Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Hujan yang Menjadi Saksi


__ADS_3

Mendengar penuturan Kiran, Lisa membelalak, sorot matanya begitu tajam mengarah ke Sari.


''Apa maksudnya? bukankah kamu sudah menempatkan kost milikku. Lalu untuk apa kamu minta tinggal bersama Kiran dan suaminya?''


Pertanyaan Lisa cukup menohok, tatapan Lisa pun begitu sinis pada Sari.


''Aku tidak enak jika harus membuat Kiran membayar kost untukku.''


''Kalau begitu bayar sendiri, lalu masalahnya di mana?''


''Aku kan belum mendapatkan pekerjaan paruh waktu, niatku akan tinggal bersama Kiran dan suaminya sembari mencari pekerjaan, setelah mendapatkan uang yang cukup aku baru menyewa tempat untuk kutinggali selama di sini.''


''Tapi maaf Sar, apa memang sebelumnya kamu tidak ada persiapan sama sekali, dan bukankah sebelumnya kamu juga tidak tahu kalau aku kuliah di sini?''


Sari terlihat gelagapan peluhnya mulai bermunculan di kening, Lisa yang terlalu peka menatap intens seakan menguliti orang yang ditatapnya.


''Ya! Kiran benar bukankah seseorang yang ingin berkuliah di tempat yang jauh, dari tempat tinggalnya itu… sebelumnya pastinya mempersiapkan segala hal?''


''Ya–ya–ya, itu aku tidak mengerti, tapi jika memang kamu tidak mau menolongku, tidak apa kok. Aku bisa mengerti, kalau begitu aku duluan ya, aku sudah kenyang.''


Kiran dan Lisa saling menatap merasa aneh dengan sikap Sari.


Gugup dan berkeringat. Apa yang sebenarnya dia takutkan?


*


Hujan tiba-tiba saja turun begitu derasnya, Kiran dan Lisa yang baru saja keluar dari kelas, meras bingung untuk pulang. Dan terpaksa haru menunggu agar hujan reda.


Agra sudah menghubungi Kiran, dan dia sedang dalam perjalanan.


'Jangan kemana-mana, aku yang akan kesana, diluar hujan deras, Mas tidak mau kamu sakit.'


Pesan itu yang Kiran terima, dan diapun di temani Lisa duduk di kursi yang ada di koridor.


''Ran, aku kok seperti merasa aneh dengan saudara sepupu mu itu, ya!''


''Entahlah, sebenarnya aku tidak terlalu akrab dengannya, karena memang rumah kira yang berjauhan.''


''Lalu, saat pernikahan mu, apa ada dia?''


Kiran kembali terdiam mengingat kejadian di saat dia berada di tengah-tengah masyarakat desa, yang mencercanya dengan jari-jari telunjuknya yang mengarah ke wajah.


Ya! dia ingat, Sari hanya berdiri di samping orang tuanya, tidak berbicara sedikit pun, tetapi tangannya hanya bergerak mengipasi wajahnya.


Hujan sudah mulai reda. Kalau orang katakan ini adalah hanya hujan lewat. Yang turun secara tiba-tiba di kala matahari masih memancarkan teriknya.


Lisa mengulurkan tangannya, mengecek air yang masih turun tapi tidak terlalu banyak, hanya rintik-rintik saja.

__ADS_1


Beberapa mahasiswa berhamburan, berjalan keluar dari gedung kampus karena hujan yang sudah redah, begitu juga Kiran dan Lisa.


Kiran berjalan sedikit berlari bersama Lisa, karena memang air langit itu masih turun walaupun tidak deras.


Ditempat datang keluarnya mobil, Agra sudah berada di sana, keluar dari mobil dengan payung ditangannya. Mencari istri tercintanya yang pasti ada di antara kerumunan mahasiswa yang berhamburan keluar.


Tubuhnya yang tinggi di tambah ia terus berjinjit, sehingga ia berjalan tidak lagi melihat kebawah karena matanya terus mencari keberadaan Kiran.


Bruukkk!!


Agra terkejut karena menabrak seseorang yang sudah terduduk di bawah, bajunya yang kotor dan basah, juga tas dan buku-buku yang berhamburan ke aspal yang terdapat air yang menggenang, membuat Agra ingin membantu orang itu.


Ya dia seorang gadis. ''Maaf Nona, saya tidak melihat. Apa anda terluka?'' tanya Agra tapi dengan mata yang terus mencari Kiran.


''Tidak Tuan, tapi baju dan buku-buku ku semua basah,'' ucapnya lirih.


Agra yang merupakan pria yang bertanggung jawab tentu merasa bersalah, dan dengan terpaksa ia membantu gadis itu berdiri.


''Maafkan saya sekali lagi, pakai payung ini. Dan untuk buku-buku itu, anda bisa membelinya lagi, ini.'' Agra memberikan beberapa uang kertas pada gadis yang belum juga ia lihat wajahnya karena sibuk mencari Kiran.


''Tidak apa Tuan, simpan uang mu. Tempat tinggal ku ada di belakang kampus, apa anda bisa mengantarkan saya?''


