Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Siapakah dia?


__ADS_3

''Terima kasih ya, Dek.''


Kiran menghentikan tangannya saat sedang akan mengambil ravioli dari piring. Menatap Agra dengan wajah bingung.


''Kenapa Mas?''


''Tidak, hanya saja mas merasa senang karena, kamu sudah percaya pada Mas, dan tadi juga, Mas lihat kamu melawan Olivia dengan tegas. Mas senang sekali.''


''Maaf ya, Mas. Aku terpaksa harus menjelaskan secara tegas pada sepupu mu. Aku sudah mulai lelah karena dia terus mencecar ku.''


''Sssttt… kamu tidak perlu meminta maaf, dia pantas mendapatkan itu. Ya sudah, kita makan lagi ya.'' Kiran mengangguk samar lalu melanjutkan makannya dengan Agra yang terus melirik ke arahnya.


*


*


''Hmm, sepertinya dia sibuk.''


Kiran yang sedang duduk meluruskan kakinya di ranjang, melihat Agra yang ada di depan meja. Ia tampak menggulir wireless mouse yang ada di tangan kanannya. Mengamati layar laptop yang menyala dan tampaknya ada sebuah laporan dari Anas.


Kiran turun dari ranjang. Berjalan mendekat padanya. Merentangkan tangannya merangkul pundak Agra yang lebar dari belakang.


"Mas…?"


Agra bereaksi dengan cepat mendengar panggilan Kiran. Ia menoleh ke belakang dengan mengatakan,


"Iya, Sayang?"


Agra melepaskan tangan Kiran, meraih pinggangnya dan mengangkat Kiran ke atas pangkuannya. Saling berhadapan dan Agra tersenyum memandang Kiran yang selalu cantik dimatanya.


"Apa, Sayang? Kamu mau bicara sama Mas? Hm?"


Wajah Kiran sudah memerah, ia gugup. Duduk di pangkuan Agra seperti ini membuat detak jantungnya berantakan. Bukan! bahkan tu sudah berserakan di lantai.


"Mas, kenapa sih?"


"Apanya yang kenapa?"


"Kenapa Mas tersenyum begitu?"


"Loh? Apa Mas-mu ini tidak boleh senyum?"


Kiran memukul lirih dadanya. Yang membuat Agra tersenyum semakin lebar.


"Aku mau tanya."


Kiran dengan gugup membuka suaranya. Mengamati wajah Agra dari dekat yang membuatnya berdebar setengah mati.

__ADS_1


"Kamu Naenyaakk??"


''Ih… Mas apah sih!'' Kiran memukul lagi dada Agra yang tertawa lepas.


''Itu kalimat yang sedang trend lho, Dek.''


''Iya aku tahu, tapi masa iya, Mas ikut-ikutan trend itu!''


''Ha..ha..ha.. iya, iya. Kamu mau nanya apa, hmm?''


''Tidak jadi, Kiran lupa!'' bibirnya sudah mengerucut karena kesal.


''Hah? lupa?kamu masih muda lho, masa sudah pelupa.''


''Mas… Mas menyebalkan sekali!''


Kiran turun dari pangkuan Agra, naik ke atas ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut yang super tebal itu. Agra tertawa kecil melihatnya, dia senang melihat Kiran yang bersikap manja seperti itu.


Agra pun menutup laptopnya, dan mematikan lampu kamar sehingga hanya tersisah cahaya dari terangnya rembulan yang melalui celah jendela.


Ikut naik kesana, tangannya meraih ujung selimut untuk melihat wajah Kiran yang menggemaskan itu.


''Mas mau lihat, wajah istri Mas yang cantik saat merajuk.'' Agra mencoba membukanya namun di tahan oleh Kiran.


''Buka dong, sedikit saja. Apa kamu tidak merindukan Mas-mu ini, hmm?''


Mulut Agra ternganga, ternyata Kiran sungguh merajuk padanya, sekarang dia baru menyesali karena telah membuat Kiran ngambek seperti itu.


Tapi Agra tidak habis akal, dia mengerling sebentar lalu memulai aksinya. Membuka baju atasannya lalu menyelinap masuk ke dalam selimut yang sama dengan selimut yang Kiran gunakan, untuk menutup seluruh tubuhnya.


''Apa begini yang kau mau?baik! kita mulai sekarang!''


Agra menyerang Kiran di bawah selimut sana. Satu persatu pakaian dari mereka berterbangan dibawah lantai, bahkan benda yang mirip kaca mata capung pun ikut terbang dan mendarat di lampu yang ada meja nakas.


