
Hanya membutuhkan waktu sekitar delapan jam. Anas telah berhasil menangani berita yang menyebarkan kabar bohong itu.
Semua media telah ia bungkam, dengan sebuah ancaman akan menarik saham karena ternyata Agra Madava Nadindra menanamkan modalnya di beberapa Platform juga media cetak dan media sosial.
Anas berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangan Agra di kediaman Nadindra. Agra telah menunggunya di ruangan kerja selama dua jam lamanya.
“Tuan?” Anas membuka pintu.
Agra mengernyitkan keningnya, merasa heran dengan penampilan Anas yang sedikit berantakan, dengan kantung mata yang sangat terlihat gelap.
“Masuk!” perintahnya setelah diam sejenak.
Anas pun melangkah masuk dan segera mengunci pintu lalu berjalan menghampiri Tuan nya itu yang duduk di kursinya.
“Bagaimana? apa kau sudah membereskannya ?”
“Sudah Tuan, semua media sudah saya bungkam, dengan sedikit negosiasi didalamnya, maaf saya menggunakan nama anda dalam negosiasi.''
“Kau yakin mereka tidak akan membuat berita lain, seperti 'Pewaris NDR Corp membungkam semua media' ?”
“Saya akan menjamin itu, Tuan. Karena saya menyebut nama anda saja mereka seketika bungkam, mereka takut. Yang ternyata mereka hanya tahu pewaris NDR tanpa mengetahui siapa nama pewaris itu.”
“Lalu apa ada orang di balik berita bohong itu, siapa yang mereka maksud si Gadis itu?”
“Ini yang saya ingin jelaskan.”
Agra manggut-manggut mengerti, ia tidak salah mempercayakan semuanya pada Anas, asisten pribadinya yang telah mengabdi padanya selama bertahun-tahun itu dan jam terbangnya pun tidak lagi diragukan.
“Lalu si pengemudi itu?”
Mendengar pertanyaan lain lagi, Anas menghela nafasnya dengan pelan, karena ternyata kasus ya g dia tangani tidaklah hanya satu melainkan ada beberapa dan semuanya beresiko juga berat. Tapi Anas memiliki kemampuan yang tidak banyak orang miliki, karena dia pernah menjadi detektif pemerintahan.
“Aku juga membawa sekalian kabar yang anda inginkan, tapi saya harap anda bisa menahan diri.”
“Katakan!”
“Edo, pemuda yang pernah berselisih dengan anda di kampus, dialah si pengemudi itu, yang ternyata ada orang yang menyuruhnya dan orang itu juga orang yang dibalik link berita.”
“Katakan Anas!”
Agra nampak tidak sabar menunggu jawaban Anas yang menurutnya terus berbelit, rahangnya sudah mengeras sedari tadi, karena menahan emosinya.
“Sari. Ya dia adalah sepupu dari nona Kiran sendiri.”
Agra mengepalkan tangannya, selama ini dia terlalu menganggap enteng Sari yang ternyata wanita licik dan jahat, bahkan ia menginginkan kematian sepupunya sendiri.
“Kau urus mereka, bawa mereka ke 46, aku akan bertemu langsung dengan dua pasangan itu.”
__ADS_1
Anas menganggukan kepalanya mengerti, dia sangat paham dengan tabiat Agra, jika sudah berhadapan dengan seorang penjahat ataupun orang telah mengusik kehidupannya terlebih lagi orang yang berani mencelakai orang-orang terdekatnya. Jalan satu-satunya yang dia lakukan adalah menghukumnya sendiri.
Ya siapa sangka, dibalik keceriaan Agra, dia juga menyimpan sebuah rahasia kehidupan lainnya. Agra bukan hanya pewaris dan penguasa di kerajaan NDR Corp. Tapi dia juga bergabung dengan geng Mafia kelas kakap, yang di pimpin langsung oleh ketua yang bernama George Elvano Abraham. Mafia Sisilia Italia.
*
Sejak hari itu, Edo maupun Sari tidak lagi terlihat dimana pun, mereka berdua bagaikan ditelan bumi dengan misterius. Dan bahkan Kiran maupun Lisa tidak mengetahui kemana perginya Edo dan Sari.
Kehidupan Kiran dan Agra sedikit lebih tenang, tanpa Kiran tahu kalau ternyata suaminya telah berurusan dengan Sari dan Agra lah di balik hilangnya Sari.
Agra dan Anas telah sepakat tidak akan membahas perihal Edo dan Sari sampai kapanpun. Itu semuanya hanya demi ketenangan Kiran yang terus dijadikan korban kejahatan-kejahatan.
