Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Insting Lisa Bisa Saja Meleset!


__ADS_3

Disebuah taman kampus.


Disinilah Kiran lah berada, bersama seseorang yang nampak asing di mata penghuni kampus.


''Pulanglah Kiran, ibumu merindukan mu.''


Kiran mengangkat kepalanya, sesungguhnya dia pun sama, merindukan ibunya, merindukan di manja ibunya, merindukan masakan ibunya, segalanya dari ibunya.


Air matanya luruh begitu saja.Tapi dia bisa apa? dia tidak sanggup pulang kerumah, dia membenci penghuni desa, dia membenci Ayahnya, sangat!


''Ibumu sakit, pulanglah sebentar saja, mungkin saat ibumu melihatmu, dia akan kembali sehat.''


Kiran masih terdiam. Tangannya saling meremat dibawah sana, mendengar ibunya sakit, membuat hatinya tertusuk.


''Sar, bisa aku minta bantuan?''suara Kiran terdengar gemetar.


''Apa, Ran?''


''Bawa ibuku kesini saja. Aku akan merawatnya.''


''Memangnya kau tidak ingin kembali ke desa?''


Kiran menggeleng lirih, dia ingin, tapi Agra tidak akan mengizinkannya karena satu janji yang dia ucapkan waktu itu.


''Aku tidak akan menginjakkan kaki kesana lagi, Sar. Semua orang disana sangat kejam, termaksud ayah ku sendiri.''


Sari Husada, saudara sepupu Kiran di desa, dia merupakan anak dari adik sang ayah. Entah diutus atau memang keinginan diri sendiri.


''Aku tahu kamu begitu trauma dengan orang-orang di sana, tapi bagaimanapun juga masih ada orang tuamu yang sangat merindukanmu, Ran.''


''Kamu tidak akan mengerti, Sar. Karena kamu tidak berada di posisiku waktu itu.'' Sari tertunduk Ia juga mengerti pasti Kiran sangatlah membenci mereka. ''Kamu datang ke sini untuk apa?''


''Oh, ini. Aku mendapatkan beasiswa di sini.'' Sari menunjukkan berkas yang dia bawa pada Kiran.


''Wah, selamat ya. Aku ikut senang.''


''Ran!!''


Teriak seseorang yang jaraknya lumayan jauh, melambai ke arahnya yang tak lain itu adalah Lisa. Gadis ceria berasal dari kota ketua itu berlarian ke arah mereka dan langsung duduk di samping Kiran.


dengan nafas yang disengal-sengal ia mencoba berbicara.


''Aku mencari mu kemana-mana, ternyata kamu disini.''


''Ada apa kau berlarian begitu?''


''Kau dicari kating, apa kamu sudah meminta tanda tangannya?''


Mata Kiran terbelalak, dia melupakan alasannya datang awal ke kampus karena bertemu dengan sepupunya.

__ADS_1


''Astaga, aku lupa! apa semua sudah mengumpulkan laporannya?''


''Sudah, hanya aku dan kamu yang belum.''


''Kamu belum ditanda tangani?''


''Sudah, hanya saja aku mau kita berdua bersama-sama memberikannya.''


''Issshhh, kau ini.''


Lisa melirik ke arah depan Kiran, yang disana ada seorang gadis yang sebaya dengan mereka, tersenyum kearahnya, namun nampak asing dimatanya.


'Apah pula ini betina, senyum-senyum macam kuda!' batin Lisa yang tak suka.


''Siapa dia?'' tanya Lisa sedikit berbisik ketelinga Kiran.


''Dia sepupu ku, perkenalkan. Sari ini sahabat ku, Lisa.''


Sari pun tersenyum mengulurkan tangannya namun Lisa tidak menyambutnya, dia malah memberikan tatapan yang aneh, sampai Kiran pun terheran melihatnya.


''Ehhh, ya sudah... Sar, kalau kamu memerlukan sesuatu, kamu bisa cari aku. Kita pamit ya, bye.'' Kiran segera beranjak dan menarik Lisa yang masih memicing pada Sari yang melambaikan tangannya.


Kiran tahu betul jika Lisa sudah mengeluarkan tatapan yang memicing. Lisa akan mengeluarkan taring dan siap berkata apapun tanpa memikirkan perasaan orang itu sendiri.


''Kau itu kenapa, Lis?''


''Entahlah aku memiliki perasangka buruk tentangnya.''


''Eehh maaf ya, Ran. Tapi insting ku terkadang meleset kok!'' Lisa segera mungkin menampis apa yang dia katakan sendiri, karena melihat raut wajah Kiran yang kian berubah.


