Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Debaran tiada Henti


__ADS_3

Lisa bergumam, Anas segera mengembalikan ponsel Lisa ke tempatnya semula yaitu dekat tangan Lisa.


Mata Lisa mengerjap dan melihat Anas yang berdiri di depannya membuat dia mengernyitkan keningnya.


“Apa aku masih bermimpi?” gumam Lisa yang belum sepenuhnya sadar.


“Zico? tapi kenapa sedikit tua?”


Anas masih diam, giginya sudah menggeletuk, dengan tangan yang di lipat diatas perutnya.


“Dingin sekali…” bukannya membuka matanya, Lisa malah semakin merapatkan mata dan meringkuk seperti anak kucing.


Alis Anas mengernyit, heran dengan Lisa yang malah meringkuk juga menggigil. Anas mendekat dan menempelkan telapak tangannya pada lengan Lisa, matanya terbelalak merasakan panas pada lengan Lisa yang sedikit basah karena keringat.


“Kau demam, Lis?”


Anas segera membenarkan posisi Lisa yang masih menggantung kakinya, Anas menggendong Lisa untuk dia rebahkan dengan Baner lalu menyelimutinya dengan selimut yang tebal.


Terlukis wajah khawatir pada Anas, dia berjalan cepat ke arah kamar mandi untuk mengambil handuk yang ia basahi dengan air hangat untuk ia kompres kan pada kening Lisa.


Setelah memastikan Lisa terkompres dengan benar Anas pun berlalu pergi keluar kamar untuk mengabarkan pada Kiran bahwa temannya tengah sakit.


Tapi ketika ia hampir sampai di ruang tengah, ia justru melihat pasangan suami istri itu tengah bercumbu di meja makan, dengan kesal Anas hanya bisa menepuk jidatnya lalu memutar kembali langkahnya untuk kembali kekamar Lisa.


Dengan bibir yang terus menggerutu, Anas menutup pintu kamar Lisa sedikit kencang, "Dasar pasangan tidak punya akhlak, apa tidak bisa menahannya sebentar, kenapa juga harus di meja makan! Ck, bagaimana ini, si Otong malah bangun!" kata Anas dengan mengomel sendirian.


Anas mengambil duduknya di tepi ranjang dekat Lisa, dengan kesal tangannya ia tempelkan lagi di pipi Lisa yang ternyata semakin memanas, rasa kesal pun seketika berganti panik.


Anas akan beranjak tapi tiba-tiba, tangan Lisa malah menahan Anas lalu bergumam, “Jangan pergi, aku takut…” Anas terperanjat mendengarnya, ia mendekatkan telinganya agar bisa mendengar gumaman Lisa dengan lebih jelas lagi.

__ADS_1


“Mama… mereka jahat, sakit Maa…”


Alis Anas mengernyit, merasa heran dengan gumamannya, merasa ada yang aneh yang disembunyikan Lisa selama ini.


Mereka? siapa yang di maksud dengan 'mereka' oleh Lisa? lalu Mama? apa wanita paru baya yang memukul Lisa waktu itu dia lihat saat mengantar Lisa.


“Aku merindukan kalian…” lanjut Lisa yang kembali pulas dengan meringkuk di bawah selimut.


Anas melepaskan pegangan tangan Lisa di pergelangan tangannya, merapikan selimut Lisa agar menyelimutinya dengan benar. Ia mengambil kompres yang sudah agak kering untuk ia basahi kembali.


Dengan telaten, Anas merawat Lisa semalaman itu, dengan posisi duduk Anas terus mengecek suhu tubuh gadis yang terbaring lemah disana setiap sepuluh menit sekali.


Jam kini sudah menunjukkan pukul tiga pagi, Anas bisa bernafas lega karena suhu tubuh panas Lisa akhirnya menurun, dengan lembut Anas mengusap kepala Lisa yang masih hanyut dalam tidurnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Lis? bolehkah aku mengetahuinya?" ucap Anas dengan pelan, rasa kantuknya pun tidak bisa lagi di tahannya karena memang sejak tadi ia sudah sangat lelah, di tambah semenjak penerbangan ia tidak bisa tidur karena harus mengirimkan file-file untuk di urus orang kepercayaan Agra di kantor.


