
“Selamat datang.”
Mala dan beberapa anak buahnya yang bekerja di dalam rumah Agra berdiri menyambut Tuanya yang datang pada beberapa malam setelahnya dengan membuka pintu samping mobil.
Mereka menyambut kedatangan Kiran yang akhirnya pulang setelah terasa sangat lama menghabiskan waktu di rumah sakit.
Kiran dapat melihat senyum Mala yang mengembang saat Agra membuka pintu mobil untuknya dan mengangkatnya keluar dari sana dengan kedua lengan kekarnya.
“Selamat siang.”
“Selamat siang, Ka Mala.”
Kiran dan Agra membalas sapaan Mala. Meminta mengeluarkan barang dari bagasi dan melenggang masuk membawa Kiran dengan tanpa beban.
Kiran mencuri pandang untuk melihat side profile nya yang sempurna. Semua yang ada pada Agra tampak sengaja dibuat Tuhan dengan proporsi yang pas dan menyihirnya setiap saat.
“Terima kasih.”
Kiran ia tidurkan di atas ranjang dan Agra menarik selimut untuk menutupi kakinya.
“Sama-sama, Sayang.”
Agra mengusap puncak kepalanya dan melihat Mala yang membawa masuk barang mereka. Meletakkan sebagiannya di sofa dan sebagian lainnya di atas meja.
“Bagaimana keadaan Nona Kiran?”
“Baik, Ka Mala.”
“Baiklah. Istirahatlah!”
Mala menundukkan kepalanya sekilas sebelum pergi dari sana. Membiarkan ruangan dimiliki sepenuhnya oleh si empunya, tuan dan nonanya.
“Dek, kamu mau makan apa? Mas bisa buatkan.”
Agra menatap Kiran dengan teduh. Tersenyum dengan lesung pipi yang sangat ingin ia sentuh setiap waktu.
“Tidak, Mas. Kiran masih kenyang. 'Kan tadi makan di rumah sakit sebelum pulang?”
“Ya sudah kalau begitu. Kamu istirahatlah. Mas akan kerja sebentar.”
“Kerja?”
“Iya, Sayang. Kenapa?”
“Pasti kerjaannya numpuk ya? Karena Mas jagain Kiran?”
“Nggak kok. Ini tinggal ditanda tangani saja. Anas sudah memeriksa semuanya. Jangan merasa bersalah begitu!”
__ADS_1
Kiran manggut-manggut mengerti. Ia melihat punggung Agra yang duduk di balik meja miliknya. Menatap layar laptop dan Kiran seperti sedang mendengar ASMR saat Agra mengetik dengan jari-jari lentiknya.
Sangat nyaman. Selimut yang membungkus tubuhnya juga terasa sangat lembut dan hangat. Ia tak sadar telah lelap.
Tak sadar juga saat Agra menyelesaikan semuanya dan saat ini memandangi Kiran yang tidur dengan miring ke kanan.
Agra ikut naik ke atas ranjang dan menarik tubuh Kiran sehingga mereka berdua berhadapan.
“Cantiknya.”
Bahkan saat ia tertidur, Kiran masih tampak sangat cantik. Agra memeluknya, ingin rasanya seperti ini terus bahkan sampai besok pagi, sampai sebulan ke depan, atau seratus tahun yang akan datang.
Ia tidak bisa menahan diri dengan hanya memeluk saja. Tangannya mulai masuk di balik dress yang dipakai Kiran dan berhenti pada kedua bagian yang terasa lembut seperti melon ranum di tangannya.
‘Ngh...’
Kiran menggeliat kecil, tapi matanya tidak terbuka. Agra sudah akan membangunkannya agar mereka berkeringat sebentar sebelum tidur yang sebenarnya. Karena Agra pun sama merasakan kantuk efek terus bergadang mengkhawatirkan kondisi istrinya.
Namun saat itu, niatannya gagal karena ponsel Agra bergetar. Ia tadinya mengira itu Nancy yang beberapa hari terakhir ini seperti menerornya. Tapi bukan. Itu adalah Anas.
Anas yang masih berada dilantai bawah sebenarnya sangat ingin naik untuk menghampiri Agra di kamarnya, tapi dia takut. Takut akan terjadi lagi seperti kejadian pada saat di rumah sakit, yang memergoki Agra dan Kiran yang sudah bersiap akan melakukan ritual para pasangan suami istri.
“Ya, ada apa?”
Agra menjawabnya dengan lirih. Agar Kiran tidak bangun atau terganggu oleh panggilan Anas.
Itu seperti sebuah titah darurat agar dilaksanakan sesegera mungkin. Agra mendengus kesal karena Anas lagi-lagi menganggu waktu nya.
Jika Anas memberikan link yang tidak berguna atau berita tidak penting, Agra akan menghajarnya hingga babak belur karena sudah mengganggu kelonannya dengan Kiran.
Tapi tampaknya ... Anas benar.
Karena link itu telah membawanya masuk ke sebuah portal berita. Yang mengatakan,
'Punya istri simpanan, pewaris NDR Corp telah menghamili seorang gadis!'
Mata Agra terbelalak lebar, link itu membawa dia ke situs berita yang menjabarkan berita tidak benar, yang entah siapa pelakunya.
