Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Tanggung jawab?


__ADS_3

Sudah berganti pakaian dengan pakaian milik Kiran, yang sebelumnya ia mandi dan beberapa kali menggosok tubuhnya dengan sabun agar bau amis dan bau lumpur tidak lagi tercium.


Lisa pun menceritakannya pada Kiran dengan detail tidak ada yang terlewat, bahkan dia bercerita sambil menangis karena mengingat rasa malunya itu.


''Aku bukan mempermasalahkan harga dari barangku yang rusak, Ran! tapi tugasku semua ada di tas ini, lelah sekali untuk mengulangnya bukan? hiks hiks hiks...''


''Iya… iya… aku paham, aku bantu sampai semuanya beres ya.''


Lisa mengangguk. sungguh membayangkan membuat pulang tugasnya itu membuat sesak tapi setelah mendengar Kiran yang akan membantunya seketika ia merasa lega.


''Besok setelah kelas selesai kita ke perpus ya? tapi nanti malam aku mau ke toko ponsel dan laptop dulu. Karena ini semuanya sudah tidak bisa dipakai,'' ucap Lisa dengan wajah yang cemberut melihat barang-barang nya yang sudah tidak menyala.


Pintu diketuk dari luar yang ternyata Mala lah yang datang membawakan dua gelas coklat panas juga sepiring cemilan yang diminta oleh Kiran.


''Terima kasih Kak Mala. Oh ya, Lis! perkenalkan ini Kak Mala teman aku disini,'' ucap Kiran memperkenalkan Mala pada Lisa yang tersenyum pada Mala.


''Hay kak Mala, aku Lisa, Lisa Black Pink,'' gurau Lisa dan merekapun tertawa bersama.


''Hay Nona Lisa, saya Mala. Jangan anggap ucapan nyonya Kiran ya, Non. Saya disini hanya pelayan, bukan seperti apa yang dikatakan oleh Nyonya Kiran.''


''Tidak apa Kak, pelayan hanya sebuah pekerjaan, tapi kalau kita nyaman, kita bisa berteman kan?'' timpal Lisa dan Mala tersenyum senang mendengarnya.


Ternyata masih ada gadis yang tidak membedakan circle pertemanan, bahkan kedua gadis itu tidak pernah melihat pekerjaan seseorang hanya untuk mereka menjalin sebuah pertemanan. Ya, bagi kedua gadis itu, tidak ada pembatas untuk mereka berkawan dengan siapapun itu.


Mala pun permisi pergi, untuk menyiapkan makan siang yang memang sebentar lagi akan memasuki waktu dimana semua orang akan merasa lapar dan mencari makanan yang bisa mereka makan.


Kiran dan Lisa menonton drama yang mereka pilih secara bersama, drama yang mengisahkan sebuah hubungan antara goblin dan manusia itulah drama pilihan mereka.


Selama 15 menit menonton akhirnya perut keduanya berbunyi yang menandakan kalau perutnya minta diisi. Kiran pun menarik tangan Lisa untuk turun dan melihat apa Mala sudah menyiapkan makanan atau belum, tapi jika memang belum selesai mereka berniat akan membantunya.


Tapi sebelum mereka sampai ke meja makan, mata mereka telah melihat seseorang yang duduk manis di sana dengan semangkuk buah berry yang Kiran beli di supermarket kemarin.


''Ran, kenapa ada dia?'' tanya Lisa dengan suara yang lantang dan bahkan membuat Olivia yang duduk di sana menolehkan kepalanya.


''Cih, dua gadis kampung!'' cibir Olivia.


Lisa yang baru saja akan menjawab namun Kiran menahannya.


''Sebagai orang yang waras dan berpendidikan kita harus tahu tata krama di meja makan, oke Lisa?''


Halus memang namun mampu menusuk ke hati siapapun yang tengah dia sindir, Lisa yang mendengarnya hanya bisa menahan tawa karena tidak menyangka sahabatnya ini sudah bisa membalas cibiran seseorang dengan begitu savage nya.


''Daebak, Ran!''


''Sudah, kau lebih baik duduk, aku mau melihat Kak Mala.''


Lisa pun duduk berseberangan dengan Olivia yang menatapnya dengan sini dan Lisa pun begitu, juga terus menatap Olivia dengan tajam.


''Kenapa kau melihatku seperti itu?!''

__ADS_1


''Cih, percaya diri sekali Anda! suka hati aku, aku punya mata untuk melihat, kau tau itu kan!''


''Gadis kampung sepertimu tidak pantas melihat orang secantikku dengan mata kotormu itu!''


''Hissshhh, siapa bilang aku sedang melihat orang.''


''Lalu? kalau bukan melihat orang kamu melihat siapa?''


Lisa beranjak dari duduknya dan berniat untuk pergi dari sana tapi sebelum itu ia menyempatkan untuk menjawab pertanyaan Olivia.


''Binatang!''


Ha..ha..ha..


