
Aldo yang baru datang dari luar karena harus menghadiri rapat dengan staf lainnya langsung menghampiri Pelangi. Dilihatnya Pelangi sedang asik mengobrol dengan Doni berdua dimeja kerja Pelangi.
Aldo kemudian berhenti tepat di dekat meja Pelangi, ia terus melihat Pelangi & Doni yang tak menyadari kedatangannya & masih saja asik bercerita sambil tertawa berdua.
" heeeemmmm " dehem Aldo yang berhasil membuat Pelangi & Doni menyadari kehadirannya.
Doni melihat kearah deheman seorang pria yang berhasil membuatnya & Pelangi terfokus melihat kesana, sudah ada Aldo berdiri bersedakep di dekat meja kerja Pelangi, Doni hanya tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya karena tak menyadari kedatangan Aldo.
" Ngi gue balik dulu kemeja gue ya? " Pamit Doni yang berusaha mengerti jika Aldo sangat ingin berbincang berdua dengan Pelangi.
Pelangi hanya menatap heran kearah Doni yang tiba-tiba pergi meninggalkan dirinya, pada hal obrolan mereka berdua masih sangat asik, mereka berdua membahas tentang tugas mereka yang masih harus terjun kejalan kembali untuk mengingatkan pentingnya selalu menjaga jarak & mematuhi protokol kesehatan dimasa pandemi Covid 19.
Melihat Doni yang akhirnya meninggalkan duduknya menuju mejanya sendiri, Aldo kemudian fokus melihat kearah Pelangi lagi sambil tersenyum.
" boleh duduk? " tanya Aldo sambil menunjuk kursi yang tadi diduduki oleh Doni.
" oh silahkan bang " jawab Pelangi sambil tersenyum.
Aldo berjalan kearah kursi yang berada di sebelah kursi yang Pelangi duduki, sedari pagi ia cukup sibuk sehingga tak sempat menanyai bagaiman kabar ayah Pelangi yang saat ini telah terbaring di rumah sakit karena mengalami kecelakaan.
" laporannya tadi udah selesai kan? " tanya Aldo berbasa-basi.
Kebetulan pagi tadi Pelangi memang di beri tugas untuk membuat laporan mengenai beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan beberapa hari sebelumnya.
" sudah sih bang, tadi juga udah langsung gue anterin " Jawab Pelangi.
Aldo hanya menganggukkan kepalanya mengerti, Pelangi memang cukup terampil & sangat profesional dengan pekerjaan yang merek geluti sehingga tak di ragukan lagi jika Pelangi dapat menyelesaikan laporannya dengan cepat.
" oh iya ngomong-ngomong gimana keadaan bokap lo?, soalnya kemaren malem dapet kabar dari temen katanya bokap lo masuk rumah sakit " tanya Aldo.
" alhamdulillah udah baik sih bang, cuman kemaren sempet ada operasi kecil gitu buat ngambil batu-batu kerikil yang udah masuk di luka kaki ayah " Jawab Pelangi sambil menatap kearah Aldo.
Memang benar saat ini keadaan ayahnya sudah sangat baik-baik saja, bahkan pagi tadi sebelum Pelangi berangkat kekantor ia sempat mengobrol dengan ayahnya.
" jadi tadi malem nginep di rumah sakit ya? " tanya Aldo yang agak khawatir.
" ya gitu lah bang "
Rumah sakit merupakan salah satu tempat yang paling di hindari untuk di kunjungi, jika tak ada kepentingan khusus masyarakat tidak boleh sembarangan keluar masuk kerumah sakit mengingat banyaknya pasien yang terkena korona dirawat di rumah sakit tersebut. Untuk terus menjaga kesehatan & terhindar dari Virus Pelangi selalu mematuhi protokol selama berada di rumah sakit.
Melihat Pelangi saat ini Aldo yakin jika sebenarnya gadis dihadapannya ini kurang tidur semalaman, matanya yang sayup sangat menunjukan jika saat ini ia sudah dalam keadaan sangat mengantuk.
" ntar pulang bareng gua aja ya, gue mau jenguk bokap lo soalnya, mau liat gimana keadaannya " kata Aldo
" boleh bang " jawab Pelangi singkat
" oh iya lo udah makan siang belum? " tanya Aldo.
