
Sepanjang perjalanan, Anas terus mendiami Lisa yang bahkan tidak ada niatan untuk bertanya sebab marahnya tadi.
Anas berulang kali mendengus seolah-olah sengaja agar Lisa dapat mendengar dan menyadari kalau dia sedang marah, tapi tidak, Lisa malah sibuk dengan gawainya dan tertawa melihat serial yang sedang ia tonton itu.
CIIIIITTTTTT!!
Dugh!
Anas menginjak pedal remnya Deny mendadak karena ternyata didepan lampu sudah menunjukkan pada warna merah, dan membuat Lisa terhantuk dashboard mobil karena lupa mengunakan seatbelt-nya.
'Aaawww!'
''Tuan, ANAS!!!'' teriak Lisa menggelegar, menatap tajam pada Anas yang hanya memainkan jari-jari di kemudinya.
''Kamu salah sendiri, tidak memakai seatbelt,'' ucap Anas tanpa merasa bersalah.
''Kenapa harus rem mendadak?!''
''Kenapa kamu malah bermain ponsel?''
''Memangnya ada larangan!''
''Ada, bahkan tertulis di undang-undang.''
''Itu bagi pengemudi! aku hanya penumpang! lihat dahi ku, ini sakit sekali. Hu hu hu…''
Lisa pun menangis karena merasakan sakit di keningnya, Anas yang semula bersikap masa bodo, langsung menoleh ketika mendengar Lisa yang menangis.
Matanya mendelik ketika melihat Lisa yang menangis sambil memegangi keningnya, dengan mimik yang khawatir Anas meminggirkan terlebih dahulu kendaraannya, setelah itu menyingkirkan tangan Lisa yang masih memegangi keningnya.
Dengan sangat lembut, Anas menyentuh pipi kanan Lisa dan tangan satunya memeriksa dahi Lisa yang memerah bahkan mendekati warna kebiruan.
''Maafkan aku, aku tidak sengaja, sungguh!'' ucapnya begitu lembut. Ibu jarinya mengusap pelan dahi Lisa yang memar itu.
Lisa yang masih terisak, seketika berhenti karena merasakan hangat dari terpaan sesuatu. Ya, Anas tengah meniupi kening Lisa yang memar.
Ada yang aneh pada diri Lisa, tapi apa? entahlah.
''Sudah mendingan?''
Tanpa disadari Lisa malah mengangguk, Anas pun menjauhkan wajahnya dari Lisa dan tersenyum kearahnya.
'Haaahhh, astaga aku bisa mati kalau disini…'
Gumam Lisa salam hatinya. Dadanya benar-benar ada yang salah, karena terus saja berdegup kencang, hingga tubuhnya terasa lemas.
''Maaf ya, Lis.''
__ADS_1
Suara serak Anas membuat darah Lisa berdesir tak karuan. Terlebih lagi memanggil namanya dengan semesra itu. Pipi Lisa memerah dan hanya mengangguk dengan wajahnya yang di buang ke luar jendela.
Anas melanjutkan perjalanan, dan kembali berhenti di perukoan, Lisa memperhatikan sekeliling, dan berpikir untuk apa Anas berhenti disana.
Ketika Lisa menoleh, karena ingin bertanya pada Anas, dia terkejut karena Anas sudah tidak ada di tempatnya.
''Lho! kemana dia?'' Lisa kebingungan dan matanya melihat laki-laki tampan dengan wajah Asian mable itu berjalan masuk ke pintu ruko yang bertuliskan apotek.
''Mau apa dia?''
Tidak berselang lama Anas kembali keluar dengan sebuah kantung kresek kecil berwarna putih, berjalan menuju mobil dengan sedikit berlari.
Saat Anas masuk ke mobil dan menutup pintu, tercium aroma maskulin itu lagi. Haahhh… sangat menyegarkan! Lisa segera menggelengkan kepalanya dan terkejut karena sudah ada tangan Anas yang sedikit menyibakkan poninya yang menutupi kening memarnya.
''Tahan ya, mungkin akan sedikit terasa nyeri, tapi perlahan akan membaik.''
Kalimat Anas membuat pipi Lisa semakin memerah, entah kenapa kalimat itu terdengar sangat sensual di telinganya.
Ya, Lisa tidak sepolos Kiran, karena Lisa tipe gadis yang serba sangat ingin tahu. Apapun dia merasa penasaran, bahkan dia sudah mempelajari apa saja yang dilakukan pasangan suami istri saat malam pertamanya melalui website. Tapi sungguh diapun masih Virgin.
''Bukankah hanya kening yang terbentur?''
''Hah?''
''Iya bukankah hanya kening yang terbentur, kenapa pipi mu ikut memerah?''
''Sudah, aku sudah membaik!'' ucapnya begitu ketus.
