Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Botol Kaca mematikan.


__ADS_3

Di Bandara Agra dan Kiran sudah bersiap untuk pergi, dengan di antarkan oleh Lisa dan Anas.


Sepanjang perjalanan, Agra tidak sama sekali bersuara dan Kiran sangat mengerti itu. Kiran mengusap lengan Agra agar suaminya itu bisa tegar.


''Mas… kamu harus tabah ya, hmm?''


Agra tersenyum sedikit tanpa bersuara ataupun menyahuti ucapan Kiran.


''Kiran yakin, Papa sudah lebih tenang disana, beliau sudah tidak merasakan sakit lagi 'kan?''


Kiran menyenderkan kepalanya di lengan Agra, dan Agra mengecup lembut kepala Kiran dengan mesranya.


Perlu diketahui, dia saat ini bukan sedang meratapi kepergian sang ayah, tapi dia sedang memikirkan bagaimana bisa kesehatan ayahnya yang tiba-tiba saja menurun padahal malam tadi orang kepercayaannya mengabari kalau sang ayah sudah bisa bicara dan sehat bahkan dokter disana pun menyetujui kepulangan Hermawan kerumah untuk keesokannya.


Tapi kenapa tiba-tiba dia mendapatkan kabar lagi kalau Papanya malah sudah meninggal dunia.


Delapan jam lima belas menit, akhirnya mereka sampai di kota New York, kota yang dikenal dengan julukan kota yang tidak pernah tidur.


Begitu sampai di sana, sudah ada seseorang yang sudah menunggu mereka, yaitu orang kepercayaannya, Roger yang juga di utus oleh Faris, kakek Agra untuk menjemput pengantin baru itu.


''Silahkan Tuan, Nyonya.'' Roger membukakan pintu mobil untuk Agra dan Kiran yang langsung di angguki oleh Agra.


''Hati-hati, Dek.'' Seperti biasa tangan Agra diletakan di atas kepala Kiran agar tidak terbentur bagian atas pintu mobil.

__ADS_1


Perjalanan di kota itu tidaklah terlalu ramai, masih dalam keadaan hening tapi tiba-tiba Agra memulai pembicaraan yang membuat Kiran menoleh.


''Roger, apa kau yang terus berada di dekat Papa ku?'' tanya Agra dengan nada dingin, persis pertama kali Kiran kenal saat Agra membawanya ke apartemen di hari pertama mereka menikah.


''Benar Tuan, saya terus ada di dekat Taun besar.''


''Apa kau yakin? tidak ada pergi kemanapun? seperti makan ataupun kekamar mandi?'' pertanyaan Agra penuh selidik, dan itu Kiran sadari sendiri.


''Mas?'' panggil Kiran berbisik.


Tapi Agra tidak menyahut, dia hanya melirik sebentar ke arah Kiran dan mengusap punggung tangan Kiran, untuk menunjukan kalau dia tidak kenapa-napa.


''Seingat saya, saya makan sudah di antarkan Jesi pembantu rumah. Dan kalau saat membersihkan diri saya menunggu waktu ketika tuan besar sedang diperiksa oleh dokter.'' Agra menyahut dengan anggukan karena memang jawaban Roger semua masuk di akalnya.


''Ah ya Tuan, tapi ada suatu ketika nyonya Nancy datang dan meminta saya untuk keluar ruangan karena beliau akan membersihkan tubuh tuan besar.'' Agra terdiam, sebuah perasaan curiga menerpanya.


''Iya tuan, karena nyonya Nancy terus mendesak saya keluar, akhirnya saya keluar.''


''Astaga… kenapa kamu ceroboh seperti itu,'' desis Agra.


''Maaf Tuan, tapi saya menaruh sebuah kamera tersembunyi, tapi maaf memang belum saya periksa, karena belum sempat.''


Agra mencondongkan tubuhnya ke depan seraya berkata, ''Berikan kepadaku.''

__ADS_1


''Sebentar Tuan,'' ucap Roger yang langsung mengambil ponselnya dari dashboard mobil dengan tangan kanannya, karena tangan kirinya tengah menyetir.


''Ini Tuan, silahkan periksa sendiri, ada di dokumen file.'' Roger memberikan ponsel pada Agra tanpa ragu, karena memang Roger orang yang mengabdikan dirinya pada Agra yang sudah banyak membantu hidupnya.


Agra mengambil itu dari tangan Roger dan memeriksa beberapa rekaman yang ternyata semua ada rekaman di saat Roger akan meninggalkan Hermawan walaupun disana ada seorang dokter yang sedang memeriksa keadaan Hermawan, lengkap tanggal dan jamnya waktu perekaman itu terjadi.


Dan ketika ibu jari Agra menyentuh sebuah dokumen Vidio yang ada di baris terakhir, disana terdapat Nancy yang sedang duduk di kursi dekat ranjang Hermawan. Dan yang seperti Roger katakan kalau Nancy mengusirnya keluar dengan alasan akan membersihkan tubuh Hermawan, memang benar karena disana terdapat sebuah wadah kaca dengan handuk didalamnya, tapi ada yang aneh.


Ya, karena Nancy tidak sama sekali menyentuh wadah berisikan air hangat itu, dia justru meletakkan wadah itu kebawah ranjang dan setelah itu merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil yang seperti sebuah botol kaca sebesar jari kelingking.


''Apa itu?'' gumam Agra dengan pelan.


Kiran mendekatkan wajahnya ke layar ponsel milik Roger, matanya memicing seperti tidak asing dengan botol itu.


''Mas botol itu seperti botol yang aku temui di samping jenazah Reza.''


Agra menoleh dengan cepat, matanya terbelalak, ya! dia baru ingat kalau botol itu yang dia berikan pada Reza untuk memastikan kalau memang didalamnya bukan racun, seperti apa yang Reza berikan pada Hermawan waktu itu, tapi Reza malah meminum itu dengan membuat Agra yakin dan berkahir dia tewas karena ulahnya sendiri.


''Mas Hermawan, kau tau ini apa? ini adalah penyebab kau seperti ini, dan ini juga yang membuat anakku tewas! kau tau? siapa yang membuat dia tewas, Agra! Agra anakmu!''


Agra terbelalak lebar, jantungnya bergemuruh kencang, rasa amarah tidak lagi bisa terbendung, matanya memerah, karena ternyata benar dugaannya, Reza adalah anak dari Nancy, yang dia tahu kalau Reza dia temui di panti lalu di angkat menjadi anaknya, dan menjadi adik dari Agra.


Matanya menatap tajam pada layar ponsel, karena disana ia dapat melihat Nancy mengambil jarum suntikan dari dalam tasnya lalu mengambil cairan itu kemudian disuntikan ke tabung infusan.

__ADS_1


Dan lebih gilanya lagi, Agra dapat melihat jelas, ketika Nancy selesai menusukan jarum itu ke tabung yang berisikan cairan infus, Nancy seakan tidak ada rasa bersalah sedikitpun, dia malah tertawa seperti tanpa beban dan dosa.


''Brengsek!''


__ADS_2