
Agra tengah menyenderkan tubuhnya di dinding dekat jendela pikirannya tengah melayang, seakan dunianya runtuh, terlebih lagi melihat istri tercintanya terbaring di ranjang kesakitan itu.
Pintu diketuk seseorang, dan masuklah seorang pria yang sangat ingin dia usir sekarang juga. Mata elang Agra seakan menguliti orang itu yang masih berdiri di samping pintu.
''Selamat sore, maaf–''
''Mau apa kau kemari?!'' tanya Agra tanpa basa-basi dan pada intinya.
''Maaf Dra–''
''Nama ku Agra, dan kau harus memanggil ku Tuan, kita tidak akrab!'' ketus Agra memotong kalimatnya.
''Baik, maaf Tuan, saya kemari hanya ingin melihat kondisi Kiran, apakah baik-baik saja.''
Alis mata Agra mengernyit, dan dengan langkah lebarnya ia berjalan menghampiri orang itu yang ternyata adalah Roby. Berdiri tepat didepan Roby tanpa wajah keramahan.
''Lalu kau lihat bagaimana? apa dia dalam keadaan baik?!'' Agra menggedikan kepalanya ke arah ranjang, ''Dan sudah melihat keadaannya, kan? kalau begitu kau boleh pergi sekarang juga! pintu ada disebelah sana. ISTRI KU butuh istirahat dan ketenangan!''
Dengan tegas tanpa ba-bi-bu, Agra mengusirnya dengan sangat jelas, dia bahkan menunjukkan ketidaksukaannya pada Roby yang datang untuk istrinya, Agra pun menekankan pada kalimat terakhirnya yang mengatakan 'ISTRIKU'.
Roby tersenyum dan melirik ke arah ranjang, menatap khawatir pada keadaan Kiran.
''Baik kalau begitu, aku titip ini, tolong berikan padanya setelah sadar nanti.'' Roby memberikan buket bunga lili putih sangat cantik dan langsung diterima dengan Agra.
''Terima kasih, tapi lain kali tidak perlu memberikan buket bunga pada istri orang lain!''
''Baik, saya permisi.'' Roby pun berbalik dan akan keluar dari pintu tapi suara Agra menghentikan langkahnya.
''Dan perlu kau ketahui, istriku tidak menyukai bunga lili!''
Roby hanya tersenyum dan berlalu keluar dari sana.
Agra menghempaskan bunga itu ke keranjang tempat sampah, ia benar-benar di buat kesal dengan kedatangan Roby.
''Cih, dia memiliki keberanian yang cukup besar, menjenguk istri orang dengan membawakan bunga!'' Gerutu Agra yang kembali ke dekat jendela, berulang kali ia menghembuskan nafasnya menetralkan emosinya.
*
Hatinya terasa perih, menunggu Kiran yang tak kunjung sadarkan diri. Tangannya memijat pelan pangkal hidungnya, matanya melirik sebentar ke arah ranjang, dan tiba-tiba menghentikan pijatannya. Dia melihat jari kecil Kiran yang bergerak dan matanya yang perlahan terbuka.
"Dia bangun?''
Agra pun segera menghampiri berangkar Kiran dan berdiri disampingnya dengan membungkuk.
Kiran samar-samar dapat melihat wajah Agra. Ia seperti sedang dalam kualitas 144P tapi karena dia adalah Agra, maka dia tetap bersinar seperti bintang yang paling terang.
Kiran sangat lega. Ia lega karena pada akhirnya pikiran buruknya yang sempat mengira tidak akan pernah bertemu Agra lagi telah terbukti salah. Karena saat ini Kiran masih bisa menatapnya dengan jelas.
Agra di sini dengannya, menatapnya dengan teduh dan tersenyum penuh kelegaan.
"Mas Agra?"
"Sayang? Kamu sudah bangun? Syukurlah…"
__ADS_1
Agra meraih tangan Kiran yang masih lemah. Menggenggamnya dan mencium punggung tangannya.
Agra tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya yang kini rasanya meluap hingga hampir tumpah.
"Mas?"
"Iya, Sayang?"
"Mas Agra, kenapa nangis?"
"Mas pikir akan kehilangan kamu. Terima kasih untuk sudah bangun dan menyebut nama Mas Agra-mu ini dengan benar."
Kiran mengangguk dengan lemah.
Agra membantunya bangun dan membuatnya bersandar di bantal yang sudah ia tata dengan nyaman.
''Mas…''
''Hemm? apa sayang? kau butuh sesuatu?'' tanya Agra dengan begitu lembutnya.
''Lisa kemana?''
''Kenapa? kau ingin bertemu dengannya?''
''Apa dia baik-buruk saja?''
''Iya, dia sangat baik, sejak kemarin dia terus menangisi mu. Dia sangat khawatir padamu.''
