
''Oh no! sayang! pelan-pelan!''
''Sed-dikit lagi, kamu jangan bergerak dulu!''
''Tapi ini sakit lho!''
''Tahan sebentar, sedikiiitt lagi.''
Keringat sudah membasahi seluruh wajah Agra, kasur sudah bergoyang sedari tadi, lalu apa yang sebenarnya mereka lakukan.
''Sayang? kau menyakitiku!'' jerit Agra.
''Tidak Mas, ini pelan kok,'' sahut Kiran.
''Sebentar!'' Agra beranjak dari tempat tidur lalu melihat tubuh belakangnya dari cermin besar. Matanya terbelalak karena dia melihat punggungnya yang merah seperti dicambuk oleh sabuk.
''Sayang, apa ini baik? kenapa bisa merah seperti ini?'' tanya Agra dengan wajah terkejutnya.
''Namanya juga dikerik, Mas. Kenapa warnanya bisa merah, karena kamu masuk angin, terlalu memforsir pekerjaan, ya… jadinya seperti ini.'' Kata Kiran dengan jelas.
''Kemarilah… itu belum selesai.'' Kiran menepuk kasur agar Agra kembali duduk.
''No! sudah cukup. Rasanya seperti di cambuk oleh sabuk.'' Agra segera memakai pakaiannya lagi, dan merebahkan tubuhnya di samping Kiran.
Kiran hanya menggelengkan kepalanya, setelah ia sembuh dari sakit, kini Agra yang mengeluhkan kondisi tubuhnya yang katanya merasa tidak enak badan.
Kiran beranjak dari sana untuk mencuci tangannya. Setelah tangannya bersih bukannya ia kembali keranjang menemani Agra, dia malah menuju pintu dan langsung dihentikan Agra.
''Sayang? kamu mau kemana?''
''Aku mau buat teh jahe merah, Mas tunggu dulu ya, sebentar kok.'' Kiran pun berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Agra yang berdecak pelan.
Agra tidak menginginkan apapun saat ini. Dia hanya ingin berduaan dengan Kiran, berbaring sambil memeluk tubuh kecil istrinya. Hanya itu yang dia inginkan.
Jika ingin sesuatu pun, dia tinggal memanggil Mala yang pastinya siap untuk melakukan apapun yang di mintanya.
''Kenapa kamu sangat senang menyusahkan diri sendiri sih, sayang.'' gumam Agra yang tidak mengerti sikapnya para wanita.
Beberapa saat kemudian Kiran pun kembali ke kamar dengan satu gelas teh jahe merah dan semangkuk bubur kacang hijau. Kiran melongok wajah Agra yang tertidur dengan menutup wajahnya menggunakan lengannya.
Ingin membangunkannya, tapi tidak tega karena dia sudah mendengar suara dengkuran halus dari Agra, yang menandakan kalau saat ini suaminya itu tengah tertidur dengan lelap.
Kiran melirik lagi ke arah nampan yang tadi ia bawa, kalau misalkan ia menunggu sampai Agra bangun pastinya jahe merah dan bubur kacang hijau itu akan dingin.
kirain pun memutuskan untuk membangunkan Agra dengan cara mencium pipinya walaupun dia juga merasa malu untuk melakukan. Tapi cara dia cukup berhasil karena satu kali kecupan dari bibirnya, Agra sudah terbangun dan tersenyum padanya.
''Kau sudah kembali? hmmmppp... kemarilah peluk Mas sebentar saja!'' Agra langsung menarik Kiran kedalam pelukannya, mendekapnya dengan erat dan tidak membiarkan Kiran bisa lolos kali ini.
Hmmmppp Hmmpppp
suara Kiran tidak jelas karena wajahnya yang sudah tenggelam di dada bidang milik Agra. ''Mas… lepas…''
__ADS_1
''Sebentar lagi, biarkan seperti ini dulu, Mas sangat merindukanmu.''
''Iya, iya. Sama! aku juga merindukan, Mas. Tapi lepaskan dulu aku sulit bernapas,'' jerit Kiran dengan suara yang tertahan.
Dengan cepat Agra pun melepaskan kungkuhannya, mendengar Kiran yang katanya sulit bernapas Agra pun merasa bersalah, wajah Kiran memerah karena memang saat wajahnya di dekapnya dia memang sangat sulit bernapas sangking eratnya dekapan itu.
Nafas Kiran tersengal-sengal, menatap Agra dengan kesal lalu berkata dengan suara yang masih belum terkontrol.
''Mas, mau–aku–mati, ya?!''
''Tidak, sayang. Maaf, Mas tadi hanya gemas padamu.'' Agra memasang wajah yang tidak berdosanya
''Beruntung aku keturunan hokage.''