Des-sahan demi des-sahan terdengar menggairahkan, ranjang yang berombak layaknya seperti berkuda, sungguh ritme yang indah.


*


Pagi ini Kiran meminta Agra mengantarnya lebih awal karena harus mencari kating untuk dimintai tanda tangan hasil laboratorium kemarin.


Agra yang tentunya tidak merasa keberatan, toh' itu juga bagian dari tanggung jawabnya kan' sebagai seorang suami.


Kiran tengah sibuk menyiapkan makanan untuk mereka makan sebagai sarapan. Ya hari ini mendadak Mala izin karena ada kepentingan lain yang harus dia kerjakan. Dan sebenarnya ada pelayan lain tapi Kiran menolak itu mentah-mentah karena ingin melayani suaminya kali ini.


''Sayang, sudah, biarkan saja Leli yang mengerjakannya,'' ucap Agra yang merasa khawatir karena tidak ingin istrinya itu samaoi kelelahan.


''Euumm, tidak! memangnya Mas tidak ingin aku masakin!'' sembur Kiran yang merasa tersinggung.

__ADS_1


''Bukan begitu, Honey.Mas takut kamu kelelahan. Lagipula buat apa Mas membayar mereka kalau Nyonya rumah ini yang harus turun tangan!'' ucap Agra dengan ketus sebagai menyindir pelayannya yang hanya berdiri di samping lemari besar.


''Hussstt, Mas. Tidak baik begitu. Makanlah yang tenang, cicipi masakan aku.''


''Ya… Eeuummppp!'' Mata Agra membola ia terkesiap karena merasakan masakan yang begitu lezat. Matanya berbinar dan menyendokannya lagi dan lagi masakannya itu kedalam mulutnya.


''Bagaimana, Mas?''


''Euummmpp Eummmpp! enak sekali,'' sahut Agra dengan mulut yang penuh, walaupun bukan pertama kalinya ia mencicipi masakan Kiran, tetapi kali ini dia benar-benar merasakan lezat yang teramat dari hasil tangan ajaib istrinya.


''Makan pelan-pelan, Mas. Aku tidak akan merebutnya.'' Kiran sedikit terkekeh karena melihat Agra yang makan begitu lahap bahkan ada sisah makanan yang tersisah di ujung bibirnya.


Selesainya mereka sarapan. Merekapun segera bergegas untuk pergi, dan kali ini Agra sendiri yang mengemudikan mobilnya, karena dia juga sudah menghubungi Anas untuk langsung datang ke kantor, tidak perlu lagi menjemputnya.


''Mas?''


''Hmmmp?''


''Aku akan pulang sore, ada kegiatan tambahan dikampus. Mas jangan mengharapkan aku datang ke kantor ya, hari ini. Kita bertemu dirumah saja.''


Agra mengangguk dan tersenyum sesaat. Lalu melanjutkan laju mobilnya Deny kecepatan sedang.


Sesampainya di depan gerbang utama, yang Kiran sendiri memintanya untuk mengantar nya sampai sana saja, karena dia juga mendengar pada saat tadi di jalan, Agra di hubungi sekertaris nya yang menyampaikan kalau ada kunjungan klien pagi ini.


''Kau yakin disini saja?'' Kiran mengangguk yakin dan keluar mobil setelah Agra mengecup kening, pipi dan bibirnya secara berurutan.


Agra melambaikan tangannya dari dalam mobil dan Kiran pun berlarian masuk kedalam gerbang kampus. Tapi pada saat dia berlari dan tidak terlalu memperhatikan jalan, dia malah menabrak seseorang yang juga tidak memperhatikan jalannya karena terfokus pada layar ponselnya.


Bruukkk


Buku-buku Kiran berhamburan, begitu juga ponsel orang itu yang jatuh dan pecah bagian kacanya.


Kiran yang merasa bersalah segera memungutnya dan memberikan pada orang itu, tapi setelah melihat wajahnya, alangkah terkejutnya ia. Ia benar-benar terkesip, dia terkejut dan bahkan butuh beberapa waktu untuk dia tersadar.


''Kamu?''


''Kamu?''


Ucap Kiran dan orang itu secara bersamaan.


...----------------...


Mampir juga ke novel teman Nuna yaaa 🤗 sembari menunggu Nuna up untuk bab selanjutnya 🙏🥰


Judul : Dikira Melarat Ternyata Konglomerat


Author : Nirwana Asri

__ADS_1



__ADS_2