Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Fobia Ketinggian


__ADS_3

Lisa menyeret kopernya yang berukuran sedang, menuruni anak tangga yang akan menuju halaman rumah, rambutnya yang terjuntai bebas turut Anas perhatikan dari dalam mobil. Sesungguhnya dia masih memikirkan Lisa saat ini, kenapa Kiran yang notabenenya teman akrabnya saja tidak mengetahui rumahnya, atau memang Lisa yang enggan memberi tahu.


"Bantu dia, Anas !" ucap Agra dengan kesal karena Anas tidak bisa langsung peka.


"Baik Tuan!" Anas pun keluar dari mobil dan bersiap akan masuk ke dalam gerbang, namun Lisa yang melihat Anas yang memasuki gerbangnya seketika menghentikan langkahnya dan menatap Anas dengan mata yang melebar dan menggelengkan kepalanya dengan sangat samar.


Anas yang melihat ekspresi Lisa langsung menghentikan langkahnya, karena ia dapat membaca ekspresi Lisa yang seolah mengatakan. "Jangan! jangan kesini!"


Anas dapat melihat, mata Lisa melirik ke sebuah titik dan dia pun mengikuti arah pandang kemana Lisa melirik.


Matanya memicing, karena saat ini Lisa tengah melirik ke arah CCTV yang tertempel di sudut di dinding depan garasi mobil.


Anas menganggukan kepalanya dan Lisa tersenyum, kemudian melanjutkan langkahnya dengan membawa kopernya.


"Biar ku bantu," ucap Anas setelah Lisa sudah keluar dari gerbang.


"Terima kasih," sahut Lisa dengan tersenyum canggung.


Lisa berjalan mendahului Anas dan langsung masuk ke dalam mobil. Entah kenapa Anas tidak bisa menghiraukan pikirannya dari apa yang sebenarnya terjadi pada Lisa atau lebih tepatnya tentang kehidupannya.


Di dalam mobil, Lisa baru mengingat sesuatu. Tubuhnya memutar melihat kebelakang pada kedua pasangan suami itu itu.


"Oh ya, tiketnya?"


"Sudah saya urus," jawab Agra, Lisa manggut-manggut mengerti.


"Tapi kamu bawa paspor kan?" tanya Kiran dan di angguki Lisa.


Pintu terbuka dan masuklah Anas setelah menaruh koper Lisa kedalam bagasi, Lisa melirik sedikit dan langsung duduk kembali di kursinya dengan posisi yang benar.


Mereka pun sampai di bandara dan langsung menuju pesawat, dengan fasilitas First Class yang Agra pilih, tanpa mengantri ataupun harus berdesakan untuk menuju pesawat, juga memiliki fasilitas tempat duduk yang memiliki pembatas di sekeliling tiap penumpang untuk menjaga privasi. Tersedia layar LCD dengan headphone untuk menonton berbagai hiburan selama perjalanan.


"Wah kau keren Tuan, aku biasa pakai kelas bisnis saja sudah berasa sultan, tapi ini? Astaga, Kiran kita akan banyak berfoto di sini, agar aku posting di media sosial," celoteh Lisa yang kembali terdengar dari sebelumnya ia berubah pendiam.

__ADS_1


Kiran hanya tertawa kecil, karena dia juga baru pertama kali ini menaiki pesawat, tanpa di ketahui siapapun, dia tengah menyembunyikan rasa takut sehingga tangan dan kakinya pun sudah dingin seperti es.


Agra mengambil duduk dan di susul Kiran dengan di pandu asisten khusus di sana atau bisa di sebut juga seorang pramugari yang mengurus semuanya.


Anas pun mengambil duduknya, dan hanya tersisa Lisa yang masih berdiri, "Lalu aku duduk dimana?"


"Silahkan Nona," seru pramugari dengan mempersilahkan Lisa agar duduk di dekat Anas.


"Disini?" tanya Lisa, dan di angguki pramugari itu dengan sopan dan ramah.


Lisa mengangguk dan masuk ke dalam blok, duduk di sebelah Anas dengan canggung walaupun kursi itu memang terasa sangat nyaman.


Pesawat pun lepas landas dan terbang di udara. sedikit goncangan membuat salah satu penghuni fasilitas first class terkejut dan dengan spontan meremas tangan orang yang di sampingnya.


Ya dia adalah Kiran, ternyata dia memiliki fobia ketinggian, dan saat ini tangannya tengah meremat tangan Agra dengan kuku-kukunya yang panjang.