Aldo bermaksud untuk mengajak Pelangi makan siang bersama kali ini meskipun waktu makan sudah lewat beberapa jam lalu.
" sudah sih tadi makan bakso berdua ama Doni bang " jawab Pelangi yang memang sudah makan siang bersama Doni.
Doni sesekali mengamati Pelangi & Aldo secara diam-diam, agak penasaran dengan kedekatan dua orang dewasa yang berada di seberang mejanya ini, kedekatan Pelangi & Aldo sampai saat ini masih sangat misterius, keduanya kerap saling perhatian tetapi Pelangi tak pernah mengakui jika dirinya & Aldo berpacaran.
Pelangi menoleh ke arah Doni yang ternyata diam-diam terus melihat kearahnya & Aldo, seolah kepo Doni sampai tak berkedip memperhatikan.
" kenapa Don? " kata Pelangi sambil melihat kearah Doni.
Doni yang merasa ketahuan telah memperhatikan kearah Pelangi & Aldo salah tingkah & pura-pura mencari pulpennya yang jatuh di bawah meja.
__ADS_1
" waduh mana sih pulpen gue nih, jatuhnya kemana lagi " katanya sendiri sambil jongkok dibawah meja.
Pelangi melihat ke arah Aldo & tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Doni.
*******
Jam 04.00 sore
Saat ini Pak Abdullah & istrinya yaitu bu Melati masih berada di rumah sakit karena ia masih harus dirawat secara insentif oleh para Dokter & Perawat, keadaannya masih sama seperti pagi tadi belum ada perubahan.
Ia masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya bekas luka karena insiden yang menimpanya kemarin, sampai saat ini nyeri di bagian kakinya bekas operasi & jaitan yang cukup lebar masih sedikit nyut-nyuta ia rasa.
Sedari pagi ia hanya bisa berbaring di tempat tidur tanpa bisa bergerak karena ia juga mengalami jidera tulang leher, bisa jadi keseleo.
" bu Pelangi kok belum pulang ya?, jam berapa ini? " Tanya pak Abdullah
Bu Melati melihat kearah jam dinding untuk melihat sudah jam berapa saat ini, jam telah menunjukan pukul 04.00 sore, seharusnya Pelangi sudah pulang pikirnya.
" mungkin masih ada tugas mendadak yah makanya belum pulang, biasanya sih jam segini sudah pulang dia " jelas bu Melati pada suaminya.
Pak Abdullah khawatir jika anaknya kenapa-napa dijalan mengingat bahaya bisa menimpa siapa saja & dimana saja, seperti musibah yang menimpanya saat ini.
Tok...tok...
" Assalamuallaikum "
Bu melati menoleh kearah Pintu, ia tersenyum melihat Pelangi & temannya berjalan masuk dari arah luar setelah mengetuk pintu.
" wallaikumsalam " jawab Pak Abdullah & bu Melati.
Pelangi berjalan menghampiri ibunya serta ayahnya untuk mencium tangan kedua orangtuanya seperti biasa.
" pak, bu " Sapa Aldo sopan yang juga menyalami tangan kedua orang tua Pelangi.
" bagaimana keadaannya pak? " tanya Aldo
" ya begini lah nak Aldo, seperti yang kamu liat "
Tak ada yang lebih baik dari tetap bisa bernafas seperti ini bagi pak Abdullah meskipun keadaannya tidak sedang baik-baik saja.
" gimana ceritanya pak kok bisa bapak sampe kayak gini sekarang? " tanya Aldo ingin tahu.
Ia mengingat kembali saat ia kaget melihat mobil melaju dari arah belakang yang akan menabrak pak Aryan, ia berusaha menyelamatkan pak Aryan dengan mendorong tubuh pak Aryan kuat kesisi lain, belum sempat ia menyelamatkan dirinya sendiri mobil tersebut menghantam kuat tubuhnya.
" ya namanya juga musibah ya Al, kita gak bisa tau, tiba-tiba aja nib mobil oleng dari jauh terus mau nabrak bapak sama bos bapak pak Aryan, untung aja pak Aryan selamat & baik-baik aja " jawab pak Abdullah menjelaskan sambil tersenyum.
