
Di cafe kenanga Kiran dan Lisa saat ini sedang bersantai ria. Entah kenapa Kiran sangat merasa bosan hari ini terlebih lagi pagi tadi dia dibuat kesal oleh Robi karena memutuskan sebuah keputusan tentangnya tidak mengikutsertakan dirinya.
sebenarnya risalah yang mengajak Kiran untuk datang ke cafe viral ini. karena dia tahu mood Kiran hari ini sedang tidak baik. menikmati brownies lumer menu yang paling best seller di cafe tersebut.
perlahan mood Kiran membaik karena Lisa yang terus membuat banyolan sehingga Kiran pun terbawa suasana.
''Ran?''
''Apa?''
''Apa usia Tuan Anas dan tuan Agra, sama?''
Kiran memicingkan matanya menatap curiga pada sahabatnya itu. Karena tidak ada angin dan tidak ada hujan tiba-tiba membahas pria yang menjadi asisten suaminya.
''Aku hanya bertanya, Kiran… kenapa kau menatapku seperti itu,'' sungut Lisa yang kesal karena tatapan Kiran padanya.
''Dan aku hanya menggunakan mataku untuk melihat, apa salahnya?'' ucap Kiran membalas kalimat Lisa.
''Tapi seakan-akan matamu seperti mencurigai apa yang aku tanyakan,'' balasnya lagi.
''Kau terlalu berprasaan.''
Wajah Lisa semakin memerah karena dia tahu sahabatnya itu menyadari sesuatu dari apa yang dia tanyakan.
''Te–tentu saja karena aku tahu kamu, jika sudah menatapku seperti itu, pasti-pasti—''
''Pasti apa? ck, usia Tuan Anas dan suamiku berbeda 3 tahun.''
Jawab kiranya akhirnya mengalah karena dia tahu Lisa saat ini sedang tertangkap basah olehnya.
__ADS_1
''Apa Tuan Anas lebih muda dari suami mu?'' tanya Lisa lagi yang semakin membuat Kiran yakin apa yang dia sedang pikirkan.
''Iyah dia lebih muda dari suamiku,'' kata Kiran yang berpura-pura tidak menyadari apapun dan melanjutkan makan brownies lumer itu.
Huuuffttt...
''Syukurlah…''
Lisa dengan cepat menutup mulutnya dan meraih sendok lalu memakan brownies itu tanpa menatap mata pirang yang sudah lebih dulu menatapnya penuh dengan rasa curiga.
''Kau ketahuan, Lalisa Hutapea!''
Mereka pun tertawa yang tentunya tidak akan mengganggu pelanggan lainnya. Karena posisi duduk mereka ada di sudut ruangan dan di sana hanya ada dua tempat yang terisi, tempat yang mereka duduki dan satu meja yang ada di belakang mereka yang baru saja diduduki seorang Wanita.
Lisa menyenderkan tubuhnya di dinding kayu yang hanya sebatas dada untuk batas antara meja pelanggan.
Lisa yang tadinya tertawa tiba-tiba terdiam, karena mendengar seorang wanita yang bicara dengan seseorang, dan suara itu terdengar tidak asing di telinga Lisa.
Lisa masih menyimak dan mengingat suara wanita itu. Kiran belum menyadari kalau Lisa sedang mendengarkan suara seseorang karena masih sibuk dengan makanannya.
''Hai Tante! apakabar? aku sangat merindukan Tante…''
Lisa masih diam menyimak dan matanya hanya tertuju pada ponselnya.
''Tante juga sangat merindukanmu, sayang. Kamu apa kabar?
''Kabarku sangat baik tante. Setelah Agra menikahi gadis itu dia semakin jauh dariku''
Mata Lisa seakan ingin loncat dari tempatnya dia benar-benar terkejut dengan apa yang dia dengar, ya walaupun nama Agra bukan hanya satu orang tapi dia yakin, dia sangat mengenal suara itu yang baru dia sadari kalau pemilik suara itu ada, Olivia.
__ADS_1
''Anak itu memang tidak tahu diri. Mestinya dia setuju untuk menikahimu tapi malah menikah dengan gadis itu, siapa namanya?''
''Kiran, tante. Gadis kampung!''
Lisa sudah sangat yakin kalau itu memang suara Olivia dan terlebih lagi dia menyebut nama Kiran seakan darahnya ikut mendidih ingin sekali berdiri dan memaki Olivia tapi dia memilih untuk diam di tempat menunggu apa yang mereka bicarakan lagi.
Lisa yang tidak menyadari kalau ternyata Kiran pun mendengar itu karena sedari tadi dia hanya terfokus dengan ponselnya yang diletakkan di sandaran sofa, yang langsung menempel dengan pembatas meja.
Matanya mendelik karena saat ini Kiran sudah mengeluarkan air mata. Dia yakin Kiran telah mendengar semua yang Olivia bicarakan pada seseorang yang dipanggilnya, Tante itu.
''Ran…'' panggil Lisa dengan pelan karena tidak ingin Olivia mendengar dan mengetahui adanya mereka di sana.
Kiran menggeleng memberikan tanda kalau dia baik-baik saja walaupun memang hatinya terasa perih. Tapi dia juga sangat ingin mendengar kelanjutan obrolan dua orang wanita itu yang juga Kiran tahu kalau salah satu dari mereka adalah Olivia.
''Sia-sia aku merawatnya dari kecil, ternyata sudah dewasa malah menjadi bodoh! memilih wanita yang tidak tahu bibit bebet bobot-nya, yang bisa saja menghancurkan perusahaan keluarga. Karena pasti dia akan memberikan sebagian harta yang dia miliki untuk istrinya itu!''
Mendengar penuturan wanita yang sepertinya usianya sudah paruh baya, Kiran maupun Lisa sangat-sangat terkejut, wajah mereka seakan syok dengan apa yang mereka dengar. Mata kedua gadis itu hanya saling menatap dalam satu pikiran.
Kiran memang tidak tahu semua anggota keluarga Agra. dia hanya tahu Kakek, Om dan Tante juga Olivia. Bahkan dia belum mengenal kedua orang tua Agra yang berada di luar negeri.
lalu Siapa yang bicara dengan Olivia saat ini? 'sia-sia merawatnya?' kenapa kalimat itu seakan dia adalah orang yang telah merawat Agra dari kecil.
Kiran meraih ponselnya yang ada di meja. Dengan tangan yang gemetar ia menekan nama yang terdaftar di barisan pertama pada kontak lalu segera menghubunginya berulang-ulang karena telponnya tidak kunjung di jawab.
...----------------...
Mampir juga yuk ke novel teman othor 🤗 ceritanya tidak kalah seru loh dengan yang lainny 🤗..
Judul : Dear, Pak Boss
__ADS_1
Author : Ika Oktafiana