
Para pelayat sudah ramai datang, dan hari pun sudah menjelang sore, kini saatnya mereka mengantarkan jenazah mendiang Hermawan Nadindra ke peristirahatan terakhirnya. Dengan beberapa upacara untuk menguburkan jenazah Hermawan yang mereka lalui dengan hati yang berduka.
Dan kini peti yang terdapat seorang pria yang membesarkan Agra sudah hampir tidak terlihat dengan taburan bunga yang berlimpah di atasnya, dan akan tertutup oleh tanah di sebuah pemakaman keluarga.
Selama upacara menutupnya peti dengan tanah, mereka terus melantunkan doa-doa untuk sang mendiang, dan juga sebagai penghargaan semasa hidupnya mendiang Hermawan.
Beberapa saat kemudian para pelayat pun sudah mulai meninggalkan pemakaman tersebut. Dan kini hanya tersisa sanak keluarga yang bahkan satu persatu sudah berpamitan pulang.
Agra masih tertunduk pilu, terlebih lagi ia melihat langsung sang ayah yang di tertimbun tanah, hatinya terasa perih tapi beruntung disana ada Kiran yang terus menguatkan sang suami untuk tetap tegar.
''Agra sudahlah papamu sudah tenang di sana,'' ucap Faris memberikan usapan sayang pada cucu nya.
''Benar Agra, papamu sudah tenang di sana Kau hanya perlu mendoakannya,'' timpal Hendrawan, paman Agra atau adik dari mendiang Hermawan.
''Nak' ayo kita pergi, kasian istrimu pasti lelah, dia belum sempat beristirahat 'kan?'' ucap Liliyana, istri Hendrawan.
Agra mengangguk pelan setelah mendengar nama Kiran disebutkan, dan bangun dari duduknya lalu menggandeng tangan Kiran untuk meninggalkan pemakaman itu, tapi di balik kacamata hitamnya dia masih sempat melirik tajam ke arah Nancy yang masih dengan dramanya, duduk menangis dengan tersedu-sedu.
''Halo, balikan semua atas nama ku segera, besok siang aku akan kesana!''
ucap Nancy pada seseorang yang sedang ia hubungi.
Sepanjang perjalanan Agra hanya diam, entah karena memang malas bicara atau memang sedang menahan amarah, Kiran pun tidak terlalu mengerti. Tapi yang hanya bisa Kiran lakukan adalah memberikan usapan lembut untuk suaminya yang tengah berduka.
''Maafkan kakek ya, Kiran. Karena musibah ini waktu bulan madu kalian tersita,'' ucap Faris memulai pembicaraan.
''Tidak perlu sungkan kakek, Kiran juga 'kan anak kalian,'' sahut Kiran dengan sedikit candaan bertujuan untuk menghibur mereka yang tengah berduka.
''Iya sayang, kau benar 'nak,'' kata Faris lagi.
*
Sesampainya di rumah yang sudah hampir satu tahun Agra tinggalkan itu, Agra diminta Faris untuk duduk bersama dengan keluarga namun ia menolaknya dengan alasan, kasihan pada istrinya yang lelah karena perjalanan jauh.
Faris tidak mempermasalahkannya karena memang terlihat kalau cucu menantunya itu sangat lelah walaupun Kiran mengatakan 'tidak'.
''Iya maaf, kakek lupa, sudah sana bawa istrimu kekamar mu. Jesi sudah menyiapkan segalanya disana,'' ucap Faris dan di angguki Agra juga Kiran.
Dikamar yang bernuansa dominan warna abu-abu putih itu Agra membawa Kiran kesana. Kiran mengambil duduk di tepi ranjang dan Agra berpamitan kekamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Mata Kiran berkeliling memperhatikan seluruh kamar yang sangat rapih, tapi ada satu sisi sudut kamar yang membuat Kiran tertarik, yaitu figura besar dengan potret Agra kecil dengan ayahnya disebuah pantai.
Terlihat wajahnya mereka menggambarkan sebuah kebahagiaan, dan dari pakaiannya pula mereka sangat terlihat kompak, ''Manis sekali,'' ucap Kiran pelan.
''Apanya yang manis?'' tanya Agra yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.
''Hah? tidak Mas…''
Agra tersenyum, mengusap pipi Kiran dengan lembutnya.
__ADS_1
''Kau terlihat sangat lelah, sebaiknya kau istirahat ya.''
''Lalu bagaimana dengan Mas, apa tidak lelah?''
''Mas sudah terbiasa, tapi kamu kan tidak. Mas tidak mau membuatmu sakit karena membawamu terus berpergian tanpa istirahat.''
''Apa Mas yakin, tidak merasakan lelah?''
''Iya Mas yakin. Ayo kamu istirahat ya! karena nanti malam akan ada upacara kematian papa, yang pastinya tante Liliyana nantinya akan merepotkanmu di bawah sana.''
''Ooh, baiklah. Aku akan istirahat sebentar.''
Kiran pun menurut ucapan Agra untuk dia beristirahat sebentar. Dibantu Agra untuk naik keranjang dan diselimuti dengan bed cover yang tebal dan lembut yang wanginya pun sama persis dengan parfum yang Agra kenakan.
Setelah memastikan Kiran sudah tertidur, Agra segera keluar dari kamar menuju ruang keluarga di mana para keluarga sedang berkumpul di sana. Dan berbarengan pula Nancy yang baru saja sampai rumah.
Greeettttttt...!!!
Suara roda koper terdengar jelas menyita perhatian semua orang termasuk Nancy yang baru saja sampai.
''Roger? kau mau kemana?'' tanya Faris dengan penasaran. Namun pemilik nama itu tidak menyahut sedikitpun.
