
Zarow & keluarganya sedang mempersiapkan diri untuk pergi ke rumah Pelangi malam ini, ibunya & Zerin sudah sangat sibuk mempersiapkan baju apa yang akan mereka pakai & apa yang akan mereka bawa sebagai bawaan mereka malam ini.
Menyaksikan kesibukan dua wanita yang sangat ia sayang Zarow hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, begitu pula dengan ayahnya yang saat ini duduk tak jauh darinya, sama seperti Zarow ayahnya juga hanya bisa menggelengkan kepalanya & juga tersenyum.
Raut kebahagiaan di wajah keduanya nampak terlihat jelas, semangat mereka yang menggebu membuat Zarow takut jika mereka akan kecewa jika Pelangi akan menolaknya malam ini, Zarow mulai gelisah memikirkan jawaban apa yang akan ia dapat malam ini.
Ia mulai mengubah posisi duduknya dengan menyatukan kedua tangannya menjadi satu pandangannya mengambang kemana-mana, muncul sedikit celah ketidak percayaan dirinya saat ini.
Ia sadar jika dilihat dari dirinya saat ini ia bukanlah siapa-siapa bahkan ia merasa tak pantas mendapatkan Pelangi tetapi ada keegoisan di dalam dirinya yang merasa jika ia harus bersama Pelangi bagaimana pun caranya.
" tuhan aku tau aku egois, tapi ijinkan aku bisa bersama dia yang akhirnya bisa membuka hatiku untuk kembali bersujud padamu meskipun sampai detik ini hamba belum jatuh cinta padanya " gumam Zarow dalam hati sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Pandangan pak Yonso beralih melihat kearah putra sulungnya yang tiba-tiba terlihat agak cemas seperti memikirkan sesuatu, ia yakin jika Zarow saat ini sedang takut kecewa mendengarkan jawaban yang akan ia terima dari Pelangi.
Pak Yonso berharap sebagai seorang pria putranya harus siap menerima apapun jawaban yang akan diterima untuknya, karena pada dasarnya memang Pelangi & Zarow tak saling kenal satu sama lain sebelumnya.
Tetapi tetap saja dalam hati pak Yonso sangat berharap jika Pelangi mau menerima putranya menjadi calon suaminya, ia akan sangat senang sekali jika Pelangi benar-benar menerima lamaran yang datang beberapa saat lalu.
" kenapa kamu?, kok kayaknya lagi banyak pikiran gitu? " tanya pak Yonso yang mulai membuka suara.
Zarow yang merasa ditanya oleh ayahnya langsung menoleh kearah ayahnya, ia kemudian membenarkan posisinya lagi dengan salah tingkah. Tingkahnya tadi pasti membuat menjadi pusat perhatian ayahnya yang masih duduk di tempat yang sama sedari tadi.
" gak papa " jawabnya singkat.
Sebenarnya saat ini ia sedang tak baik-baik saja, hatinya gusar tak terkendali, padahal hakikatnya ia harus berusaha lapang saat mendengarkan jawaban dati Pelangi nantinya.
Tuan Yonso kembali menggelengkan kepalanya sambil mendengus mengeluarkan nafas kasarnya, ia jelas tak percaya dengan yang dikatakan Zarow saat ini.
Tak lama Adzan magrib pun berkumandang, Zarow terdiam sesaat mendengarkan, ia kemudian berdiri meninggalkan tempat menuju arah belakang untuk menemui pak Handoko, tiba-tiba hatinya tergerak untuk melaksanakan ibadah sholat magrib kali ini.
Tuan Yonso hanya melihat kepergian Zarow kearah belakang tanpa menanyakan putranya akan pergi kemana saat ini, sepertinya putranya tersebut akan pergi menemui pak Handoko yang sedang berada di rumah belakang bersama dengan asisten rumah tangga serta tukang kebun yang selama ini bekerja di rumahnya.
Zarow cepat-cepat menemui pak Handoko agar ia tak terlambat menunaikan ibadah sholat magribnya. Setelah ada dibelakang ia segera menemui pak Handoko yang saat ini sedang berada di dalam rumah yang khusus di buat untuk para ART, tukang kebun, serta supir yang bekerja dirumahnya.
