Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
PERINGATAN yang di ABAIKAN


__ADS_3

Diperjalanan, Kiran dan Agra saling bersenda gurau, dari bermain suten, tebak-tebakan sampai harus bercerita masa kecil yang memalukan.


Kiran mentertawakan cerita Agra, yang menurutnya bukanlah memalukan tapi menggemaskan. Pasalnya saat ini Agra sedang menceritakan masa kecilnya disaat ia mengompol di sekolah karena tidak bisa menjawab pertanyaan guru nya.


Perjalanan masih terbilang jauh, sekitar setengah jam lagi untuk sampai ke Bandar Udara Internasional Washington Dulles. Tapi bukannya Agra meminta Roger agar mempercepat laju kendaraannya ia justru meminta Roger berhenti di sebuah wisata kuliner yang saat itu sedang ramai.


''Tapi Mas, bukankah jadwal penerbangan kita empat puluh menit lagi?''


''Tidak, ini, Mas baru saja dikabarkan kalau ternyata terjadi manajemen airline. Dari pada kita harus menunggu disana, lebih baik kita mencicipi makanan disini, benar 'kan, Roger?''


''Benar, Tuan,'' sahut Roger.


Agra pun turun dari mobil, lalu memutar untuk membukakan pintu Kiran. Menarik pelan tangan Kiran untuk keluar dari sana walaupun sebenarnya Kiran pun enggan, karena dia sendiri masih merasa kenyang.


Tapi dengan bujuk rayu Agra akhirnya Kiran pun menyetujuinya, yang dia sendiri merasa heran karena baru kali ini nafsu makan Agra tiba-tiba bertambah, Agra terus memesan makanan walaupun makanan yang sebelumnya dipesan belum juga datang.


''Mas sudah, kok banyak sekali memesannya, memangnya pasti habis?'' tanya Kiran yang merasa aneh dengan pesanan Agra.


''Tenang saja, 'kan ada Roger yang membantu kita untuk menghabiskan makanan ini, benar 'kan Roger!''


''Benar Tuan.'' Ya hanya itu yang dapat Roger jawab.


Kiran mendengus malas, karena melihat banyaknya makanan yang dipesan Agra, yang pastinya juga membutuhkan waktu lama untuk menunggu semua makanan itu tersedia.


Agra terkekeh pelan melihat raut wajah Kiran yang sudah masam. Ia mengangkat pergelangan tangannya melihat jarum jam yang melingkar indah pada tangan kekarnya.


''Sayang aku mau menelpon Anas dulu ya. Kau tunggu di sini.''


''Aku sendirian?''


''Tidak, ada Roger yang akan menemani, hanya sebentar. Hmm?''


''Baiklah, tapi jangan lama-lama ya.''


Agra mengangguk, dan berdiri dari duduknya mengusap lembut kepala Kiran lalu pergi keluar restoran.


Suasana canggung itu terjadi karena memang Roger bukan tipe orang yang bisa diajak bicara seperti Anas. Roger adalah pria yang benar-benar kaku dan bahkan tidak pernah sekalipun Kiran melihat pria itu memperlihatkan giginya di saat bicara. Dia hanya berbicara jika diajak bicara, selebihnya dia akan menutup mulutnya rapat-rapat.


Roger duduk dengan tatapan lurus ke depan, Kiran yang satu meja dengan Roger merasa aneh karena pria itu seperti patung yang bernyawa. Ingin sekali ia berbincang namun dia juga takut tidak dijawabnya.


''Tuan Roger?'' Kirain pun bertekad membuka pembicaraan


Roger menoleh dengan raut yang begitu datar. ''Iya Nyonya?''


''Sudah berapa lama Anda bekerja dengan suami saya?'' Kiran mencoba mencairkan suasana, walaupun dia sendiri memilih pertanyaan yang random.


'Sudah sekitar, 6 tahun 3 bulan 14 hari.''


Kiran terperangah mendengarnya, karena Roger yang menjawab dengan sedetail itu yang bahkan ia mengingat bulan dan harinya, selama bekerja bersama Agra.


