
Di sebuah pusat elektronik, di sanalah Anas dan Lisa berada. Sudah 2 jam lamanya mereka terus berkeliling tapi belum ada yang mereka beli, sudah beberapa outlet yang mereka kunjungi tapi barang yang diinginkan dan sesuai kriteria Lisa tidak ada.
Lisa melirik Anas yang berjalan di sisi kirinya, dia kira Anas akan protes karena dari tadi diajak keliling namun belum ada yang dibeli juga, tapi nyatanya Anas tidak mengeluarkan protes apapun dan terus menawarkan untuk mampir ke outlet lainnya.
''Apa kau mau mencoba di sana?'' suara serak-serak basah panas menyeruak ke telinga Lisa. mengangguk dan berjalan lebih dulu di depan Anas.
Saat masuk ke dalam toko besar itu mereka disambut dengan ramah oleh karyawan di sana. Alangkah terkejutnya sebuah Party Popper mengarah ke mereka, isi dalamnya pun berhamburan di kepala Lisa dan Anas.
Anas yang memang memiliki OCD, tentu merasa risih, dan dengan sigap ia menjauh lalu membersihkan serpihan-serpihan itu dari tubuhnya sendiri.
''Selamat!! Anda pelanggan kami yang ke seribu! ada hadiah untuk pasangan seperti Nona dan Tuan, dengan minimal pembelian 1 buah laptop, silakan ikut kami...''
Seorang wanita berpakaian sangat rapi menuntun langkah mereka. Lisa yang tidak fokus karena melihat Anas yang masih repot menyingkirkan serpihan itu dari jasnya, hampir saja menabrak seseorang yang juga berada di sana sebagai pelanggan.
Tapi kepekaan dan sikap siap Anas membuat itu tidak terjadi, karena Anas sudah lebih dulu menarik tangan Lisa walaupun tanpa melihat karena masih sibuk dengan serpihan dari party popper itu.
''Hati-hati!'' ucapnya begitu perhatian.
Dan setelah memastikan Lisa berdiri dengan benar dia menatap tajam ke arah laki-laki itu, ''Bisa berdiri tidak di tengah jalan seperti ini kan!''
No! bukan salah laki-laki itu padahal, tapi memang Lisa yang tidak melihat jalan sehingga hampir saja menabrak orang lain.
Siapa yang tidak akan terhanyut oleh sikap hangat pria yang bersikap seperti Anas, Lisa pun merasakan itu tapi dia tidak ingin berharap lebih karena takut jatuh ke dalam perasaannya sendiri.
'Igat Lisa dia hanya menemanimu saja dengan tujuan tanggung jawab dan hanya sebuah perintah dari Tuannya!'
Batin Lisa berbicara.
Sebuah laptop berwarna merah muda dengan desain yang cantik pada ujungnya itulah pilihan Lisa. Mata Lisa berbinar pada laptop itu yang langsung ia tunjuk tanpa bertanya harga.
''Aku pilih ini!''
''Anda cerdas, Laptop ini limited edition lho, Nona.''
''Wah, benarkah? ini!'' baru saja Lisa mengeluarkan kartu dan akan memberikannya pada karyawan tersebut namun tangan Lisa ditahan oleh Anas.
''Simpan kartumu gunakan itu untuk keperluan lainnya, biar ini aku yang bayar.''
Anas mengeluarkan kartu berwarna hitam dari dompet lalu memberikannya pada karyawan tersebut untuk proses pembayarannya.
Setelah selesai mereka pun berniat langsung keluar dari sana namun ditahan lagi oleh salah satu karyawan, dan dituntun kembali ke sebuah etalase. Mereka diberikan sebuah hadiah pasangan sebagai pembeli yang ke seribu.
__ADS_1
''Ini hanya bingkisan kecil dari kami untuk kalian, semoga kalian menjadi pasangan yang terus kompak dan langgeng. Terima kasih sudah berbelanja disini…''
Lisa menerimanya dengan wajah ceria tapi ketika karyawan itu mengatakan kalimat kalau mereka pasangan dan turut mendoakan bisa terdiam dan melirik ke arah Anas.
Lisa dan Anas saling bertatap mata, rupanya mereka kira Lisa dan Anas adalah sepasang kekasih. Tapi karena Lisa menyukai hadiah tersebut ucapan karyawan itu tidak sama sekali ia anggap yang kemudian Lisa pun segera berpamitan dan menarik tangan Anas untuk keluar dari sana.
