Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Lancang Memang, tapi…


__ADS_3

Ingin marah pun tidak tega, terlebih lagi mendengar suara Kiran yang melemah dan sendu. Agra membalas pelukan Kiran dengan hangatnya, dia hanya diam tanpa bicara ataupun bergumam.


Perasaannya masih kesal karena nama Roby yang disebut Kiran di kamar bulan madu mereka. Tapi dia juga tidak kuasa menahan diri untuk tidak membalas pelukan istrinya.


“Mas hanya ingin dia tau batasannya,” ucap Agra setelah sewindu membisu.


“Ya, Mas. Kiran mengerti, maafkan Kiran ya, tadi Kiran hanya terkejut,” Agra mengangguk dengan tangannya mengusap lembut rambut Kiran.


“Kiran juga sudah memblokir nomornya,” ujar Kiran lagi, tapi tiba-tiba Agra mendorong pelan Kiran, menatap mata Kiran dengan tatapan yang dalam.


“Bukankah Mas pernah memblokirnya, lalu kenapa dia masih bisa menghubungi mu, apa kamu kembali membukanya?”


Kiran yang mendengar itu segera menggelengkan kepalanya. Karena memang dia sama sekali tidak melakukan itu.


“Tidak, Mas! dia menghubungiku menggunakan nomor baru, dan untuk aku tidak perlu bertanya lagi, akhirnya aku beri nama pada kontaknya!” beber Kiran menjelaskan semuanya tanpa terlewatkan barang sedikitpun.


Agra tersenyum dan membawa Kiran kedalam pelukannya lagi, kini perasaanya sudah mulai tenang, rasa kesal yang tadi menggerayanginya seketika lenyap.


*


Di sisi ruangan lain. Lisa yang baru saja selesai mandi, berendam air hangat di cuaca Paris yang sedang dingin ini. Hanya menggunakan baju handuknya, dan melilit rambutnya dengan handuk khusus, Lisa keluar begitu saja dari kamar mandi. Dan tanpa terduga seseorang masuk kesana tanpa mengetuk pintu.


‘Aaakkkhhhh!’


Teriak Lisa karena Anas yang masuk ke kamarnya.


“Kau mau apa, hah! yang berbulan madu itu mereka bukan kita!” omel Lisa.


“Hei! ini kamar ku, kau yang sedang apa dikamar ku!” balas Anas.


“Jelas-jelas ini kamar ku!” ucap Lisa yang tidak mau mengalah karena memang tabiat wanita adalah selalu merasa benar😁.

__ADS_1


Anas menatap tajam Lisa dan berjalan menuju lemari lalu membuka lemari besar itu.


“Lihatlah ini semua barang-barangku dan lihat itu, itu juga punyaku!”


Anas memperlihatkan deretan baju yang sudah tersusun rapi di sana dan tangannya juga menunjuk ke arah lukisan dengan wajah dia yang tertempel rapi di dinding atas panjang.


Mata Lisa melebar dengan sempurna karena melihat lukisan itu yang memang wajah Anas persis dan dia melangkah ke arah lemari yang dia lihat deretan baju yang tergantung dan susunan yang rapi di sana.


“Se–sejak kapan, kamar ini milikmu?!”


“Sejak dulu, karena rumah ini memang sudah biasa kami tempati disaat ada perjalanan bisnis disini.”


“Kenapa kamu tidak bilang sejak awal, kalau begitu aku cari kamar lain saja!” ketus Lisa yang sudah terlanjur malu karena memang ternyata dialah yang salah.


“Tidak perlu!” cegah Anas pada Lisa yang sudah akan pergi dengan menyeret kopernya. “Biar aku yang kekamar lain, pakailah bajumu, jangan sampai orang lain melihatmu seperti itu!” ujarnya lagi yang kemudian melangkah pergi setelah mengambil satu setel pakaian santai dari dalam lemari.


Lisa hanya diam dengan terus memperhatikan gerak Anas yang kemudian hilang di balik pintu. “Apa dia mengalah demi aku?” gumam Lisa merasa tersipu.


“Tapi kenapa bisa aku tidak melihat lukisan itu. Ck, ceroboh sekali kau Lisa!”


