Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Rekaman CCTV


__ADS_3

"Dia bicara akan menghabisi Kiran?"


Mata Agra rasanya sudah hampir lepas dan menggelinding ke lantai mendengar apa yang baru dikatakan oleh Anas. Hal yang sama yang pastinya juga didengar oleh istrinya sebelumnya. Kemungkinan hal itulah yang ingin dikatakan oleh Kiran sesaat sebelum ia mengalami kecelakaan.


"Iya. Aku mendengarnya dari Lisa. Dia bilang itu yang mereka dengar di cafe itu dan nona Kiran melihat kalau Olivia datang lebih dulu dan menunggu Nyonya Nancy. Lisa juga bilang kalau nona Kiran akan mengatakannya pada Anda."


Rahang Agra menegang mendengar hal itu. Ia sekali lagi menoleh sekilas pada Kiran yang masih sibuk berbincang dengan Lisa.


Membayangkan lagi kejadian dimana saat tubuh Kiran yang diterjang oleh mobil membuat ulu hatinya terasa nyeri.


Anas menyodorkan gawainya pada Agra memperlihatkan sebuah rekaman CCTV yang ada di depan kantor.


''Ini rekaman CCTV kejadian penabrakan Nona Kiran, dan akan saya gunakan untuk mencari pelaku, saya pastikan dia akan bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan. Terlebih lagi dia sudah berhenti dan bisa dibilang ini adalah kejadian tabrak lari.''


''Iya, terima kasih, Anas.''


''Sama-sama, Tuan.''


Agra menghela napasnya dengan berat. Ia tidak menyangka kalau Nancy malah mendukung Olivia dan ternyata diam-diam menyokong punggungnya dari belakang.


Kini, kepercayaannya pada Nancy telah hancur. Apalagi dia mendengar langsung suara yang biasanya bicara lembut padanya, malah terdengar asing.


Agra dan Anas kembali mendekat ke ranjang Kiran menghampiri dua gadis yang sedang berbincang.


''Lisa, Emmm maksud saya Nona Lisa. Sepertinya sudah waktunya Nona Kiran beristirahat, kita bisa kembali lagi lain waktu,'' ucap Anas yang sedikit meralat panggilannya pada Lisa.


''Kalau begitu aku pamit ya, Ran. Kamu harus segera sembuh. Dan harus segera kembali ke kampus. Saya pamit ya tuan Agra.''


''Ya, kalian hati-hati dan terima kasih, Lisa.''


''Sama-sama, Tuan.''


Lisa mengusap lengan Kiran, tersenyum lembut padanya karena dia juga masih merasa bersalah atas apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Kepalanya menoleh pada Agra memberikan anggukan kecil sebagai salam pamit, lalu melangkah pergi dengan disusul oleh Anas.


Agra melangkah mendekati Kiran dan duduk di samping ranjangnya, meraih tangan Kiran lalu tersenyum teduh.


''Sayang…''


Nada Agra memanggilnya selalu saja terdengar sangat seksi dan mendebarkan.


"I-iya, Mas?"


"Mas-mu ini mau tanya. Tapi kamu harus jawab dengan jujur ya?"


Kiran mengangguk menjawabnya. Ia melihat Agra menggenggam tangan kanannya begitu erat.


"Benar, kamu mendengar obrolan Olivia dengan ibuku?"


Sesaat, Kiran tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada Agra. Ia pasti diberi tahu oleh Anas yang juga mengetahuinya dari Lisa, saat menyingkir darinya barusan. Kiran tidak perlu tanya bagaimana caranya Anas tahu. Karena sepak terjangnya di sisi Agra tidak perlu diragukan lagi.

__ADS_1


Kiran gugup, harusnya ia hanya perlu menjawab dengan 'Ya' karena niatnya sore itu untuk datang ke kantor Agra 'kan memang ingin menceritakan apa yang telah ia dengar.


Tapi sekarang situasinya menjadi sedikit lain karena Agra yang bertanya padanya lebih dulu. Di mana ini terlihat seperti Kiran sedang mencoba merenggangkan hubungan mereka yang memang sudah panas sebelumnya.


Tapi Kiran juga tidak bisa bohong pada Agra, pada lelaki yang tersenyum saat menunggu jawabannya ini.


"Sayang? Kamu nggak ingin menjawab, Mas?"


"Iya, itu benar, Mas.Tapi Mas Agra, tolong jangan benci mereka. Mas Agra tolong cari tahu dulu ke–"


"Kebenarannya?"


Agra memotong kalimatnya dengan cepat dan Kiran pun mengangguk.


''Kau tenang saja Mas sudah mengantongi semuanya, hanya belum mengetahui betul, siapa pengemudi mobil yang menabrak mu.''


Kiran dapat melihat dengan jelas, bahwa sorot mata Agra menyimpan sebuah dendam yang amat dalam pada pengemudi mobil yang menabraknya.


''Mas pastikan mereka tidak akan tenang karena masa akan mencabut sampai akarnya.''


