Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Maafkan Kiran ya Mas...


__ADS_3

“Bagaimana kalau tiba-tiba Mas Agra juga membenciku?” pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir mungil Kiran di balik punggung Agra.


Kedua bahu Agra merosot mendengar keresahan Kiran.


“Kamu bilang Mas adalah satu-satunya orang yang kamu punya, 'kan?”


“Iya.”


Agra melepaskan pelukannya, mendorong pelan tubuh Kiran dan meletakkan tangannya di wajah Kiran.


Kiran tidak tahu kenapa Agra menutup matanya dengan sebelah tangannya.


“Kalau begitu, tutup mata seperti ini, dan lihat Mas saja! Jangan pedulikan apapun dan percayalah!”


Agra menjauhkan tangannya. Membuat Kiran membuka matanya dengan perlahan.


“Kiran, siapa yang kamu lihat?”


Air mata Kiran luruh. Agra telah menyentuh hati dan meyakinkannya dengan cara yang mudah dimengerti. Karena saat ia membuka matanya, ia hanya melihat Agra seorang, hanya Agra.


"Agra."


Agra tersenyum mendengarnya.


"Iya, siapa itu Agra?"


"S-suamiku?"


"Iya, suami. Lalu untuk apa kamu khawatir kalau ada suamimu di sini?"


Bukannya mereda, tangis Kiran semakin pecah. Membuat Agra kebingungan. Dengan panik ia memperhatikan sekeliling takut ada pramugari ataupun orang lain yang tiba-tiba datang dan membuka tirainya.


“Loh, Dek? Sayang? Loh, kok malah nangis?”


“Pokoknya, Mas juga cuma boleh lihat Kiran saja. Tidak boleh lihat yang lainnya. Titik!”


Agra tidak bisa menahan tawanya sekarang. Itu diucapkan Kiran dengan memukul dadanya. Terdengar marah, tapi juga bahagia.


"Iya, tentu saja. Mana mungkin Mas melihat orang lain?"


Agra menarik Kiran ke dalam pelukannya lagi. Merasakan kini kebahagiaan mereka meluap.


***


'Anak-anak bilang kamu bulan madu? Selamat! Dan jangan mengangkat telpon orang lain saat suami mu sedang bersama mu!'


Arrondissement, pusat kota Paris . Jam di tangan kiri Kiran menunjuk pada angka delapan malam yang dingin setelah sampai di sebuah rumah milik temannya Faris, kakek nya Agra, yang disewakan dan akan menjadi tempat tinggalnya bersama dengan Agra juga Anas dan Lisa selama mereka ada di sini.


Mereka mendarat di Bandar Udara Charles de Gaulle Paris.

__ADS_1


Pesan itu, tadinya Kiran mengira datang dari teman kampus nya. Tapi bukan. Karena teman-temannya tidak mungkin sekasar itu. Itu adalah Robby.


Kiran tidak tahu kesalahan apa yang dia lakukan sampai Roby mengatakan tentang hal ini.


Kiran menggeleng cepat, masih tidak mengerti dengan pesan masuk dari Roby.


Ia memeriksa ponselnya sekali lagi dan melihat ada panggilan masuk dari Roby di jam-jam saat ia dan Agra bercinta. Dan panggilan itu... dijawab.


Kiran menutup mulutnya dengan tidak percaya. Sekarang ia tahu alasan Roby mengirimkan pesan seperti itu.


Kiran berjalan dengan cepat masuk ke dalam kamar dan melihat Agra yang sedang membongkar pakaian dari dalam koper.


“Mas!”


Agar menoleh dengan segera. Karena panggilan Kiran diucapkan dengan sedikit meninggi.


“Ya?”


“Kenapa Mas lakukan itu?”


“Apa?”


“Mas Agra yang menjawab telepon sang Roby saat kita bercinta?”


“Ya. Biar dia tahu tempatnya.”


“Mas Agra pikir apa Mas lakukan itu, benar? Jangan begitu, Mas…” suara Kiran melemah karena dia tidak tahu lagi harus berekspresi seperti apa.


Keheningan sejenak terjadi. Sampai Agra benar-benar memutar tubuhnya untuk menghadap pada Kiran.


“Kenapa kamu marah, Dek?”


“Karena Mas Agra baru saja—”


“Kamu pikir apa yang kamu lakukan sekarang? Kamu membawa masuk nama laki-laki lain. Di sini, di dalam kamar bulan madu kita.”


Kiran terdiam dan tertunduk, ia seperti sedang dimarahi suaminya sendiri. Meski benar demikian.


“Mas tahu berapa banyak pesan yang dia kirim padamu, Kiran. Benar kamu memang tidak pernah membalasnya. Tapi bagaimana dengan dia?”