Merebahkan tubuhnya dan membuat rambutnya yang setengah kering itu mengenai kasur yang pastinya akan lembab karena rambutnya. Tanpa sadar matanya semakin mengantuk dan beberapa saat kemudian diapun sudah terlelap dalam tidurnya dengan tangannya yang masih menggenggam erat ponselnya.


Diluar sana, Anas yang sudah membersihkan diri dan sudah lebih segar dari sebelumnya, segera menuju dapur, menemui seorang juru masak yang memang sudah dipekerjakan sejak lama disana dan hanya dibutuhkan tenaganya disaat mereka ada disana.


“Dila?” panggil Anas pada juru masak perempuan itu yang masih muda dan manis.


“Selamat malam, Tuan Anas. Semua makanan sudah saya siapkan.” Perempuan bernama Dila itu tersenyum dengan ramah.


“Terima kasih, kalau begitu aku akan panggil mereka. Dan oh ya, bisa siapkan teh hangat, sepertinya kami membutuhkannya.”


“Baik, Tuan,” sahut Dila si koki muda.

__ADS_1


Anas yang melangkah pergi menuju dimana kamar utama sang pengantin baru itu berada, tapi baru saja ia akan mengetuknya, pintu sudah terbuka lebih dulu.


“Apa?”


“Maaf Tuan, makan malam sudah disediakan.” Agra mengangguk dan keluar dari kamar dengan menggandeng tangan Kiran.


“Tuan Anas, tolong panggilkan Lisa ya, tadi saat sampai dia bilang lapar katanya,” ucap Kiran yang berbalik sebentar lalu di angguki Anas yang memang niatnya dia juga akan memanggil Lisa.


Anas menoleh pada pintu kamar yang masih tertutup seperti tadi yang dia tinggalkan sebelumnya. Menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu menuju kesana.


Mengetuknya beberapa kali, tapi tidak ada sahutan dari dalam.


“Apakah aku harus membukanya saja?” gumam Anas berpikir sejenak.


Tapi Anas kembali mengetuknya bahkan kali ini sedikit lebih kencang, tapi tetap tidak ada sahutan dari dalam. Yang akhirnya diapun terpaksa membukanya sendiri dan ternyata memang tidak dikunci.


“Ck dia benar-benar ceroboh,” gumam Anas yang memberanikan diri masuk kedalam dan melihat Lisa yang terlentang di atas ranjang dengan kaki yang masih terjuntai di bawah juga sedikit terbuka.


Mata Anas sedikit mendelik pada posisi Lisa yang terlentang dan membuka kakinya, seketika ia menggelengkan kepalanya, mengusir setan-setan yang biadap.


Matanya beralih pada handuk yang tergeletak di bawah, hanya berdecak, Anas memungutnya. Dan matanya kembali melirik ke arah kepala Lisa yang rambutnya masih terlihat basah.


“Gadis ini benar-benar jorok, rambut masih basah sudah merebahkan kapalnya di kasur, lagipula bukankah akan flu jika tidur dengan rambut yang masih lembab,” desis Agra yang bertolak pinggang di samping ranjang dengan menatap Lisa.


“Dan lihatlah, dia tertidur masih menggenggam ponselnya seperti itu, apa sih yang membuat dia terus bermain dengan ponselnya.” Dengan perlahan, Anas mengambil ponsel Lisa dari genggamannya.


Matanya dan jarinya seakan ikut asik memeriksa ponsel milik Lisa. Lancang memang! dan itu juga Anas sadari tapi entah kenapa dia sangat merasa penasaran. Mungkin saja jika Lisa tahu, akan mengomelinya habis-habisan.


Matanya seketika berubah tajam pada isi pesan di media sosial Lisa, dengan nama akun Zico_Farzah, Lisa saling berkirim pesan dengannya.


Ya ternyata sebelum Lisa benar-benar tertidur pulas, sebelumnya dia sedang berkirim pesan pada Zico, Kakak tingkatnya di kampus, mahasiswa yang menjadi incaran para mahasiswa wanita.

__ADS_1


Dari pesan mereka, Anas dapat melihat Zico memang menyukai Lisa, karena dari cara mengirimkan pesan Zico yang terus mengirimkannya dan Lisa yang hanya sesekali membalasnya.


Tanpa berpikir panjang lagi, Anas segera memblokir akun media sosial nama Zico dari akun Lisa, lalu menghapus pesan agar Lisa tidak bisa lagi menemukan akun sosial media Zico.


__ADS_2