
“Apa! ikut?!”
Anas terkejut, bahkan Agra tidak mendiskusikan nya lagi dengannya.
“Ya! kau harus ikut,” ulang Agra.
Pupil mata Anas bergerak kepada Agra dan Kiran secara bergantian. Kiran hanya memberikan senyuman dan anggukan.
“Tapi Tuan? saya mau apa disana, menonton kalian berkuda?”
Kiran terkejut mendengarnya, dan lagi-lagi Agra menendang jok belakang Anas lagi karena kesal.
“Sembarangan kamu! Kau hanya perlu ikut, itu saja! tidak perlu banyak bertanya!”
“Tapi—”
“Tidak ada Tapi! Jalan!”
Sebuah titah yang mutlak keluar dari mulut Agra yang menandakan kalau ucapannya tidak ingin ada lagi bantahan. Anas hanya bisa pasrah dan mendengus dengan kesal lalu melanjutkan laju mobilnya menuju tempat tinggalnya yang bertempat di kawasan apartemen.
Setelah mengambil koper yang berisikan baju-bajunya juga keperluan lainnya. Anas kembali kemobilnya yang memang Agra dan Kiran menunggunya di sana.
“Tuan apa anda yakin?” tanya Anas lagi sebelum melajukan mobilnya.
“Sangat yakin!”
“Tapi siapa yang akan mengurus perusahaan?”
“Ck, itu sudah ku urus semuanya. Ada Kemal yang siap membantu, kau ku berikan waktu liburan karena selama ini kau hanya tau bekerja saja.”
Anas menganggukan kepalanya, dia kembali menjalankan kendaraannya meninggalkan kawasan apartemen tempat ia tinggal.
Tapi baru saja lima menit perjalanan, Agra kembali membuka mulutnya yang membuat Anas terkejut kesekian kalinya.
“Kita ke kampus!”
“Hah? mau apa, Tuan?”
“Menjemput sahabat ku."
Kini yang menjawab bukanlah Agra melainkan Kiran, dengan ekspresi yang ceria, tapi membuat Anas mengelus dadanya karena benar-benar tidak mengerti apa yang diinginkan pasangan suami istri ini.
Dan lagi-lagi Anas menghentikan mobilnya di tepi jalan lalu memutar tubuhnya, “Apa kalian juga akan mengajaknya?”
__ADS_1
“Benar! Anda memang pintar, Tuan Anas," sahut Kiran tanpa beban.
“Tapi, apa sebelumnya dia sudah tau?” Kiran menggelengkan kepalanya yang pastinya membuat Anas benar-benar tidak bisa lagi mengerti dengan tujuan mereka.
“Apa tidak sebaiknya anda menghubunginya dulu?” ucapnya kemudian setelah menghela nafasnya dalam-dalam.
“Benar sayang. Sebaiknya kamu menghubunginya dulu.”
“Baiklah.” Kiran pun segera menghubungi Lisa yang ternyata memang sedang berada di kampus dan sedang berbincang dengan timnya di laboratorium.
“Halo, Lalisa?”
“Ya Kiran, ada apa?”
“Apa kau mau ikut?”
“Mau, kemana?”
“Ya sudah kalau begitu aku jemput sekarang!”
Tanpa berpamitan, Kiran memutuskan sambungan telepon. Anas dan Agra saling menatap dengan bingung.
“Sudah?” Agra bertanya dan Kiran mengangguk.
“Ya sudah tunggu apa lagi? Ayo jalan Tuan,” seru Kiran dan Anas menatap Agra yang memberikan anggukan kecil padanya.
Anas melanjutkan perjalanan, dengan pikirannya yang melayang entah kemana.
Ya sejak hari dimana Anas memagut Lisa dengan mesra dan hangat, Anas tidak pernah lagi bertemu dengan gadis Medan itu. Dan bahkan berkomunikasi pun tidak pernah mereka lakukan walaupun memang keduanya telah menyimpan nomor satu sama lain.
