
Aaakkkkhhhhhh!!!
Agra dan Kiran menoleh bersamaan dengan wajah yang syok.
Melihat disana sudah ada Lisa yang berdiri di ambang pintu menatap horor pada satu titik yaitu, Agra! yang lebih tepatnya pada kain berwarna hitam yang menyimpan sebuah benda yang keras dan menonjol.
''Ada apa?'' tanya Anas yang baru saja masuk dan melihat ke arah Lisa menatap. Dengan cepat Anas malah menarik Lisa kedalam pelukannya, menyembunyikan wajah Lisa di dadanya agar tidak melihat sesuatu yang menodai pandangan mata Lisa.
Tanpa sadar, Kiran meriah bantal dan menutupi bagian bawah Agra dengan sedikit keras sehingga membuat Agra melebarkan matanya dengan wajah yang memerah karena merasakan nyeri disana.
''Sayang, mu–less…''
''Maaf Mas, aku tidak mau ada yang melihat senjata mu!'' Bisik Kiran dan Agra pun menyingkir untuk memakai kembali celananya walaupun dengan rasa yang tidak nyaman karena ulah Kiran.
''Lisa!'' teriak Kiran.
Lisa yang masih didekap Anas, hanya mengacungkan dua jari nya, jari telunjuk dan tengahnya dengan membentuk huruf 'V' untuk permintaan maaf-nya.
Dua sekaligus hal keberuntungan bagi Lisa pagi ini. Dapat melihat senjata Agra yang memang masih di bungkus dengan kain hitam alias hotpants, tapi tidak menyembunyikan bentuk yang sudah pastinya tergambar dengan ukuran luar biasa, dan kedua bisa di dekap pria tampan mirip Jeon jongkook.
*
Agra berdiri di samping jendela dengan bersedekap dada, matanya memicing dan tajam ke arah dua orang yang masih berdiri dengan kepala yang tertunduk takut.
''Maafkan Lisa Tuan, mungkin dia lupa untuk mengetuk pintu,'' seru Anas membela Lisa.
''Iya benar, aku lupa untuk mengetuk pintu maafkan aku,'' timpal Lisa.
Mata Lisa melirik sedikit ke arah ranjang pasien yang di mana di sanalah Kiran tengah menatapnya juga dengan kesal, bukan kesal benci melainkan kesal karena menutupi rasa malu, karena sudah ketahuan agresif, tengah membuka kancing dan resleting celana milik Agra. Yang pastinya sudah dia bayangkan bagaimana nantinya Lisa akan mengolok-oloknya.
''Sebagai ganti rugi karena kalian sudah melihat pemandangan senjataku. Aku meminta tiket honeymoon ke Paris, bagaimana?''
Bukan hanya Lisa dan Anas yang ternganga mendengarnya, Kiran pun begitu, dia tidak menyangka kalau Agra akan meminta satu hal yang membuat siapapun akan merasa heran. Seorang bos meminta tiket honeymoon ke bawahan?
__ADS_1
''Tapi tuan—''
''Tidak ada tapi-tapian! plus fasilitas VVIP. Tidak kurang dan boleh lebih!''
Lisa semakin shok mendengarnya. Uang tabungannya tidak akan cukup untuk membiayai kedua pasangan itu untuk honeymoon yang berkelas.
''Sama saja kamu membunuhku Tuan. Lagi pula aku hanya melihat bentuknya saja di balik celana tidak melihatnya langsung. Kalau begitu jadinya, mestinya aku harus melihat langsung, biar adil.''
''LISA!'' pekik Kiran.
Mendengar penuturan Lisa Anas langsung menolehkan kepalanya dan menatap tajam pada Lisa.
''Heheheh… aku hanya bergurau, Ran.''
''Kau menginginkan senjata miliknya?!'' tanya Anas dengan serius .
''Issshhh, apa kau ini. Jangan memperburuk keadaan!'' bisik Lisa dengan menyenggol lengan Anas.
''Jadi bagaimana?'' tanya Agra lagi yang sedari tadi menunggu jawaban Lisa dan Anas.
Membayangkan lembaran-lembaran uang yang harus keluar dari kartu debit membuat jantung Lisa berdegup dengan kencang dan kakinya pun terasa lemas. Dan ini, Anas yang mengatakan 'saya yang akan mengurusnya' dengan begitu lantang dan entengnya?
'Apa kekayaannya sudah setara dengan Tuan Agra?'
''Tuan! kau serius? pikirkan lagi, berapa biaya yang harus dikeluarkan!'' bisik Lisa dengan khawatir. ''Kau bisa jatuh miskin dengan mendadak,'' lanjutnya dengan tangan menarik-narik ujung jas belakang Anas.
''Sudah! kau diam saja, ini semua karena kecerobohan mu, lagipula ini tidak gratis, Nona. Kau yang akan membayar ku atas biaya yang aku keluarkan nanti.''
Balas Anas dengan mengerling pada Lisa yang menatap ngeri padanya.
Lisa mengusap tengkuk lehernya, ia merasa merinding dengan bapa yang dikatakan Anas padanya. Seakan-akan menyimpan sebuah makna didalamnya.
''Jadi? deal?'' suara Agra membuat Lisa langsung menoleh, memalingkan wajahnya dari Anas.
__ADS_1
''Hah?''
''Iya, deal!'' sela Anas.
Kiran yang masih duduk di ranjangnya, hanya bisa mengulumkan senyumannya, ia menahan tawanya karena merasa lucu melihat wajah Lisa yang kebingungan.
Lisa melemparkan pandangannya ke arah Kiran, menatapnya dengan tatapan memohon, seakan-akan mengatakan 'Kiran aku harus bagaimana?' Lisa hanya bisa menggedikan kedua bahunya mengartikan 'Mana aku tahu, itu urusan mu!'
''Awas kau ya?'' gumam Lisa.
''Rasakan kau!'' gumam Kiran.
Entah karena sudah bersahabat lama, atau memang satu pemikiran, dua gadis itu seakan memiliki telepati baik, mengerti isyarat walau hanya dari tatapan dan gumaman saja.
Pintu diketuk dari luar yang ternyata seorang dokter, bernama Jerry yang selama ini menangani Kiran di sana yang masuk dengan satu orang perawat yang mendorong sebuah troli, berisikan makanan untuk pasien.
''Maaf mengganggu, saya hanya ingin menyampaikan, kalau Nona Kiran bisa pulang hari ini. Tapi harus habiskan dulu sarapannya,'' ucap dokter Jerry dengan ramah.
''Wah! apa dia malaikat?''
Mata Lisa terkunci pada sosok tampan dan berwibawa seorang pria berjas putih itu.
''Dasar mata keranjang!'' sembur Anas yang langsung keluar ruangan dengan perasaan kesal.
Agra menutup mulutnya, menyembunyikan tawanya, dia benar-benar gemas melihat wajah dingin dan datar Anas yang ternyata bisa juga merasakan cemburu.
Selagi Jerry tengah mencabut selang infus dari punggung tangan Kiran, Agra berjalan menghampiri Lisa yang masih menatap penuh kagum pada Jerry.
''Hei Nona! sebaiknya kau kejar si Tom bukan si Jerry!'' bisik Agra yang membuat Lisa seketika memutar kepalanya.
''Hah? Tom? Jerry?''
''Eh, Tuan Anas mana?'' ucapnya kemudian.
__ADS_1
''Tom mu, sudah keluar. Susullah!''