
“Mas?”
“Hmm?”
“Aku kecewa!”
Kiran bangun dari duduknya, dan Agra hanya menatapnya dengan lesu. Karena sudah pantas dan sangat wajar Kiran marah padanya, karena bagaimanapun gadis yang ditinggalkan oleh kekasihnya karena dibunuh, pasti akan marah pada pembunuh itu.
Tapi seketika ia terkejut karena Kiran yang tiba-tiba berlutut di depan kakinya dan meraih kedua tangannya. “Kiran?”
“Aku kecewa Mas, tangan ini yang selalu menggandeng ku dan mengusap kepala ku dengan sayang, harus ternoda karena untuk menyelamatkan ku, terima kasih.”
Kiran mencium kedua tangan Agra dan meletakkan kepalanya disana, walaupun dia sedikit terkejut mendengar kalau ternyata Agra lah dibalik kematian Reza, tapi baginya Agra lah malaikat penyelamat nya.
“Kamu tidak marah?” Kiran mengangkat kembali kepalanya dan menggeleng sebentar lalu meletakkan kepalanya lagi di telapak tangan Agra.
“Lalu kenapa Mas waktu itu bersedia menikahi ku?”
“Entahlah, mungkin Mas merasa kalau itu adalah tanggung jawab Mas karena telah menyiapkan pengantin pria di hari pernikahannya.”
Ada rasa kecewa pada hati Kiran mendengar jawaban Agra.
“Tapi Mas merasa kalau kamu memang ditakdirkan untuk Mas,” lanjutnya.
“Maksud, Mas?”
“Iya! Saat Mas lihat kamu dan menatap manik matamu, kalau kamu memang milik Mas sejak awal.”
Aneh sekali, Kiran merasa sangat bahagia mendengarnya, hatinya berbunga-bunga dan seperti ada kupu-kupu yang menggelitiknya. Apa ini mimpi? tapi mimpi tidak akan senyata ini sebelumnya.
Kiran hanya diam, tidak menyahuti apapun dan yang Agra kira adalah Kiran tidak mempercayai ucapannya. Dengan tiba-tiba Agra mengangkat tubuh Kiran dan mendudukkannya di atas pahanya.
Kiran terkesip, ia tidak bisa berkata apa-apa, jantungnya tidak beres, apa akan meledak sebentar lagi. Bahkan degupnya lebih cepat dan kencang dari bunyi token listrik yang kehabisan pulsa.
“Apa kamu tidak percaya, hm?”
"Percaya kok Mas, percaya!”
“Aku berkata sungguh-sungguh lho Dek!''
Hah? Dek? apa Agra baru saja memanggilnya Dek? Kiran mengerling beberapa kali, panggilan itu terdengar sangat mesra di telinganya. Bahkan panggilan itu lebih ia suka ketimbang panggilan 'sayang' seperti yang Agra ucapakan padanya.
“Kenapa wajah mu merah begitu?”
Agra menciumi pipi Kiran yang sedikit mengembang, terus, terus dan terus. Sampai Kiran pun meringsut karena geli terkena kumis tipisnya.
“Dari pertama Mas lihat kamu yang tertunduk di tengah-tengah masyarakat desa, Mas merasa marah, bahkan pada diri mas Sendri mas bilang, kalau tidak boleh ada satupun orang yang menunjukan jarinya padamu.”
__ADS_1
“Memangnya kenapa?”
“Entahlah, itu dia Mas juga bingung, mungkin memang cara Tuhan menunjukan kalau kamu itu milikku.”
Ini benar-benar mimpi!saat ini Agra sedang menggombal, dan bodohnya Kiran malah tersipu malu. Pasangan ini memang sangat menggemaskan.
“Diamlah disini, Kiran akan buatkan makanan!”
Kiran beranjak turun dari paha Agra, tapi itu sebelum Agra lebih dulu mendekapnya dengan erat. Mengangkat tangannya lalu dilingkarkan ke leher dia sehingga posisi wajah keduanya sudah tidak lagi berjarak.
yang tentu saja membuat ukiran gugup tak kepalang dan memilih memalingkan wajahnya untuk menghindari kontak mata dengan Agra.
“Tidak usah membuat makanan, karena saat ini Mas sedang ingin memakan mu.”
Bisikan hangat itu terasa di telinganya, bariton seksi yang mampu membuat Kiran merinding sampai ujung kaki, apalagi Agra memberikan gigitan kecil pada daun telinganya.
“Mas, stop!”
Kiran memberikan dorongan kecil pada dada Agra tapi hasilnya nihil, tentu saja karena tangan kecil Kiran tidak sepadan dengan tubuh besar Agra.
Entahlah Kiran masih saja merasa malu walaupun bukan pertama kali ini Agra bersikap hangat dan romantis padanya, Kiran merasa hubungan mereka masih terasa canggung.
