Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Sudah Waktunya


__ADS_3

Agra keluar dari kamar mandi dengan wajah kusutnya, menatap Kiran yang tengah duduk dengan bersila di atas ranjang, membuang nafasnya dengan kasar kemudian berlalu ke walk in closet untuk berpakaian.


Kiran yang baru saja akan beranjak dari tempat tidur untuk pergi ke kamar mandi tiba-tiba terhempas kembali ke kasur. Ya tangan besar Agra lah yang meraihnya untuk tetap di sana.


Agra meletakkan kepalanya di atas perut rata Kiran, rambutnya yang masih basah sedikit mengenai kulit perut Kiran yang bajunya sedikit terangkat.


“Astaga! Mas, mau apa? ke—kenapa tidak pakai baju?” wajah Kiran sudah memerah karena Agra tidak memakai atasan dan hanya memakai celana pendeknya saja.


“Panas.” Hanya itu yang Agra bisa jawab karena memang dia merasa malam ini terasa panas, bahkan setelah mandi pun tubuhnya kembali berkeringat.


“Panas apanya, jelas-jelas AC menyala.”


“Entahlah, tapi Mas merasa panas sekali. Kepala Mas juga sakit,” ucap Agra yang sudah memijat sendiri pelipis nya.


“Kenapa bisa tiba-tiba begini? coba angkat kepala Mas, Kiran mau bangun dulu.”


Baru saja Kiran akan duduk dari posisinya yang terlentang, Agra malah menahannya dan menggelengkan kepalanya di perut Kiran,yang sudah merintih kegelian.


“Mas, geli…!”


“Sayang?”


Agra berguling dan berhenti tepat didepan wajah Kiran yang terkejut. “Apa Mas?” Kiran menarik kepalanya sedikit kebelakang karena posisinya yang sangat dekat bahkan hanya sebatas satu jari telunjuk.


“Tidak jadi.” Agra duduk dan menyenderkan tubuhnya pada headboard, lalu meraih sebuah buku untuk ia baca.


Alis Kiran menyatu heran, apa yang sebenarnya ingin Agra katakan? Kiran pun menggeser duduknya sampai ke dekat Agra.


“Mas?”


“Emm?”


“Mas, mau bicara apa?”


“Tidak, kamu mau mandi kan?” Kiran mengangguk.


“Ya sudah mandi saja dulu, Mas akan mengatakannya setelah kamu siap mandi.”


Kiran menghela nafasnya kasar dan berlalu pergi dari sana meninggalkan Agra yang seketika melamun dengan pandangan kosong.


“Apa aku katakan sekarang saja? tapi aku belum mempunyai cukup bukti untuk menunjukan kebusukannya.”


Ponselnya bergetar di atas nakas, dengan kepalanya yang ia condongkan untuk melihat siapa yang menghubunginya malam-malam begini, dan setelah terlihat, dengan sigap Agra melompat dari atas kasur dan menggeser icon hijau pada layar ponselnya.

__ADS_1


“Ya?”


“Benarkah?”


“Kalau begitu aku tidak salah mengambil keputusan menghabisi nyawanya waktu itu.”


“Besok–”


Dugh


Agra menoleh kebelakang, alangkah terkejutnya ia melihat Kiran yang berdiri di belakangnya dengan wajah piasnya.


Mata Agra terbelalak, dan seketika memutuskan sambungan telepon lalu berjalan menghampiri Kiran yang memundurkan langkahnya.


“Sayang? kau kenapa?”


Tangan Agra meraih lengan Kiran dan malah Kiran menghindarinya. “Mas, siapa yang Mas habisi?” tanya Kiran Deny bibir yang gemetar.


“Hah? i–itu, emmm itu, dia…”


“Jawab Mas!” Suara Kiran terdengar menuntut, wajar saja ia sangat ingin tahu karena memang ia mendengar semua apa yang Agra katakan.


“Huft... memang mungkin sudah waktunya kamu tahu, kemarilah!”


Agra duduk di kursi yang ada di balkon, menunggu Kiran yang berjalan pelan kearahnya. Sudah sangat jelas Kiran saat ini tengah merasa takut, karena baru saja mendengar sebuah kalimat yang baginya sangatlah menyeramkan.


Menyadari raut wajah Agra yang terlihat sedih Kiran pun berusaha menghilangkan rasa takutnya.


“Maaf Mas, bukan seperti itu. Tadi aku hanya terkejut mendengarnya.”


“Tidak apa-apa. Berikan waktu Mas untuk menjelaskan semuanya. Jangan di potong ataupun pergi sebelum Mas selesai bicara, bisa?”


Kiran pun mengangguk walaupun hatinya mulai aneh.


“Jawab pertanyaan Mas, ya.'' Kiran mengangguk lagi.


“Berapa lama kamu mengenal dia?”


“Dia?”


“Reza mendiang calon suami mu?'”Agra dapat melihat mimik wajah Kiran berubah secara perlahan ketika mendengar nama Reza di sebutkan olehnya.


