
Tiga wanita berjalan melewati beberapa orang yang tengah menyorotnya den tatapan tajam, ya mereka adalah Olivia and the gang.
Beberapa kali Olivia mendengus dengan kesal, wajahnya memerah malu karena ternyata niatnya yang ingin mempermalukan Kiran didepan publik malah dia yang berbuntut malu dibuat teman Kiran.
''Tapi Liv, benar apa kata gadis itu. Apa dasar apa kamu mengatainya pelakor, kan dia istri sah kakak sepupu mu,'' celetuk temannya yang bernama Bianca.
''He'um... dia istri sah, lalu kenapa kita mengatai nya pelakor?'' ucap Tasya menimpali Bianca.
''Issshhh kalian sebenarnya teman siapa sih!''
''Ya sorry. Oh ya Liv, laper nih, makan di tempat biasa yuk!''
Olivia seketika menghentikan langkahnya dan menatap kedua temannya. ''Oke, tapi kali ini kalian yang traktir ya?''
''Hah?!'' jawab serentak keduanya yang terkejut karena ucapan Olivia.
''Kenapa begitu?''
''Emmm… dompet ku di sita sama Papa,'' lirih Olivia dengan wajah yang memelas.
''O-oh… eumm aku lupa kalau ada janji dengan Mama, aku duluan ya, bye!'' Tasya berlalu pergi.
''Oh iya, aku juga ada janji menemani Mama pergi arisan, tidak apa kan Liv kalau kamu pulang sendiri, aku duluan ya, bye!'' Bianca pun ikut menyusul pergi.
Mereka meninggalkan Olivia seorang diri di sana, yang kebingungan karena memang tidak membawa uang ataupun mobil. ''Lalu aku pulang pakai apa...?''
*
*
*
Hari sudah mulai sore, Kiran dan Lisa baru keluar dari studio bioskop, ya mereka baru saja menyelesaikan film yang menjadi incarannya.
Baru saja mereka akan memesan taxi, sebuah mobil pun berhenti didepan mereka dengan kaca yang sengaja dibuka.
__ADS_1
"Mas?''
Ya, dia adalah Agra, yang sengaja datang untuk menjemput Kiran. Agra keluar dari mobil dan langsung menghampiri mereka, Agra mengulurkan tangannya bersiap untuk memeluk Kiran, namun secepatnya Kiran menghindar.
''Mas, banyak orang,'' ucap Kiran dengan berbisik.
Pipi Kiran sudah menggembung, dan tersipu malu, apalagi disana memang banyak sekali orang yang baru saja keluar dari gedung itu. Lisa yang melihat tingkah pasangan suami istri itu hanya tertawa kecil, apalagi melihat wajah Kiran yang malu-malu kucing, rasanya Lisa ingin sekali menampar wajahnya.
''Ran, jangan memasang wajah mu seperti itu, rasanya aku ingin sekali menampar mu,'' bisik Lisa pada Kiran dan diapun tertawa di balik tangannya.
''Sudah selesai nontonnya?''
''Sudah Om,'' celetuk Lisa yang seketika menutup mulutnya. ''Sorry, maksud ku, Tuan,'' pungkasnya meralat ucapan nya.
Kiran tertawa mendengarnya, dan Agra yang melihat Kiran tertawa hanya mengacak pelan rambut istri kecilnya itu.
''Ya sudah, ayo!'' ajak Agra yang sudah menarik pelan tangan Kiran.
''Mas?''
''Ya?''
''Tentu, ayo Lisa!''
Merekapun pergi dari sana, meninggalkan area pergedungan mall dan bioskop yang berdekatan itu.
Kiran duduk di samping Agra yang mengemudi, dan Lisa yang duduk di bagian kursi belakang. Kiran dan Lisa terus saja berbincang dan Agra hanya menjadi pendengar setia saja. Sampai ketika Lisa menceletuk membahas bertemunya mereka dengan Olivia dkk, Agra dengan spontan menoleh kearah Kiran.
''Olivia? buat ulah lagi dia?''
''Iya Tuan, dia dan teman-temannya-''
''Tidak, dia hanya menyapa kami,'' potong Kiran tapi Lisa tidak mau kalah.
''Kau jangan banyak berbohong Ran, numbuh buntut mau kau?!''
__ADS_1
''Bisa ceritakan apa yang terjadi tadi, nona Lisa?''
''Baik, baik. Tadi kami sedang mengantre tiket, lalu dua orang wanita menyela antrian kami, dan ada perdebatan sikit lalu datanglah si Olivia itu, dan tiba-tiba entah aku lupa siapa yang memulai, dia mengatai Kiran sebagai pelakor dengan suara yang lantang. Hisss... kesal aku kalau ingat itu!''
Kiran hanya bisa menepuk keningnya ringan, merasa gemas dengan mulut Lisa yang terlalu bawel, dia berniat akan bercerita nanti ketika Agra sedang santai, dia tidak ingin dikala Agra sedang lelah karena baru saja pulang dari kantor harus mendengar itu.
''Dia benar-benar keterlaluan, kupikir dia akan benar-benar berubah!'' Gumam Agra dengan jengkel. ''Oh ya sayang. Tadi pagi itu dia datang ke kantor, Mas.''
''Hah? mau apa?''
''Dia bilang ingin meminta maaf, tapi Mas tidak langsung percaya, dan ternyata dia sedang merencanakan sesuatu karena saat dia akan pergi, dia mengambil sebuah kamera dari balik tasnya, ayah dan anak sangat licik!''
Kiran menggelengkan kepalanya, ternyata hubungan mereka tidak semulus yang dia kira, ada halangan yang siap menerjangnya, tapi ia yakin kalau dia bisa melewatinya dengan sabar.
Roda mobil Agra berhenti tepat di persimpangan jalan menuju komplek perumahan, ya Lisa memintanya untuk menurunkannya disana saja, Lisa merasa tidak enak kalau harus di antarkan kedepan rumahnya, ia takut merepotkan.
Lisa melambaikan tangannya pada mobil Agra dan Kiran yang semakin menaruh dari pandangannya.
Agra masih diam, ia benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah Olivia yang terus menyerang Kiran, terlebih lagi dengan memanggilnya pelakor! Agra berdecak kesal, dan Kiran tahu kenapa Agra seperti itu.
''Mas maafkan Lisa ya?''
''Kenapa?''
''Karena terlalu bawel.''
''Mas justru harus berterima kasih kepada teman mu itu, karena kamu juga tidak akan bercerita tentang kejadian itu kan?''
''Sayang lain kali kalau ada apapun cerita saja pada Mas, oke?'' Kiran mengangguk pelan.
Keduanya kembali terdiam dan Kiran pun kembali memulai pembicaraan.
''Mas?''
''Hm?''
__ADS_1
''Sebenarnya apa hubungan mu dengan Reza?''
Seketika Agra menginjak pedal remnya dengan tiba-tiba sehingga membuat tubuh mereka sedikit terguncang.