makan dulu, ya?''

__ADS_1


Kiran mengangguk samar lalu menjawab pelan ''Iya.''


Dengan digandeng tangan oleh Agra, mereka melangkah kedalam, memilih tempat disudut ruangan dan mengabaikan tatapan orang-orang yang menatap kagum pada mereka.


''Duduklah.'' Agra menarik kursi untuk Kiran.


''Pesankan Mas ya,'' Agra mengusap kepala Kiran dan akan berlalu.


''Mas mau kemana?''


''Ke kamar kecil, kenapa mau ikut. Mau lihat—''


''Mass...''


Kiran mengisyaratkan agar Agra diam tidak melanjutkan kalimatnya yang akan keluar dengan penuh godaan untuk dirinya.


''Ya sudah, tunggu Mas kalau gitu.''


''Iya, iya...''


Agra pergi dengan tersenyum, menunjukkan lesung pipi dan gingsulnya, dan hal itu membuat jantung Kiran penuh debaran. Lesung pipi Agra adalah bagian darinya yang seksi.


Selain suara baritonnya kalau dia berbisik.


Selain perut roti sobeknya. Selain miliknya yang ada di antara .....


"Auh! Stop, Kiran!"


Ia merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa cukup dengan hanya memikirkan Agra seharian.


Ia mulai berpikir, 'Jadi seperti ini rasanya jadi pengantin baru?'


Sebelumnya Kiran mengira itu adalah Agra yang sudah selesai dari toilet. Atau staf kafe yang datang padanya.


Tapi bukan. Itu adalah ...


Olivia.


Olivia melihat Kiran dan Agra yang keluar dari kantor, bergandengan tangan dengan begitu mesranya, seakan memamerkan keromantisan mereka.


Tidak mempedulikan mata-mata yang melihatnya, dunia terasa milik berdua dan yang lainnya hanya menumpang.


Mengikuti mereka dengan sangat penasaran akan kemana pasangan suami istri ini pergi.


Maka di sinilah Olivia sekarang, duduk mengambil tempat di hadapan Kiran dengan mata setajam belati. Ia kesal, ia tidak tahu bagaimana caranya Agra mendapatkan Kiran.


Yang harus ia akui dengan penuh kebencian, Kiran memang sangat cantik.


Kiran membutuhkan waktu sepersekian detik untuk menyadari bahwa yang ada di hadapannya ini adalah Olivia. Perempuan yang sama yang saat itu mengatakan, 'Aku sering tidur bersama Agra disini, sebelum kau hadir dan merusak semuanya'.


Perempuan yang akan dijodohkan oleh Agra.


"Sebenarnya apa yang membuat mu, mau menikah dengan Agra?"


Pertanyaannya terdengar sangat menyebalkan. Ini adalah pertanyaan yang paling Kiran benci sepanjang hidupnya. Jauh lebih menjengkelkan dari pada pertanyaan Roby siang tadi.


Kiran mendengus. Membalas tatapan Olivia yang menusuk.


"Dengar, Kiran! Kamu nggak tahu siapa aku?"


"Kamu amnesia?"

__ADS_1


"Hah?


"Kenapa kamu bertanya siapa kamu ke aku, Olivia? Wah! aku pikir kamu amnesia loh barusan."


Kiran menahan tawanya. Ia tidak ingin perdebatan dengan Olivia berakhir dengan saling bersitegang urat leher sehingga ia memilih menanggapinya dengan santai saja.


"Kiran!"


Tapi Olivia berteriak kesetanan. Dia bangkit dari duduknya. Mengabaikan pandangan orang-orang yang menyempatkan diri untuk menoleh pada mereka.


Kiran melirik ke sekeliling yang memang semua orang tengah memperhatikan mereka berdua, terutama pada Olivia.


Olivia tampak mengangkat tangannya untuk menampar Kiran.


Namun gerakannya terhenti karena pergelangan tangannya ditahan.


Bukan orang lain, bukan Agra seperti pada film yang tiba-tiba menyelamatkannya.


Tapi Kiran, ya itu adalah Kiran.


Itu adalah tangan Kiran yang menahan pergelangan tangan Olivia di udara.


Mereka saling tatap satu sama lain. Kiran bangkit dari duduknya dengan dagu yang terangkat.


"Apa yang ingin kamu buktikan dengan mendatangiku ke sini? Ingin memastikan hubunganku dengan Mas Agra? Itu yang ingin kamu tahu? Baik! Biar aku katakan ini. Aku istrinya. Aku bukan anak kecil yang bisa kamu tindas. Jadi jangan ganggu suamiku!"


Kiran mengatakannya dengan penekanan di akhir kalimatnya tanpa rasa takut sedikitpun. Ia sudah berjanji bersama Agra untuk menjaga pernikahan mereka. Dan tidak boleh ada orang lain yang mengguncang biduk rumah tangganya.


Baik itu Olivia, atau bahkan orang yang ada dimasa lalu Agra.


Kiran tidak sama sekali menurunkan pandangannya, ia bahkan mengeratkan cengkramannya pada pergelangan tangan Olivia yang sudah meringis karena merasakan sakit. Kiran sudah cukup sabar selama ini, ia diam bukan berarti takut, hanya saja ia tidak ingin hubungan keluarga antara mereka menjadi buruk hanya karena Olivia yang terus menganggu-nya.


Olivia berusaha melepaskan tangan Kiran, yang ada akhirnya Kiran sendirilah yang melepaskannya dan sedikit melemparnya. Wajah Olivia memerah karena malu akan mata yang terus tertuju padanya.


Bahkan Kiran mengatakan kalimat terakhirnya dengan sangat lantang yang sudah pasti semua orang pun mendengar itu.


''Wanita tidak tahu malu, melabrak istri sah.''


''Iya, sudah bagus si istri tidak mencakar wajahnya.''


''Dasaranya pelakor tetap akan jadi pelakor, yang tidak akan punya rasa malu!''


Ucapan dari orang-orang itu membuat Olivia menggertakkan gigi-giginya pada Kiran, ia marah pada gadis itu, yang berhasil membuat asumsi publik agar mencerca dirinya.


Dengan rasa malunya, Olivia akhirnya pergi meninggalkan Kiran yang masih menatapnya dengan nyalang. Kiran akhirnya kembali duduk setelah membungkuk ramah pada orang-orang disana karena telah mengganggu waktu makan mereka dengan perdebatannya.


Agra datang, mengelus sayang kepalanya. Lalu duduk didepannya. Tersenyum dengan lembut pada Kiran yang masih tersirat sisah gurat marah diwajahnya.


Bukan Agra tidak tahu akan kedatangan Olivia, bahkan ia juga melihat Olivia yang akan menampar Kiran, tapi pada saat ia akan mencegahnya, Kiran sudah lebih dulu menahan tangan Olivia.


Agra sengaja tidak ikut bergabung karena ingin tahu sampai mana istrinya bisa menangani jamur kulit itu.


...****************...


Mampir juga ke novel teman Nuna yaaa 🤗 sembari menunggu Nuna up 🙏😚


Judul : Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-Bar


Author : Oktavia Hamda Zakhia


__ADS_1


__ADS_2