Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Kita Harus Pergi


__ADS_3

Pagi yang indah di negri Cinta, Kiran terus tersenyum, ia merasa bahagia karena suaminya sejak tadi terus mengajaknya berkeliling kota Paris.


Dan saat ini mereka sedang berada di kapal air yang ada di sungai Seine, tepatnya di kapal air yang berlayar di atas sungai Seine.


Momen dimana ini pertama kalinya bagi Kiran yang menaiki kapal air itu, ada sedikit ketakutan, tapi Agra terus saja menghiburnya karena memang seharusnya tidak ada yang perlu ditakuti.


''Mas, Kiran bahagia sekali…''


''Syukurlah kalau begitu, Mas juga ikut bahagia.'' Agra memeluk Kiran dari belakang dengan begitu mesra, bahkan penumpang lainpun ikut merasa terhanyut karena kemesraan mereka.


Serasa dunia milik mereka berdua memang, dan yang lainnya hanya menumpang. Tapi seakan Agra tidak mempedulikan itu, karena baginya dimanapun mereka berada, itulah waktu mereka, terserah bagaimana pikiran orang terhadapnya.


Puas dengan menikmati wisata sungai, Kiran mengajak Agra untuk segera pulang, entah kenapa perasaannya tidak enak, dan Agra menyetujuinya.


Perjalanan pulang, pasangan itu saling bergandengan tangan, seolah-olah menunjukan kemesraan mereka didepan muka umum.


''Lepas ini, aku mau ke tempat lain, boleh kah , Mas?''


''Tentu saja, kemanapun itu kita akan pergi sesuai permintaan istri Mas ini.'' Agra mengelus kepala Kiran dengan sayang.


Disela-sela langkah meraka, Agra menerima sebuah panggilan, panggilan itu berasal dari orang kepercayaan yang menjaga Ayahnya di Amerika.


''Kenapa Mas? kok berhenti?'' tanya Kiran yang heran karena Agra menghentikan langkahnya.


''Sebentar sayang, ada telpon.'' Kiran mengangguk samar dan kembali melangkah mendekat pada Agra.


''Ya Roger?'' Agra menjawab telpon.


Agra terdiam dengan wajah serius, lalu entah apa yang didengarnya, tiba-tiba, ponsel yang tengah ia genggam terjatuh dengan wajah yang syok.


''Mas? ada apa?'' tanya Kiran yang sudah mengambil kembali ponsel Agra dari bawah sana.


''Sayang maafkan, Mas ya… sepertinya kita harus pulang sekarang,'' ucap Agra dengan pelan.


''Kenapa Mas, ada apa?'' Kiran khawatir dengan raut wajah Agra yang sepertinya sedang menahan tangis.

__ADS_1


''Papa, Papa sudah tiada,'' lirih Agra dengan kepala yang tertunduk. Kiran menutup mulutnya, ia terkejut, karena belum sempat ia melihat ayah mertuanya tapi sudah lebih dulu berpulang.


''Tidak apa kan?'' tanya Agra lagi, ia merasa tidak enak pada Kiran karena baru saja ada di negara itu untuk berbulan madu, mereka harus segera pergi dari sana.


''Mas ini bicara apa, beliau juga ayah ku mas, kalau begitu kita harus segera kesana bukan?'' Agra mengangguk, dan mereka berlari kecil menuju rumah yang ditempati mereka.


Brakk!


Agra dan Kiran membuka pintu dengan keras karena memang sedang terburu-buru, sehingga Anas yang sedang berada di dapur terkejut dan menghampiri mereka yang berlarian.


''Tuan, ada apa?'' tanya Anas yang kebingungan.


''Anas, kami harus pergi ke Amerika.''


''Ada apa, Tuan. Tuan besar tidak apa-apa kan?''


Agra terdiam, dan Kiran yang menyahutinya.


''Papa Mas Agra, meninggal dunia ,tuan Anas.''


''Aku akan mengurus tiketnya, Tuan.'' Anas akan berlalu tapi Agra menahannya lagi.


''Tidak Anas, kau tetaplah disini, temani Lisa. Kasihan dia, Dila bilang, Lisa demam 'kan?'' Anas terdiam dan mengangguk pelan.


''Benar Tuan Anas, aku titip Lisa padamu ya, biar kami saja yang mengurus semuanya.''


Agra dan Kiran pun berlalu kemarin untuk bersiap-siap.


Anas merasa tidak enak karena kabar buruk itu dia bahkan tidak mengetahuinya, ''Astaga! bubur!''


Anas berlari ke dapur dan ternyata seorang wanita sedang menuangkan bubur buatannya ke dalam mangkuk. ''Dila?''


''Tuan Anas. maaf, bubur anda sudah jadi, saya bantu siapkan karena tadi hampir over cook.''


''Terima kasih, Dila. Bubur ini untuk Lisa.''

__ADS_1


Anas mengambil mangkuk itu dari tangan Dila. Dila tersenyum dengan memaksa, dan mengangguk pelan.


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Anas berlalu pergi meninggalkan Dila seorang diri. Gadis manis itu hanya diam dengan kepala yang tertunduk. Sudah lama ia mengagumi sosok Anas, bahkan ia selalu berharap akan kedatangan Anas ke sana. Tapi dia tahu batasannya, dan dia juga tahu gadis yang datang bersama mereka bukan hanya orang lain bagi Anas.


''Seharusnya aku lebih tahu diri,'' gumam Dila.


Anas masuk kekamar Lisa, yang kebetulan Lisa juga sudah selesai mandi dan berpakaian. Lisa tersenyum canggung pada Anas yang datang membawakan semangkuk bubur.


''Kau membasahi kepala mu?'' tanya Anas yang menyentuh rambut Lisa dengan satu tangannya yang lain.


''He em… , tadi suara apa kencang sekali?''


''Oh itu, Tuan Agra dan Nona Kiran. Mereka harus pergi ke Amerika, taun besar meninggal dunia.''


Lisa tercengang, ''Kalau begitu kita harus bersiap juga.'' Lisa ingin beranjak namun Anas menahan pundaknya.


''Tidak perlu, mereka melarang kita untuk ikut, karena mereka tahu kau sedang tidak enak badan.''


''Tapi aku sudah membaik,'' sahut Lisa.


''Bisa tidak, kau menurut?'' Lisa terdiam mendengar nada bicara Anas yang kembali seperti biasa, datar dan ketus.


''Kau masih demam, matamu saja seperti orang mengantuk, apa kau mau merepotkan mereka disana?'' Lisa menggelengkan kepalanya, dia seperti sedang menerima omelan kakak tingkatnya di kampus.


''Kalau mau, kita antar mereka saja, kau mau ikut?'' Lisa mengangguk dan Anas meraih tangannya lalu menariknya dengan lembut untuk keluar dari kamar.


Jantung Lisa seakan sedang maraton, melihat tangannya di genggam Anas seperti itu pipinya ikut memerah.


...----------------...


Mampir yuk ke novel teman othor juga, gak kalah serunya lho🤗🤗


Judulnya : DOCTOR and LOVE


Author : Rya Kurniawan

__ADS_1



__ADS_2