“Ini sudah sangat kelewatan!”
Agra menggebrak meja kerjanya, yang tidak sengaja membuat Kiran terbangun karena terkejut.
“Mas? ada apa?” tanya Kiran dengan nyawa yang belum semaunya terkumpul.
“Eh? tidak sayang, maaf Mas menganggu tidur mu ya, tidur lagi oke, Mas tadi hanya menepuk lalat nakal.”
Kiran mengangguk samar, dan mulai memejamkan matanya lagi karena dia benar-benar merasa mengantuk yang bisa jadi efek dari obat yang dia telan sebelum meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
Agra menghela nafasnya dengan panjang, tangannya mengepal menahan amarahnya. Dia keluar dari kamar menuju balkon, menutup jendela rapat-rapat agar Kiran tidak terganggu dengan obrolannya dengan Anas yang tengah ia hubungi balik.
“Kau harus urus sekarang juga! aku tidak mau Kiran melihat berita ini, karena aku takut kondisinya akan menurun.”
“Baik Tuan, saya akan mengurusnya hingga tuntas, anda bisa percayakan itu pada saya,” sahut Anas di balik telpon sana yang juga masih berada di atap yang sama.
“Oke, aku percaya penuh padamu.”
*
Perihal link, bukan hanya Agra dan Anas yang melihatnya, yang bahkan semua orang sudah melihat berita itu karena ternyata masuk juga di notifikasi pesan berita pada semua pemilik ponsel dan terpampang jelas di jendela ponsel.
Seperti di kampus, semua membicarakan hal yang sama, seolah berita yang sangat viral, mengalahkan berita pembunuhan seorang polisi yang dilakukan oleh polisi.
Lisa juga demikian, ia telah melihat link itu saat tangannya berselancar di akun medsosnya yang tiba-tiba link itu masuk begitu saja. Tapi Lisa bersikap tenang yang seakan tidak melihat berita itu ataupun memang dia sudah tahu kalau berita itu hanya hoaks belaka.
Lisa saat ini tengah membaca kembali buku materi yang akan dibahas pada kelas hari ini, dan tiba-tiba beberapa segerombolan gadis masuk ke kelas dan duduk mengelilingi Lisa.
“Eh Lis, kamu sudah melihat berita itu kan?” tanya Chika yang pernah menyerang Kiran dan menggosipkan bahwa Kiran adalah simpanan sugar Daddy.
“Emmm… kenapa?” jawab Lisa dengan sangat cuek.
“Kemana sahabat mu itu, apa dia sedang meringkuk di sudut kamar saat ini karena melihat berita yang sedang viral itu?” ucapan Chika membuat beberapa gadis yang tengah memutari Lisa tertawa terbahak-bahak.
“Iya benar, aku tidak menyangka, sepupu ku mendapatkan kemalangan begini. Status sebagai istri di rahasiakan, dan tiba-tiba suaminya malah menghamili gadis lain.''
Semula Lisa hanya cuek dan sambil membaca bukunya, tapi mendengar penuturan satu gadis itu, kepalanya langsung noleh ke asal suara yang memuakkan itu.
Matanya memicing melihat Sari yang ternyata telah menjadi komplotan para peng'ghibah.
“Lalu?” sahut Lisa setelah sewindu membisu.
“Ya kami hanya tidak menyangka, ternyata kemesraan yang merek tunjukkan itu semua palsu!” ucap Chika lagi.
“Ya! terus… urusan kalian apa? kenapa harus mengurusi urusan rumah tangga orang lain, terkait benar atau tidaknya berita itu, ya biarkan saja, toh tidak merugikan kalian, bukan?”
Lisa menjeda ucapannya, memperhatikan raut wajah kesal gadis-gadis itu atas jawabannya.
“Aku bingung dengan kelen semua! apa hidup kalian itu tidak berwarna sebelum mewarnai kehidupan orang lain? Dan aku heran, jaman canggih seperti ini kalian masih mempercayai berita seperti itu sebelum mendengar tanggapan orang yang terkait, ck ck ck… miris!”
Tutur Lisa yang membuat semua terdiam tidak berkutik. Dan kini matanya beralih dengan garang pada satu perempuan yang keberadaannya dari awal membuat dia terus mencurigainya.
“Dan kau! Kau bilang, kau itu sepupunya, tapi kenapa kemarin mencoba mendekati suaminya dengan cara licik mu itu, coba jelaskan padaku? konsepnya seperti apa? apa seperti seorang pelakor yang tidak tahu diri atau pelakor tidak sadar diri?”
Dan kini giliran sari yang terkena ulti dari Lisa sehingga membuat sari tidak bisa menjawab walau hanya satu kata pun. Pupil matanya bergerak dengan tidak nyaman karena apa yang dikatakan Lisa.
Lisa bangkit dari duduknya memasukkan buku-buku kedalam tasnya, dan berlalu pergi menerjang para gadis itu, tapi sebelum ia benar-benar pergi, Lisa kembali memutar tubuhnya dan berkata, “Oh ya! Sari, aku meminta kau keluar dari kamar kost ku, karena ingin ku sewakan secara gratis untuk mahasiswa yang berbakat!”
__ADS_1