
Greeekkkkkk...
Bruukkkk !!!
Koper besar berwarna merah muda sudah terbang dan terjatuh di tanah halaman depan. Ya siapa lagi pelaku pelemparan koper itu kalau bukan Agra Madava Nadindra.
Olivia yang melihat kopernya dan baju-bajunya sudah berantakan di tanah tentu merasa marah, sangat marah bahkan salat matanya begitu tajam ke arah Kiran yang tidak tahu apa-apa.
''Turunkan matamu! Jangan menatap istriku seperti itu!'' pekik Agra dengan begitu kencangnya.
''Mulai sekarang aku tidak ingin melihatmu ataupun melihat bayanganmu menginjak rumahku. Dan satu lagi, jaga jarak beberapa meter dari Kiran kalau tidak ingin fatal akibatnya!''
Tutur Agra dengan banyaknya penekanan di setiap kalimatnya. Yang pastinya tidak memberi kesempatan hanya untuk sekedar menjawab ataupun menolak nya.
Agra berbalik masuk ke dalam rumah dan disusul oleh Kiran, Mala, juga Anas. Dan yang tertinggal di sana hanyalah Lisa dan Olivia.
Olivia melangkah ke koper dan baju-bajunya yang telah berceceran di bawah, dengan marah ia memasukkan kembali baju-bajunya dan terus menggerutu yang tiada henti.
Lisa mendekat ke arah Olivia dan berjongkok di depannya ikut membereskan baju-baju itu.
''Biar kubantu ya, Nona Olivia!''
Olivia yang kesal langsung merebut bajunya yang ada di tangan Lisa, ''Jangan menyentuh barangku!'' teriaknya.
''Aku hanya ingin membantumu saja, tapi jika memang kau tidak ingin, ya sudah. Hati-hati di jalan dan jangan pernah kembali lagi ke sini, oke?'' ucap Lisa yang mengulumkan senyuman mengejeknya.
''Dah oh ya! apa kau punya ongkos taxi? aku ada sedikit, kau mau? hitung-hitung sebagai amal baikku.''
Entah itu sebuah pembalasan Lisa atau memang gadis 22 tahun itu sudah terlahir julid. tapi ucapannya mampu membuat musuhnya meledak.
Olivia berdiri dan Lisa pun ikut berdiri, seperti tidak mengenal takut itulah anak Medan. Lisa malah bertolak pinggang setinggi dada dan menyesuaikan tinggi badannya Olivia yang bahkan dia hanya sebatas pundak Olivia saja.
''Kurang ajar!''
Olivia mengangkat tangannya, dan akan melayangkan sebuah tamparan, tapi Lisa tidak memundurkan langkanya. Sehingga tangan Olivia hampir saja jatuh ke pipi mulus Lisa kalau tidak ada tangan yang menahan dan mencengkram pergelangan tangan Olivia.
Lisa memiringkan kepalanya melihat siapa orang yang telah menahan tangan Olivia. Dan lagi-lagi orang itu adalah Anas orang yang sama menangkap garpu Olivia yang diperuntukkan padanya.
__ADS_1
Wajah Anas sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Menatap tajam ke manik mata Olivia, cengkraman tangannya pun semakin kuat sehingga Olivia sampai meringis kesakitan.
''Rupanya peringatan Tuan Agra tidak membuat Anda mengerti! baik kalau seperti itu, saya yang akan mewakili Tuan saya untuk memberikan pelajaran berharga pada Anda!''
Tangan kiri Annas terangkat dan seperti sedang memanggil seseorang dari jarak jauh, Olivia mengikuti arah tangan Anas yang ternyata iya sedang memanggil dua orang pria bertubuh tegap dan besar.
''Kau mau apa, Anas!'' teriak Olivia dengan panik.
''Urus dia! jangan sampai terlihat lagi di sekitar sini. Apalagi sampai menginjakkan kakinya ke sini, Kalau tidak! kalian akan berurusan denganku langsung!''
Anas melemparkan Olivia kepada dua pria itu, Lisa yang melihatnya bergidik ngeri, karena aura Anas kali ini tidak lagi memiliki perikemanusiaan, bahkan lebih terlihat seperti seorang mafia yang kejam tidak memiliki belas kasih terhadap siapapun termasuk seorang wanita sekalipun.
Olivia memberontak tetapi kedua pria itu jauh lebih besar kekuatannya, dan malah semakin mencengkram lalu menyeretnya keluar dari pekarangan rumah Agra.
Anas hanya diam dengan terus memperhatikan cara kerja kedua pria itu, yang kemudian baru mengalihkan pandangannya setelah tidak lagi melihat Olivia di sana.
