Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Jatah Malam Yang Hilang


__ADS_3

''Sebenarnya apa hubungan mu dengan Reza?''


...


Agra membisu, menatap netra Kiran tanpa berkedip begitu pun Kiran yang masih menunggu jawaban dari Agra.


Di pinggir danau, saat inilah mereka berada. Agra membawa Kiran kesana entah hanya untuk melihat dirinya yang termenung atau memang untuk mengatakan sesuatu.


Kiran akhirnya membuka suaranya. "Ini, aku mendapatkan surat ini lagi.''


Kiran mengeluarkan surat kaleng itu dan diberikannya pada Agra yang membutuhkan waktu cukup lama untuk mengambil surat itu dari tangan Kiran.


Agra pun membaca surat itu huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat. Selama ia membawa matanya tidak sama sekali berkedip terlebih lagi saat dia membaca kalimat terakhirnya, yang bertuliskan 'bahkan kalau kelak aku beritahukan apa hubungannya dengan Agra dan Reza. Pastilah kau akan terkejut'.


Selesai membaca, Agra tetap diam. Matanya menatap lurus ke depan, sejenak ia menghela nafas panjang sembari memejamkan matanya. Kemudian barulah ia menghadap kearah kirinya yang ternyata sejak tadi Kiran terus saja memperhatikan sikapnya.


''Sayang?''


''Hm?'' Kiran agak terkejut karena Agra memanggilnya.


''Ingat yang kemarin Mas katakan padamu dan meminta sesuatu darimu?''


Kiran sejenak terdiam, mengingat apa yang dikatakan Agra kemarin. ''Ah! yang Mas meminta kepercayaan dariku kan?''


''He'um... apa yang Mas lakukan semua demi kamu, hanya untuk kamu.''


''Iya, Kiran percaya itu,'' sahut Kiran yang sebenarnya belum terlalu paham apa yang di maksud Agra ini, apa hubungannya pertanyaannya dengan jawaban Agra ini.


''Suatu saat nanti, Mas yang akan mengatakan semuanya, tapi tidak untuk hari ini. Mas akan berkata apapun yang ingin kau tahu, setelah Mas mendapatkan bukti yang lebih kuat dan akurat, apa kau mau menunggu itu?''


Tangan Agra menyentuh kepala Kiran, dan diapun mengangguk. Seakan terhipnotis oleh pesona Agra, Kiran pun tetap bungkam, walaupun hatinya sangatlah penasaran akan isi surat kaleng itu. Tapi dia akan berusaha untuk sabar menunggu dan percayakan semuanya pada Agra.


''Terima kasih. Mas mencintaimu.'' Agra mengecup lama kening Kiran, menyalurkan aura positif pada pikiran Kiran yang mungkin saja masih berpikir aneh dengan sikapnya itu.


''Kita pulang sekarang?'' Kiran mengangguk dan tersenyum lembut.


Agra pun membelokkan kemudinya yang langsung meninggalkan danau itu membelah jalanan ibukota yang cukup ramai di malam itu yang kebetulan malamnya para remaja, malam Minggu.

__ADS_1


''Mas belum makan sedari siang,'' ujar Agra tanpa ditanya Kiran.


''Kenapa Mas? apa sesibuk itu tadi sampai tidak sempat makan?''


''Bukan. Hanya saja, Mas terlalu merindukan kamu,'' goda Agra yang mencubit pipi Kiran yang menggembung.


''Mas ingin makan apa? biar Kiran buatkan,'' seru Kiran yang sudah duduk menghadap Agra.


''Hati-hati, jangan seperti itu, sayang.'' Agra mengusap pipi Kiran dengan lembutnya.


''Emmm... makan apa? di lemari es ada daging, udang, jamur dan sayurnya ada lobak dan kubis.'' Kiran menyebutkan satu persatu persediaan bahan pangan yang dia ingat tersimpan di lemari pendingin.


''Heemmm, apa ya?'' Agra menggaruk dagunya yang seperti sedang berpikir. ''Makan kamu!'' serunya dengan mengacak rambut panjang Kiran.


Pipi Kiran memerah, walaupun mereka sudah melakukannya beberapa kali namun tetap saja Kiran masih merasa malu jika Agra membicarakan soal itu.


''Aku sedang kedatangan tamu,'' lirih Kiran yang sudah membuang wajahnya keluar jendela.


Agra tercengang, 'kedatangan tamu?'


''Maksudmu? siapa yang datang?''


''Istilah? kamu bilang kan sedang kedatangan tamu, tamu siapa yang datang malam-malam begini?''