''Benarkah? kalau begitu syukurlah. Simpan ini, pakai setiap dua jam sekali.'' Anas memberikan tube salep untuk kening Lisa yang memar.
Mereka pun meninggalkan area perukoan. Anas mengantarkan Lisa sampai ke depan gerbang rumahnya, walaupun Lisa sebelumnya menolak karena dia tidak ingin orang tuanya tahu kalau dia diantar oleh pria tapi Anas terus memaksa.
''Tuan, ketika aku keluar dari mobilmu kau langsung pergi ya,'' ucap Lisa dengan mata yang terus memperhatikan rumahnya.
''Memangnya kenapa?''
''Aku takut orang tuaku melihat mu.''
''Memangnya kalau melihat kenapa?''
''Ck, sudah lakukan saja apa yang aku katakan. Aku keluar ya, terima kasih sudah mengantarkan aku.''
Lisa pun keluar dan dengan tangan yang ditaruh di belakang dia melambai dan meminta Anas untuk segera pergi dari sana.
Merasa aneh tapi Anas pun melakukan apa yang Lisa katakan, pergi setelah Lisa keluar. Tapi dia tidak benar-benar pergi dia berhenti di sebrang jalan ketika mobilnya memutar untuk pergi.
Seorang wanita keluar dari pintu dan terlihat langsung memukul lengan Lisa. Mata Anas memicing tajam terlebih lagi melihat Lisa yang meringis kesakitan dan masuk dengan kepala yang tertunduk.
__ADS_1
Tidak, bukan Lisa yang biasa ia lihat, tapi disana ia melihat Lisa yang pendiam tanpa membalas omelan dan perlakukan kasar terhadapnya.
''Apa dia ibunya? tapi kenapa tiba-tiba memukul Lisa?'' gumam Anas penasaran.
Amarah wanita paruh baya itu sangat terlihat dari kejauhan, dari mulut dan mimik nya pun sangat kentara, dia masih mengomeli Lisa yang sudah masuk kedalam rumah itu.
*
Keesokannya, Agra yang baru saja kembali dari ruangan dokter, melihat Kiran yang sudah terbangun dan sedang diperiksa oleh perawat.
''Kau sudah bangun, sayang?''
Kiran mengangguk.
''Maaf Tuan, saya izin memeriksa keadaan nyonya ya…''
''Ya silahkan.''
Memeriksa selang infus, dan menggantikan perban di kepala Kiran, perawat itupun permisi pergi setelah melakukan tugasnya.
Dan beberapa saat kemudian pintu kembali diketuk yang ternyata bukan hanya satu ataupun dua orang yang masuk, ada lima orang yang masuk kesana.
''Kek?'' Agra segera memeluk kakeknya. Ya, yang datang adalah Kakek Faris dan keluarga lainnya, termaksud Hendrawan dan anak kesayangannya yaitu, Olivia.
''Cucuku… bagaimana keadaan mu, sayang?'' tanya Faris dengan lembutnya pada Kiran.
''Baik kek, kakek menjengukku?''
''Pasti sayang. Begitu kakek mendengar kabar buruk dari Anas, Kakek langsung mengumpulkan keluarga untuk ikut menjenguk mu. Cepat sehat ya ,nak'.''
''Ya, semoga cepat sehat ya, Kiran,'' timpal Liliyana, ibu sambung Olivia.
''Terima kasih, Kek, Tante…'' seru Kiran dengan senyum manisnya.
Mata Kiran melirik ke arah dua wanita berbeda generasi yang berdiri sedikit jauh dari yang lainnya. Dan dapat ia tebak, wanita parubaya yang berdiri didekat Olivia itu adalah ibu dari Agra, wanita yang bersama Olivia di cafe waktu itu.
Matanya beralih melirik ke arah Agra yang terlihat seperti sedang menahan dirinya, menahan agar amarahnya tidak pecah saat itu juga.
''Gra, kau tidak menyapa ibu mu? dia baru datang tiga hari yang lalu,'' ucap Faris.
''Ya datang bukannya mencariku tapi malah mencari anak orang lain,'' ketus Agra dengan sindiran yang seharusnya Nancy maupun Olivia menyadari sesuatu.
''Nak, kau ini bicara apa, apa kabarmu sayang. Kenapa kau nampak pucat, hmm?'' ucap Nancy yang langsung menghampiri Agra.
''Maaf Mah.'' Agra mencegah Nancy yang ingin memeluknya. Sungguh Agra tidak dapat menyembunyikan sikap ketidaksukaannya pada siapapun ketika dia memang sudah tidak suka.
''Kau sudah besar ya, maaf Mama lupa.'' Nancy mengusap lengan Agra dan sedikit melirik sinis ke arah Kiran.
__ADS_1