
Suasana di ruangan tempat Kiran di rawat berubah canggung, tapi Faris yang sangat pandai mencairkan suasana akhirnya keadaan pun hidup kembali.
''Kiran, kenapa wajahmu tetap terlihat cantik, meski terbalut perban seperti itu?''
''Kakek, bisa saja,'' sahut Kiran dengan malu-malu, yang membuat Olivia menatap sinis kearahnya.
''Ruangan ini apa AC-nya tidak berfungsi!'' celetuk Olivia.
''Ac disini berfungsi dengan baik, hanya saja kau yang baru keluar dari neraka!'' sahut Agra tanpa tedeng aling-aling.
Olivia mendengus kesal mendengarnya, dan yang lain hanya diam mendengarkan.
Hendrawan yang sama merasakan kejengkelan pun turut menatap sinis pada Kiran, mengambil posisi duduk di sofa dengan kaki yang di lipat.
Kiran sangat menyadari kalau ada tiga pasang mata yang saat ini menatapnya tidak suka. Ya mereka adalah anak dan ayah juga ibu Agra sendiri.
Tapi Kiran tidak sama sekali tergantung, karena baginya, Agra dan kakek Daria sudah memihaknya itu sudah lebih dari cukup.
''Oh ya nak'. Kau tidak ingin memperkenalkan istri mu pada Mama?''
Agra mengangkat alisnya satu, merasa muak dengan sikap Nancy yang sok baik.
''Benarkah Mama tidak mengenalnya?'' tanya balik Agra.
''Lho! tentu saja belum, memangnya kau pernah mengenalnya pada Mama?''
Agra melirik ke arah Olivia yang juga sedang menatapnya.
''Pasti Olivia juga sudah menceritakannya kan?''
Nancy dan Olivia terkesip mendengarnya, dengan nada Agra yang seakan mencurigai mereka membuat kedua wanita berbeda generasi itu salah tingkah. Terutama Nancy.
__ADS_1
Faris yang tidak mengerti apa yang di maksud cucu laki-laki nya itu hanya diam menyimak, karena dia sangat mengenal sifat semua cucu-cucunya. Agra yang tidak akan salah menuduh kalau tidak memiliki sesuatu yang sudah ia pegang.
''Kamu ini bicara apa?''
''Papa drop, apa Mama tau?''
Ucapan Agra membuat semua orang terkejut, terlebih lagi Faris.
''Nak, benarkah?'' tanya Faris dengan panik.
''Iya Kek, kondisi Papa tiba-tiba menurun, Kakek bisa tanyakan itu pada Mama.''
Agra sedikit menggedikan dagunya pada Nancy, dan Faris pun menatapnya dengan tatapan banyaknya pertanyaan yang menuntut jawaban.
''Maaf Yah, Nancy tidak tahu,'' jawab Nancy dengan ragu.
''Bagaimana tidak tahu. Kondisi suami mu memburuk kau malah kesini dengan alasan ingin bertemu menantu! Bukankah sudah ku beritahu kalau mereka yang akan datang ke sana!''
Semua orang membubarkan diri, karena dokter yang mengatakan kalau Kiran akan melakukan pemeriksaan menyeluruh karena di takutkan ada luka lain di dalam tengkorak kepalanya, karena luka di kepala Kiran cukup parah, dan rumah sakit tidak ingin mengambil resiko untuk menganggap remeh.
''Kakek pamit, jaga istrimu, bila perlu berikan pengawalan mulai sekarang, kakek tidak ingin mendengar kabar buruk lagi, mengerti!''
''Mengerti, Kek.''
''Bagus! Sampaikan padanya salam Kakek, dan setelah sembuh nanti, asisten kakek akan menemui kalian.''
Faris pun berlalu pergi dengan di bantu Liliyana yang juga berpamitan pada Agra.
.
Seperginya mereka, Agra yang ingin masuk kembali ke kamar Kiran, tiba-tiba mendapatkan panggilan telpon.
__ADS_1
''Ya, Anas?''
''Sial! lalu apa kau sudah menemukan pelaku penabrakan itu?''
''Ck, aku tunggu kabar selanjutnya darimu! bila perlu hubungi Elvano, aku mau, dia ikut mencari tahu''
Agra menutup sambungan dengan wajah yang menahan amarahnya, sungguh dia sangat ingin mencekik seseorang saat ini, karena mengingat bagaimana terpentalnya Kiran yang dia saksikan sendiri oleh matanya. Dadanya terasa sebah, bahkan jantungnya pun seakan bergemuruh ingin meluapkannya.
Agra masuk ke kamar Kiran tanpa tahu ada seorang pria yang duduk di kursi tunggu, yang jaraknya tidak terlalu jauh darinya, dia mendengar semua apa yang dikatakan Agra pada si penelpon.
Tangannya merremas kuat, keringat bercucuran di sekujur tubuhnya bahkan bibirnya terlihat memucat.
Saat ini dia sangat merasa bersalah, tapi apalah daya dia takut mengakuinya, dia takut amarah Agra akan meledak Jika dia tiba-tiba datang dan mengakui kesalahannya.
Dia masih ingin hidup karena dari cover, siapa pun tahu kalau Agra adalah sosok yang dingin dan sedikit kejam terlebih lagi dengan para musuhnya. Ditambah Agra menyebut satu nama yang dia sangat kenal yaitu ketua mafia yang berasal dari negara Italia yang terkenal kejam dan tak berperasaan.
Ya pria itu adalah si pelaku yang menabrak Kiran dengan sengaja, atas suruhan seseorang. Yang dia sendiri sangat menyesali perbuatannya, tapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Seharusnya dia berani bertanggung jawab tapi ketakutannya masih menghantuinya.
*
Di tempat lain, Anas yang sedang berada di suatu tempat yang dimana, disana terdapat banyaknya mobil-mobil yang sedang di hancurkan.
Anas mengendus kesal, dia marah pada dirinya sendiri karena telat dua langkah dari si pelaku yang ternyata sudah lebih dulu menghancurkan bukti, yaitu mobil yang digunakan untuk menabrak Kiran, yang saat ini dia lihat sudah dihancurkan menjadi lempengan yang tak berguna.
Dari bekal rekaman CCTV dia dapat melihat jelas nomor seri mobil dan jenis mobilnya, yang setelah mencari tahu ternyata orang suruhannya melihat mobil yang sama melintas kencang ke area pabrik dan kehilangan jejak setelah dua kali tikungan.
Dan di sinilah dia berada, di sebuah tempat penghancur barang-barang bekas, yang ternyata pemilik mobil itu sudah memikirkan cara untuk menghilangkan barang bukti yang seharusnya bisa ia gunakan untuk senjata.
''Tidak! aku tidak menyerah. Karena bagiku permainan ini baru akan dimulai setelah Tuanku berkata, Bravo!''
Telat Anas dengan semangat. Akhirnya dia meninggalkan kawasan itu dan mencoba mencari tahu dengan cara lainnya.
__ADS_1