''Wow! lama juga ya.'' Roger hanya mengangguk.


Kiran kembali terdiam, memikirkan pertanyaan selanjutnya.


''Emmm… Tuan Roger apa sudah berkeluarga?''


''Maaf Nyonya saya tidak ada kuasa untuk menjawab soal pribadi.''


Kiran tersenyum kikuk dengan tangannya menggaruk kepala yang tidak gatal. Niat hati ingin mencairkan suasana justru dia yang merasa malu.


''Maaf tuan Roger, jika pertanyaan saya menyinggung hal pribadi Anda.''

__ADS_1


''Nyonya tidak pernah salah. Jangan pernah meminta maaf pada saya.''


'Aneh.' batin Kiran.


*


Di lain tempat di waktu yang sama, tepatnya di sebuah bangunan kecil yang terlihat angker, namun dalam bangunan itu tidak seperti yang terlihat dari luar. Di sana sudah ada beberapa orang yang berdiri mengelilingi seorang pria yang wajahnya sudah babak belur dan bahkan dia sudah tidak bisa lagi berdiri karena satu kakinya yang sudah patah.


Tak Tak Tak


Suara sepatu terdengar nyaring memasuki rumah kecil itu, dan kedatangan orang itu membuat beberapa pria di sana menunduk hormat.


''Selamat datang Tuan!'' seru semua orang yang berada disana.


''Hmm, dia?''


''Dia pria itu Tuan,'' jawab salasatu dari mereka.


''Lalu?''


''Yang memerintahnya sedang dalam perjalanan.''


Orang itu pun mengangguk dan duduk di satu kursi yang bahkan sangat mirip singgasana. Tangannya memainkan ponselnya, mengirimkan sebuah pesan pada seseorang.


Beberapa menit kemudian, suara deru langkah beberapa orang dan teriakan seorang wanita sangat nyaring memenuhi ruangan tanpa barang itu, yang pastinya menggema ke seluruh sudut tempat.


''Lepaskan aku! Apa maksud kalian! hah!''


Orang yang duduk itu mengangkat kepalanya, memperhatikan wanita yang saat ini sedang di ikat. Keadaannya juga penuh dengan luka, yang terlihat dari manapun kalau luka itu bukanlah luka pukulan dari sebuah penyiksaan, tapi sebuah kecelakaan.


''Aku membutuhkan perawatan medis, bukan malah dibawa kesini, you are so stupid!''


Tanpa rasa belas kasih, salah satu pria yang mengikatnya mendorong wanita itu sekuat tenaga, hingga dia pun tersungkur tepat di dekat pria yang keadaannya sudah babak belur dengan kaki kanannya yang patah.


''Aaakkkkhhhhhh!! siapa dia! Apa yang kalian lakukan padanya!''


''Apa kau yakin tidak mengenal dia?''


Suara barinton terdengar sangat nyata di telinga wanita itu yang seketika iya mencari asal suara, yang baginya tidaklah asing telinganya.


Matanya terbelalak, bibirnya ternganga.


''A-Agra?''


Ya pria yang duduk di singgasana itu adalah Agra Madafa Nadindra, yang saat ini sedang menyeringai ke arahnya. ''Aku tanya sekali lagi benar kau tidak mengenal dia?!''


Agra bangkit dari duduknya, menghampiri wanita itu yang tak lain adalah Olivia, adik sepupunya sendiri.


Olivia merasa bingung, yang kemudian menoleh ke arah pria yang duduk dan tidak berdaya itu, tangannya terulur gemetar mengangkat kepala pria itu dengan sedikit mennjambak rambutnya, dan betapa terkejutnya dia sehingga dia pun mundur beberapa senti dari tempatnya.


''D–dia?''


''Iya benar! dia adalah pria yang kau perintahkan untuk memutus tali rem mobilku. Yang pastinya bertujuan untuk mencelakai aku juga Kiran. benar begitu?''


''T–tidak A–Agra. I–itu salah paham. Ya salah paham!''


''Apa kau akan tetap tidak mengakui nya, Olivia?''