Kiran merentangkan tangannya, meminta agar Agra memeluknya. Karena menurut Kiran, Agra bisa tenang setelah ia peluk dan terbukti Agra yang dipeluk Kiran dengan erat, perlahan emosinya bisa stabil. Tidak seperti tadi yang rasanya sangat ingin menghancurkan ruangan ini, sangat ingin menyeret Olivia ke depan Kiran dan memaksanya untuk bersujud meminta maaf, lalu melemparkannya dari lantai 8 itu. begitu juga dengan Nancy yang ingin dia temui sekarang juga.


''Mas, apa tidak bisa aku pulang sekarang?''


Agra menjauhkan wajahnya menatap tajam pada Kiran.


''Pulang?''


Agra tersenyum dengan tangan mengelus rambut Kiran.


''Tapi kau belum sepenuhnya pulih, sayang.''


''Tapi aku mau pulang,'' rengek Kiran.


rengekan Kiran yang membuat Agra tidak tega, yang pada akhirnya dia pun menghubungi dokter Jerry agar segera datang ke ruangan tempat Kiran dirawat.


Tidak lama kemudian, seorang dokter masuk setelah mengetuk pintu, tersenyum pada Kiran dan Agra dengan ramah.


''selamat sore Tuan Agra dan Nona Kiran. Apa ada keluhan lain? Maaf ya saya izin memeriksa keadaan Anda dulu.''


Ucap Jerry begitu ramah meminta izin pada Kiran dan Agra untuk memeriksa keadaan Kiran.


''Dokter, Jerry. Istriku ini meminta pulang sekarang juga, apa bisa?''


Sedang Agra bertanya pada Jerry, Kiran menatap penuh harap pada dokter yang memeriksanya itu. Tapi seketika tatapannya berubah sendu, karena dokter itu mengatakan kalau dia belum boleh pulang hari ini, karena masih ada serangkaian pemeriksaan yang harus dilakukan.


Setelah dokter Jerry pergi, Agra melirik ke arah Kiran yang sudah menekuk wajahnya, dengan tangan terbuka Agra kembali memeluk Kiran, dia tahu istrinya sedang kecewa karena permintaannya tidak terkabulkan.


''Istriku tersayang… hari ini kamu belum boleh meninggalkan ranjangmu. Karena masih ada serangkaian pemeriksaan yang harus kamu lakukan, demi pemulihan mu juga, kan? jadi Mas harap kamu bisa mengerti dan bersabar. Hm?''

__ADS_1


Agra mengatakan kalimat dengan perlahan karena dia ingin istrinya mengerti kenapa dia belum boleh pulang hari ini.


Kiran pun mengangguk dalam dekapan Agra. dengan lembut agar mengusap punggung Kiran dan mengecup puncak kepala Kiran berulang-ulang.


Di lain tempat, namun masih di dalam gedung yang sama. Lisa dan Anas yang baru saja keluar dari pintu utama. tidak sengaja Lisa menabrak seseorang, seorang pria.


Sehingga hampir saja Lisa terjatuh duduk karena kerasnya tabrakan itu.


''HEI!! apa kau buta!'' teriak Anas begitu kencang sehingga semua orang pun menoleh ke arahnya.


''Apa ku tidak apa-apa?'' tanya Anas pada Lisa yang suaranya seketika menurun, namun sorot matanya kembali begitu tajam ke arah pria yang menunduk takut.


''Tuan, aku juga salah. Aku berjalan dengan menunduk,'' bisik Lisa.


''Tidak! dia yang salah, ini bukan airport, yang kau bisa tertinggal pesawat jika tidak segera datang!''


''Ma–maaf, saya tidak hati-hati, maafkan saya Nona.'' Ucapnya dengan gemetar.


''Tidak apa, Mas. Aku juga salah, aku minta maaf, kamu boleh pergi,'' ucap Lisa begitu lembut, tanpa tahu saat ini Anas tengah menatapnya dengan tajam.


Setelah pria itu pergi Lisa melirik ke arah Anas yang masih menatapnya begitu sengit, '' Ada apa?''


''Mas? kau memanggilnya 'Mas'?''


''Ya, lalu?''


''Lalu kau bilang! kau memanggilnya dengan sebutan 'Mas' dan kamu manggilku dengan sebutan 'Tuan'!''


Lisa mengerling beberapa kali dia tidak mengerti kenapa sebutannya untuk pria tadi dipermasalahkan pada Anas.


''Ya terus masalahnya dimana, Tuan?''


''Ck, menyebalkan!''


Anas berlalu begitu saja meninggalkan Lisa yang masih termangu di tempatnya.


''Dia kenapa?'' gumam Lisa yang masih bingung.


''Hei!! kau mau masuk mobil atau tidak?!''


Anas berteriak dari dalam mobil dan Lisa pun berlari ke arah Anas dan masuk ke mobil nya.


...----------------...


Mampir juga yuk ke novel teman othor 🤗 ceritanya tidak kalah seru loh dengan yang lainny 🤗..


Judul : Cintai Aku Istriku


Author : Mom Al

__ADS_1



__ADS_2