Gadis Kesayangan Tuan Agra

Gadis Kesayangan Tuan Agra
Kiran Sakit


__ADS_3

Agra kira selepasnya Kiran haid, dia bisa langsung menyerangnya, tapi tidak!


Saat ini Kiran tengah sakit, mungkin saja karena faktor cuaca yang tidak menentu, yang sebentar-sebentar berubah, panas yang sangat menyengat dan tiba-tiba turun hujan dengan sangat derasnya.


Sebuah jarum infus kini tertancap di punggung tangan Kiran. Dikamar, ya Kiran menolak saat Agra memaksanya untuk dirawat dirumah sakit, karena baginya sakit seperti ini dia sudah terbiasa, dengan menyebutnya hanya 'Masuk angin'.


''Apa kau yakin, sayang? tidak ingin dirawat dirumah sakit saja?'' rayu Agra lagi karena dia mengkhawatirkan kondisi istrinya itu.


Kiran menggeleng samar, dengan wajah yang tersenyum maksa, Kiran berkata 'tidak' lagi sebagai langganan jawabannya.


''Mas, sudah jam sembilan. Bukankah kamu bilang akan ada pertemuan penting?''


Agra melihat jarum jam pada arlojinya, ya benar, menang jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan, tapi rasanya ia tidak tega meninggalkan Kiran dirumah.


''Biar Anas saja yang menghandle,'' sahut pelan Agra.


''Tidak Mas, kasihan dia. Jangan selalu melimpahkan pada orang lain, jika Mas masih bisa mengerjakannya sendiri. Anas pasti memiliki tugasnya sendiri kan?'' Agra mengangguk samar, menghembuskan nafasnya dengan berat.


''Tapi kamu—''


''Ada kak Mala yang menemani ku. Jangan khawatirkan aku, Mas. Jika aku membutuhkan sesuatu, aku bisa meminta Kak Mala langsung untuk membuatkannya,'' ucap Kiran dengan jelas.


Agra menoleh ke arah Mala yang sekarang sudah mengangguk dengan pasti, meyakinkan Tuan nya itu agar tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi istrinya, karena dia akan menjaganya sebisa mungkin.


''Baiklah,'' ucap Agra dengan pasrah.


Agra berpamitan dan sebelum pergi ia menyempatkan untuk mengecup kening Kiran dengan sayang. Kiran meresapi sikap hangat Agra.


''Ya sudah, Mas berangkat ya? ingat! istirahatlah, jangan banyak bergerak dulu, lihat saja belum apa-apa darahnya sudah naik.'' Agra menunjuk jarum infus yang terdapat darah disana.


''Iya tadi aku lupa menggaruk lenganku, sudah sana berangkat.''

__ADS_1


Agra berlalu pergi dengan hati yang tidak nyaman, karena wanita kesayangan nya saat ini sedang tidak sehat.


Pertemuan itu terjadi pada sebuah restoran hotel bintang lima. Obrolan formal yang seharusnya Agra menyimaknya tapi malah terasa sangat membosankan, karena angannya pun terus tertuju pada Kiran, istrinya.


Dia tahu, ada Mala disana, tapi kalau bukan dia sendiri yang memastikan keadaan-nya, rasanya belum puas.


Anas berulang kali melirik ke arah Agra yang terlihat murung dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Dengan berbisik, Anas pun mengatakan, ''Tuan, tuan Gabriel sedang memperhatikan Anda!''


Mendengar itu, Agra malah bersikap masa bodo. Berulang kali ia menghembuskan nafasnya dengan kasar sehingga dapat terdengar oleh para kliennya yang duduk di sana mengelilingi meja bundar dengan segala macam makanan.


''Tuan Agra? apa jamuan ini bukan selera Anda?'' tanya pria yang bernama Gabriel.


''Oh bukan seperti itu, maaf.'' Agra tersenyum dan meraih air putih lalu menenggaknya dengan segera, hatinya benar-benar tidak tenang, karena memikirkan istri ya yang tengah sakit.


Mala juga tidak ada memberikan kabar apapun, sudah jelas-jelas dia meminta di berikan kabar satu jam sekali tentang kondisi Kiran, tapi ini, sudah tiga jam, satu pesan pun tidak ada yang dia terima.


Pertemuan pun usai, tapi bukannya ia langsung pulang, Anas justru membawa dia ke pertemuan selanjutnya. Ya, memang ini juga dia sendiri yang meminta Anas menjadwalkan nya, tapi kenapa mesti hari ini dikala hatinya tidak tenang dan terus risau.