''Menstruasi, Mas! Menstruasi! apa Mas juga tidak paham itu?!'' wajah Kiran sudah memerah, entah rasanya campur aduk membicarakan soal itu dengan lawan jenis, membuat Kiran gila.


''Benarkah? jadi Mas tidak dapat jatah malam ini?''


Semula Kiran yang merasa malu menatap langsung wajah Agra karena membahas itu, seketika ia ingin sekali tertawa sekencang-kencangnya karena melihat ekspresi Agra yang memelas, dan tidak bersemangat seperti itu.


''He'um,'' Kiran mengangguk pelan, Agra pun membanting tubuhnya sendiri kebelakang sampai jok mobil pun memantul.


''Tapi besok dapat kan?'' tanya Agra lagi dengan wajah yang penuh harap.


''Mana bisa, minimal tiga hari masa haid ku, dan paling lama sekitar satu mingguan.'' Agra semakin lemas di buatnya, dia kira hanya satu malam dia akan libur menjelajahi gunung Rinjani ternyata harus menunggu beberapa malam untuk dia menikmati panorama syurga dunia itu.


Sesampainya mereka di rumah, Agra pun turun dari mobil dan begitu juga Kiran, raut wajah Agra masam, berjalan dengan lemas. Kiran menahan tawa dibalik telapak tangannya.

__ADS_1


Mengusap puncak Agra yang membengkok kebawah, sungguh menggemaskan tingkah tuan tanah ini, pikir Kiran.


Masuk ke dalam rumah dengan dibukakan pintu oleh Mala yang menyambutnya dengan hormat layaknya seorang pelayan kepada sang majikan.


''Selamat malam Tuan Agra, Nona Kiran. Mau langsung makan atau mandi dulu biar Mala siapkan?''


''Aku akan mandi dulu tubuhku terasa berat dan panas!'' ucap Agra penuh dengan penekanan yang sepertinya sengaja ia perdengarkan untuk Kiran yang berdiri di belakangnya dengan mengulumkan senyumannya.


Agra berlalu menaiki anak tangga meninggalkan Mala dan Kiran di lantai bawah. Mala tercengang dan menoleh ke arah Kiran yang sedari tadi terus saja tersenyum sendiri.


''Dia kenapa, Non?'' tanya Mala penasaran.


''Tuanmu habis kalah lotre,'' jawab Kiran asal, ''Kak aku naik dulu ya, Kakak hangatkan saja makanan nya,'' ucapnya lagi lalu mengusap pundak Mala dan berlalu menyusul langkah Agra yang sudah hampir sampai ke anak tangga terakhir.


''Kalah lotre? sejak kapan Tuan Agra bermain lotre?'' Mala menggedikan bahunya dan berlalu keruangan memasak untuk menghangatkan makanan yang sudah mulai dingin.


''Brengsek, kenapa juga aku harus melihat rekaman itu, ini semua karena Anas!'' gumam Agra dengan kesal.


Ya tadi siang, saat dia pergi kerumah salasatu kliennya, karena mendapatkan undangan makan, yang ternyata disana mereka bukannya langsung makan, malah harus berpesta bujang, yang kebetulan kliennya itu akan menikah satu pekan lagi.


Dan suatu ketika saat kliennya mengajak mereka menonton sebuah Vidio yang menampilkan sebuah adegan biru, bertujuan agar si calon pengantin pria ini tidak lagi kaget untuk malam pertamanya kelak. Tentu saja membuat Agra menahan dirinya dan tidak sabar untuk pulang bertemu dengan Kiran yang bisa mempraktekkannya pada istri kecilnya itu.


Agra masuk kedalam kamar mandi dan langsung menghidupkan shower agar mengguyur kepalanya yang panas karena gagal mempraktekkan apa yang ditontonnya tadi.


''Ck, padahal aku sudah menyimak dengan baik, gaya baru yang akan kupakai pada Kiran.''


Belum puas mengguyur kepala karena libid-do nya belum juga reda, Agra pun mengisi bathtub untuk ia merendamkan seluruh tubuhnya di dalam sana.


Sungguh penyiksaan yang nyata, seorang pria harus menahan hasratnya yang telah ia tahan sejak beberapa jam lalu. Bahkan adik kecilnya sudah berjengger di bawah sana dan siap meledakan cairan syurgawinya.


......................


Hay para readers ku yang baik hati 🤗 baca juga novel teman othor ya 🥰 gak kalah serunya lho 🙏


JUDUL : Dendam Cinta


Author : Lina Laeha

__ADS_1



__ADS_2