
Di NDR Corp, Agra dan Anas yang baru saja keluar dari ruangan rapat langsung menuju kantin kantor.
Makan di sana dengan Anas yang memesankan-nya. Makan dengan hening, hingga Anas pun membuka mulutnya.
''Tuan, apa anda tidak akan mengambil cuti?''
''Cuti, untuk apa?''
Agra menjawab setelah menelan makanan yang masih dikunyah nya.
''Memangnya Anda tidak akan mengajak Nona Kiran untuk berbulan madu?''
Agra terdiam sejenak, memikirkan apa yang Anas katakan, karena sebelumnya memang dia tidak pernah terpikirkan untuk pergi berbulan madu.
Agra menaruh sendok dan garpu ke piring, dan meraih tisu yang ada di meja lalu mengelap mulutnya setelah meminum setenggak air putih.
''Berbulan madu? apa harus aku lakukan?''
''Saya rasa iya, karena kalian kan menikah tanpa adanya penjajakan, dan setelah menikah pun, kalian juga berpisah cukup lama. Ya sekalian menyegarkan otak setelah bertarung dengan beberapa perusahaan besar demi tender yang anda menangkan.''
Agra mengangguk beberapa kali, seolah mengatakan, 'Sounds good.'
"Kamu ada rekomendasi tempat?" Agra memandang Anas, sangat antusias dengan akan ke mana anak itu menyarankan kepergiannya.
"Ada, banyak. Tapi ada baiknya anda tanyakan pada Nona Kiran."
"Boleh juga."
Agra mengeluarkan ponsel dari balik saku jasnya. Ia terkejut karena ada beberapa panggilan tak terjawab dari Kiran.
"Oh? Ponselnya aku silent. Tdiak dengar kalau Kiran menelpon. Tumben, kenapa ya?"
Agra menghubunginya balik dan panggilan mereka terhubung dengan cepat.
"Mas?"
Suara manisnya membuat Agra tersenyum.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Maaf Mas tadi tidak mendengar kalau kamu telepon."
"Mas, ada yang harus Kiran katakan."
"Iya, ada apa? Hm?"
"Mas Agra bisa keluar sebentar? Kiran ada di depan kantor bersama Lisa."
"Oh? Sungguh? Baiklah Mas ke sana. Tunggu ya!"
Panggilan mereka terputus. Gavin bangkit dari duduknya. Mengatakan pada Anas kalau Kiran dan Lisa datang ke sini menunggunya didepan kantor. Anas pun ikut mengakhiri makannya dan segera menyusul Agra yang sudah lebih dulu pergi.
Mendung semakin petang, rintikan hujan sudah terasa di setiap kepala manusia.
Mereka berjalan ke depan melalui pintu timur NDR Corp. Agra dapat melihat Kiran yang ada di seberang jalan bersama Lisa.
Agra melambaikan tangannya pada Kiran, dan Anas yang baru saja muncul dari balik badan Agra melihat ke arah lambaian tangan bosnya itu.
Agra dan Anas pun sama-sama melangkah keluar dari sana dan akan menyebrang jalan.
Namun sebelum langkah kaki Agra sampai atau bahkan berhenti di hadapan Kiran, sesuatu yang tak terduga terjadi di depan matanya.
"KIRAN!"
Tangan Agra kebas. Kakinya terasa lemas tak bertulang saat melihat Kiran yang tergeletak di sana dengan mata terpejam dan tangan serta kakinya yang bersimbah darah.
Darah itu meluap di sekelilingnya. Orang-orang berkerumun di sekitar sana, Lisa yang segera berlari ke arah Kiran dan mengangkat kepala Kiran ke pangkuannya. Air mata Lisa menetes deras, dia terus memanggil nama Kiran dengan tangan terus menepuk pipi Kiran yang sudah basah dengan darah.
Agra merasa dunianya berhenti berputar saat mengambil alih kepala Kiran dari pangkuan Lisa ke pangkuannya dan ia dapat melihat wajah istri yang semakin memucat.
"Tidak, Kiran! Jangan! Jangan tinggalkan aku seperti ini!"
Lisa sudah terduduk dengan memeluk kakinya, dia benar-benar shock, melihat langsung sahabatnya di terjang mobil dan terpental jauh, dadanya terasa sesak, tubuhnya semua gemetar. Ia terguncang.
''Ran, maafkan aku,'' lirih Lisa yang masih menangis.
Anas yang berada di samping Agra, melihat Lisa yang sedang gemetar memeluk kakinya, langsung ia hampiri, ikut berjongkok di samping Lisa.
__ADS_1
''Nona Kiran akan baik-baik saja,'' ucap Anas dengan lembut.
''M-Maafkan aku, Ran. Maaf!''
Lisa semakin merasa bersalah, suaranya semakin gemetar, entah kenapa, tiba-tiba Anas pun memeluk tubuh Lisa, mungkin spontan langsung untuk menenangkan diri Lisa.
Agra segera mengangkat tubuh Kiran menuju mobilnya yang masih terparkir di depan kantor, dan Anas memapah tumbuh Lisa yang lemas menyusul langkah Agra.
Kejadian yang sangat cepat membuat Agra Lisa Anas shock dan terguncang.
Dan saat ini mereka sudah berada di rumah sakit kota, Lisa dan Anas duduk di ruang tunggu dan akrab yang nampak berdiri dengan tidak tenang di depan pintu yang bertuliskan huruf kapital IGD.
''Tuan minum dulu,'' ucap Anas yang memberikan segelas air teh pada Agra yang dia dapat dari perawat.
''Tidak, kau berikan saja pada Lisa. Seperti dia juga terguncang.''
Anas menoleh pada Lisa yang matanya hanya terfokus pada pintu IGD itu.
''Minumlah.''
Anas memberikan minum itu pada Lisa, tapi tidak ada sahutan dari Lisa yang matanya masih meneteskan air mata dan bibirnya terus saja mengucap maaf, yang membuat Anas penasaran kenapa dia terus meminta maaf.
...----------------...
Menjadi Madu Sahabatku
Author: Ayu Andila
Dia tidak menyangka kalau akan menjadi pemeran antagonis dalam kehidupan sahabatnya.
Viola Rinjani, seorang gadis muda berusia 23 tahun harus terpaksa menikah dengan seorang pria yang merupakan suami dari sahabatnya sendiri.
Awalnya, Viola menolak tawaran pernikahan itu. Namun, keadaan yang terus memburuk terasa mencekik leher Viola hingga membuatnya harus mengambil keputusan untuk menjadi istri kedua.
Biduk rumah tangga pun dimulai, akankah Viola berhasil melewatinya ?
Atau terpuruk dengan segala siksaan dan hinaan yang dilayangkan oleh semua orang ?
__ADS_1