Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Sangat Membenci Penghianat


__ADS_3

Nancy berteriak dengan histeris, dadanya terasa sesak dan darah itu bukan hanya keluar dari hidung melainkan dari telinga juga. Nancy semakin dibuat ketautan yang beberapa saat kemudian Nancy sudah tidak lagi sadarkan diri.


Buih berwarna gelap seketika keluar dari mulut Nancy dengan disusul tubuhnya yang kejang-kejang. Semua yang melihat itu menjerit histeris, dan Faris selaku kepala keluarga disana juga tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah mengenal sifat dan karakter dari cucunya. Sisi lain dari Agra memang sedikit menakutkan tapi yang dia tahu, jika Agra sudah mengeluarkan sisi lain darinya itu, berarti memang kesalahan orang itu tidak dapat di ampuni.


Melihat keadaan Nancy yang menghawatirkan, hati Agra tidak sama sekali tergerak ingin membantu ataupun merasa iba, justru Agra menyeringai dengan ekspresi yang menyeramkan. Dan ini juga alasan Agra memaksa Kiran untuk segera beristirahat agar istrinya tidak melihat kekejaman yang dia buat.


Agra berjongkok di hadapan Nancy yang tengah sekarat, yang bahkan jika saja ada seseorang yang berniat menolongnya untuk membawanya kerumah sakit, mungkin saja nyawa Nancy bisa terselamatkan, tapi  itu tidaklah mungkin Agra biarkan. Karena ini yang dia inginkan.


"Mama Nancy. Ck, kau bahkan tidak pantas mendapatkan gelar mulia itu. Kau tau, ini yang papa alami saat kau memberikan racun sialan itu. Menderitalah kamu di neraka sana!" Agra bangkit dari berjongkoknya.


Mata Nancy menatap Agra dengan tatapan memohon untuk membantunya, tapi pria yang ayahnya telah ia lenyapkan itu tidak mempedulikannya, air mata mengalir dari sudut matanya yang tegas, tangannya terulur ingin meraih Agra tapi Agra malah mengaluarkan Smirknya.


Hanya menunggu beberapa menit saja, Nancy pun tewas dengan mata yang terbuka.


Agra menggedikan kepala pada Roger ke arah Nancy, dan orang kepercayaannya iatau mengangguk lalu menghampiri Nancy untuk mengecek denyut nadinya yang memang sudah tidak terasa.


"Dia sudah tewas,Tuan."


"Bagus! segera bereskan dia, aku sudah muak melihatnya."


Agra berbalik untuk kembali kekamarnya, tapi langkahnya berhenti sebentar menatap sang kakek yang terlihat syok begitu juga dengan yang lainnya, termaksud Hendrawan.


"Ku harap Kakek tidak membenciku. Aku melaukan itu karena aku sangat membenci seorang penghianat!" ucap Agra dengan pelan namun bernada sindiran di akhir kalimatnya yang matanya menatap tajam ke arah Hendrawan. Dan Hendrawan yang di tatap seperti seetika merasa gugup.


Ya pria yang sebagai paman Agra itu, tidak menyangka kalau keponakannya mempunyai sisi lain yang sangat menyerkaman, tenggorokannya serasa kering dengan tiba-tiba. Matanya meliri ke arah anak semata wayangnya itu, Olivia. Yang juga terlihat shok dengan apa yang dilihatnya.


"O-Olivia, kau bilang ingin membuatkan teh untuk semua orang 'kan? ayo Papa bantu." Hendrawan pun segera bangkit dari duduknya lalu menarik tangan Olivia untuk segera pergi dari sana.


Berjalan dengan memutar karena menghindari Agra yang bahkan masih menatapnya tajam.


Sesampainya di dapur, Olivia langsung melepaskan tangannya dari cekalan tangan sang papa.

__ADS_1


"Papa ini kenapa? sejak kapan aku mengatakan kalau ingin membuatkan teh, lagipula mana bisa aku buat teh atau sejenisnya itu," protes Olivia.


"Sudah kau diam saja, jangan cerewet! sebaiknya kita harus menghindari Agra untuk sementara waktu."


"Kenapa Pah?" tanya Olivia yang belum mengerti.