Agra berjalan semakin mendekat pada Olivia, matanya melirik ke arah anak buahnya yang menghampirinya dengan membawakan sebuah cambuk hitam dan langsung ia ambil dari tangan orang kepercayaannya itu.


Mata Olivia semakin dibuat terbuka, keringat dingin sudah bercucuran mengenai luka yang ada di wajahnya. ''A–apa yang ingin kau lakukan, Agra.'' Olivia memundurkan posisinya dengan kepala yang terus menggeleng meminta agar Agra tidak melakukan apa yang ingin dilakukannya.

__ADS_1


''A–agra, aku ini adik sepupu mu, ku mohon, jangan–''


Cetttasssssssss!!


Agra mengayunkan cambuknya yang menghasilkan suara nyaring itu. Olivia semakin di buat takut, terlebih lagi raut wajah Agra tidak sama sekali enak dilihat. Dan dia ingat, raut itu sama persis kala Agra sedang melenyapkan Nancy.


Cetttasssssssss!!


Aaakkhhh……!!


Kali ini Agra bukan hanya mengayunkannya, tapi ia layangkan pada tubuh tinggi Olivia yang membuatnya teriak kesakitan.


''Agra, kumohon..., sakit, Gra…''


''Sakit? benarkah?''


Cetttasssssssss!! Cetttasssssssss!! Cetttasssssssss!!


Agra terus mencambuki tubuh Olivia tanpa ampun. Sehingga gadis blasteran itu tidak bisa lagi berkata apa-apa. Ia hanya bisa menangis memohon ampunan dari Agra.


Agra berjongkok dengan wajah menyeramkan, tangannya menjambak kuat rambut Olivia sehingga membuat nya mendongak dengan lelehan air mata.


''Aku sudah memperingati kalian, bukan? Siapapun yang mengusik hidup ku dan istriku, akan bernasib sial seperti Nancy.''


Olivia menggelengkan kepalanya, masih memohon ampunan dari Agra, tapi Agra tetaplah Agra, yang tidak akan bisa mengampuni siapapun yang sudah berniat mencelakakan orang yang berarti bagi hidupnya.


Agra terus menyiksa Olivia dengan membabi buta. Luka sayatan dan robekan seperti lukisan di tubuh putih Olivia, yang bahkan gadis 22 tahun itu sudah meringkuk disana dengan sisah nafasnya.


Merasa puas, Agra pun membuang cambuk itu kesembarangan arah. Mengibaskan tangannya yang sama sekali tidak kotor karena selama penyiksaan itu terjadi, ia menggunakan sarung tangan hitam, dan Agra kembali berjongkok mendekati Olivia.


''Tenang saja, semua keluarga akan mengira kalau kau hilang di jurang sana karena sebuah kecelakaan. Dan ku pastikan, ha ya tiga hari mereka bersedih karena kehilanganmu.''


Agra kembali berdiri dan berbalik. ''Bereskan dia, istriku sudah menunggu ku.''


Agra berlalu pergi meninggalkan Olivia yang sepertinya sudah sekarat dan hanya menunggu ajal menjemput nya.


''Baik Tuan!''


.


Di restoran, Kiran yang menunggu Agra, sedikit merasa kesal. Matanya terus mencari-cari keberadaan suaminya.


''Dia dimana sih! teleponnya juga tidak aktif.''


''Tuan Roger, tau kemana perginya suamiku?''


''Ya Nyonya, tadi tuan mengirimkan pesan, mengatakan kalau Nyonya bertanya soal tuan, saya harus menjawabnya kalau dia sedang berbincang dengan rekan bisnisnya yang bertemu diluar.''


''Hah? kenapa baru bilang?''


''Karena Anda baru bertanya.''


TBC


...----------------...


**Oh ya, mampir juga ke novel teman Nuna yaaa 🤗 sembari menunggu Babang Agra update, enggak kalah serunya lho 😘


JUDUL : HASRAT Tetangga Kamar.


AUTHOR NYA : AdindaRa

__ADS_1


Kunjungi yaaa... Dijamin seru🤗**



__ADS_2