Pak Iwan tiba-tiba berdiri terkejut melihat tuan mudanya sudah berdiri tak jauh dimana saat ini ia duduk, pak Iwan adalah tukang kebun yang kebetulan ikut tinggal bersama dengan para Art serta supir yang bekerja di rumah tuan Yonso, pak Iwan bekerja di rumah tuan Yonso bersama dengan istrinya yang kebetulan adalah ART di rumah tersebut.
" tu...tuan muda " kata pak Iwan terbata-bata sambil bergegas berdiri & menundukkan kepalanya.
Ia menoleh kearah pak Iwan yang saat ini telah berdiri tak jauh dari dimana ia berdiri saat ini. Zarow yakin pak Iwan sangat terkejut melihat kedatangannya dikediaman mereka.
" tuan muda " kata bu Warni istri pak Iwan yang baru saja keluar dari arah dalam & berdiri sejajar dengan pak Iwan suaminya.
Zarow masih terdiam belum mengucapkan sesuatu, dilihatnya jam ditangannya lalu kemudian ia melihat kearah dalam, ia berpikir apakah masih ada waktu untuknya saat ini untuk melaksanakan ibadah sholat magribnya.
" pak Handoko mana? " tanya Zarow to the poin.
" di dalam tuan muda lagi wudhu " kata pak Iwan menjawab.
Tanpa sungkan ia kemudian masuk kedalam untuk mencari pak Iwan, saat pergi kebelakang kembali lagi ia bertemu dengan beberapa ART yang juga tinggal di sana, sama seperti pak Iwan & bu Warni beberapa ART tersebut juga terkejut melihat keberadaannya yang tak biasanya masuk kedalam tempat tinggal mereka.
Setelah melihat pak Handoko yang baru saja keluar dari kamar mandi Zarow sedikit tersenyum lalu menghampiri pak Handoko yang saat ini wajahnya serta tangannya sudah basah bekas berwudhunya.
__ADS_1
Pak Handoko melihat tuan muda Zarow berdiri tak jauh dari dimana ia berdiri saat ini, ia amat sangat terkejut dengan kedatangan tuan muda Zarow, padahal seingatnya mereka akan pergi ke rumah Pelangi setelah sholat isya.
" tuan muda " sapa pak Handoko.
" pak, bapak mau sholat? " tanya Zarow.
" iya tuan, apa kita sudah mau berangkat ke rumah mba Pelangi tuan? " tanya pak Handoko.
Pak Handoko mengira dirinya datang kemari untuk mengajak pak Handoko pergi ke rumah Pelangi sekarang juga padahal ia datang kemari ingin mengajak pak Handoko untuk menunaikan ibadah sholat bersama.
" pak kalo gak keberatan saya mau ikut sholat bareng sama bapak " tutur Zarow tanpa berbasa-basi.
Pak Handoko tentu saja hanya bisa terdiam sesaat mendengar ungkapan tuan mudanya yang ingin melaksanakan ibadah sholat bersamanya, tentu saja suatu kehormatan baginya bisa melakukan sholat berjamaah dengan tuan muda Zarow kembali.
" oh iya tuan muda, saya sangat senang kalo tuan muda mau ikut sholat bareng sama saya " jawab pak Handoko sambil tersenyum.
Zarow ikut tersenyum mendengar kata-kata pak Handoko yang tak keberatan dengan permintaannya yang ingin sholat bersama lagi kali ini.
" saya wudhu dulu pak " kata Zarow lagi.
" oh iya tuan silahkan, ini wudhu nya di kamar mandi aja " tunjuk pak Handoko.
Tanpa canggung Zarow pun masuk kedalam kamar mandi untuk berwudhu, ia mengingat kata-kata Pelangi yang mengajarinya niat sebelum berwudhu dengan bahasa Indonesia.