''Bukan Lis, tapi aku sedang memikirkan ibuku. Sari bilang, ibu sedang sakit keras.'' Lisa menepuk pundak Kiran, dia tahu cerita hidup Kiran, karena Kiran sudah bercerita banyak tentang kehidupannya pada Lisa.


''Ya sudah, kau bicarakan saja pada suami mu. Siapa tahu dia mau mengerti, oke?''


Kiran mengangguk samar dan merekapun memasuki kelas setelah mendapatkan tanda tangan kating mereka.


*


*


*


''Ran?!'' panggil seseorang yang baru saja keluar dari toilet.


Kiran dan Lisa yang baru saja akan pergi ke kantin menoleh bersamaan ketika seseorang berteriak memanggilnya.


Lisa dan Kiran saling menatap, karena yang memanggil Kiran adalah Roby, dosen mereka sendiri.


''Ya, sang Roby, apa ada yang bisa kami bantu?'' tanya Lisa mencoba bertanya, walaupun dia tahu yang dia panggil Kiran, bukan dirinya.

__ADS_1


''Tidak, saya hanya ingin bicara pada Kiran. Apa boleh saya bicara hanya berdua saja?'' tanya Roby.


''Tidak! maaf sang Roby. Saya tidak ingin mereka membicarakan kalian lagi, dan pastilah Kiran yang selalu mereka salahkan.'' Jawab kilat Lisa. Roby tidak menyalahkan Lisa karena apa yang dia katakan, memang benar.


''Bicara disini saja, ada apa Tuan?'' tanya Krian dengan wajah yang datar.


''Emmm, saya lupa ingin mengatakan apa. Nanti saja, saya permisi.'' Roby pergi dengan senyuman kecut, dia membenarkan apa yang misa katakan, tapi pembicaraan ini dia hanya ingin bicarakan pada Kiran saja, tidak dengan orang lain.


Lisa dan Kiran hanya saling menatap. Kiran tersenyum dengan mengacak rambut Lisa dengan gemas, karena memang Lisa adalah sahabat yang paling mengerti dirinya.


Duduk di kantin, dengan makanan dimasing-masing nampan, kedua gadis itu makan dengan diselingi obrolan dan candaan. Penghuni kampus yang jarang melihat Kiran tersenyum tentu merasa terkesima, terutama para kaum Adam.


''Lihatlah, Kiran bisa tersenyum manis juga ya?''


''Iya, dulu dia sangat ramah, sampai para betina menggunjing dia sebagai simpanan pria beristri, senyum Kiran pun lenyap, berganti menjadi gadis yang dingin.''


''Tapi gosip itu tidak benar kan? karena aku mendengar dia ternyata sudah memiliki suami semenjak baru datang kesini.''


''Iya benar. Sungguh disayangkan, primadona dikampus ini malah sudah memiliki suami, dan suaminya ternyata yang memiliki saham terbesar di kampus ini.''


''Wah, amazing... Kiran pantas mendapatkannya.''


Obrolan para pria itu ternyata didengar oleh seseorang yang sedang duduk di meja sudut kantin, tangannya menggenggam erat dengan sendok di tangannya. Giginya mengerat kencang. Dia tidak suka dengan obrolan mereka.


''Oh ya, Lis! kemarin bagaimana kencan pertama kalian?''


''Kencan pertama dengan siapa pula, isshh kau ini!''


''Tuan Anas,'' ucap Kiran sembari menyuapkan lembaran mie ke mulutnya.


''Kencan apanya, dia hanya menemani ku membeli laptop baru, ya memang dia sih, yang membelinya.'' Lisa tertawa sendiri setelah mengatakan kalimat nya sendiri karena mengingat momen dimana dia dan Anas di sangka pasangan kekasih sehingga mendapatkan sebuah bingkisan pasangan dengan Anas.


''Lis? kau kesambet?''


''Tidak lah, setan kampus sudah berteman denganku.'' Gurau Lisa dan Kiran pun tertawa dibuatnya.


Tapi itu sebelum seseorang datang menghampiri meja mereka, dengan nampan yang berisikan makanan dan segelas air putih yang dia bawa. Memamerkan senyumnya yang paling manis menurutnya.


''Hai Ran, Lisa. Boleh gabung, tidak?''


''Oh, Sari! tentu boleh, duduklah.'' Kiran menggeser posisinya membiarkan Sari duduk disebelahnya.


''Ck, padahal masih banyak meja yang kosong!'' gumam Lisa pelan, melirik dari ujung matanya dan kembali menyuap makanannya.


...****************...


Mampir juga ke novel teman Nuna yaaa πŸ€— sembari menunggu Nuna up 😘😘 gak kalah serunya lho πŸ™β˜ΊοΈ


Judul : Wanita Pengganti Kekasih Sang CEO

__ADS_1


Author : Syasyi



__ADS_2