"Ya seharusnya memang seperti itu dulu. Kita tidak bisa menganggap Agra itu remeh, kalau tidak mau bernasib sama seperti berakhirnya Nancy."


"Tapi 'kan Agra mengatakan membenci penghianat, aku bukan penghianat, Pah. Aku mencintainya dan ingin hidup dengannya."


"Bodoh! itu sama saja, Agra tidak suka hidupnya di usik. Kita harus lebih hati-hati sekarang."


"Apa rencana kita untu memisahkan mereka tidak jadi? aku sangat mencintai Agra, Pah..." rengek Olivia.


"Bukan tidak jadi, hanya saja kita perlu menundanya."


"Baiklah."


Agra kembali kekamarnya, matanya menatap lembut pada istrinya yang masih tertidur pulas di bawah selimut sana, cara menatapnya sangat berbeda saat di bawah sana pada Nancy, yang bahkan seperti dua orang yang berbeda berada dalam tubuh yang sama.


Agra melangkah kearah kamar mandi, dia berniat untuk membersihkan tangannya dari sisah jejak dosa yang sudah melenyapkan satu nyawa seorang penghianat.


Setelah memastikan tangannya bersih, Agra segera ikut naik ke ranjang untuk bergabung dengan istrinya yang sudah lebih dulu hanyut dalam mimpi indahnya. Merebahkan dirinya dan memeluk Kiran dari belakang, dan di dalam alam bawah sadarnya pun Kiran terseyum setelah tangan Agra melingar di perutnya lalu berbalik untuk membalas pelukan sang suami. Merekapun tertidur di bawah selimut yang sama dengan saling memeluk.


Malam pun hampir datang. Kiran sudah lebih dulu bangun yang masih betah memainkan bulu mata Agra, suaminya, yang entah sejak kapan tidur bersama sambil memeluknya.


Setelah puas memainan bulu mata lentik milik Agra, Kiran berniat ingin melepasan tangan Agra dan turun dari ranjang untuk membersihan diri, tapi ternyata itu hanyalah niatan, karena Agra malah menahannya.


“Mau kemana kamu?” tanya Agra masih dengan mata yang terpejam.


“Lho? Mas sudah bangun?”

__ADS_1


“Kau mau kemana, hmm?” tanya ulang Agra.


“Ingin mandi, Mas bilang aku harus membantu tante Lili ‘kan?”


“Tidak perlu, mungkin saja sudah selesai, kita hanya perlu menghadirinya saja saat di acara malam nanti.”


“Apa aku terlambat bangun ya, Mas? Jadi tida enak... ,” lirih Kiran sembari tangannya yang memainkan kancing baju Agra.


Agra menurunan pandangannya. Merasa gemas dengan istri kecilnya itu.


“Apa kamu sedang memancing Mas, hmm?” tangan Agra meraih dagu bulat Kiran yang membuat Kiran mendongak keatas.


Beberapa saat lalu mereka masih saling menatap. Tapi entah seja kapan kini bibir keduanya sudah saling memagut satu sama lain.


Tapi sebelum Agra hanyut dan akan berbuat lebih, Kiran segera melepasan diri dari Agra. Karena jika itu terjadi dia akan merasa jadi menantu yang tidak tahu diri pasalnya di hari pertamanya kematian ayah mertuanya dia malah bersenang-senang di atas ranjang, dan itu tidak akan Kiran biarkan, walaupun Agra memaksanya.


Kiran berdiri di samping ranjang dengan di tatap kesal oleh Agra yang seperti sedang di campakan oleh istrinya.


“Mas sebaiknya kita segera bersiap untu turun, karena aan terlihat tidak enak jika kita malah asik di dalam kamar,” ujar Kiran.


Agra menghela nafasnya keudara, karena apa yang Kiran katakan benar adanya. Diapun mengangguk dan turun dari ranjang.


“Kalau begitu kamu mandi duluan ya, Mas ke bawah dulu, takut kakek memerlukan bantuan ku.” Kiran mengangguk dan Agra pun berlalu setelah mengecup singat keningnya.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Mampir yuk ke novel teman Nuna, ga kalah serunya lhooo...


JUDULNYA     ;    BELLA'S SCRIPT


NAPENNYA    ;    Naya_handa

__ADS_1



__ADS_2