Dan tidak menutup kemungkinan, Olivia dan Nancy pun bisa mereka urus dengan cara yang sama. Tapi nampaknya Agra masih ingin bermain-main dengan kedua wanita berbeda generasi itu.
Hari ini adalah keberangkatan perjalanan berbulan madu bagi Agra dan Kiran. Yang Anas sendirilah bertanggung jawab dengan semuanya.
Sudah hampir satu bulan Kiran dirumah untuk pemulihannya, dan keadaan Kiran sudah sangat baik saat ini.
Di kediaman Nadindra, Kiran dan Agra sudah bersiap-siap. Tapi sejak tadi Kiran hanya diam murung yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Ada apa, sayang? apa kau tidak menyukai perjalanan kita, hm?”
Tanya Agra yang sangat tidak menyukai kemurungan Kiran, istrinya.
“Andai Lisa juga bisa ikut.”
“Sayang kita pergi bukan untuk berpiknik, tapi berbulan madu. Mas tidak ingin ada yang menganggu waktu kita.'' Agra memprotes apa yang diinginkan oleh Kiran.
“Tapi Mas… kita bisa ajak Anas juga. Agar mereka semakin dekat.''
Agra terdiam memikirkan apa yang di katakan oleh Kiran tapi sesaat kemudian dia menggelengkan kepalanya lagi.
“Tidak, tidak! Lalu siapa yang menangani perusahaan? hanya dia yang Mas percaya.”
“Mas mengkhawatirkan perusahaan?” Agra mengangguk.
“Apa Mas tidak mengkhawatirkan Tuan Anas?”
“Maksudmu?”
“Iya, usia dia sudah cukup matang untuk menjalin sebuah hubungan, tidak mungkin kan dia terus melajang dan terus Mas minta berdiri dibelakang Mas, berikan dia waktu untuk refreshing, dan biarkan juga dia memiliki kehidupan yang bebas seperti kita. Yang sudah berumah tangga dan pastinya akan memiliki anak.”
Agra terkesip mendengarnya, “Anak?” Kiran mengangguk.
“Baiklah, Mas setuju. Mas akan meminta Anas untuk ikut beserta—”
“Lisa?” potong Kiran dan Agra pun mengangguk dengan senyuman menawannya.
__ADS_1
Din Din!
Suara klakson terdengar dari luar rumah. Yang sudah di pastikan bahwa itu adalah Anas ya g baru saja tiba dan sudah siap untuk mengantarkan mereka ke bandara tanpa tahu ada perubahan rencana.
Agra dan Kiran keluar dengan melenggang. Berjalan dengan bergandengan tangan di hadapan Anas yang berdiri di samping mobil. Dan disusul dengan dua orang pelayan yang membawakan koper-koper milik pasangan suami istri itu dan Mala kedua pelayan yang berjalan dibelakang mereka.
Sesungguhnya Anas merasa iri, tapi dia juga tidak ingin mengambil pusing.
“Selamat pagi Tuan, Nona,” sapa Anas dengan hormat.
“Selamat pagi!” seru keduanya dengan bersamaan.
“Jalan sekarang?” Agra mengangguk dan Anas pun membukakan pintu mobil untuk mereka.
“Mala tutup rumah, aku percayakan padamu,” ucap Agra sebelum masuk kedalam mobil.
“Baik Tuan. Kalian hati-hati dan bersenang-senang lah. Oh ya Nona! bawakan kabar baik juga ya, Mala siap menjadi baby sitter untuk tuan muda kecil."
Kiran tersenyum dengan pipi yang memerah, “Ka Mala bisa saja.”
Merekapun pergi meninggalkan halaman rumah.
Lima menit perjalanan, Agra membuka suaranya.
“Kita ke apartemen mu!”
Anas yang mendengarnya spontan menaikan pandangan pada kaca yang ada di atas kepala.
“Apartemen ku, Tuan?”
“Hmmm?”
“Maaf anda mau apa?”
“Siapkan pakaian mu dan kebutuhan mu, kami akan menunggu dibawah!”
Anas semakin kebingungan, mau apa mereka ke tempat tinggalnya, dan untuk apa juga dia diperintahkan untuk menyiapkan kebutuhannya.
“Tuan mengusirku?”
Dugh!
Agra menendang jok belakang Anas.
“Kau harus ikut dengan kami!”
Ciiittttt!!
__ADS_1
Dengan spontan, Anas menginjakkan kakinya pada pedal remnya sehingga menghasilkan bunyi yang menyakitkan telinga.