''Sekali lagi saya meminta maaf-''


''Kaki saya sepertinya terkilir, saya mohon,'' potongnya dengan cepat.


''Baiklah, Nona. Mari saya bantu berdiri, kau bisa duduk di mobil, tapi saya harus menunggu istri saya dulu. Dia belum terlihat.''


Gadis itu mengangguk, tangannya memegang kuat tangan besar Agra yang sedang membantunya, berjalan dengan dipapah oleh Agra, tapi saat Agra akan membuka pintu mobil, seseorang datang dari arah belakang yang langsung menutup kembali pintu mobil dengan tangannya.


Agra terjingkat, karena orang itu yang menutupnya dengan sangat kencang. Kepalanya menoleh yang ternyata orang itu adalah Kiran.


Bibir Agra tersenyum melihat istrinya yang sedari tadi ia cari-cari. Tapi Kiran tidak sama sekali membalas senyumannya, mata Krian menyorot tajam ke arah tangannya yang sedang membantu gadis itu.


''Sayang—''


''Lepaskan!'' Kiran memisahkan tangan Agra dan tangan gadis itu.


''Sayang, tadi Mas tidak sengaja menabraknya, dan sepertinya kakinya terkilir,'' ucap Agra yang berusaha menjelaskan agar istrinya tidak salah paham.


''Kiran… benar apa yang di katakannya,'' timpal gadis itu.


''Kaki yang sebelah mana?''


''Ki–kiri,''


''Tapi kenapa kau memegangi kaki yang sebelah kanan?!'' tanya Kiran dengan sewot.

__ADS_1


''Mas, dia Sari. Sepupu ku yang kemarin aku ceritakan!'' Kiran kini beralih menatap Agra dengan raut yang jengkel.


Agra yang mendengar itu, langsung menoleh kewajah Sari dan seketika langsung menjauh, mengambil jarak.


''Ran! kau meninggalkanku—'' Lisa yang baru saja sampai terlihat bingung karena bukan hanya ada Kiran dan suaminya, disana juga ada sari di tengah-tengah mereka. ''Ada apa ini, Ran?''


Lisa bertanya tapi tidak sama sekali dijawab oleh Kiran yang sudah menahan jengkel dan kesal.


''Ran, mungkin kamu salah paham, kamu tidak perlu marah padanya,'' ucap Sari yang mengira kalau Kiran tengah cemburu.


''Marah? tidak, hanya saja aku sudah melihat mu dari sana, kau berlari ke arah suami ku, dan! menabrakkan diri lalu menjatuhkan diri mu sendiri, apa maksudnya?''


Agra dan Lisa yang mendengarnya tentu terkejut. Agar menggelengkan kepalanya, dengan tatapan tidak suka pada Sari, begitu juga Lisa yang ingin sekali meraup wajah so polos Sari.


Dan kalian tahu! raut wajah Sari saat ini? merah, menahan malu dan marah. Apalagi Kiran yang mengatakannya dengan suara yang kencang.


''Jadi itu alasan mu tiba-tiba berlari kencang, Ran? Ck, karena ada kadal gurun yang sedang bersiasat, memalukan!'' cerca Lisa dengan jelas.


''Ti-tidak, aku memang tidak tahu kalau didepan ku ada suami mu. Lagipula aku tidak mengenalnya, kan, tidak pernah juga melihat wajahnya.'' Sari terus mencari-cari alasan.


''Tidak pernah melihatnya? di hari pernikahan kami, kau ada Sari! ada! berdiri di samping orang tua ku!''


Sari semakin terpojok, ia malu, sangat malu karena ternyata siasatnya terjelaskan dengan baik oleh Krian.


''Kuperingati, jangan pernah mencoba mendekati suami ku! paham!''


Agra melangkah mendekat pada Kiran yang tenang memberikan peringatan jelas pada Sari. Tangan Agra memeluk Kiran bertujuan untuk membuat istrinya lebih tenang.


''Sayang, sudah. Kau sudah basah kuyup. Lagipula jika dia ingin mendekati Mas, Mas juga tidak akan tertarik sedikitpun padanya. Hanya kamu milik Mas, huumm?''


''Kenapa tidak tertarik, Tuan?'' tanya Lisa dengan sengaja.


''Tidak ada alasan saya untuk tertarik pada gadis seperti dia. Saya sudah sering berhadapan dengan wanita seperti ini, saat belum bertemu Kiran.''


Agra dan Kiran pun berlalu, begitu juga Lisa yang diminta Kiran untuk ikut dengan mobil mereka.


Beberapa orang yang turut menyaksikan kejadian itu, bersorak riuh menyoraki Sari yang sudah menundukkan kepalanya dan berlalu pergi.


''Hei! bukankah kaki mu terkilir!'' teriak seorang mahasiswa yang sedari tadi menyaksikan perdebatan Kiran dan Sari.


...----------------...


Mampir juga ke novel teman Nuna yaaa 🤗 sembari menunggu Nuna up 😘


Judul : Rahim Sengketa


Author : Asri Faris

__ADS_1



__ADS_2