Apalagi dengan posisi seperti ini, seolah Agra tidak akan melepaskannya sedetik pun dari pengawasan kedua matanya.
“Kenapa kamu tidak menatapku?”
Hening sesaat.
Pelan-pelan Kiran mengangkat pandangannya. Mata mereka bertemu dan Kiran dapat melihat lesung pipi Agra yang manis juga satu gingsul nya yang nampak mencuat. Agar mau menatapnya, Agra memberinya hadiah sebuah kecupan yang mesra. Baru kemudian tersenyum.
"Mas, mau apa?"
Kiran merasa ia akan pingsan oleh rasa gugupnya sebentar lagi. Karena Agra telah mendaratkan bibirnya di leher Kiran dengan sangat nyaman.
"Mas, mau apa, mmmh...."
Kira menggigit bibirnya saat tangan Agra menyelinap masuk ke dalam kemeja yang ia kenakan. Memberikan sentuhan yang hampir membuat Kiran gila.
Suara kecapan dari bibir dan liddahnya terdengar menyatu pada suara hujan yang turun dengan begitu derasnya, keberadaan Agra seperti sedang menyihirnya.
Malam yang dingin terasa menghangat, itu karena Agra lelaki dewasa yang berdarah panas.
Yang ada di pikiran Agra hanyalah ketidakberdayaan nya menahan diri saat melihat Kiran. Apalagi di satu ruangan yang tidak berjarak bersama istri secantik dia yang memiliki kemolekan tubuh dan bibir yang seksih.
“Mas… stop!”
Kiran tahu, Agra tidak perduli dengan suaranya yang memintanya untuk berhenti. Karena yang ada Agra malah semakin menurunkan kecupannya sehingga wajahnya telah tenggelam di kedua belahan samudra, tempat favoritnya.
__ADS_1
Puas dengan tempat favoritnya, Agra pun kembali mencumbu bibir Kiran yang tebal dan berisi itu. Terus memperdalam pagutannya sampai terdengar suara ASMR yang membiusnya dengan sangat nyaman.
“Mas!”
Kiran memalingkan kepalanya tiba-tiba, yang pastinya juga pagutan mereka ikut terlepas. terlihat dari tatapan mata adalah yang kecewa. tapi Kiran terpaksa harus melakukannya karena dia takut akan terbawa suasana dan mengikuti hasrat yang semakin memuncak.
Ya dia menyadari betul kalau dirinya sedang tidak bisa disentuh, kalaupun dipaksakan akan fatal akibatnya.
“Kenapa?”
“Maaf Mas, Kiran sedang haid. Tidak baik jika terus melanjutkannya, Mas bisa mengerti kan?”
Agra menepuk jidatnya sendiri. Sungguh dia melupakan itu karena sudah terlanjur berhasrat. “Maafkan Mas ya. Mas lupa,'' Kiran tersenyum mendengarnya.
“Ya sudah, apa kamu tidak jadi mandi?”
“Jadi, tadi aku lupa membawa pembalut ku, aku mandi dulu ya, Mas."
Kiran pun berlalu pergi meninggalkan Agra yang terlihat putus asa. Mengacak rambutnya dan mengambil nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya secara berulang-ulang bertujuan menetralkan libid-do nya yang sedang memuncak.
*
Kiran dan Agra menuruni anak tangga secara bersamaan, pagi ini Agra harus pergi ke kantor menyelesaikan pekerjaannya yang penting, dan Kiran tidak memiliki kelas memilih tetap diam di rumah walaupun Agra terus saja memaksa untuk ikut dengannya.
“Kamu yakin tetap tinggal dirumah?”
“He em… tubuh Kiran tidak nyaman untuk bergerak, Mas.”
“Apa kamu sakit?!” Agra meletakkan punggung tangannya pada dahi Kiran, mengecek suhu tubuh Kiran yang tidak panas tapi wajah Kiran sangatlah pucat.
“Apa kita kerumah sakit saja?”
"Iiiihh… tidak perlu, Mas. Ini hanya hormon wanita saat menstruasi," tepis Kiran pada tangan Agra.
“Benarkah?” Kiran mengangguk dan Agra pun masuk kedalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Anas yang telah menunggunya sejak 15 menit lalu.
Tersenyum pada Anas yang membungkuk untuk memberikan salam pagi untuk nyonya Nadindra itu.
“Kalau perlu apa-apa segera hubungi Mas ya!”
Kiran mengangguk dan melambaikan tangannya. Mobil berlalu pergi dan Kiran pun ikut masuk ke dalam rumah setelah matanya tidak lagi melihat mobil Agra yang menghilang di tikungan.
......................
Hay semua readers ku yang aku sayangi 🤭🤗 baca juga novel teman othor ya 🥰🙏
Judul : Eternal Enemy
__ADS_1
Author: Navizaa