Saat membasuh wajahnya kembali ia merasa kesejukan yang tiada tara, ia menitikkan air matanya, ia sangat bahagia masih diberikan kesempatan saat ini untuk melaksanakan ibadahnya kembali.
Pak Handoko yang telah berada di luar menemui beberapa rekannya yang telah ia anggap seperti saudara sendiri selama tinggal di sini.
Pak Handoko adalah yang paling tua dari mereka semua disini sehingga ia cukup di hormati oleh ART serta tukang kebun & supir lainnya, apalagi mengingat pak Handoko adalah orang yang paling lama bekerja di keluarga pak Yonso.
" tuan muda mau ngajak sholat berjamaah, jadi kalian juga siap-siap " tutur pak Handoko.
" serius pakde " tanya pak Iwan.
Pak Iwan terkejut mendengar kata-kata pak Handoko, ia menoleh kearah istrinya yang saat ini juga menoleh kearahnya, entah ini ia yang salah mendengar atau yang ia dengar adalah benar pikir pak Iwan.
" lah iya beneran, sana cepet siap-siap " perintah pak Handoko lagi
" iya pakde, injih " kata pak Iwan berdiri.
" kamu tolong ajak yang lainnya siapin ruangan ini buat jadi tempat sholat berjamaah kita ya ni " perintah pak Handoko pada Warni.
Bu Warni adalah keponakan dari pak Handoko, ia bekerja di rumah tuan Yonso bersama dengan pak Iwan suaminya sudah sekitar lima tahun belakangan ini, Bu Warni serta pak Iwan bisa bekerja di rumah pak Yonso karena di bawa oleh pak Handoko.
Setelah berwudhu Zarow pergi keluar menghampiri pak Handoko yang telah bersiap, seketika ruangan yang biasa dijadikan tempat untuk mereka berkumpul menjadi kosong & sudah berjajar permadani.
" maaf tuan kalo bersedia kita tunggu yang lainnya ya tuan buat sholat berjamaah bersama? " kata pak Handoko.
" iya pak " jawab Zarow.
Kini Zarow duduk bersila di bawah, tepat di atas permadani sambil menunggu yang lain yang saat ini sedang berwudhu, tak beberapa lama seluruh ART serta tukang kebun & beberapa supir lainnya datang & berdiri disebelah Zarow.
__ADS_1
Saat sedang bersujud menghadap sang ilahi untuk menunaikan ibadah sholat tidak ada perbedaan kasta serta derajat yang membuat mereka harus dibedakan & berada ditempat berbeda, karena bagi allah derajat manusia semuanya sama.
Pak Iwan lalu mengumandangkan komat setelah itu pak Handoko mulai mengangkat tangannya untuk mengucapkan takbir sebagai seorang imam, Zarow yang berada dibelakang pak Handoko ikut mengangkat tangannya sambil mengucapkan takbir juga.
" allahu akbar " kata Zarow.
********
Di tempat lain
Aldo yang baru saja pulang dari menunaikan ibadah sholatnya di masjid langsung duduk di depan teras rumahnya untuk sejenak menghirup udara segar malam ini. Di tutupnya kedua wajahnya dengan tangannya sambil menghembuskan nafas kasarnya.
Pekerjaannya hari ini di kantor tak seberapa berat, sebagai pemimpin pasukan dalmas hari ini tak ada tugas luar kantor yang harus mereka kerjakan, hanya saja seharian ini ia memerintahkan beberapa anggotanya untuk membuat laporan yang akan segera dikirim ke pusat.
Begitu juga Pelangi yang ia berikan tugas untuk membuat laporan pekerjaan yang telah dilaksanakan beberapa minggu lalu di daerah selatan, ia bahkan sempat membantu Pelangi menyelesaikan tugasnya karena ia datang terlambat.
Mengingat Pelangi hati Aldo semakin mantap untuk melamarnya & ia yakin jika orangtuanya juga sangat setuju dengan pilihannya ini karena Pelangi adalah gadis yang sangat baik & sholeha.