Tidak terasa malam pun tiba, empat pertemuan penting bersama klien Agra libas semuanya, dia sungguh dibuat sibuk oleh urusannya. Tapi begitulah konsekuensi sebagai pemimpin perusahaan, yang harus mengedepankan kepentingan perusahaan ketimbang pribadi. Tapi juga tidak dapat di pungkiri kalau dia benar-benar merasa menjadi suami yang tidak bertanggung jawab.


"Maafkan saya Tuan, tapi jadwal ini memang sudah saya berikan jauh-jauh hari pada Anda,'' ucap Anas yang juga merasa bersalah karena dia pun tahu kalau istri dari bos nya itu sedang sakit dirumah.


''Iya, saya tahu. Tidak apa, mengemudi yang benar!'' sahut Agra yang terlihat gusar.


Sunyi senyap malam membawa lelah dipenghujung hari, Kiran benar-benar merasa tertidur seharian dan tak pergi kemanapun malah akan membuatnya semakin sakit, tapi dia tak tahu harus kemana dan tak ingin meminta banyak hal pada Agra untuk membiarkannya pergi ke suatu tempat. Pria itu tidak akan setuju mengingat dirinya sedang sakit saat ini.


Kiran membiarkan dirinya tenggelam bersama alam mimpi. Lantai marmer dari istana pondok pelita itu menjadi saksi bisu akan sosok yang sedang berjalan dengan cemas dan langsung menuju pintu kamarnya.


Agra tersenyum mendapati Kiran yang terlelap dengan sangat nyenyak. Dia bahkan berusaha tak menimbulkan suara saat menutup pintu dan melangkah dengan sangat hati-hati. Agra tersenyum lega saat melepas sepatu dan jasnya, tapi Kiran benar-benar tak terganggu.


Kiran terlelap dalam tidurnya yang nyenyak, bahkan tak menyadari ranjang yang bergerak karena Agra menaikinya. Perlahan Agra merengkuh tubuhnya dengan begitu hangat. Tubuh tinggi besar itu menjaganya dalam rengkuhan yang begitu posesif, berharap Kiran tetap terlelap. Berharap tidak mengganggu tidur istrinya.

__ADS_1


Pagi pun mendatang. Kiran yang merasa tubuhnya sudah lebih baik, akhirnya terbangun dari kasurnya, tapi saat ia akan beranjak, dia merasa ada sesuatu yang menahan pinggangnya.


Ya dia adalah Agra, Agra yang masih tertidur lelap dengan memeluknya, dengan perlahan tanpa ingin membangunkan Agra, Kiran memindahkan tangan besar Agra agar ia bisa bergerak namun bukannya terlepas, justru Agra semakin merapatkan dekapannya itu dan bergumam dalam tidurnya.


'Hhmmmpppp'


Kiran berdecak samar, karena dia sudah tidak tahan untuk membuang air kecil. Kiran pun mencoba lagi untuk melepaskan tangan Agra tapi lagi dan lagi, Agra malah mengeratkan tangannya.


''Mas… aku sudah tidak tahan…'' lirih Kiran dengan mengigit bibirnya.


''Hmmmppp? tidak tahan apa sayang?'' tanya Agra yang akhirnya terbangun.


''Ingin buang air kecil…''


Seketika Agra pun terduduk, dan melepaskan tangannya dari kerut Kiran, tapi baru saja Kiran akan berlari kekamar mandi, Agra malah bertanya lagi.


''Sayang, jarum infus mu, kemana?''


''Sudah dilepas kemarin sore!!'' teriak Kiran yang sudah masuk kekamar mandi, karena sudah tidak bisa lagi menahan hajatnya yang terus mendesak ingin keluar.


''Aih, berarti tadi malam aku benar-benar tidak menyadari kalau jarum infus sudah tidak dipasang, suami yang buruk!'' umpat Agra pada dirinya sendiri.


Suara pintu kamar mandi dibuka dan Kiran pun berdiri di sana dengan wajah yang sumringah karena telah membuang hajat yang tertahan.


''Sayang apa kau sudah merasa lebih baik?'' tanya Agra yang berjalan kearahnya.


''Sudah,aku sudah merasa sangat sehat sekarang.''


''Syukurlah. Tapi kau harus tetap istirahat hari ini. Tidak perlu kekampus dulu. Aku sudah meminta cuti untukmu, sekarang siapkan tenaga saja untuk malam nanti,'' ucap Agra dengan mata yang mengerling sebelah.


''Mau apa malam nanti?''

__ADS_1


''Berkuda.'' Agra tertawa keras setelah mengatakan itu, dan Kiran malah mendengus kesal karena lagi-lagi istilah itu yang di gunakannya.


__ADS_2