''Hah? hokage? Kakek mu bernama hokage?''
''Ha..ha..ha..ha.. aku hanya bercanda, Mas.'' Kiran tertawa dengan memegangi perutnya.
Agra ikut tersenyum melihat Kiran yang tertawa lepas seperti itu, sungguh itu adalah obat yang paling mujarab baginya, kepalanya yang tadi terasa berat, sekarang rasa sakit itu seakan sirna tidak tersisah karena melihat Kiran yang ceria.
*
*
*
"Kiran, konsentrasi!''
Roby sedari tadi mengamati Kiran yang nampak melamun padahal dia sedang ada di laboratorium, memanaskan tabung reaksi di atas spiritus, yang pastinya jika lengah akan membahayakan keselamatan.
"Iya, maaf sang Roby."
Roby tersenyum. Senyum menawan yang dapat dilihat oleh seluruh mahasiswa yang hadir dalam kelas kali ini.
Kiran memandang Lisa yang duduk berseberangan dengannya. Yang dari gerak matanya mengisyaratkan agar Kiran berhenti melamun.
Tapi saat itu, Bima, teman lelaki yang duduk satu kelompok dengannya tidak sengaja menumpahkan minuman di atas meja laboratorium yang mereka gunakan. Yang kemudian membuat Kiran berdiri dengan cepat karena genangannya tumpah ke dress yang di pakaianya.
"Sorry, Ran!"
Hal itu membuat punggung tangan Kiran tidak sengaja menyenggol tabung panas dan gerakan tiba-tiba itu membuat tabung terlempar ke lantai. Cairan kimia itu berasap setelah tabung pecah lebih dulu.
Terdengar suara beberapa jerit kecil anak perempuan dan mata khawatir Lisa yang menyaksikannya.
Kiran sudah pasti jatuh ke lantai jika Roby tidak dengan sigap menahan pinggangnya. Sehingga ia aman dalam dekapan tangan Roby.
Terjadi keheningan selama beberapa detik. Bersama sebuah kelegaan. Karena jika benar Kiran terjatuh, maka ia akan jatuh di atas pecahan kaca.
"Terima kasih."
Kiran bernapas lega. Roby menegakkan posisinya dan sudut matanya tajam memandang Bima.
__ADS_1
"Hati-hatilah! Jangan sampai laboratorium ini minta tumbal, Bima!"
Yang dimarahi hanya tertunduk dan merasa bersalah.
Kiran berlutut untuk mengambil pecahan tabung, membereskan kekacauan yang dibuat oleh teman lelaki mereka.
Namun saat itu, tangannya kembali dicegah oleh Roby yang ikut berlutut juga di sebelahnya.
"Hati-hati, Kiran!"
Alis Roby berkerut hingga hampir menyatu. Kiran dapat melihat gurat kemarahan kecil melalui kilatan matanya.
Tapi bagi semua anak yang melihatnya, hal itu memberikan pembuktian kuat tentang bagaimana kabar Roby yang menyukai Kiran benar adanya.
Karena dilihat dari manapun, Roby berusaha melindunginya.
"M-maaf, Sang Roby."
Kiran gugup. Roby perlahan menarik tangannya dari Kiran.
"Pakailah handglove! agar tidak terluka."
Kiran menurut dan melakukannya. Bima membantunya dan kekacauan di dalam laboratorium pun sebagai penutup kelas saat itu.
Kiran membuka jas putihnya, lalu menyimpannya di loker. Lisa segera menghampiri Kiran dan langsung memeriksa tangan Kiran.
''Tangan kau tidak apa-apa kan?!''
''Lis… jangan berlebihan, aku tidak apa-apa.''
''Isshh, si tongkat sungokong itu selalu saja ceroboh.'' Umpat Lisa pada Bima yang entah kemana.
''Bima juga pasti tidak sengaja, Lis.''
''Ya aku tau! tapi Ran, kau lihat raut wajah sang Roby, tidak? iiissshhh rumor itu apa benar?'' seru Lisa yang membuat Kiran memiringkan kepalanya.
''Rumor apalagi?''
''Anak-anak membicarakan sang Roby, yang katanya ada wanita yang dia suka di kampus ini. Dan mereka menebak kalau wanita itu adalah kamu!''
Kiran terkejut, entah mereka mendapatkan kabar itu darimna, tapi Kiran sungguh tidak merasa apapun. Entah mungkin karena dia yang kurang peka atau memang semua itu hanya prasangka yang tidak beralasan.
......................
Hay semua kaka-kaka kesayangan Nuna 🤗 mampir juga ke novel teman Nuna yaaa 🤗 sembari menunggu aku up 🤗🙏
Judul : SECRET Wedding (Jimmy & Alisa)
Author : SENDI ANDRIYANI
__ADS_1