Dan kini matanya sedang tertuju kepada Lisa yang juga menatapnya dengan heran. ''Kenapa! Ada apa menatapku seperti itu!''
Anas mendekatkan wajahnya dan Lisa mengundurkan kepalanya. dengan suara yang sedikit berbisik namun ada sebuah penekanan di kalimatnya. ''Lain kali jangan usil, kalau tidak mau celaka, dasar gadis nakal!'' ucap Anas yang kemudian berlalu pergi kemobilnya meninggalkan rumah Agra tanpa permisi lagi.
''Gadis nakal? gadis nakal?''
Lisa terus mengulang kalimat itu, kalimat yang menurutnya lucu dan menggemaskan. Anas memang tampan dan itu diakui oleh Lisa walaupun raut wajah pria itu terlihat sangat kaku dan dingin.
Tapi sesungguhnya Lisa menyukai pria model seperti itu, yang diam dan dingin tapi perhatian.
Di tempat lain, Anas yang menghentikan laju mobilnya dan sekarang berada dipinggir jalan. Sebab ia menghentikan mobil karena merasa jantungnya bermasalah. Seperginya dia dari kediaman Agra degup jantung nya terus berdetak dengan sangat kencang. Yang dia kira, dia memiliki penyakit jantung secara tiba-tiba.
Berulang kali Anas memukuli dadanya sendiri. Tapi bukannya mereda detak jantung nya malah semakin berpacu dengan cepat.
''Tidak beres, aku harus mengecek kesehatanku secara menyeluruh!''
*
Keesokan harinya saat waktu sarapan pagi, Lisa yang kebetulan menginap di sana ikut serta makan bersama kedua pasangan suami istri itu.
Walaupun sedikit canggung tapi Lisa bisa mengakrabkan diri dengan suami sahabatnya itu, yang Agra sendiri pun tidak membuat pembatas untuk Lisa, karena baginya, teman Kiran adalah teman dia juga.
__ADS_1
Masih di waktu sarapan seseorang datang yang tak lain adalah Anas, yang memang datang untuk menjemput Agra setiap harinya.
''Anas! bergabunglah, kita sarapan bersama,'' ucap Agra yang meminta anak untuk ikut makan bersama mereka.
''Tidak Tuan terima kasih, saya sudah sarapan tadi di apartemen,'' tolak halus Anas.
''Emmm, kalau begitu duduklah, biar Mala buatkan kopi sembari menunggu ku selesai.''
Anas hanya mengangguk dan Mala pun bergegas untuk membuatkan kopi tanpa dimintanya lagi.
Lisa sedikit melirik ke arah Anas yang terlihat acuh padanya, ada rasa kecewa tapi itu wajar karena memang mereka tidak terlalu akrab. Dan setelah Lisa menurunkan pandangannya dan melanjutkan makannya justru Anas yang bergantian meliriknya.
Dan tentu itu terekam semuanya oleh mata elang Agra. Sebenarnya dia berencana untuk menjodohkan Lisa dengan Anas tapi melihat keduanya yang saling mencuri pandang, dia merasa tidak perlu lagi harus bersusah-susah melakukan rencana itu karena sebenarnya keduanya sudah saling memiliki rasa ketertarikan.
''Mas? kenapa, kok tersenyum sendiri?'' ucap Kiran membuyarkan lamunannya.
''Hah? tidak sayang. Aku hanya sedang memikirkannya sesuatu,'' sahut Agra.
''Apa itu?''
''Nanti juga kamu tahu.''
Kiran terdiam tapi matanya menatap Agra yang memberikan sebuah isyarat lirikan ke arah Anas dan Lisa secara bergantian. Kiran mengikuti arah pandang yang dia pun langsung paham apa yang dimaksudkan oleh suaminya itu. Karena memang dia pun merasa kalau Lisa tertarik dengan Anas, mengingat ucapan Agra tempo hari yang mengatakan kalau ingin memperkenalkan Lisa pada Anas.
''Cantik ya, Nas?'' tanya Agra tiba-tiba dan tanpa sadar Anas malah menganggukkan kepalanya lalu tersadar dengan tingkah yang serba salah.
Kiran tertawa kecil melihatnya, apalagi mendengar Agra yang menjahili Anas. Seperti dia tidak pernah melihat sisi kasar Agra seperti kemarin pada Olivia, saat ini bahkan ia melihat sisi lain kedua pria itu.
...----------------...
Hay kawan-kawan kuš¤āŗļø Baca juga ya novel teman author ku, ceritanya gak kalah serunya lho, sambil menunggu aku upš¤
JUDUL : Un Familiar Brother
AUTHOR : Kaka Shan
__ADS_1