Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Suami Yang Kaya Raya!


__ADS_3

Setibanya Kiran di depan gedung fakultas, Kiran bergegas akan turun namun tangannya ditahan oleh Agra. Kiran menoleh dengan wajah bingungnya.


''Kenapa, Mas?''


''Mas akan jemput kamu siang nanti, karena kakek meminta kita untuk kesana, entah mau apa dia. Kamu tidak ada kelas lagi kan siang nanti?''


Kiran mendelik seperti sedang mengingat-ingat.


''Aah tdiak ada, Mas. Baik nanti Kiran tunggu disini ya.'' Agra mengangguk dan tersenyum. Mendekatkan wajahnya ke kening Kiran dan kemudian ia mengecupnya dengan lembut dan hangat, Kiran terpejam sesaat merasakan sensasi mesra yang diberikan Agra untuknya.


''Kamu hati-hati di kampus, jangan mudah percaya oleh siapapun–''


''Termaksud Lisa kah?'' potong Kiran.


''Kalau kau percaya dengan dia tidak apa, karena memang dia sahabat mu, kan?'' Kiran menganggukkan kepalanya lalu mengecup singkat punggung tangan Agra dan kemudian keluar dari mobil.


Tindakan Kiran yang kali ini mencium punggung tangannya, membuat degup jantung Agra seakan berantakan, perasaan yang sangat aneh, bahagia bercampur haru. Apa ini akan menjadi kebiasaan baru Kiran yang akan mencium punggung tangannya setiap kali mereka akan berpisah.


Butuh beberapa menit untuk Agra tersadar dari lamunannya. Bibirnya terus tersungging mengingat Kiran yang mencium punggung tangannya. Dan dia baru tersadar kalau Kiran sudah keluar dari mobil dan berjalan menjauh dari mobilnya.


''Lihat gadisku berjalan saja sudah sangat cantik, ingin rasanya terus mengurungnya didalam kamar dan tidak boleh siapapun yang menatapnya penuh kagum. Tapi istriku ini manusia bukan peliharaan. Issshhh... astaga! kenapa pula aku teringat punggungnya yang sangat mulus.'' Gumam Agra yang kemudian melajukan mobilnya menjauh dari gedung kampus.


Kiran merasa jadwal tidurnya benar-benar berantakan akhir-akhir ini. Terbukti sekarang, rasa kantuk itu menyerangnya, tanpa melihat situasi. Matanya yang sulit terbuka bahkan tugasnya menuntut untuk ia segera selesaikan.


Beruntung Kiran tidak sedang memegang tabung reaksi, karena dia kali ini kebagian jatah mencatat saja.


Lisa yang sedang menggoyangkan tabung reaksi perlahan menggeser tempat duduknya dan menyenggol lengan Kiran sehingga membuatnya tersadar.


''Jangan tertidur nanti kau salah menulis hasilnya, apa semalam kurang tidurnya?'' bisik Lisa dengan kalimat godaan di akhirnya.


''Isshh, apa kamu ini. Anak kecil mana paham.''


Mendengar jawaban sahabatnya, Lisa sontak mencak-mencak dengan bertolak pinggang dia menatap tajam Kiran tanpa peduli teman-teman lainnya yang sedang melihat kearahnya.


''Hei! jangan panggil aku anak kecil! aku bahkan lebih mengerti darimu kalau masalah itu!'' seru Lisa tanpa sadar.


Kiran sudah terbelalak, matanya kian melihat ke sekeliling yang menatap Lisa dengan horor.


Kiran menarik pelan tangan Lisa untuk segera duduk.


''Kau ini apa-apaan, siih…'' bisik Kiran dengan gemas.


''Astaga! kenapa mereka menatap ku seperti menatap tempat angker?'' ucap Lisa yang berbisik juga.


''Lisa jangan buat keributan, kerjakan tugas kalian!'' ucap seseorang yang jaraknya lumayan jauh dari tempatnya yang tak lain itu adalah adalah, Roby.


Lisa menoleh dan hanya tersenyum dengan memamerkan deretan gigi-giginya yang rapih. ''Maaf sang Roby,'' seru Lisa.


''Kau sih!'' Lisa menyalahkan Kiran yang hanya menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah sahabatnya itu.