Ia selalu menyelipkan nama Pelangi di setiap doa-doanya saat sedang bersujud melaksanakan ibadahnya kepada allah, ia selalu memohon jika Pelangi & dirinya di didekatkan untuk menjadi pasangan sehidup semati.
Selama ini ia & Pelangi cukup dekat, ia juga cukup mengenal baik bagaimana kelurga serta orang tua Pelangi, bahkan dirinya juga selama ini selalu di terima dengan baik dengan orang tua Pelangi saat sedang berkunjung.
Ia hanya bisa berdoa saja selama ini kepada allah & selebihnya ia kembalikan kepada allah tentang takdirnya dengan Pelangi, karena hanya allah yang maha berkehendak atas segala yang ada.
" *ya allah hamba serahkan semua takdir hidup hamba, jodoh serta apa yang ada di hidup hamba hanya padamu, tapi jika hamba boleh meminta jadikanlah Pelangi hidup dunia akhirat hamba, jadikan Pelangi menjadi pendamping hamba " doa Aldo dalam hat*i.
Aldo menghembuskan nafas kasarnya sambil tersenyum menatap kosong kearah depan, bisa di pertemukan dengan Pelangi & bisa dekat bahkan mengenal baik bagaimana Pelangi ia sungguh sangat beruntung.
*********
Di rumahnya Pelangi sedang duduk di ruang tamu bersama dengan ibu serta ayahnya yang saat ini telah berpakaian rapi tak seperti biasanya karena akan ada tamu istimewa yang akan datang bertamu ke rumah mereka.
Pelangi tersenyum melihat kedua orangtuanya yang saat ini sedang duduk tak jauh darinya, ia belum memberitahu kepada kedua orangtuanya tentang jawaban yang akan ia berikan nanti. Pelangi yakin apapun itu kedua orangtuanya akan selalu mendukung dirinya selagi itu masih berada di dalam kebaikan.
Pak Abdullah cukup lega karena malam ini putrinya akan membuat keputusannya sendiri atas lamaran yang datang padanya, baik buruk yang ia putuskan kali ini pak Abdullah yakin jika keputusan yang diambil oleh putrinya pasti sudah dipertimbangkan dengan baik.
Ini adalah keputusan yang sangat penting yang harus ia putuskan sendiri sekarang, meskipun sebelumnya ia sangat berat memutuskan sampai akhirnya ia mendapatkan jawaban yang harus ia berikan.
" yah, bu " panggil Pelangi.
Bu Melati menoleh kearah Pelangi yang memanggil dirinya serta suaminya, terlihat senyum di wajah Pelangi saat ini saat memandang, senyumnya begitu lepas & tak terlihat sedikitpun ada beban, melihat itu bu Melati juga ikut tersenyum.
" bu, yah, Pelangi mau bilang makasih sama ibu sama ayah yang udah ngebesarin Pelangi sampe jadi kaya gini, Pelangi makasih banget sama apa yang selama ini ayah sama ibu kasih ke Pelangi, mungkin Pelangi belum bisa balas semua yang ayah sama ibu kasih tapi Pelangi bakal terus berusaha jadi yang terbaik buat ayah sama ibu " tutur Pelangi panjang lebar.
Pak Abdullah tertegun mendengar apa yang diucapkan putrinya saat ini, dengan sangat jelas putrinya mengucapkan terimakasih kepadanya & istrinya. Sebagai orang tua jelas saja membesarkan & memberikan yang terbaik untuk anaknya adalah kewajiban setiap orang tua.
" ayah gak pernah berharap balasan apapun dari apa yang udah ayah kasih ke kamu Ngi, karan apa yang orang tua kasih ke anak adalah kewajiban semua orang tua, tapi ayah cuma berharap kamu harus hidup bahagia nantinya, itu aja Ngi " jelas pak Abdullah panjang lebar.
Pak Abdullah membesarkan putrinya dengan penuh kasih sayang sehingga ia berharap jika suatu saat putrinya akan terus bahagia bersama dengan pasangan hidupnya kelak.
" insyallah yah, doain terus Pelangi biar terus tetap bahagia ya yah, bu " jawab Pelangi.
__ADS_1