Kiran dapat mendengar riak kemarahan bariton Agra yang semakin kentara di telinganya. Dari nama dia di sebut dengan benar, Ia tahu kalau ada rasa marah yang hebat yang saat ini di sembunyikan oleh Agra yang coba ia tutupi agar Kiran tidak ketakutan.


“Mas hanya ingin menunjukkan di mana tempatnya. Bahwa dia harus tahu kalau pernikahan kita bukanlah mainan. Dan kamu mengatakan itu tidak benar? Lalu bagaimana dengan Mas Agra-mu ini? Kamu pikir Mas juga tidak terluka saat dia terus mendekat padamu dengan memanfaatkan segala macam celah?”


Agra mengakhiri kalimat panjangnya lalu mengambil pakaian dari koper yang ia biarkan terbuka di atas lantai.


Dia melenggang pergi keluar dari kamar dengan menutup pintunya dari luar. Meninggalkan Kiran yang melihat punggungnya menghilang sesaat kemudian.


Sesak, sungguh dadanya terasa sebah. Baru saja beberapa jam lalu dia merasakan kehangatan kebersamaannya dengan Agra di atas pesawat. Tapi sekarang …

__ADS_1


Kiran menunduk. Meremas jari-jari kecilnya.


Ini harusnya jadi malam yang paling manis selama kebersamaan mereka karena ini adalah malam pertama bulan madu.


Di sebuah tempat yang indah. Yang sejauh pengamatan Kiran memiliki nuansa modern yang khas dan bersih. Jendelanya luas dan besar-besar. Seperti sengaja didesain untuk melihat hamparan bunga yang ditanam di sekitaran rumah.


Dapurnya minimalis, ruang makannya juga. Kamar di mana Kiran berada saat ini juga tidak sebegitu luasnya. Tapi sangat nyaman. Ruangannya juga beraroma lavender yang menenangkan.


Tapi untuk apa sekarang?


Karena semua ini disiapkan Agra untuknya, yang justru membahas Roby dan membuat Agra kesal. Suaminya tidak ada di sini, dia membawa pakaiannya ke luar dan meninggalkannya.


Dia pasti akan tidur di kamar lain di malam bulan madu mereka.


Kiran menghela napasnya dengan penuh sesal. Ia tahu Agra hanya ingin memberi batas yang jelas pada Roby. Bahwa dia mengatakan sebenarnya kalau pernikahan ini bukanlah sebuah mainan.


“Dia sangat marah padaku.”


Kiran keluar dari kamar. Mencari Agra di kamar yang lain, tapi tidak ketemu, tidak juga di dapur atau di ruang tamu.


Tapi saat itu, ia merasakan semilir sejuk angin dari luar. Saat ia menoleh ke sisi kirinya, ia dapat melihat jendela geser itu terbuka lebar. Kiran melangkah mendekat ke sana.


Ya Kiran menjumpai Agra ada di sana. Dia sedang di dalam kolam renang, tidak terlalu luas, hanya seukuran lima kali tiga meter saja.


Agra berendam air hangat di sana dengan kedua mata yang terpejam. Melunturkan kesal dan marahnya, Kiran dapat menebaknya.


Kiran semakin merasa bersalah. Tanpa melepaskan pakaiannya ia berjalan menuju kolam renang. Memasuki air dengan perlahan menuruni beberapa anak tangga dan berhenti di depan Agra yang tampak tidak menyadari dia ada di sini bersamanya.


Saat Agra membuka matanya, ia terkejut. Menjumpai Kiran yang sudah ada di depannya entah sejak kapan.


“Mas…”


Kiran meletakkan kepalanya di bahu Agra dan melingkarkan tangannya di leher jenjang Agra, lalu mengatakan, “Pasti Kiran membuat Mas marah ya? maafkan Kiran ya, Mas. Kiran tadi sudah keterlaluan.”


Bersambung...


Hay pembaca ku yang setia🤗 mau ga aku up 2 bab setiap harinya. Kalau mau, author minta vote dan dukungan boleh kan? 🤭


Jangan bilang tidak tahu caranya ya😁 biar author kasih tau tutorial nya💃


Kalian hanya perlu pergi ke cover depan novel GADIS KESAYANGAN TUAN AGRA.



Dan setelah itu tekan yang sudah author kasih tanda 🤗



Dan di sana ada tanda panah ke arah Vote dan jika kalian berkenan, kalian juga bisa kasih gift untuk karya author lho💜

__ADS_1



Oh ya, btw Vote itu gratis lho, jadi kalian tidak perlu khawatir 💃💃


__ADS_2