Agra menoleh dan melihat tangan pikiran yang gemetar bahkan kuku panjangnya sudah menancap di punggung tangan Agra.


Agra tersenyum dan tanpa melepaskan tangan Kiran dia malah ikut menggenggam Kiran agar istrinya itu bisa lebih nyaman dan dia pun aman dari cengkraman kuku panjang Kiran.


''Mas, berapa lama penerbangan kita?''


''Kurang lebih 16 jam, kenapa?''


Mata Kiran terbelalak mendengarnya, baru saja lepas landas kaki dia sudah terasa lemas dan ternyata penerbangan pun harus membutuhkan waktu selama itu, apakah dia akan kuat atau setelah sampai nyawanya sudah 5 watt. Karena saat ini jantungnya sudah berdebar kencang.


''16 jam, Mas!''


Agra mengangguk.


''Sayang kamu bisa tenang, ini dengarkan musik dan pejamkan mata percayalah semua akan baik-baik saja, Mas ada disini.'' Agra menempelkan handphone ke telinga Kiran yang memutarkan sebuah musik agar bertujuan untuk Kiran terasa lebih nyama.


Berbeda di kursi lainnya, Lisa yang sedari tadi terus memotret dirinya tanpa ada ekspresi takut ataupun keringat dingin seperti Kiran. Karena memang dia sudah terbiasa melakukan perjalanan panjang menggunakan pesawat.

__ADS_1


Anas yang melihat Lisa bersikap seperti itu tidak sama sekali keberatan karena sedikit demi sedikit dia lebih mengerti kenapa wanita kerap bertingkah seperti itu dan dia sebagai seorang pria harus memakluminya.


''Posting aahh!'' seru Lisa setelah selesai mengambil gambar dirinya.


Hanya membutuhkan waktu sebentar, postingan Lisa ternyata sudah banyak yang menyukainya dan suara notifikasi membuat Anas yang semula tidak ingin protes, seketika dia sedikit merasa terganggu juga.


''Wah banyak sekali yang menyukainya,'' gumam Lisa dengan jari yang terus berselancar di media sosial nya.


Tapi pada saat dia membaca sebuah komenan di salah satu postingan fotonya, dia terkejut karena tanpa sadar dia menunjukkan sosok pria yang duduk di sampingnya dan memiliki beberapa pertanyaan dari teman-teman kampusnya yang ikut berkomentar di kolom yang tersedia.


''Astaga… aku tidak sadar kalau dia terlihat di postinganku, aku harus menghapusnya!'' gumam Lisa dengan panik, dan ternyata didengar oleh Anas yang juga tanpa dia sadari Anas sejak tadi melirik ke arahnya dan lebih tepatnya ke arah ponselnya.


''Kenapa dihapus?'' suara Anas tiba-tiba terdengar ke telinga Lisa.


Lalisa menoleh dengan ekspresi bingung.


''Kenapa harus dihapus? karena ada aku di sana?'' tanya Anas lagi dengan nada yang sinis.


''Seharusnya seperti ini!'' Anas merebut ponsel Lisa dan mengambil gambar dia dan Lisa dengan jarak yang begitu dekat walaupun posenya mereka saling menatap tanpa melihat ke kamera.


''Dan posting, selesai!'' tanpa persetujuan Lisa si pemilik ponsel Anas malah memposting foto dia dan Lisa di akun media sosial Lisa, yang seketika membludak notifikasi dari like dan komentarnya.


''Tuan! kau apa-apaan! ini bagaimana, Astaga sudah banyak yang melihat! kalau penghuni kampus tahu bagaimana?!''


''Memangnya kalau mereka tahu kenapa? apa ada pria yang sedang kau taksir di sana sampai kau takut dia melihat postinganmu?''


''Iya, bagaimana kalau Zico melihat postinganku, gagal sudah mendekati mahasiswa populer itu!''


''Apa!''


''Apa?''


''Kau wanita menyebalkan ya?'' Anas mendengus kesal dan melipat tangannya lalu membuang pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


Lisa yang melihat itu menahan senyumnya karena dia pun menyadari kalau saat ini Anas tengah cemburu. Dengan berpura-pura cuek Lalisa kembali memainkan ponselnya.


Menghapusnya pun percuma karena postingan barusan telah dilihat dan dikomentari ratusan mahasiswa, yang sangat penasaran siapa pria yang berselfie dengannya.


__ADS_2