Anas menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Lisa, dia tidak menyangka akan bertemu gadis yang bersikap apa adanya tidak dibuat-buat dan memang itulah Lisa.
''Ini punyamu!'' Lisa memberikan satu paper bag lainnya pada Anas dan diterimanya tanpa ada penolakan.
*
*
*
Sudah jam lima sore tapi Anas belum juga kembali ke kantor, berulang kali Agra melihat dari jendela meja kerjanya tapi belum terlihat juga Anas di sana.
Kiran sudah mengabari kalau dia pulang dengan taksi, Agra pun memutuskan untuk pulang tanpa menunggu Anas lagi.
''Kalau bukan karena rencana ingin menjodohkan mereka. Aku tidak akan biarkan Anas lolos sedikitpun karena hari ini bolos bekerja,'' gumam Agra sebelum masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di rumah, Agra langsung mencari keberadaan Kiran yang ternyata sedang berada di taman belakang bersama Mala.
Agra tersenyum dan langsung mengecup kening Kiran di depan Mala yang berpura-pura tidak melihat.
''Mas… ada kak Mala,'' bisik Kiran.
''Memangnya kenapa aku mencium istriku kok, iya kan Mala?''
''Benar Tuan,'' sahut Mala. ''Kalau begitu saya permisi membuatkan minum untuk Anda, Tuan.'' Mala pun berlalu pergi meninggalkan pasangan suami istri itu.
''Mas sih! kak Mala jadi pergi kan!'' seru Kiran.
''Lho kenapa?dia pergi sebab ingin membuatkan minum untuk Mas kok, lagi pula, Mas juga sangat merindukan mu. Biarkan Mala melakukan tugasnya.''
Agra langsung menciumi setiap bagian wajah Kiran, dari mata, pipi, hidung, kening hingga ke bibir semua tidak terlewatkan.
dan membisikkan sesuatu ke telinga Kiran.
''Sudah selesai belum?''
__ADS_1
Kiran menjauhkan telinganya dari Agra, dia langsung paham apa yang dimaksud oleh Agra. pipinya mau merah dan tersipu malu.
''ih… Mas apa sih!'' Kiran mendorong pelan dada Agra.
''Kenapa lama sekali sih! Mas sudah merindukanmu, Dek.''
''Sabar Mas, seperti anak kecil saja.''
''Hei! mana ada anak kecil pintar berkuda seperti Mas!''
''Berkuda?''
''He em…'' Agra memainkan alisnya, dan Kiran mulai bingung dengan apa yang diucapkan Agra.
Tapi beberapa saat kemudian dia mulai paham karena ada terus memasang raut wajah yang nakal menurutnya.
''Jadi aku dianggap kuda!'' sembur Kiran dengan wajah yang sangat menggemaskan yang membuat Agra tertawa terpintar-pingkal.
''No sayang! no! itu hanya istilah, seperti kamu mengibaratkan seorang tamu yang datang di setiap bulannya, dan begitu pula aku mengibaratkan berkuda dengan bidadari surga seperti kamu.''
''Mas bohong!'' Kiran sudah menekuk wajahnya kesal, karena istilah yang digunakan oleh Agra untuknya.
Agra terus merayunya tapi Kiran masih saja merajuk, Agra tidak mengerti hormon seorang wanita pada saat masuk waktu menstruasi, mood yang sering berubah-ubah dan terkadang wanita itu bisa menjadi ganas hanya dengan masalah yang sepele.
''Sayang… ayolaah, maafkan Mas ya?''
Kiran tetap diam.
''Mas benar-benar tidak sengaja, itu hanya sebuah istilah, Dek. Sungguh!''
''Benarkah?'' agar mengangguk dengan bibir yang dikerucutkan.
Kiran tersenyum melihat raut wajah agra, karena menurut dia wajah Agra yang seperti ini mirip sekali dengan ikan koi. Kiran tertawa geli, Agra yang heran hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Benar artikel yang dia baca, kalau seorang wanita sedang masa menstruasi, mood mereka akan berubah-ubah dalam sekejap dan dia dapat melihat itu saat ini ada pada dalam diri Kiran.
......................
Hay kakak-kakak kesayangan Nuna🤗, mampir juga yuk ke novel teman Nuna ☺️ sembari menunggu aku up bisa baca novel teman Nuna, oke😉
Judul : Marriage With (Out) Love
__ADS_1
Author : Min Nami