Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
PETAKA


__ADS_3

''Keluarga, Nyonya Kiran!''


Suara pria berjas putih dengan satu orang wanita yang ada di belakangnya, bersuara dengan lantang. Ya mereka adalah seorang dokter dan perawat yang menangani Kiran.


Agra yang mendengar itu segera menghampirinya dengan cepat.


''Ya, saya suaminya, bagaimana keadaannya?''


Dokter pria itu tersenyum sejenak karena melihat raut wajah panik dari pria yang mengaku suami pasiennya.


''Saya Jerry Ayumi, yang akan menangani Nyonya Kiran selama di sini.''


Dokter bernama Jerry itu mengulurkan tangannya pada Agra yang langsung disambut dengan baik.


''Saya Agra Madava Nadindra—''


''Iya saya tahu, karena alasan itu itulah saya ada di sini.'' Jerry memotong ucapan Agra


Anas bergabung dengan Agra dan Dokter Jerry. Berdiri di samping Agra dan menepuk pundaknya.


''Beliau dokter yang saya pinta langsung untuk menangani Nyonya, Tuan.''


''Terima kasih Anas, bonusmu bulan ini akan ku berikan 3 kali lipat.''


''Terima kasih ,Tuan. Tapi maaf sepertinya tidak perlu, karena saya melakukan ini sudah bagian tugas saya.''


Agra mengangguk dengan tersenyum, merasa beruntung memiliki asisten pribadi yang cukup cekatan dan pintar.


''Lalu Bagaimana keadaan istri saya?'' tanya ulang Agra karena tadi belum dijawab oleh Jerry.


''Keadaan istri anda sudah lebih baik, tapi ada sedikit masalah, tulang tangannya mengalami keretakan dan pergelangan kakinya pun retak juga.''


Jerry menyampaikannya dengan teliti.


''Apa saya boleh masuk?''


''Pasien akan dipindahkan ke ruang rawat, di sana anda bisa menemani pasien.''


Tidak lama kemudian, ranjang yang membawa tubuh lemah Kiran keluar dari ruang IGD, dan melewati Agra yang melihat wajah istrinya yang pucat namun masih terlihat cantik, walaupun dengan kepalanya terdapat gulungan perban disana.

__ADS_1


Agra pun berjalan dengan tangannya yang ikut mendorong berangkar Kiran menuju ruangan VVIP yang sudah di atur oleh Anas.


Lisa ikut melangkah dengan lemas ke arah di mana Agra, Anas dan para dokter serta perawat membawa Kiran.


Matanya terus melihat kejadian naas itu yang di mana Kiran terpental dan terseret oleh mobil sedan berwarna hitam.


Beberapa jam yang lalu.


Kiran terus saja menghubungi Agra namun tidak kunjung dijawab. Perasaannya semakin gelisah ingin sekali mengatakan apa yang dia telah dengar.


''Kalau begitu, kita harus bagaimana, Tan?''


''Lenyapkan saja istrinya dan nanti kamu yang akan menggantikan dia. Lakukan seperti apa yang Tante lakukan pada ibunya Agra.''


Tangan Kiran gemetar hebat, begitu juga Lisa yang shock dengan apa yang telah ia dengar.


Matanya saling menatap dengan Kiran yang sudah mengeluarkan air mata sejak tadi.


''Ran, kau sudah menghubungi suami mu?''


''Sudah, tapi tidak di angkat.''


''Apa kita perlu kekantor nya? ini masalah besar, Ran.''


Kedua gadis itu keluar kafe dan langsung menghentikan sebuah taxi yang kebetulan melintas. Tangan mereka saling menggenggam, menyalurkan energi satu sama lain karena baru saja mengalami shock berat.


Ya karena itulah, Lisa terus menyalahkan dirinya sendiri. Karena dia yang mengajak Kiran untuk pergi ke kantor Agra sehingga tiba saat Kiran di terjang sebuah mobil didepan mata kepalanya sendiri.


Anas yang menoleh ke belakang dan ternyata melihat Lisa yang berjalan dengan menundukkan kepala, dia pun menghentikan langkahnya menunggu langkah Lisa.


''Sahabatmu sudah lebih baik, tidak perlu menyalahkan diri sendiri.''


Kata Anas dengan tangannya yang mengusap lembut kepala Lisa .


''Tapi ini semua karena ku, Tuan.''


Kepalanya mendongak, matanya berkaca-kaca.


''Karena kamu?''

__ADS_1


''He em.'' Lisa mengangguk dengan lirih. Mengambil selangkah lebih dekat, menengok kesamping kiri dan kanan memperhatikan situasi. Lalu mengisyaratkan agar Anas mendekatkan telinganya.


Lisa membisikkan sesuatu pada Anas yang setelah itu sorot mata Anas berubah dan rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat, darahnya terasa mendidih.


*


Agra berdiri di dekat jendela dengan rasa di dalam dadanya yang dipenuhi oleh perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Ia ingin tahu sesegera mungkin. Apa atau lebih tepatnya yang terjadi pada Kiran.


Kiran belum juga bangun padahal ini sudah kelewat lama menurutnya. Atau memang menunggu itu akan terasa selama ini?


Agra berpikir, jadi begini yang dirasakan Kiran saat menunggu kepulangannya selama setahun belakangan ini? Jika benar seperti ini rasanya, jelas Agra tidak akan sanggup jika ia diminta menjadi Kiran. Sekalipun hanya satu jam saja.


Ia melihat keadaan di luar yang mulai sibuk. Koridor mulai dipenuhi oleh lalu-lalang pasien dan tenaga medis yang bertugas pagi ini.


Ia melihat ponsel di atas nakas yang bergetar. Ada panggilan dari nomor luar negeri, dan itu ia simpan sebagai nomor milik orang kepercayaannya yang dia tugaskan untuk ikut mengawasi perkembangan Ayahnya disana.


''Hallo.''


''Maaf Tuan Agra menganggu waktu Anda, saya hanya ingin menyampaikan kabar tentang tuan Besar.''


''Katakanlah,'' suara Agra terdengar sangat lelah dan putus asa, karena menunggu sadarnya Kiran.


''Tuan besar kondisinya menurun, dan sudah ditangani dokter. Selanjutnya akan saya beritahu anda lagi.''


''Astaga,'' lirih Agra dengan tangan memijat pangkal hidungnya.


''Ya sudah, kabari aku apapun yang terjadi, dan aku juga titip Mama, karena Mama pasti juga lelah menjaga Papa.''


''Maaf Tuan, nyonya besar tidak ada disini sejak kemarin.''


''Benarkah? kalau begitu aku titip Papa, jangan lupa kabari aku apapun yang terjadi.''


Agra menutup panggilannya, dia sudah tidak bisa lagi berpikir apapun, karena ada dua nama yang terus ia khawatirkan. Kiran dan Papa-nya.


...****************...


Mampir juga yuk ke novel teman othor 🤗 ceritanya tidak kalah seru loh dengan yang lainny 🤗..


Judul : PEWARIS UNTUK MUSUH

__ADS_1


Author : As Cempreng



__ADS_2