Agra menatap mata Kiran dengan begitu intens, sangat ingin bertanya, kenapa dia datang ke kantor dan terlihat seperti ada yang ingin dibicarakan.
Begitu pula Kiran, dia menatap Agra dengan penuh iba, karena ternyata wanita yang selama ini merawatnya, memiliki banyak rahasia didalamnya. Dan bahkan menyembunyikan niat buruk, salasatunya menghabisi nyawa Kiran. Bagaimana jika Agra tahu, apa dia akan marah, atau sebaliknya. Agra akan mengira Kiran membuat hubungan anak dan ibu menjadi buruk. Itu semua yang Kiran pikirkan saat ini.
Ya! tapi Kiran harus mengatakannya, demi kebaikan hubungan rumah tangganya.
''Mas…''
''Ssuuutt, jangan terlalu banyak bicara, nanti saja ya. Sekarang apa kau lapar?''
Agra memotong kalimatnya, dan menawarkan makan namun dengan tegas, Kiran menolaknya.
''Tidak Mas, Kiran tidak lapar. Kiran ingin mengatakan sesuatu pada, Mas.''
Agra menghela nafasnya, ia sangat senang mendengar Kiran yang kembali cerewet, itu menandakan Kirana memang baik-baik saja.
''Baik, baik. Mas akan dengarkan semuanya. Tapi kamu harus makan dulu, setelah itu minum obat, bagaimana?''
Kiran pun mengangguk, karena dia sudah tidak sabar ingin menceritakan semuanya, semua yang dia dengar bersama Lisa di cafe tadi.
Dengan sangat telaten agra menyuapi makanan ke mulut Kiran yang terkadang menolak karena alasan tidak ada rasanya alias tidak enak.
Tapi dengan sabar, agra terus memaksanya hingga suapan terakhir yang membuat piring itu kosong tak bersisa.
''Mas,'' ucap Kiran masih dengan mulut yang terisi makanan yang sedang dia kunyah.
__ADS_1
''Habiskan dulu yang dimulut, setelah itu minum obat.'' Potong Agra dengan cepat. Yang kini dia tidak melihat kalau Kiran sudah memasang wajah cemberutnya.
''Ini minum obatnya,'' ucapnya lagi, memberikan dua butir pil obat pada Kiran yang langsung menelannya dengan bantuan air putih.
Wweekkk!
''Pahit, Mas!!''
''Mestinya kamu minum obat itu membayangkan kalau itu bibir Mas, pasti akan terasa manis.'' Goda Agra yang membuat Kiran menyembulkan kedua pipinya.
''Mas–''
Tok Tok Tok!!!
Kiran mendengus kesal karena apa yang dia ingin katakan selalu saja tertunda. Dan sekarang ada seseorang yang mengetuk pintu. Agra menahan tawanya, melihat wajah Kiran yang kesal.
''Sabar… masuk!'' ucap Agra lembut pada Kiran yang kemudian berteriak pada seseorang yang berada di balik pintu.
Dua orang masuk, yang ternyata adalah, Anas dan Lisa.
Lisa berbinar melihat Kiran yang sudah sadar dan saat ini tersenyum padanya.
Dengan cepat ia menghampiri berangkar Kiran dan memeluknya dengan erat.
Sampai Agra pun sangat ingin mendorong tubuh Lisa, tapi tangan Kiran menghentikannya.
''Ran! kau bodoh sekali, kenapa pula kau tertabrak.'' Racau Lisa yang membuat Agra dan Anas saling menatap bingung sekaligus kesal.
Kiran terkekeh, dan menjauhkan tubuh Lisa darinya dengan pelan.
''Apa kau baik-baik saja, Lis?''
''Tentu aku baik, tapi hatiku yang tidak baik, maafkan aku, Ran…''
''Hei! kenapa kau meminta maaf, anggap saja ini kesialan ku,'' kata Kiran.
Sementara kedua perempuan itu sedang beradu drama, Anas menghampiri Agra dan mengajaknya menjauh dari kedua perempuan itu, menceritakan apa yang dia dengar dari Lisa.
Rahang Agra mengeras dengan tangannya yang mengepal kuat, dia sangat marah, tapi Anas tidak mau di anggap mengarang yang pada akhirnya ia memberikan earphone yang akan memperdengarkan sebuah rekaman dari ponsel miliknya.
''Dengarkan ini!''
Agra pun mendengarkan semua rekaman itu, dia semakin dibuat marah, darahnya seakan mendidih.
''Dari mana kau mendapatkan rekaman ini?!''
''Lisa, dia ternyata merekam semua percakapan mereka saat di cafe itu.''
...----------------...
Mampir juga yuk ke novel teman othor 🤗 ceritanya tidak kalah seru loh dengan yang lainny 🤗..
Judul : Kurebut Calon Suamimu
__ADS_1
Author :Yeni Sri Wahyuni