''Kau mau kemana Roger? kenapa kau memakai koperku, lancang sekali!''
''Dia mau kemanapun bukan urusan mu!'' cetus Agra dengan tegas yang membuat semua orang terperangah kaget.
''Cih, masih menggunakan wajah malaikat rupanya,'' desis Agra dengan tangan yang dilipat di atas perutnya.
Faris masih menyimak, dia seperti merasa ada yang tidak beres dengan hubungan anak dan ibu tiri itu.
''Roger!''
''Siap Tuan!''
''Tampilkan sekarang!''
Roger yang mendapatkan perintah segera melaksanakannya, ia berjalan ke arah televisi dengan layar yang lebar selebar samudra, oh tidak, itu hanya umpama ya teman-teman 🤭.
Menyalakan layar yang langsung memutarkan sebuah Vidio. Tampilan pertama yang gelap tidak ada gambar apapun membuat semua heran, dan beberapa detik kemudian terlihatlah sebuah penampakan kamar rumah sakit yang terdapat Nancy disana.
Semua masih menyimak, namun tidak dengan Nancy yang sudah resah dan takut. Wajahnya sudah pias dengan keringat yang bermunculan di pelipisnya, perlahan ia memundurkan langkahnya ketika ia melihat sendiri rekaman itu memutarkan sebuah Vidio dimana dia sedang mengeluarkan sebuah botol kaca dari dalam tasnya.
Tapi ketika dia akan berbalik untuk pergi, dua orang pria dengan tubuh yang besar sudah berdiri dibelakangnya entah sejak kapan.
Semua mata tertuju pada Nancy, menatap tajam dan benci pada wanita yang usianya masih kepala tiga itu.
Setelah selesai putaran video terakhir dengan sebuah adegan Nancy yang sedang tertawa jahat disana, lalu bicara yang mengatakan jelas kalau dia memberikan sebuah cairan racun itu pada Hermawan. Faris langsung melangkah kearahnya, daaannn....
Plak!
__ADS_1
Faris menampar keras pipi mulus karena perawatan mahal itu sehingga menghasilkan tanda merah bentuk telapak tangan Faris.
''Tidak tahu diri! kau benar-benar keterlaluan!'' bentak Faris dengan emosi yang tidak bisa lagi dibendung sehingga nafasnya tiba-tiba terasa sesak.
Liliyana yang duduk tidak jauh dari posisi Faris segera membawa Faris duduk dan memberikan segelas air putih. ''Ayah, tenang. Jangan seperti ini,'' ucap Liliyana dengan lembut pada ayah mertuanya.
Dan kini giliran Agra yang masih menyimpan dendam berjalan kearah Nancy dannnn...
Plakk!!
Tamparan kedua kalinya dari Agra di sisi lain wajah Nancy, namun tamparan ini jauh lebih sangat kencang dari tamparan Faris tadi sehingga sudut bibir Nancy pun berdarah.
''Agra! anak kurang ajar!'' maki Nancy yang tidak terima.
''Kurang ajar ? bahkan itu sangat cocok untuk ku sebutkan padamu, wanita tidak tahu diri!'' cercah Agra.
Nancy menatap tajam mata Agra. Seakan menyimpan sebuah kebencian yang mendalam pada anak sambung nya itu.
Agra merogoh saku jaketnya mengeluarkan sesuatu dari dalam sana dan Nancy pun turut memperhatikan gerak tangan Agra.
Sebuah botol kaca yang sama persis pada di Vidio itu. Dengan tangan besarnya, Agra mencekal kuat kedua pipi Nancy sehingga bibir wanita paru baya itu terbuka sedikit.
Dengan amarahnya, Agra membuka penutup botol itu menggunakan tangan kanan lalu menuangkan isinya kedalam mulut Nancy, yang dia berusaha untuk memuntahkannya tapi usahanya sia-sia karena cairan berwarna hitam pekat itu sudah masuk sebagian kedalam tenggorokannya.
''Agra! cukup nak! cukup!'' jerit Faris namun tidak digubris Agra karena amarah sedang menguasainya.
''Agra, nak!! jangan nak! dia bisa mati!'' teriak Liliyana yang sudah berusaha melepaskan tangan Agra dari rahang Nancy.
''Itu yang kuinginkan, dia penyebab Papa meninggal, Tante!'' bentak Agra tanpa sadar.
''Tapi tidak seperti ini caranya, kau bisa jebloskan dia kedalam penjara, biar hukum negara yang berjalan.'' Liliyana terus berusaha menasehati Agra namun tetap, pria itu masih dalam pendiriannya.
Anggota keluarga lain tidak bisa berbuat apapun karena memang disana Nancy lah yang bersalah, dan Agra selaku anak dari pria yang telah ia bunuh tentunya akan marah dan mereka mewajarkan tindakan Agra yang demikian.
Dan saat ini bahkan sekarang Agra sudah menutup mulut Nancy agar tidak ada lagi cairan itu keluar. setelah ia rasa Nancy sudah menelan semuanya, tangannya terlepas dengan sendirinya.
Nafas Nancy tersengal-sengal dan hanya menunggu beberapa saat darah sudah mulai bermunculan dari hidung Nancy.
Nancy berteriak dengan histeris, dadanya terasa sesak dan darah itu bukan hanya keluar dari hidung melainkan dari telinga juga. Nancy semakin dibuat histeris yang beberapa saat kemudian Nancy sudah tidak lagi sadarkan diri.
...----------------...
Hay teman reader ku yg baik hati 🤗 baca juga novel teman Nuna yaaa 🙏
Judulnya : Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
Authornya: Alinatasya21
__ADS_1