Di kampus tepatnya di ruangan laboratorium, Lisa yang baru saja menerima telpon dari Kiran merasa heran, karena Kiran yang memutuskan sambungan setelah menawarkan ingin mengajaknya yang entah tau kemana.
“Apa-apaan si Kiran ini! mengajakku tapi tidak memberi tahu akan kemana tujuannya,” gumam Lisa dan didengar teman-temannya.
“Kenapa,Lis?” tanya Roby yang ternyata mendengar gumaman Lisa.
“Oh tidak sang Roby, tidak apa-apa. Oh ya, sang Roby ide ku sudah ku tulis dibuku ini semuanya kalau begitu aku pamit pergi ya, dan good luck untuk kalian semua.”
Lisa pun membereskan buku-bukunya dan tasnya lalu pergi meninggalkan ruangan laboratorium, berjalan keluar, lalu melewati koridor yang akan membawanya ke pintu utama kampus.
Matanya melihat mobil Lexus berhenti di depan gerbang yang sudah dipastikan mobil itu adalah mobil salasatu milik Agra.
Pintu kiri belakang terbuka, dan benar saja, Kiran lah yang keluar dari sana. Lisa sedikit berdebar karena Kiran yang keluar dari pintu belakang bukan pintu depan. Yang menandakan kalau ada orang lain yang menyetir dan yang pastinya bukan Agra.
__ADS_1
“Lisa!!” Tangan Kiran melambai-lambai pada Lisa yang tersenyum ragu.
“Ran? kita mau kemana?”
“Ke Paris.”
Mata Lisa seakan ingin loncat dan menggelinding bebas dibawah tanah, Kiran mengajaknya ke luar negeri seperti mengajak menongkrong di kafe, seenteng itu dan tanpa beban.
“Kiran Wulandari, nyonya Agra Madava Nadindra! kau sehat kah?”
Lisa meletakkan punggung tangannya pada kening Kiran yang langsung ditepis pemiliknya.
“Ish kamu ini, aku sehat lah!”
“Kau mengajakku ke Paris, itu luar negeri lho, Ran. Bukan di daerah Condet ataupun Blok M!”
“Iya aku tahu, kau hanya perlu ikut denganku, bukannya sebelumnya kamu bilang sangat ingin merefresh otak? ya ini saatnya.”
Lisa terdiam dan menyetujui apa yang di katakan Kiran. Tapi pergi keluar negeri tidak mungkin hanya satu hari yang bisa bolak lagi seperti pergi ke Jakarta-Bogor yang waktu perjalanan nya hanya dua sampai tiga jam.
“Baiklah kalau begitu antarkan aku kerumah, aku akan menyiapkan keperluan ku.” Kiran pun mengangguk dan menarik tangan Lisa ke bagian mobil sebelah kanan depan, tepatnya di samping kursi kemudi.
Saat pintu dibuka Kiran, dia melihat pria yang beberapa waktu ini telah mengganggu waktu tidurnya karena terus melayang-layang diingatan nya saat memagut nya dengan mesra.
“Ayo Lisa!” Lisa terkesip mendengar suara Kiran dan langsung masuk kedalam mobil tanpa membuka mulutnya lagi.
Setibanya di depan sebuah rumah besar, Lisa segera melepaskan seatbelt-nya. “Aku ambil barang-barang ku dulu.” Lisa pun keluar dari mobil.
“Oh ini rumah Lisa,” gumam Kiran.
“Memangnya Anda tidak pernah tahu kediamannya, Nona?”
“Iya sayang. Memangnya kamu tidak tahu rumah Lisa selama ini?” timpal Agra yang juga penasaran.
Kiran menggelengkan kepalanya.
“Tidak, dia tidak pernah mengajakku kerumahnya, dan memang dia selalu menutup diri tentang kehidupannya. Tapi kok Anda tahu rumah Lisa, Tuan?”
“Saya pernah sekali mengantarkannya, Nona.”
“Itu berarti anda orang pertama yang dia beri tahu rumahnya."
Anas terdiam karena ucapan Kiran. Apa semestarius itu sosok Lisa? Dan kenapa Lisa menyembunyikan kehidupannya dari orang luar?
__ADS_1