Matahari sudah terlihat dari pelupuk mata yang mengerjap, Lisa yabg merasa silau akhirnya membuka matanya, namun salasatu matanya seperti tertutup sesuatu, sesuatu yang lembab, ia ambil sesuatu itu yang ternyata adalah sebuah handuk yang setengah basah. Dan kini matanya beralih pada seorang pria yang tertidur dengan posisi duduk didekat ranjangnya.


Dilihat darimanapun ia sudah dapat menerka kenapa pria itu ada disana, dan kenapa ada handuk yang tertempel di dahinya.


"Aku demam? Dan dia yang merawat ku? benarkah?" gumam Lisa yang sudah duduk menyenderkan punggungnya di headboard.


Bibir Lisa tersenyum dengan sendirinya melihat wajah damai Anas, wajah tanpa kerutan di dahi seperti biasanya yang ia lihat, wajah yang setiap kali memasang raut yang datar dan sinis. Kini seperti dia melihat lain orang namun satu rupa, dan satu kata yang dapat ia ucapkan "Tampan."


Tapi dengan cepat ia menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin terlalu mengagungkan Anas karena dia tidak ingin berharap oleh manusia yang bisa saja menyakiti perasaannya.


Lisa menghela nafasnya, ia mengingat kembali mimpinya tadi malam, disaat bertemu oleh sosok wanita yang usianya tidak lagi muda namun masih terlihat cantik. Ya, dia adalah ibunya, ibu dari Lisa.


"Ma, Lisa sudah besar. Apa Lisa boleh memiliki perasaan dengan seseorang. Mama bisa lihat Lisa dari surga sana kan, mereka jahat Ma… , mereka tidak mengizinkan Lisa berteman oleh siapapun.''

__ADS_1


Gumaman Lisa ternyata dapat didengar jelas oleh Anas, ya saat Lisa beranjak mengubah posisinya yang dari tiduran ke duduk sehingga menghasilkan suara decitan ranjang yang membuat Anas terbangun namun masih memejamkan matanya.


Dan dapat ia simpulkan, bahwa wanita yang kala itu ia lihat memukul Lisa bukanlah orang tua Lisa, karena ya g dia dengar adalah, ibu dari Lisa ternyata sudah berada di surga.


Lisa meletakkan handuk setengah basah itu di atas nakas, dan berniat untuk bangun dari duduknya, tapi ternyata kakinya tersangkut di selimutnya.


'Aaakkkhhh!' Brugh'!


Lisa terjatuh dipangkuan Anas, karena memang Anas yang menariknya agar tidak terjatuh kebawah.


"Kenapa kau selalu ceroboh, Lisa?" tanya Anas dengan suara beratnya khas pria baru saja bangun dari tidurnya.


Lisa meneguk ludahnya dengan susah payah, menatap dengan posisi dekat dengan Anas untuk kesekian kalinya tapi jantungnya masih saja seperti biasanya, berdebar begitu cepat.


"Apa sudah merasa lebih baik?" tanya Anas lagi dan Lisa hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Cukup lama mereka saling menatap, hingga entah siapa yang memulainya bibir mereka sudah saling bertaut satu sama lainnya. Apa mereka tidak merasa jijik? tentu tidak, karena setan sudah menari di pikiran masing-masing dari mereka.


Lisa menyudahi pergulatan lid-dah mereka, Anas mengecup singkat kening Lisa dengan begitu mesra, keduanya saling tersenyum dengan lembut.


"Mandilah, aku akan memasakkan bubur untuk mu," kata Anas dan di angguki Lisa.


"Hati-hati." Anas membantu Lisa yang kakinya masih tergulung selimut yang tadi hampir membuatnya terjatuh.


Lisa berlalu kekamar mandi, dan Anas pun berlalu dari kamar untuk memasakkan bubur sesuai ucapannya pada Lisa.


Lisa berdiri di belakang pintu, sembari tangannya memegangi dadanya yang tidak berhenti berdebar, tangannya bergerak mengusap hidungnya yang seperti sesuatu keluar dari sana.


'Hah? darah!'

__ADS_1


__ADS_2