Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Tidak Rela Berbagi


__ADS_3

“Selamat pagi, Nona...” Dila merunduk sedikit pada Lisa yang baru saja keluar dari paviliun dengan wajah bantalnya.


“Selamat pagi, kau?”


“Saya Ardila, saya yang bertugas mengurus konsumsi Anda-anda semua, selama kalian ada di sini.”


Lisa mengangguk samar, matanya seperti sedang mencari seseorang yang langsung mendapatkan pertanyaan dari Dila.


“Apa Anda membutuhkan sesuatu, Nona?”


“Oh ya, kamu lihat dia-, emmm..., masud ku-.”


“Tuan Anas?” sambar Dila memotong kalimat Lisa.


“Ah iya,” desis Lisa.


“Tuan Anas Kalau di jam seperti pasti ada di ruang gim. Mau saya panggilkan?”


“Oh tidak perlu, terima kasih. Saya yang akan kesana.”


“Oh ya Nona, sarapan sudah siap, apa saya harus menyediakannya sekarang?”


“Nanti saja.”


Dila mengangguk dan tersenyum dengan ramah, “Kalau begitu, saya permisi ya, Nona.”


“Silahkan,” sahut Lisa. Matanya mengikuti gadis yang mengenalkan nama padanya itu Ardila, gadis yang terlihat sebaya dengan dirinya juga memiliki wajah blasteran yang sangat cantik.


“Cantik sekali dia,” gumam Lisa.


Kakinya melangkah menuju rumah utama, berniat ingin membersihkan dirinya terlebih dahulu baru akan mencari keberadaan Anas yang katanya berada di ruangan olahraga.


Lisa masuk kedalam kamarnya dan langsung menuju kamar mandi. Setengah ia bersiap dan menggunakan pakaian lengkap juga memakai riasan tipis di wajahnya, diapun keluar kamar.


Menuruni anak tangga dengan tangannya asik memainkan gawainya, dan ketika hampir sampai anak tangga terakhir, kakinya salah menginjak yang membuatnya hampir saja terjatuh.

__ADS_1


Grepp!!


Beruntung ada tangan malaikat yang menahan Lisa sehingga kemalangan itu tidak sampai terjadi. Ya pemilik tangan itu tak lain adalah Anas. Mata Lisa terkuci begitu juga dengan Anas yang bahkan tidak berkedip sedikitpun karena melihat Lisa yang berbeda hari ini.


Mata Lisa melirik ke arah dada Anas yang hanya memakai kaus dalm berwarna hitam dan ketat, sehingga otot-otot dada sangat tergambar nyata disana. Dengan wajah yang sudah memerah, Lisa melepaskan dirinya dari tangan Anas.


Kepalanya tertunduk malu, tapi matanya berusaha mencuri pandang pada tubuh atletis milik Anas terlebih lagi ada bulir keringat dari beberapa bagian tubuhnya, sungguh kali ini Anas sangat terlihat seksi di mata Lisa.


“Lis? Kau tidak apa-apa ‘kan?”


Belum Lisa menjawab suara seseorang menyela begitu saja, dari arah belakang Anas.


“Tuan, Nona.”


Lisa memiringkan kepalanya melihat orang itu yang ternyata adalah Dila.


Mata bergantian melihat Dila dan Anas, dan ketika Anas akan berbalik Lisa langsung menahannya agar Anas tetap menghadapnya.


“Ya ada apa Dila?” tanya Lisa. Dila melihat Lisa yang menahan Anas agar tidak berbalik merasa heran.


“Oh iya, searang. Cepat ya, saya sudah lapar.”


“Baik.” Dila berlalu melewati merea dan Lisa juga terus menarik tangan Anas untu tetap membelakangi Dila.


Anas yang melihat tingkah Lisa tentu merasa heran, “Ada apa? Kenapa?” tanya Anas yang bahkan tidak mendapatkan jawaban dari Lisa.


“Huuuft, untunglah dia tidak melihatnya, mana rela aku membagi pemandangan indah ini pada wanita lain,” gumam Lisa yang terdengar samar ditelinga Anas.


“Apa? Tidak rela apa?” tanya Anas yang memang tidak terlalu jelas mendengar gumaman Lisa barusan.


“Ah tidak, sudah sana mandi, kau bau,” ledek Lisa lalu mendorong tubuh kekar Anas untu segera naik ke kamar.


“Bau? Benarkah?” Anas mengendus aroma tubuhnya sendiri yang tida tercium bau seperti apa yang di katakan Lisa.


Anas menyeringai licik daaann... “Rasakan ini, ini kan yang kau katakan bau!” Anas menghimpit kepala Lisa di ketiaknya dan tertawa senang karena berhasil menjahili Lisa.

__ADS_1


Lisa berusaha melepaskan diri dari Anas, dia tertawa di balik lengan berotot Anas.


“Anas lepas!”


“Tidak akan, coba bilang sekali lagi kalau aku bau,” Anas masih tertawa jahil.


“Oke oke, ampun...”


Anas melepaskan kepala Lisa, dan segera berlari menaiki anak tangga meninggalkan Lisa yang sedang merapihkan rambutnya.


“Awas kau ya!” Lisa mengejar Anas yang hampir sampai ke lantai dua.


Dari jauh Dila turut memperhatikan Anas dan Lisa yang tengah bercanda, ia tersenyum getir karena melihat mereka yang begitu kompak, yang bahkan ia baru mengetahi sisi lain dari Anas yang bisa mencair seperti itu pada seorang wanita. Karena yang dia tahu, Anas adalah manusia yang dingin.


“Semoga kalian langgeng dan bahagia,” gumam Dila yang tersenyum pedih.


Dila melanjutkan pekerjaannya dengan sesekali menghela nafas panjang, ia mencoba ikhlas untuk melupakan perasaannya itu pada Anas.


...----------------...


Mampir juga ke novel teman othor 🤗 rekomend bgt ini...


I Love You, Ibu Guru


Author: AYi


Raka, 18 tahun, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang wanita yang ditolongnya. Dia tidak tahu jika wanita itu adalah guru baru di sekolahnya, dan juga anak pengusaha sukses yang terkenal di kota sebelah.


Setelah dia tahu jika wanita yang pernah ditolongnya adalah guru barunya, akankah dia tetap memendam perasaan itu atau dia akan memperjuangkan cintanya?


Shafiyah (22 tahun) atau biasa disapa Shofie, baru saja dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya sendiri. Memilih melamar pekerjaan sebagai guru di SMA swasta di kota lain.


Selama di kota baru itu, dia selalu ditolong oleh muridnya. Akankah rasa cinta tumbuh di antara mereka?


Ikuti kisah mereka di I Love You, Ibu Guru!

__ADS_1



__ADS_2