“Kenapa Mas bertanya itu?”

__ADS_1


“Kiran…”


“Maaf,” Kiran tertunduk, tapi sebisa mungkin ia angkat kepalanya dan menyakinkan dirinya sendiri kalau Reza memang hanya orang yang ada di masalalunya.


“Sudah hampir 2 tahun, Mas.”


“Apa selama itu kamu tidak sama sekali menyadari sesuatu?” Kiran memiringkan kepalanya menatap Agra dengan heran.


“Ini lihatlah!”


Agra menunjukkan sesuatu dari ponselnya yang ia letakan di atas meja, dengan ragu Kiran pun mengambil ponsel Agra dan melihat dengan mata yang memicing sebuah foto pernikahan dengan pengantin pria yang wajahnya nampak tidak asing baginya.


beberapa detik kemudian, matanya terbelalak, karena yang ia lihat adalah wajah Reza, mendiang kekasihnya hanya saja berbeda karena riasan wajah.


“Dia? foto ini, wanita ini siapa? apa maksudnya Mas?!”


“Geser lah, dan lihat beberapa foto disana.”


Kiran mengikuti apa yang dikatakan Agra, semakin ia menggeser layar ponsel Agra, semakin ia menemukan beberapa gambar yang semakin membuat dia syok.


“Ya itu adalah Reza, dia anak angkat papa ku, sedari kecil ia di asuh kedua orang tua ku. Dan entah faktor apa, dia bisa berbuat keji seperti itu.”


“Saat awal kami mendapatkan kabar kalau Reza telah menghabisi nyawa seorang gadis hanya karena masalah sepele, kami menutupi rapat-rapat kejahatannya karena memang Reza dalam masa pengobatan mental. Tapi lambat laun dia semakin parah, dan pada akhirnya dia mengaku sudah menghabisi nyawa delapan gadis yang ia nikahi. Papa marah mendengarnya yang kemudian berujung ia di usir dari rumah. Tapi siapa sangka ternyata Reza menyimpan dendam pada Papa dan pada akhirnya ia memberikan sebuah racun yang sangat berbahaya, yang akibat dari racun itu kalau tidak langsung meninggal dia pasti akan sekarat dalam waktu lama.”


Kiran tetap diam dan menyimak, air matanya sudah luruh beberapa saat lalu, entah rasanya tidak percaya kalau pria yang mengisi nya dulu ternyata menyimpan banyak misteri dalam hidupnya.


“Mas sebagai anak kandungnya, tentu merasa marah saat mengetahui itu semua. Mas percayakan apapun padanya selama Mas menjalankan perusahaan yang ada di Amerika. Tapi begitu mendengar kabar buruk itu, mas langsung terbang untuk mencarinya, dan ternyata dia berada di desamu, yang katanya akan menikahi seorang gadis. Dan Mas tahu kalau gadis itu akan dijadikan korban nya selanjutnya dari sebuah foto yang kau lihat itu.”


“Mas gelap mata, dan memberikan racun yang dia berikan pada papa, awalnya dia tidak mengaku kalau itu racun, tapi Mas memaksa untuk dia menelan itu dan pada akhirnya, dia meninggal dalam waktu singkat.”


Kiran masih terdiam, ia harus marah atau harus berterima kasih pada Agra, tapi waktu itu dia tidak mengetahui apa sebenarnya permasalahan Reza sehingga ia merasa marah dengan pembunuh yang menghilangkan nyawa kekasihnya itu, tapi dia juga berterima kasih pada Agra yang sudah mengaku kalau dialah yang menghabisinya, kalau tidak karena nya, mungkin saja dia yang akan pergi untuk selamanya.


“Mungin kamu akan marah setelah ini sama Mas, tapi Mas sudah pasrah, karena memang inilah kenyataannya.”


. TBC...


...----------------...


Hay semua readers ku yang baik hati 🤗 baca juga novel teman othor ya 🥰 gak kalah serunya lho 😘


Judul : Anyelir


Author: Hilmiath

__ADS_1


Anyelir adalah bunga paling kuat yang dapat bertahan selama dua minggu setelah di letakkan dalam vas bunga, bahkan bunga ini akan semakin terbuka kelopak nya saat berada lama di vas bunga. Begitulah sang pemeran utama dalam kisah ini. Tentang dia gadis kuat yang berusaha terlihat baik-baik saja di tengah luka yang di alaminya. Tanpa siapa yang tahu jika gadis tersebut memiliki gangguan Psikologis Self Injury. Setelah di hancurkan oleh keluarganya yang brokenhome gadis tersebut juga di hancurkan olah orang yang di cintainya. Tidak berhasil dalam percintaan memang, tapi ia memiliki sahabat yang selalu ada untuknya. "Akulah pemeran utama ini, pemeran utama yang hanya menjadi pemeran figuran untuk dia yang ku anggap akan menemaniku dalam setiap jalan kisahku,"



__ADS_2