" masya allah pak, disaat keadaan bapak yang udah kaya gini bapak masih bisa mikirin keadaannya bosnya bapak yang kondisinya baik-baik saja dari bapak, semoga bapak lekas sembuh ya pak " kata Aldo kagum dengan Pak Abdullah.
Aldo tak menyangka disaat kondisinya dalam keadaan yang lumayan parah seperti ini pak Abdullah masih bisa memikirkan keadaan orang lain.
" aamiin, makasi ya doanya nak Aldo " kata Pak abdullah.
Pelangi & ibunya hanya tersenyum menyimak obrolan antara Aldo & pak Abdullah, tak diragukan lagi ayahnya ini merupakan orang yang selalu berkorban demi orang lain bahkan ia rela mengorbankan dirinya sendiri demi menyelamatkan pak Aryan.
Pak Aryan merasa terharu karena sikap ayahnya yang rela mengorbankan dirinya demi keselamatan pak Aryan, bahkan pak Aryan tak bisa menahan air mata kesedihannya seolah takut terjadi apa-apa dengan ayahnya kemarin, bahkan saat ayahnya sadar & membuka matanya pak Aryan mengucapkan rasa terimakasihnya berkali-kali kepada ayahnya.
" ngomong-ngomong udah pada sholat belum? " Kata bu Melati yang mulai membuka suara.
" alhamdulillah sudah bu " kata Pelangi
__ADS_1
Sebelum pulang ia & Aldo memang mampir kesebuah masjid terlebih dahulu untuk menunaikan ibadah sholat Ashar.
******
Dikediaman rumah tuan Yonso
Baru saja mobilnya sampai di depan pekarangan rumahnya, seperti biasa pak Handoko lah yang mengemudikan mobil tersebut, sedari tadi Zarow hanya menatap kosong kearah luar tanpa berkata apapun, pikirannya masih tertuju pada Pelangi.
Harus diakui dirinya memang sedikit penasaran dengan Pelangi, gadis yang sedikit berbeda dari wanita-wanita yang selama ini mengelilingi dirinya, jelas dari segi pakaian Pelangi jauh lebih tertutup karena Pelangi merupakan gadis berpakaian muslimah.
Sambil terus berjalan menuju arah dalam rumahnya ia masih terus memikirkan Pelangi, ia sudah membuktikan sendiri bahwa Pelangi bukan gadis yang silau dengan harta yang ia punya seperti kata ayahnya.
Zarow masih sangat penasaran mengapa Pelangi menolak barang mewah pemberiannya, mengingat Pelangi bukan dari kalangan orang yang mampu & sangat mustahil bisa membeli barang-barang dengan harga mahal tersebut.
" kenapa mukamu kusut begitu?, apa ada masalah lagi di kantor? " tuan Yonso yang saat ini bersantai di ruang tamu heran melihat anaknya saat ini pulang dengan wajah yang sangat kusut.
Zarow tak menyadari keberadaan ayahnya saat masuk kedalam rumahnya, ia lalu berjalan menghampiri ayahnya yang sedang bersantai sambil menikmati secangkir teh hangat bersama ibunya. Zarow mendudukkan dirinya di sofa tersebut tepat dihadapan ayahnya, ia mulai mengendurkan dasinya & melepaskannya.
" ada apa? " kata tuan Yonso ingin tahu apa yang terjadi dengan anaknya.
Melihat Zarow pulang dengan wajah lemasnya membuat tuan Yonso ingin tahu apa yang sedang terjadi dengan anaknya tersebut, mengingat persoalan insiden kecelakaan yang telah menimpa ayah Pelangi sudah di selesaikan seharusnya sudah tidak ada masalah yang harus dipikir lagi.
Zarow masih tetap diam melihat kearah ibunya serta ayahnya yang sudah sangat penasaran dengan apa yang sedang terjadi padanya, kali ini bukan persoalan perusahaan yang membuat suasana hatinya menjadi kacau tapi persoalan dirinya dengan Pelangi.
Ia agak bimbang saat ini apakah ia harus menerima tawaran ayahnya untuk menikahi Pelangi, sepertinya saran ayahnya tak buruk karena benar kata ayahnya Pelangi adalah gadis yang berbeda dari wanita lain yang hanya mengincar hartanya.