Lisa tertawa sembari berlari ke arah Kiran yang sedang berbincang dengan Mala di depan ruang memasak.


''Sial! kurang ajar!! awas kau ya!''


Olivia sudah berdiri dengan tangannya menggenggam garpu dengan sangat erat. yang berjalan dengan wajah yang memerah karena marah, Olivia tidak terima dengan apa yang dikatakan Lisa yang menganggapnya bukanlah manusia tetapi binatang.


Seperti anak kecil, Lisa yang melihat Olivia mengejarnya membelokkan langkahnya menuju ruangan depan dan terus melontarkan ledekan, untuk memancing kemarahan Olivia karena menurutnya wajah Olivia yang marah seperti itu terlihat sangat lucu di matanya.


''Aku tidak memakai baju merah loh!'' teriak Lisa masih meledek Olivia.


''Lihatlah ke cermin! tandukmu sudah keluar empat!''


Olivia semakin dibuat marah dan pada akhirnya berujung ia melemparkan garpu itu ke arah Lisa yang mungkin saja kalau terkena gadis itu pastinya akan terluka.


Hap!


Lisa sudah memejamkan matanya dengan berjongkok, menunggu beberapa saat tidak ada benda yang mengenai dirinya ataupun jatuh ke lantai. Membuka mata yang ternyata ada seseorang yang berdiri di depannya dengan tangannya yang memegang sebuah garpu.


''Olivia!!!'' teriak seseorang yang berdiri di belakang Lisa sehingga membuat dia melompat kaget.


Lisa mendongakkan kepalanya yang ternyata orang yang berteriak itu adalah Agra, suami dari sahabatnya.


Agra berjalan dengan langkah lebarnya menghampiri Olivia yang sudah berdiri dengan wajah pucat. Terbesit raut wajah kemenangan pada wajah Lisa, bahkan ia memamerkan deretan giginya pada Olivia yang sedang melirik ke arahnya dengan ujung matanya.


''A–Agra, dia–dia-''


''Cukup!''


Bahu Olivia seketika terangkat karena bentakan Agra lagi.


''Kau sudah sangat keterlaluan!''


Suara Agra cukup memekik telinga bahkan Kiran dan Mala yang sedang berada di belakang mendengar dengan jelas teriakannya. Kiran juga Mala pun berlalu untuk melihat apa sebenarnya yang membuat Agra berteriak seperti itu di ruang depan.


''Mas? kau sudah pulang?''

__ADS_1


''Sudah, kenapa kamu izinkan dia masuk kesini lagi?''


''Memangnya aku harus mendapatkan izin masuk dari gadis kampung itu, Gra?!''


''Olivia Madavi!''


Lisa yang melihat Agra semarah itu tentu terkejut karena yang dia kenal, Agra adalah pria yang lembut pada istrinya.


Lisa maju beberapa langkah, menyamakan posisi pria yang berdiri didepannya, dan ketika ia melirik ke arah kirinya dan melihat wajah pria itu. Alangkah terkejutnya karena pria itu, pria yang sama yang membuat ia seperti kucing tercebur diparit.


''Anda?!'' Anas menoleh dengan wajah datar.


''Maaf?''


''Kamu belum bertanggung jawab!'' ucap Lisa dengan berbisik karena tidaklah mungkin dia ikut berteriak diwaktu yang tidak tepat.


''Bertanggung jawab? saya tidak menghamili siapapun,'' sahut Anas, pipi Lisa seketika memerah, maksud dia bukan seperti itu.


''Sekarang ambil koper mu!'' bentak Agra lagi dan semuanya masih terdiam tidak berani ikut bicara.


Olivia tidak sama sekali bergerak, bahkan dia lebih tidak mempedulikan bentakan Agra padanya.


''Ambil koper mu, kalau tidak mau aku yang akan melemparkan nya!''


''Agra! aku hanya ingin tinggal disini!'' balas Olivia.


''Dan aku tidak akan membiarkan itu!''


''Aku ini sepupu mu!''


''Dan ini adalah istriku! Anas!''


''Siap Tuan!''


''Ambil kopernya, dan lemparkan keluar!''


Anas berlalu tanpa menjawabnya lagi, karena diapun tidak menyukai adanya Olivia apalagi mereka berdua sudah melihat Olivia yang akan menyakiti orang lain. Itu sudah tidak bisa di toleransi.


Mala mendekat pada Agra dan berbisik dengan jarak satu meter. ''Tadi nona Olivia juga mengancam nyonya Kiran dikamar, Tuan.''


Mendengar itu, Agra semakin dibuat marah, tangannya sudah mengepal kuat, jika Olivia seorang lelaki mungkin saja bogeman dari tangan besar Agra sudah mendarat di wajahnya.


......................


Hay selamat siang semuanya, yuk baca juga novel teman ku, sembari menunggu aku up🤗🙏


Judul : Pemandu Hati PENGGANTI


Author: Chika Ssi

__ADS_1



__ADS_2