Lisa dan Kiran kembali mengerjakan masing-masing tugasnya, dan ujung mata Kiran melihat kalau Roby sedang berjalan kearah mereka. Dengan pelan Kiran menyenggol Lisa yang langsung bertanya dengan isyarat.


''Kena kau! sang Roby sepertinya akan memarahi mu, dia datang kesini,'' bisik Kiran dan Lisa segera melihat kearah yang di maksud Kiran.


Ya walaupun Roby kerap bersikap lembut pada Kiran tapi jika masalah pelajaran, Roby tidak memberikan toleransi sedikitpun, dan itu yang para mahasiswa ketahui tentang dirinya.


Lisa sudah menunduk takut, bukan takut dengan omelan Roby hanya saja ia takut malu jika Roby memarahinya didepan teman-temannya.

__ADS_1


Tapi ketika Roby hampir sampai, Lisa juga sudah mempersiapkan diri untuk merasa malu, Roby malah duduk di depan Kiran yang hanya dibatasi meja selebar satu meter setengah itu. Roby justru bicara pada Kiran bukan pada Lisa.


''Apa ada yang sulit?''


Kiran dan Lisa seketika mengangkat pandangannya, dan berlatih saling menatap satu dengan yang lainnya. Kiran menatap Lisa dan begitu juga Lisa. Mereka merasa heran, ada apa dengan dosen mereka ini.


''Tidak ada, sang Roby,'' jawab Kiran setelah diam sejenak.


Roby mengangguk dan melemparkan senyuman-nya. Kiran bingung harus bagaimana, sebab saat ini dia dengan Roby sedang menjadi spot light, karena anak-anak yang ada disana melihat dengan jelas bagaimana mata Roby menatap lembut Kiran dengan teduhnya.


Kiran tidak pernah menyangka ini, kalau Roby akan membawa masalah pribadi ke dalam kelasnya saat mengatakan, ''Makanlan denganku setelah ini.''


''Wah… Daebak!''


Mereka yang mendengarnya bersorak dengan penuh dukungan bercampur syok.


Tapi Kiran tidak bisa menerimanya begitu saja, karena dia sudah memberikan batas yang jelas juga harus yang tidak boleh dilangkahi begitu saja.


''Maaf, Sang–''


''Hanya makan saja Ran, nanti dengan yang lainnya juga kok.'' potong Roby dengan cepat karena tahu kalau Kiran akan menolak ajakannya.


''Kami juga diajak, Sang Roby?!'' seru Tomy yang berada di meja sebelah. Dan Roby hanya mengangguk dengan kemudian merubah ekspresi nya ya g seketika murung, entah apa yang saat ini dia sedang pikirkan.


''Itu berarti apa saya juga akan diajak?'' sambar Lisa dan Roby mengangguk lagi dengan mata yang mengedip.


''Wah hari ini kita makan di traktir sang Roby, saudara-saudara…'' seru Lisa dan merekapun bersorak bersama, sampai ruangan laboratorium pun terdengar ricuh.


Pupil mata Kiran bergerak dengan tidak nyaman, dia tahu Roby sengaja melakukan ini agar Kiran tidak menolaknya.


Kiran pun akhirnya setuju dan memberikan anggukannya.


Roby memberikan senyum yang tak bisa ia bendung dan pergi dari sana. Mengecek prosedur kerja mahasiswa di meja dan kelompok lain.


Benar saja.


Selepas keluar dari sana dan melepas jas laboratoriumnya, Kiran berjalan di samping Lisa dan menuju kantin bersama dengan yang lainnya juga termasuk Robby yang berjalan di belakang Kiran dan Lisa.


"Kiran beruntung loh. Memiliki suami yang tampan , dan dia disukai sama sang Roby yang wajahnya seperti Kim Taehyung BTS."


"Menang banyak dia."


Kiran dapat mendengar bisikan beberapa dari mereka saat melintas di koridor yang mengantarnya menuju kantin. Dengan keadaan Roby yang tidak peduli dengan ocehan yang berlalu lalang tanpa henti keluar dan masuk di telinganya.


"Itu, mereka sudah di sana!"


Roby mengedikkan sekilas dagunya ke arah meja di sudut kantin. Ada beberapa orang perempuan dan laki-laki yang melambaikan tangan mereka saat melihat kedatangannya mendekat ke pujasera.


"Ayo!"


Roby mengisyaratkan agar Kiran, Lisa dan lainnya ikut dengannya.