" ada apa Zarow? " nyonya Arini kemudian membuka suaranya.
Nyonya Arini tak kalah penasarannya dengan tuan Yonso melihat Zarow pulang dengan wajah kusut seperti banyak masalah, ia tak yakin jika saat ini anaknya sedang memikirkan masalah tentang kantornya, nyonya Arini menatap kearah tuan Yonso yang membuat mereka menjadi saling pandang.
" pi Zarow kayaknya mau deh nikah sama Pelangi " Zarow kemudian mulai bersuara.
Zarow kali ini telah mantap ingin menikahi gadis Satpol yang membuatnya seharian ini hanya berpikir tentangnya.
Tuan Yonso sangat terkejut mendengar kata-kata putranya yang mengatakan jika ia mau menikahi Pelangi, sepertinya putranya telah mendapatkan jawaban mengapa tuan Yonso ingin putranya menikahi Pelangi. Tuan Yonso tersenyum menatap putranya sambil menyeruput teh yang berada di cangkir yang sudah berpindah ketangannya.
" kenapa kamu tiba-tiba bilang mau nikah sama Pelangi?, apa kamu sudah membuktikan kata-kata papi kemarin? "
Nyonya Arini tak kalah terkejutnya dengan suaminya saat ini, tak perlu susah payah ia membuat anaknya untuk dekat dengan Pelangi justru saat ini anaknya lah yang meminta ingin dinikahkan dengan Pelangi.
" tadi pagi Zarow sudah buktiin omongan papi, Zarow pikir dia sama kaya cewek-cewek matre lainnya, Zarow suruh sekertaris Zarow buat kirim hadiah mahal buat Pelangi, sekertaris Zarow beli sepatu mahal harganya sekitar 15jt, tapi hadiah itu ditolak sama Pelangi " tutur Zarow
" terus? " kata tuan Yonso masih penasaran.
" Zarow kira Pelangi gak mau terima hadiah dari Zarow karena harganya masih terlalu murah jadi Zarow perintahin sekertaris Zarow lagi buat beliin hadiah Pelangi yang lebih mahal harganya dari sepatu itu, Zarow suruh Pak Amar buat beliin Pelangi cincin bermata berlian, Zarow pikir hadiah itu bakal Pelangi terima karena harganya sekitar seratus jutaan " tutur Zarow lagi.
Kedua orangtuanya masih terus mendengarkan ceritanya dengan seksama sambil menatap kearahnya, ia tau kedua orangtuanya sudah sangat penasaran dengan ceritanya tentang Pelangi.
" terus di terima sama Pelangi? " kata nyonya Arini.
Sebagai seorang wanita ia juga tau tak ada seorang wanita yang tak akan menolak jika diberikan hadiah-hadiah mewah seperti yang di berikan putranya kepada Pelangi.
" enggak mi, lagi-lagi Pelangi tolak cincin itu " kata Zarow, " ini cincin yang harusnya sudah diterima Pelangi tadi " kata Zarow sambil memperlihatkan sebuah cincin berlian.
" ya tuhan, ini cincinnya cantik banget sayang, kenapa Pelangi bisa nolak ini sih? " kata nyonya Yonso tak mengerti.
" Pelangi bukan gadis yang gila harta mi, kan dia pernah bilang dia gak memandang pria dari materinya, rejeki sudah ada yang menentukan, apa mami lupa? " kata tuan Yonso mengingatkan kata-kata yang pernah diucapkan Pelangi kepada istrinya.
Zarow diam sejenak untuk mengatur nafasnya yang terasa agak sesak, ini adalah keputusan yang sangat luar biasa bagi Zarow.
__ADS_1
" mungkin yang dibilang papi bener kalo Pelangi beda dari yang lain, makanya Zatow mau nikah sama dia, tolong papi sampaikan ke pak Abdullah kalau Zarow mau menikahi anak gadisnya "
Zarow cukup bingung mengapa ia tiba-tiba sangat ingin Pelangi menjadi istrinya, bahkan ia juga tak punya rasa apa-apa kepada Pelangi, Zatow ingin menikahi Pelangi karena Pelangi merupakan gadis yang unik.