''Wah ramai sekali!'' seru Lisa yang kalap dengan melihat para pria tampan yang sepertinya kakak tingkat mereka, yang juga diminta Roby untuk menunggu mereka.


''Apa sang Roby yakin akan mentraktir kita semua? ini banyak sekali,'' ucap Kiran yang terkejut karena dia kira yang di traktir Roby hanya dia dan teman-temannya tadi yang berada di laboratorium, tapi ternyata tidak, masih banyak lagi yang sudah menunggu di kantin.


''Tidak masalah, Ran. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya.''

__ADS_1


Kiran terhenyak mendengar ucapan Roby, seolah-olah Roby menganggapnya sedang mengkhawatirkan Roby yang akan dikuras uangnya.


''Bukan begitu. Kalau begitu aku akan membayar sesuai apa yang aku makan dan Lisa.''


''Tidak perlu, Ran–''


Sebelum Roby bisa mencegah, Kiran sudah lebih dulu mengscan barcode yang ada di meja kasir menggunakan dompet digital yang dia miliki, setelah menunjuk makanan yang akan ia makan bersama Lisa.


''Ran, saya mengajak mu dan lainnya untuk mentraktir kalian, kenapa kamu malah bayar sendiri?''


''Tidak apa, sang Roby. Kiran punya uang banyak kok, suaminya juga kaya raya.'' Celetuk Lisa dengan sembarang yang langsung mendapatkan pukulan keras pada lengannya dari Kiran.


Kedua gadis itupun menuju meja yang masih kosong tanpa tahu raut wajah Roby yang sudah terlihat murung.


Roby menyusul langkah Kiran dan Lisa karena memang meja yang kosong hanya ada satu yaitu tujuan mereka itu.


Tapi sebelum Roby duduk di samping Kiran, Lisa sudah mengambil dulu posisi duduknya sehingga membuat Roby mengurungkan niatnya untuk duduk sejajar dengan Kiran.


mata Robi melihat dua kursi kosong yang ada di depan Kiran dan bagian kursi yang paling pojok jauh dari Kiran. Dan akhirnya dia memutuskan untuk duduk di depan Kiran itu, tetapi lagi-lagi baru saja ia akan mengambil kursi, seseorang sudah lagi dulu menduduki kursinya.


''Hai Kiran, Lisa!'' seru seseorang itu yang ternyata adalah Sari. kepala Sari mendongak melihat Robi yang berdiri di belakangnya dengan tangan yang masih memegang sandaran kursi.


''Oh maaf Tuan, apa kursi ini milik anda?''


''Tidak, saya tidak membawa kursi dari rumah. Saya akan duduk di tempat lain.'' Jawab Roby dengan nada yang ketus.


Kiran dan Lisa hanya memperhatikan Roby yang memasang wajah masam pada Sari. ''Dia?''


''Dia dosen kami,'' jawab Lisa dengan cepat.


''Ouh, masih sangat muda ya,'' sari terus melirik ke arah Roby yang sudah duduk di kursi yang masih kosong itu.


''Kenapa, kau menaksirnya?'' tanya Lisa tanpa basa-basi.


''Aahh tidak, hanya kagum saja, masih muda menjadi dosen.''


''Oh ya, Sar. Kamu tinggal di tempat kost ku ya? Kiran yang mengatakannya padaku,'' ujar Lisa dengan mulutnya yang sibuk dengan Snack yang ada di tangannya.


''Iya benar, Lis. Oh ya Ran, bagaimana? apa kau sudah membicarakan soal itu pada suamimu?''


Lisa mengernyit dan menatap langsung wajah Kiran yang terlihat bingung.


''Bicarakan apa, Ran?'' tanya Lisa dan Kiran menyenggol punggung tangan Lisa di bawah meja sana untuk menyuruh Lisa agar diam dahulu.


''Maaf ya, Sar. Aku belum sempat bicarakan itu pada suamiku, karena dia tadi malam pulang sudah sangat larut dan aku lupa untuk bicara padanya perihal kamu mau tinggal bersama kami.''


Mendengar penuturan Kiran, Lisa membelalak, sorot matanya begitu tajam mengarah ke Sari.


TBC....


......................


Mampir juga ke novel teman Nuna yaaa 🤗 sembari menunggu Nuna up 😘


Judul : Young Mommy


Author : Sa Ekha

__ADS_1



__ADS_2